
Tidak berapa lama ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Dari kejauhan orang itu memperhatikan Azzam dan kekasihnya sejak tadi. Ia juga sengaja memperhatikan mereka lebih lama agar semua yang ia lihat lebih jelas.
Dan benar saja, ternyata wanita itu. Wanita yang sebelumnya pernah ia lihat bersama Azzam dijalan itu. Untuk lebih banyak mendapatkan bukti, ia sengaja merekam semua percakapan diantara mereka berdua.
"Jadi semua ini benar mas? Jadi ini alasan kenapa kamu jarang pulang ke rumah mas?" lirih Khanza yang langsung melabrak mereka berdua dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Khanza? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Azzam yang merasa terkejut dengan kedatangan Khanza yang tiba-tiba.
"Seharusnya aku yang tanya mas, kenapa kamu bisa ada disini? Aku kecewa sama kamu mas," ujar Khanza lagi yang kini sudah tidak tahan lagi menahan air matanya yang sudah tidak terbendung.
"Dia siapa Azzam?" tanya Manohara yang sama-sama merasa terkejut. Akan tetapi Azzam tidak mengabaikan pertanyaan kekasihnya, ia hanya mengangkat 5 jarinya sebagai pertanda diam. Melihat pertanda itu akhirnya membuat Manohara mengerti. Ia hanya diam menyaksikan perdebatan antara Azzam dan Khanza.
"Tunggu Khanza, aku bisa jelaskan," panggil Azzam yang meraih tangan Khanza.
"Tidak mas semuanya sudah jelas. Jika hanya tentang nafkah yang tidak pernah diberikan, aku masih bisa memaafkan mas karena aku bisa mencari uang sendiri. Tapi soal hati aku benar-benar tidak bisa memaafkan ini semua mas," lirih Khanza dengan suara bergetar. Air matanya kian luruh membasahi pipi.
Mendengar kata-kata Khanza membuat Azzam merasa bersalah. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah kejadian ini. Selama ini Azzam begitu menyakiti istrinya. Bahkan kini ia tega mengkhianati Khanza.
"Maafkan aku Khanza," ujar Azzam lagi.
"Tidak mas, aku sangat kecewa dengan semua ini," lirih Khanza yang segera bergegas pergi meninggalkan Azzam dan wanita itu.
Setelah melihat kejadian itu, Khanza tidak sanggup lagi melihat wajah Azzam. Khanza segera bergegas pergi dan memanggil taksi.
Sementara setelah kepergian Khanza, Azzam tiba-tiba tersungkur. Dia mulai menyesali perbuatannya.
"Jadi siapa wanita itu?" tanya Manohara sinis.
"Dia sebenarnya adalah istriku," jawab Azzam ragu.
__ADS_1
"Apa jadi selama ini kamu berbohong kepadaku?" tanya Manohara lagi.
"Ya maafkan aku, karena aku sudah membohongimu. Tapi aku juga benar-benar mencintaimu," ujar Azzam yang berusaha mendekap Manohara.
"Apa cinta? Lalu bagaimana dengan istriku?" tanya Manohara yang tampak bingung.
"Iya aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu," lirih Azzam.
"Sebenarnya aku sangat kecewa dengan semua ini, tapi aku juga sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilangan," lirih Manohara yang segera memeluk Azzam. Mereka akhirnya berpelukan karena tidak ingin kehilangan satu sama lain.
"Sekarang aku akan pulang untuk menyelesaikan semua masalah ini," ujar Azzam yang meminta izin untuk menjelaskan semuanya kepada Khanza.
"Ya sudah, tapi cepat kembali," jawab Khanza.
Sementara Khanza bergegas pulang setelah mengetahui semuanya.
"Taksi," ujar Khanza yang melihat taksi berlalu dihadapannya. Tak berapa lama, taksi itu mundur dihadapan Khanza.
