
Merasa kesal Khanza segera bergegas masuk ke dalam rumah. Khanza tidak pernah menyangka jika Azam akan datang lagi ke dalam hidupnya. Padahal hampir 2 tahun lamanya mereka berpisah. Tapi kini berani-beraninya Azam datang kembali kepada Khanza.
"Ada apa nak?" tanya Bu Bela yang melihat anaknya seperti sedang gelisah.
"Ti, tidak bu. Tidak apa-apa," jawab Khanza gagap.
"Kalau begitu aku langsung ke kamar bu, aku lelah," pamit Khanza yang segera bergegas ke dalam kamarnya.
"Ada apa dengan anak itu ya? kok aku merasa jika dia sedang menyembunyikan sesuatu," gumam batin Bela.
"Tapi ya sudahlah itu pasti hanya pikiranku saja," tambahnya lagi yang seolah bermonolog.
Sementara didalam kamar Khanza menjadi tidak tenang. Kenapa dia bisa tahu jika Khanza berada dirumah orang tuanya. Untuk apa lagi sebenarnya Azam datang. Khanza. pun memikirkan berbagai cara agar Azam tidak mengganggunya kembali.
"Apa sebaiknya aku iyakan saja ajakan Arga?" gumam batin Khanza.
"Ah entahlah, aku merasa bingung. Yang jelas hari ini aku tidak pernah sudi untuk bertemu lagi dengan Azam. Cukup untuk pengkhianatan yang sudah dia beri. Aku akan membuka lembaran baru dengan Arga saja," tambahnya lagi.
Sejak tadi Khanza memikirkan berbagai cara agar Azam tidak mengganggunya lagi.
__ADS_1
" Mungkin jika dia tahu aku sudah memiliki pasangan lagi, dia tidak akan mengejarku lagi," ujar Khanza.
Hampir semalaman Khanza tidak bisa tidur memikirkan Azam yang tiba-tiba saja datang kembali didalam hidupnya. Khanza benar-benar tidak pernah menyangka jika ia akan datang lagi di hidupnya.
Namun walaupun Azam sudah benar-benar berubah, Khanza tetap tidak bisa memberikannya kesempatan yang kedua atau yang ketiga. Sebab saat itu Khanza pernah memberikan kesempatan namun Azam justru menyia-nyiakannya.
Keesokan harinya Khanza sudah pergi ke kantor lebih awal. Dia sengaja pergi ke kantor pagi-pagi sekali agar ia bisa bertemu dengan Arga dan membicarakan tentang perasaannya yang kemarin dia nyatakan.
"Tumben pagi sekali kamu sudah datang?" tanya Arga yang melihat Khanza baru saja datang dan langsung memarkirkan sepeda motornya.
"Iya Ga aku ada perlu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Khanza ragu namun ia tetap memberitahukan maksudnya.
"Ga disini juga kali," ucap Khanza yang merasa malu jika harus membicarakan hal penting ini diluar.
"Oh penting ya? Ya sudah kita bicara di ruanganku saja," ujar Arga yang segera bergegas pergi meninggalkan Khanza.
Tanpa menjawab apa-apa, Khanza segera bergegas mengekor dari belakang Arga.
Beberapa menit kemudian tibalah mereka diruangan Arga.
__ADS_1
"Silahkan duduk Khanza, Apa kamu mau minum sesuatu?" tanya Arga menawarkan sebuah minuman.
"Terima kasih, tidak Ga. Tidak perlu," jawab Khanza.
"Lalu sebenarnya ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arga lagi.
"Begini Ga, sebenarnya aku ingin menjawab pertanyaanmu yang kemarin," ujar Khanza yang malu-malu.
"Pertanyaan yang mana ya? Aku lupa," tanya Arga balik.
"Itu loh, tentang pernikahan Ga," jelas Khanza.
"Oh jadi gimana? Apa sekarang kamu sudah setuju?" tanya Arga lagi.
Merasa malu Khanza pun langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Jadi beneran kamu sudah setuju Khanza?" tanya Arga sekali lgi. Sebab ia tidak mau lagi merasa salah paham kepada Khanza.
"Iya Ga beneran aku sudah setuju," jawab Khanza sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Yes," sorak Arga yang merasa sangat bahagia saat mendapat lampu hijau dari Khanza.