#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
13. Kecurigaan Bu Bela


__ADS_3

Setelah panggilan itu berakhir tiba-tiba terdengar suaminya yang baru saja pulang.


"Khanza! Khanza!" pekik Azzam yang mencari keberadaan istrinya.


"Aku mohon tolong maafkan aku Khanza. Aku benar-benar khilaf," lirih Azzam yang menyesali perbuatannya. Namun hal itu tentu tidaklah sungguh-sungguh. Dibelakang Khanza, justru Azzam semakin dekat dengan kekasihnya.


"Apa kamu benar-benar menyesal mas? Apa kamu sudah meninggalkan wanita itu?" tanya Khanza lagi yang merasa bingung harus percaya atau tidak dengan suaminya.


"Ya tentu, bahkan aku langsung memutuskannya," jawab Azzam antusias. Dia berusaha untuk meyakinkan Khanza, agar Khanza tidak meninggalkannya. Sebab sebenarnya Azzam juga masih sangat mencintai istrinya, hanya saja mungkin cintanya tidak seperti dulu.


"Entahlah mas, aku bingung harus bagaimana. Aku merasa bingung harus percaya atau tidak. Yang jelas saat ini hatiku benar-benar terluka saat melihat suamiku dengan wanita lain," ujar Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tahu, aku memang bodoh karena sudah mengkhianatimu. Sekali lagi maafkan aku Khanza," lirih Azzam yang pura-pura menyesal.


"Aku masih butuh waktu mas, tolong biarkan aku berfikir," lirih Khanza.


"Aku janji akan berubah Khanza aku akan mencari pekerjaan lagi demi membahagiakan kamu," ujar Azzam yang segera bergegas pergi.


Tanpa menjawab apa-apa, Khanza hanya bisa menangisi suaminya. Ia benar-benar merasa bingung harus berbuat apa. Jika ia mempertahankan rumah tangganya mungkin Azzam akan selalu bersikap seperti itu. Meski ia mengatakan akan berubah, tapi hati Khanza tidak yakin dengan perkataan suaminya.


Tapi jika ia menyudahi pernikahannya, apa yang akan ia katakan kepada orang tuanya. Bagaimana dengan perasaan ibunya. Khanza merasa benar-benar berat saat memikirkan semua ini.


Keesokan harinya Bu Bela masih memikirkan tentang anaknya. Setelah menghubungi Khanza kemarin, Bu Bela menjadi tidak tenang. Bu Bela mencoba menghubungi anaknya walau hanya sebentar. Namun setelah mendengar suaranya, Bu Bela merasa yakin jika telah terjadi sesuatu kepada anaknya. Hanya saja Bu Bela pura-pura percaya dengan anaknya.


Sebagai seorang ibu, Bu Bela tahu benar jika Khanza sedang menyembunyikan sesuatu. Bu Bela tahu benar jika anaknya sedang ada masalah. Meski tidak mengatakan yang sebenarnya tapi dalam lubuk hati Bu Bela ia sangat tahu jika Khanza sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Ibu tahu nak, meski kamu tidak mengatakan yang sebenarnya. Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Tapi apapun masalahnya, semoga kamu bisa melewati itu semua nak," ujar Bu Bela yang selalu mendoakan anaknya dari kejauhan.


"Ada apa bu? Kenapa pagi-pagi begini sudah melamun?" tanya Pak Ahmad yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ah tidak apa-apa pak. Ibu hanya sedang merindukan anak kita saja," jawab Bu Bela.

__ADS_1


"Kenapa ibu tidak berkunjung saja ke rumahnya?" tukas Pak Ahmad yang memberikan saran kepada istrinya.


"Wah benar juga ya pak. Apa ibu boleh mengunjungi Khanza pak?" tanya Bu Bela.


"Tentu saja boleh, tapi maaf ayah tidak bisa mengantar ibu sebab hari ini ada pekerjaan penting," ujar Pak Ahmad.


"Tidak apa-apa yah, ibu mengerti," jawab Bu Bela yang tersenyum senang.


"Kalau begitu ayah pergi kerja dulu Bu, assalamualaikum," pamit Pak Ahmad yang selalu mencium kening istrinya sebelum pergi kemanapun.


