
Beberapa minggu pun berlalu. Berita tentang pernikahan Khanza pun akhirnya terdengar sampai ke telinga Azam. Azam yang mendengar kabar itu merasa sedih dan terpuruk. Kini sudah tidak ada lagi kesempatan bagi Azam untuk memperbaiki segalanya. Kesempatan itu sudah hilang dan tidak akan pernah kembali.
Mungkin sekarang Azam harus benar-benar melupakan Khanza. Azam harus membuang jauh-jauh semua kenangan tentang Khanza, termasuk fotonya yang masih ia simpan didalam dompetnya.
"Mulai saat ini aku harus melupakanmu Khanza. Aku harus benar-benar bisa move on dan melanjutkan hidupku. Mungkin aku harus pergi jauh dari kota ini agar aku tidak teringat terus kepadamu," gumam batin Azam.
Beberapa hari kemudian, Azam sudah bersiap dengan tas besarnya. Azam membawa beberapa pakaian ke dalam koper yang cukup besar. Setelah beberapa hari berfikir, Azam berencana akan pindah ke luar kota.
Mungkin ini cara yang efektif agar bisa melupakan mantan istrinya yang benar-benar ia cintai.
Azam pergi ke luar kota yang cukup jauh agar ia tidak pernah bisa bertemu kembali dengan Khanza. Azam memilih untuk pergi ke kota sebrang untuk menemui saudaranya yang ada disana.
Setelah orang tuanya meninggal, Azam tidak memiliki siapa-siapa lagi. Yang ada hanya tinggal adik dari ayahnya yaitu Pak Husen yang tinggal dikota sebrang itu. Sudah cukup lama Azam tidak pernah bertemu lagi dengan pamannya Pak Husen.
Azam sengaja pergi pagi-pagi sekali agar ia bisa tiba disana lebih awal. Azam pergi menggunakan bis antar provinsi. Meski melelahkan tapi Azam rasa inilah cara yang terbaik.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian akhirnya Azam tiba dirumah pamannya.
Tok... tok...
"Assalamualaikum," ujar Azam sambil mengetuk pintu pamannya.
"Waalaikumsalam," tak berapa lama terdengar seorang laki-laki yang menjawab salam Azam.
"Anda ini siapa? Mau bertemu siapa?" tanya laki-laki paruh baya itu yang ternyata tidak mengenali keponakannya. Saat itu Azam main ke rumahnya saat usianya masih sangat kecil, sehingga pantas saja jika pamannya tidak mengenalinya saat ini.
"Aku Azam paman, anaknya Pak Zumadi," jawab Azam sambil tersenyum simpul dan menyalami pamannya.
"Iya pak betul, saya anaknya," jawab Azam lagi.
"Masuk, masuk nak. Wah sekarang kamu sudah besar seperti ini ya. Dulu usiamu masih sangat anak-anak," ajak Husen yang segera mengajak keponakannya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rumah sederhana yang tidak terlalu luas, namun sangat bersih dan rapi.
"Iya paman terima kasih," ujar Azam yang segera mengekor dibelakang pamannya.
Husen pun merasa senang karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan keponakannya. Sudah cukup lama mereka tidak pernah bertemu. Dulu Zumadi yang selalu mengajak Azam menemui adiknya Husen..
Namun saat ada masalah yang terjadi, Zumadi memutuskan untuk pergi dari kota ini karena merasa kesal.
"Yu, cepat buatkan minuman ada tamu," pekik Husen yang berteriak kepada istrinya yang sedang berada dibelakang.
"Iya yah sebentar," teriak Ayu tak kalah nyaring.
"Bagaimana kabar ayah dan ibumu nak?" tanya Husen membuka pembicaraan.
"Ayah dan ibu sudah lama meninggal paman," lirih Azam.
__ADS_1
"Apa? Meninggal? Kapan? Kenapa tidak mengabari kami?" tanya Husen yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Maaf paman, saat itu aku benar-benar tidak ingat," jawab Azam.