#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
42. Akhir Yang Bahagia (Tamat)


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Azam masih tetap tinggal bersama pamannya di desa. Ia bertekad tidak akan pergi kemana-mana lagi. Azam hanya akan tinggal disini, tempat dimana ayahnya dibesarkan.


Meski sudah beberapa tahun berlalu tapi Azam masih tetap dengan kesendiriannya. Rasanya Azam belum mau memikirkan hal yang lain selain ingin memperbaiki dirinya sendiri menjadi lebih baik lagi.


"Apa kamu tidak ingin mencari pendamping nak?" tanya Husen.


"Entahlah paman, aku belum mau memikirkan hal itu. Aku hanya ingin fokus bekerja saja saat ini," jawab Azam yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor.


"Ya sudah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu. Padahal tadinya paman ingin mengenalkanmu pada seorang wanita," timpal Pak Husen lagi.


"Entahlah paman, nanti saja," tukas Azam lagi sambil berlalu meninggalkan rumah. Semenjak kedatangannya ke rumah paman Husen, Azam terlihat begitu pendiam. Dia lebih senang menyendiri dan tidak terlalu banyak berkata-kata.


Kini Azam menyesali perbuatannya pada Khanza. Kini Azam benar-benar merasa kehilangan. Azam tidak mungkin mendapatkan apa yang sudah hilang dari dalam hidupnya.


"Maafkan aku Khanza, aku selalu menyakitimu. Aku berharap kamu akan selalu hidup bahagia," gumam batin Azam.

__ADS_1


Sekarang Azam bekerja disebuah perusahaan yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Meski awalnya Azam merasa tidak betah, tapi Azam berusaha untuk tetap berada dikota ini. Seiring berjalan nya waktu akhirnya Azam merasa betah berada di sini.


Semua orang merasa bahagia semenjak kehadiran Shanum, terutama Khanza dan Arga. Sebagai orang tua, mereka merasa begitu beruntung karena Tuhan menghadirkan buah hati ditengah-tengah mereka.


"Terima kasih Khanza karena semenjak kehadiran mu, hidupku selalu mendapatkan kebahagiaan," ujar Arga sambil memegang tangan istrinya.


"Iya mas sama-sama, terima kasih juga karena sudah memilih ku meskipun aku adalah seorang janda," timpal Khanza.


"Sudahlah Khanza jangan berkata seperti itu. Tidak penting apapun statusmu, yang terpenting saat ini kita bisa hidup dengan bahagia," tukas Arga yang langsung memeluk istrinya.


Ea.. ea..


"Cup, cup, cup," ujar Khanza yang langsung melepaskan pelukan Arga.


"Shanum, ciluk ba," panggil Arga.

__ADS_1


Shanum yang sedang menangis pun seketika tersenyum. Shanum terlihat begitu senang saat melihat ayahnya. Khanza pun tersenyum saat melihat anaknya terlihat begitu senang. Mereka terlihat begitu bahagia.


Beberapa tahun berlalu, Shanum tumbuh menjadi anak perempuan yang begitu cantik dan bersih. Kini Shanum sudah masuk di bangku Sekolah Dasar (SD), sedangkan Khanza kini sedang mengandung anak kedua mereka.


Sementara Azam kini sudah memiliki seorang pendamping dalam hidupnya yang bernama Arin. Arin merupakan teman satu kantor Azam. Mereka selalu pergi bersama dan seiring berjalannya waktu cinta itu tumbuh diantara mereka berdua.


Azam memutuskan untuk melamar Arin karena ia mulai jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunggu lama-lama akhirnya Azam pun segera mempersunting Arin agar ia bisa secepatnya menjadi miliknya.


Beberapa bulan kemudian akhirnya mereka resmi menjadi pasangan suami istri.


"Terima kasih Arin karena kamu suadah mau menjadi pendamping ku," ujar Azam setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri.


"Ya Azam sama-sama, aku berharap pernikahan kita akan langgeng," timpal Arin seraya memeluk suaminya.


"Aamiin sayang, aku sangat mencintaimu," ujar Azam.

__ADS_1


Azam dan Khanza pun akhirnya hidup bahagia bersama pasangan mereka masing-masing.


__ADS_2