#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
23. Cerita Arga


__ADS_3

Arga pun hanya menggeleng saat tangannya ditarik oleh Khanza. Arga tidak berdaya, dan merasa malu jika ia sampai menolaknya. Akhirnya mau tidak mau Arga pun masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan orang tua Khanza.


"Om, tante," sapa Arga yang menyalami mereka satu persatu.


"Jadi ini yang namanya Arga, ganteng juga," celetuk Bu Bela.


"Ish ibu apaan sih," timpal Khanza yang merasa malu dengan perkataan ibunya.


"Tapi kan dia memang ganteng Khanza," tambah Bu Bela lagi yang semakin menggoda Khanza.


"Maaf ya Ga, ibu aku sebetulnya tidak seperti itu," ujar Khanza yang merasa salah tingkah karena sikap ibunya.


"Tidak apa-apa Khanza," jawab Arga yang sama-sama merasa salah tingkah karena ibunya Khanza terus memujinya sejak tadi.


"Tuh kan Arga juga tidak apa-apa," celetuk Bu Bela.


"Sudah bu jangan digoda terus kasian Arga. Biarkan dia makan dulu. Ayo nak, silahkan dicicipi masakannya," timpal Pak Ahmad yang sejak tadi memperhatikan kericuhan diantara mereka.

__ADS_1


"Iya pak, terima kasih," ujar Arga yang terpaksa harus ikut sarapan dirumah Khanza meski sebenarnya ia sangat malu.


Bu Bela dan Khanza pun kini terdiam. Mereka semua terlihat begitu khusyu menyantap masakan Bu Bela. Tidak ada pembicaraan saat acara makan-makan berlangsung. Sesekali Arga menatap Khanza karena merasa malu harus berhadapan dengan orang tuanya. Akan tetapi di lain sisi ia merasa senang karena bisa mengenal kedua orang tua Khanza.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka selesai makan.


"Ayo Khanza kita berangkat, apa kamu sudah siap?" ajak Arga yang sudah beberapa kali memperhatikan jam ditangannya.


"Sudah Ga, ayo!" timpal Khanza yang segera berdiri.


"Terima kasih untuk sarapannya om, tante, kalau begitu saya permisi," pamit Arga yang menyalami orang tua Khanza satu persatu sebelum ia pergi.


"Tentu tidak pak, saya merasa senang bisa makan bersama kalian," ujar Reza yang tersenyum simpul.


Setelah berpamitan, Arga dan Khanza pun segera bergegas. Bu Bela dan Pak Ahmad merasa senang melihat kedekatan diantara mereka berdua. Ada secercah harapan yang dirasakan Pak Ahmad, dia melihat sosok Arga yang terlihat baik.


Namun untuk kali ini ia tidak mau turut campur dalam memilih pasangan hidup bagi Khanza. Pak Ahmad tidak mau mengulangi kesalahannya, biarkan Khanza sendiri yang memilih teman hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Jadi itu yang namanya Arga bu?" tanya Pak Ahmad memastikan karena sebelumnya ia pernah mendengar nama Arga yang istrinya ceritakan.


"Iya yah, katanya dia teman sekolah Khanza waktu sekolah dulu," tambah Bu Bela.


"Wah, kok bisa kebetulan seperti itu ya," tukas Pak Ahmad.


"Entahlah yah, mungkin mereka berjodoh," timpal Bu Bela.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk anak kita bu. Untuk kali ini ayah tidak ingin ikut campur, biar Khanza yang memilih sendiri pasangan hidupnya kelak," ucap Pak Ahmad penuh harap.


"Iya yah, ibu juga berharap seperti itu. Semoga Khanza mendapatkan laki-laki yang tepat yang bisa membahagiakan Khanza," timpal Bu Bela.


"Aamiin ya robbal alamiin."


Sementara Reza menyetir, Khanza melihat-lihat pemandangan dari balik jendela mobil.


"Terima kasih banyak Khanza karena kamu sudah mengajaku sarapan dirumahmu," ujar Arga yang sesekali melihat Khanza saat sedang menyetir.

__ADS_1


"Iya Ga sama-sama," jawab Khanza sambil tersenyum simpul.


"Apa kamu tahu Khanza, aku sangat senang bisa makan bersama kedua orang tuamu," gumam batin Arga.


__ADS_2