#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
21. Masih Ada Kesempatan


__ADS_3

Keesokan harinya setelah Arga mengetahui kabar itu, Arga berencana untuk menanyakan langsung perihal apa yang didengarnya. Arga masih menduga-duga pantas saja beberapa hari kemarin Khanza tidak bekerja.


"Apa karena itu Khanza tidak masuk bekerja," gumam batin Arga yang sangat penasaran dengan apa yang didengarnya.


Tak terasa hampir seharian mereka bekerja. Arga harus mendatangi Khanza di ruangan nya sebelum ia pulang. Arga pun mempercepat langkahnya agar ia segera tiba diruangannya.


"Khanza," panggil Arga saat baru memasuki ruangan Khanza.


"Ada apa pak?" tanya Khanza yang mengernyitkan dahinya karena merasa terkejut dengan kedatangan Arga yang tiba-tiba.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja. Apa boleh?" tanya Arga lagi yang meminta izin terlebih dahulu.


"Tanya saja, kenapa harus minta izin segala," ujar Khanza yang merasa heran dengan pertanyaan Arga.


"Tapi kamu janji jangan marah, aku ingin menanyakan hal pribadi kepadamu Khanza," tukas Arga yang merasa takut jika Khanza tidak akan menjawabnya.


"Sebenarnya apa yang ingin Arga tanyakan," gumam batin Khanza.


"Aku tidak akan marah," timpal Khanza.


Merasa penasaran Arga pun segera menanyakan tentang hal yang sebenarnya pada Khanza.


"Begini Khanza, aku dengar kamu telah bercerai, apa itu benar?" tanya Arga yang langsung menanyakan tentang apa yang ingin diketahuinya.


"Mmh iya Ga, itu benar," jawab Khanza lirih.


"Maafkan aku Khanza, aku tidak bermaksud," tukas Arga yang tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tidak apa-apa Ga, aku tidak merasa keberatan," timpal Khanza lagi.


Mendengar hal itu dari mulut Khanza, membuat Arga merasa senang. Arga merasa bahagia saat tahu Khanza telah bercerai dari suaminya. Hal ini seolah lampu hijau yang menandakan jika Arga masih ada kesempatan untuk mendekati Khanza.


"Yes, berarti aku masih ada kesempatan," gumam batin Arga.


"Kenapa Ga?" tanya Khanza yang melambaikan tangannya dihadapan Arga.


"Ti, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Arga yang merasa malu karena Khanza membuatnya terkejut.


Merasa puas karena sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, kini Arga terlihat begitu bahagia. Arga kini tersenyum simpul. Arga terlihat lebih tampan saat sedang tersenyum.


"Kenapa Ga? Sepertinya kamu sangat bahagia?" ujar Khanza.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Arga yang menjadi salah tingkah.


"Ya sudah biar aku antar kamu pulang ya," tawar Arga.


"Tidak usah Ga, aku bawa motor," jawab Khanza yang segera bergegas menuju motornya. Namun hal yang tidak terduga pun terjadi. Khanza menyaksikan jika ban motornya tiba-tiba saja kempes. Padahal tadi pagi tidak ada apa-apa.


Arga pun kembali menghampiri Khanza setelah berjalan beberapa langkah. Arga merasa khawatir sebab sedari tadi Khanza memegangi ban motornya.


"Kenapa Khanza?" tanya Arga yang ikut berjongkok disebelah Khanza.


"Ini bannya sepertinya bocor," ujar Khanza yang kini terlihat kebingungan. Bagaimana ia akan pulang, sedangkan jarak.dari kantor menuju rumahnya begitu jauh.

__ADS_1


"Ya sudah tidak perlu khawatir, aku akan mengantarmu pulang. Dan motor ini simpan disini saja, aku akan menyuruh orang untuk memperbaikinya.


"Tapi Ga, Apa tidak akan merepotkan? Soalnya jarak dari sini ke rumah orang tuaku cukup jauh," lirih Khanza yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Khanza, lagi pula kamu kaya ke siapa aja," tukas Arga sambil tersenyum.


"Senyuman itu, senyuman yang tidak bisa terlupakan," gumam batin Khanza.