Sepanjang perjalanan Khanza tidak bisa menahan air mata yang jatuh begitu derasnya. Hatinya begitu sakit tak tertahankan. Jika hanya sekedar nafkah yang tidak pernah diberikan Azzam, Khanza masih bisa memaafkan suaminya. Akan tetapi jika menyangkut hati, wanita mana yang akan sanggup melihat suaminya bersama dengan wanita lain.
Tak berapa lama akhirnya Khanza tiba dirumah. Dia segera membuka kunci rumah dan segera masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar Khanza masih tidak bisa menghentikan kesedihan dan tangisannya.
Hatinya begitu terpukul melihat laki-laki yang begitu ia cintai ternyata sedang bersama wanita lain. Khanza pun merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mau jika orang tuanya sampai mengetahui semua ini.
Apa yang akan ia katakan jika sampai orang tuanya tahu tentang perbuatan Azzam.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berpisah dengan mas Azzam? Apa jodohku hanya cukup sampai disini?" gumam batin Khanza yang terus saja menangis.
Ia merasa bingung harus bagaimana. Tidak berapa lama ditengah-tengah tangisannya terdengar suara ponsel yang berdering. Khanza pun bergegas mencari benda pipih itu didalam tasnya yang berada diatas nakas.
__ADS_1
Saat melihat ponsel itu, ternyata panggilan itu dari ibunya.
"Ibu, bagaimana aku akan menjawab telfon ibu dengan keadaanku yang seperti ini," gumam batin Khanza sebelum mengangkat telfon itu.
Cukup lama ia membiarkan ponselnya berdering, namun pada akhirnya ia mengangkat telfon itu.
📲 "Halo assalamualaikum."
📲 "Halo waalaikumsalam nak, bagaimana dengan kabarmu nak?"
📲 "Aku tidak apa-apa bu, aku baik-baik saja."
📲 "Perasaan ibu tidak enak sejak tadi, apa terjadi sesuatu sama kamu nak? Kenapa suaramu seperti habis menangis?"
📲 "Tidak bu, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit flu saja, jadi ibu tidak perlu khawatir ya."
📲 "Syukurlah kalau begitu, baik-baik ya nak. Jika ada apa-apa hubungi ibu. Kalau begitu ibu tutup telponnya ya nak. Assalamualaikum.
📲 "Iya bu siap, ibu tidak perlu khawatir. Waalaikumsalam."
Setelah percakapan itu membuat Khanza sedikit lega. Khanza terpaksa harus berbohong kepada ibunya karena tidak mungkin jika ia harus menceritakan segalanya kepada ibu. Khanza takut jika ibunya akan kepikiran setelah mengetahui semua masalahnya.
"Maafkan Khanza bu. Khanza terpaksa harus membohongi ibu. Khanza tidak mau ibu menjadi banyak pikiran karena masalah Khanza," ujar Khanza dengan mata yang berkaca-kaca sesaat setelah mengakhiri panggilannya.
Sebenarnya Khanza ingin menceritakan setiap masalahnya kepada ibunya. Mungkin dengan bercerita akan sedikit membuat perasaannya lebih baik. Akan tetapi sangat tidak mungkin jika ia harus menceritakan setiap permasalahan rumah tangganya. Bukankah masalah itu akan semakin rumit.
Ditempat lain Bu Bela merasa sedikit tenang walaupun sebenarnya ia merasa sangat khawatir. Sebagai seorang ibu, Bu Bela tiba-tiba merasa sangat mencemaskan anaknya. Bu Bela merasa jika telah terjadi sesuatu dengan Khanza.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya. Apa Khanza baik-baik saja? Aku jadi ingin meneleponnya," ujar Bu Bela sesaat sebelum menelfon.
__ADS_1
Bu Bela segera menghubungi Khanza walau hanya sebentar. Namun setelah mendengar suaranya, Bu Bela merasa yakin jika telah terjadi sesuatu kepada anaknya. Hanya saja Bu Bela pura-pura percaya dengan anaknya.
Karena sebagai seorang ibu, Bu Bela tahu benar jika Khanza sedang sedang menyembunyikan sesuatu. Bu Bela tahu benar jika anaknya sedang ada masalah.