
Kehamilan Khanza pun akhirnya terdengar sampai ke telinga ibunya dan juga mertuanya. Setelah mereka mengetahui jika anak mereka sedang hamil, mereka menjadi lebih over protektif. Khanza mendapatkan perhatian yang lebih dari seluruh keluarganya.
Ting.. tong..
"Siapa pagi-pagi begini sudah ada yang bertamu," gumam batin Khanza yang segera bergegas menuju pintu.
"Ibu?" tanya Khanza yang masih tidak percaya dengan kedatangan ibunya.
"Apa kabar sayang?" tanya ibunya yang segera memeluk anaknya.
"Aku hanya sedikit mual dan pusing bu," jawab Khanza yang terlihat begitu lemas dan pucat.
"Jangan terlalu banyak beraktifitas dulu nak, jangan sampai kelelahan," tambah Bu Bela.
"Iya bu," jawab Khanza yang kini duduk di sofa.
Sudah beberapa hari ini Khanza merasa begitu lemas. Kepalanya terasa pusing serta perutnya hampir setiap hari merasa mual. Namun kali ini Khanza beruntung karena ada ibunya yang datang menjenguk.
Khanza tidak diperbolehkan bekerja terlalu keras atau mengangkat benda-benda yang berat. Ia harus banyak beristirahat. Tak lama datanglah bu Mentari yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya. Ia membawa beberapa mangga muda dan segar.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ujar Mentari yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam," jawab Khanza dan ibunya serempak.
"Ibu apa kabar?" tanya Khanza sambil menyalami ibu mertuanya.
"Kabar baik nak, kamu sendiri bagaimana?" jawab Mentari seraya membalas pelukan menantunya.
"Sudah lama berada disini jeng?" sapa Mentari saat menyalami Bela.
"Ah tidak, aku juga baru saja datang," jawab Bela sambil membalas pelukan Mentari.
Mereka berdua terlihat begitu akrab, ditambah saat mengetahui jika putri mereka sedang hamil menambah kebahagiaan bagi mereka berdua. Karena bagi mereka anak Khanza merupakan cucu pertama.
"Iya bu, mas Arga sudah pergi pagi-pagi sekali," jawab Khanza.
"Apa kamu sudah makan nak?" tanya Bela.
"Belum bu rasanya tidak berselera untuk makan," jawab Khanza.
__ADS_1
"Loh jangan seperti itu nak, setidaknya paksakan walau hanya sedikit yang masuk," timpal Mentari.
"Iya bu, akan aku usahakan," jawab Khanza ang menundukkan kepalanya..
"Ya sudah biar ibu buatkan bubur ya," tukas Bela yang segera bergegas ke dapur.
Dengan penuh kasih sayang Bela membuatkan bubur ayam untuk anaknya. Meski sangat sederhana namun Bela membuat nya dengan penuh kasih sayang. Beberapa menit kemudian akhirnya bubur itu jadi juga.
"Wah aromanya enak sekali," ujar Khanza yang mengendus hidungnya kemana-mana.
"Ya sudah cepat makan ya nak," titah Mentari yang segera menghidangkan bubur itu untuk menantunya. Bela dan Mentari terlihat begitu kompak saat merawat anaknya.
Khanza begitu beruntung karena disaat-saat seperti ini masih ada orang tua yang selalu memperhatikannya. Khanza merasa sangat senang saat mereka begitu perhatian kepadanya.
Bela hanya tersenyum karena mertua Khanza begitu baik kepadanya. Sementara Mentari menyuapi Khanza, Bela sengaja mengupas mangga muda untuk anaknya. Terlebih dahulu Bela membuat sambal sebagai pelengkapnya. Setelah selesai barulah ia menghidangkan rujak itu diatas meja.
"Wah sepertinya segar bu," ujar Khanza yang merasa tergiur dengan apa yang dibuat kan ibunya.
"Iya dong, ini pasti endolita," kekeh Bela sambil tertawa.
__ADS_1
"Makanya ayo habiskan makanannya biar bisa makan ini," tukas Bela sambil mencoba rujak buatannya.
Sementara ditempat lain Arga sedang disibukan dengan pekerjaannya.