"Ayo masuk Khanza! Kok malah bengong," ujar Arga yang melihat Khanza malah mematung.


Arga pun segera membukakan pintu mobil untuk Khanza. Setelah Khanza masuk Arga setengah berlari menuju kemudinya. Sebelum ia menyalakan mesin, terlebih dulu Arga menghubungi seseorang untuk memperbaiki motornya.


📱"Tolong kamu ganti ban motor yang berwarna biru milik Khanza."


📱"Baik pak!"


Setelah memerintahkan seseorang Arga pun mulai mengendarai mobilnya. Arga merasa senang karena akhirnya ia bisa mengantar Khanza pulang. Di samping Arga, Khanza terlihat begitu gugup karena duduk bersebelahan dengan Arga.


Arga yang menyaksikan Khanza terdiam mematung, mencoba mencairkan suasana dengan menyalakan sebuah musik.


"Biar gak bosen, kita dengerin musik ya," ujar Arga yang segera menyalakan mp3 dalam mobilnya.


Disaat yang bersamaan ternyata lagu yang diputar merupakan lagu kenangan dari masa lalu mereka berdua.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Akhirnya ku menemukanmu


Ku berharap engkau lah


Jawaban sgala risau hatiku


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu


Miliki aku dengan segala kelemahanku


Dan bila nanti engkau di sampingku


Jangan pernah letih tuk mencintaiku


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Ku berharap engkau lah


Jawaban sgala risau hatiku

__ADS_1


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu (sanding dirimu) Miliki aku dengan segala kelemahanku


Dan bila nanti engkau di sampingku (di sampingku)


Jangan pernah letih tuk mencintaiku


Jika nanti ku sanding dirimu (sanding dirimu)


Miliki aku dengan segala kelemahanku


Dan bila nanti engkau di sampingku (di sampingku)


Jangan pernah letih tuk mencintaiku Akhirnya ku menemukanmu


"Lagu ini, lagu favorit kita berdua," gumam batin Khanza yang terkejut dengan lagu yang diputar Arga.


"Apa kamu masih ingat dengan lagu ini Khanza?" tanya Arga yang memang sengaja memutar lagu kenangan mereka berdua.


Arga masih mengingat betul tentang lagu itu. Pada saat itu mereka selalu menyanyikan lagu itu bersama. Arga memetik gitar, sedangkan Khanza yang bernyanyi. Betapa bahagianya mereka saat itu.


"Tentu Ga," jawab Khanza canggung.


"Kenapa Arga harus memutar lagu ini segala sih?" gumam batin Khanza.


Tak terasa hampir 2 jam mereka dalam perjalanan akhirnya mereka tiba dirumah orang tua Khanza.


"Kamu masih ingat jalan kemari Ga?" tanya Khanza yang merasa heran karena sudah sangat lama sekali Arga pernah ke rumah orang tuanya.


"Pastinya," jawab Arga dengan tersenyum simpul.


"Terima kasih Arga," ujar Khanza saat ia keluar dari mobil Arga.


"Sama-sama Khanza. Oiya besok biar aku yang akan menjemputku kemari," tukas Arga sesaat sebelum ia pergi.


Belum lagi Khanza menjawab, Arga ternyata sudah pergi begitu jauh.


Ekhem.. ekhem..


Saat Khanza baru membuka pagar, tiba-tiba saja ibunya berdehem saat sedang duduk diteras rumah.


"Ibu kenapa? batuk?" tanya Khanza yang tidak mengerti dengan gelagat ibunya.


"Tidak apa-apa, cowok tadi siapa?" tanya Bu Bela sambil mengangkat halisnya menggoda Khanza.


"Ish ibu apaan sih, genit banget," tukas Khanza yang segera bergegas masuk ke dalam rumah.


"Ibu kan cuma tanya, laki-laki itu siapa?" tanya Bu Bela lagi sambil mengekor dibelakang Khanza.


"Dia teman lama aku Bu, sekaligus pemilik perusahaan," jawab Khanza sambil berlalu menuju kamarnya.

__ADS_1


.


__ADS_2