"Iya yah, hati-hati dijalan waalaikumsalam," jawab Bu Bela yang langsung mencium punggung tangan kanan suaminya.


Meski usia mereka tidak lagi muda, tapi mereka masih selalu melakukan hal itu. Pak Ahmad masih bersikap romantis seperti dulu. Tidak ada yang berubah meski usianya sudah semakin bertambah. Begitupun dengan Bu Bela yang selalu menghormati suaminya.


Sudah beberapa bulan Bu Bela tidak bertemu dengan anaknya. Terakhir bertemu saat Khanza datang ke rumahnya seorang diri. Sejak saat itu, Khanza tidak pernah lagi datang mengunjunginya.


Setelah suaminya pergi, Bu Bela segera bersiap untuk pergi ke rumah anaknya. Bu Bela pergi menggunakan mobil yang diantar oleh supir pribadinya. Pak Ahmad memang sengaja menyiapkan supir untuk istrinya agar ia bisa pergi kemana pun.


Jarak rumah Khanza yang cukup jauh membuat Bu Bela sedikit lelah meski manik mobil.


Tok... tok...


"Assalamualaikum.." ujar Bu Bela sambil mengetuk pintu rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Azzam yang masih berada dirumah.


"Eh ibu, kenapa engga ngabarin kalau mau kesini?" tanya Azzam yang menautkan kedua halisnya. Azzam benar-benar merasa terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba.


"Ibu sengaja mau ngasih surprise buat Khanza," jawab Bu Bela yang tersenyum simpul.


"Silahkan masuk dulu Bu, ibu mau minum apa?" tanya Azzam yang langsung menawari ibunya minuman.

__ADS_1


"Iya terima kasih, ibu mau teh saja. Oiya kemana Khanza? Kok tidak kelihatan," tukas Bu Bela yang celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya.


"Khanza sudah pergi kerja Bu," jawab Azzam lirih.


"Apa kerja? Sejak kapan ia kerja? Kenapa selama ini dia tidak memberi tahu ibu?" tanya Bu Bela lagi yang merasa terkejut saat tahu anaknya ternyata bekerja.


"Mmh, anu bu katanya dia jenuh berada dirumah terus," jawab Azzam yang segera mencari alasan.


"Oh begitu," tukas Bu Bela yang merasa curiga.


Tidak biasanya Khanza seperti ini, sebab biasanya Khanza akan menceritakan yang sebenarnya jika ia akan bekerja. Biasanya Khanza selalu meminta nasihat ibunya jika akan melakukan sesuatu.


"Kenapa Khanza tidak memberi dahulu ya?" gumam batin Bu Bela.


"Terus kamu sendiri memangnya tidak kerja?" tanya Bu Bela yang menautkan kedua halisnya.


"Mau Bu, sebentar lagi aku akan pergi. Ibu istirahat saja sambil nunggu Khanza," jawab Azzam yang merasa risih atas kedatangan ibu mertuanya.


Azzam pun harus segera pergi karena tidak mau jika nanti ditanya-tanya lagi oleh ibu mertuanya.


"Kalau begitu Azzam pergi dulu Bu," pamit Azzam yang langsung menyalami ibu mertuanya.


"Iya nak, hati-hati dijalan," ujar Bu Bela.


Setelah kepergian Azzam, Bu Bela pun melihat-lihat keadaan rumah. Rumahnya tampak rapi dan bersih meski Khanza bekerja. Hanya saja tidak ada makanan yang tersaji diatas meja. Bu Bela pun berinisiatif memasak makanan kesukaan anaknya.


Tapi saat ia membuka kulkas, tidak ada stok makanan yang bisa ia masak.


"Apa Khanza belum ke pasar, kok tidak ada apa-apa didalam kulkas," gumam batin Bu Bela.


Disaat yang bersamaan, tukang sayur kebetulan lewat di halaman rumah Khanza.

__ADS_1


"Sayur.. sayur.." terdengar suara tukang sayur itu.


Bu Bela pun segera bergegas pergi membeli beberapa bahan makanan. Mumpung ia berada disini, Bu Bela ingin menyiapkan makanan kesukaan anaknya. Setelah membeli sayuran, Bu Bela pun segera memasak masakannya.


__ADS_2