
Beberapa menit berkutat di dapur akhirnya Bu Bela dapat menyelesaikan masakannya. Bu Bela memasak rendang kesukaan Khanza dan sayuran serta kerupuk untuk pelengkapnya. Walau merasa lelah tapi Bu Bela cukup senang karena sudah sangat lama Khanza tidak memakan masakannya setelah ia menikah.
Satu jam kemudian akhirnya Khanza tiba dirumah. Saat membuka pintu Khanza merasa curiga karena pintunya tidak dikunci. Namun saat ia masuk ke dalam rumahnya, Khanza mencium bau masakan yang sepertinya Khanza mengenal masakan itu.
"Bau masakan ini, seperti masakan ibu. Tapi tidak mungkin ibu ada disini, mungkin itu masakan tetangga sebelah," lirih Khanza.
Khanza pun terus melangkahkan kakinya hingga menuju meja makan. Khanza merasa terkejut karena di meja itu terdapat beberapa makanan.
"Wah, aku jadi laper," tukas Khanza yang merasa ngiler melihat makanan diatas meja.
"Surprise.." teriak Bu Bela dari persembunyiannya. Sejak tadi Bu Bela sengaja bersembunyi di dapur untuk mengejutkan anaknya.
"Ibu.." ucap Khanza tak percaya dan langsung memeluknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ah sayang, kenapa menangis?" tanya Bu Bela yang melihat anaknya terlihat begitu sedih.
"Aku hanya merindukan ibu saja. Aku masih tidak percaya ibu ada disini," ujar Khanza sambil mengusap air mata dipipinya.
"Sudahlah jangan bersedih lagi, ayo kita makan," ajak Bu Bela yang mengalihkan kesedihan anaknya. Sebagai ibunya, Bu Bela tahu jika Khanza menangis bukan karena kedatangan ibunya. Tapi Khanza menangis karena ia sedang ada masalah.
Khanza pun mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju meja makan. Bu Bela mengambilkan nasi untuk dirinya dan juga anaknya.
"Biar aku saja bu," ujar Khanza yang menghentikan ibunya.
"Tidak apa-sayang, mumpung ibu ada disini ibu ingin melakukan ini," tukas Bu Bela.
Khanza pun semakin berkaca-kaca mendengar pernyataan ibunya. Khanza merindukan momen-momen seperti ini. Ia pun memakan makananannya dengan sangat lahap. Sudah lama sekali Khanza tidak pernah makan makanan seenak ini. Makanan seorang ibu memang selalu dirindukan anaknya.
"Aku mandi dulu, nanti setelah mandi kita bicara lagi," ujar Khanza yang sambil bergegas ke kamar mandi.
"Iya sayang," jawab Bu Bela yang menunggu Khanza diruang tamu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Khanza merenung dikamarnya. Khanza merasa bingung karena ibunya tiba-tiba saja datang tanpa mengabari terlebih dulu. Biasanya ibu akan mengabari Khanza terlebih dulu.
"Kenapa ibu tiba-tiba datang? Apa ibu sudah tahu semuanya? Ah tapi tidak mungkin," gumamnya lagi bermonolog.
Merasa pusing sendiri dengan pikirannya, Khanza pun segera bergegas mandi. Ibunya pasti sudah lama menunggu di ruang tamu. Beberapa menit kemudian akhirnya Khanza beres mandi dan segera menemui ibunya diruang tamu.
"Sudah beres mandinya nak?" tanya Bu Bela.
"Sudah bu," jawab Khanza.
"Ibu tidak memberitahu dulu jika mau ke sini," ujar Khanza membuka pembicaraan.
"Ibu sengaja karena ingin memberikan kejutan untuk kamu sayang. Sebenarnya sudah beberapa hari ini hati ibu tidak tenang. Ibu sangat mengkhawatirkan keadaanmu nak," lirih Bu Bela.
"Lalu sejak kapan kamu bekerja? Kenapa tidak memberitahu ibu jika selama ini kamu bekerja?" tambah Bu Bela lagi yang merasa penasaran sejak tadi. Hanya saja Bu Bela mengerti jika anaknya pasti merasa lelah setelah seharian bekerja.
Deg..
"Khanza? Kenapa nak?" tanya Bu Bela yang tiba-tiba melihat Khanza terdiam.
"Eh itu bu, anu. Aku, aku hanya merasa bosan saja berada dirumah seharian," lirih Khanza dengan terbata.
"Apa kamu masih belum ada tanda-tanda hamil nak? Mungkin jika ada anak kamu tidak akan merasa kesepian nak," ujar Bu Bela.
"Masih belum bu. Mungkin Allah masih belum percaya," lirih Khanza.
"Yang sabar nak, terus berdoa minta sama Allah agar diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah," ujar Bu Bela.
"Iya bu, aamiin, aamiin," sahut Khanza yang mengaminkan doa ibunya.
"Syukurlah ibu percaya," gumam batin Khanza.
__ADS_1
"Tapi benaran kamu sedang tidak ada masalah kan nak?" tanya Bu Bela memastikan.
"Iya bu beneran," jawab Khanza yang terpaksa harus berbohong.
"Maafkan Khanza bu, aku terpaksa berbohong. Aku tidak mau membuat ibu sedih," gumam batin Khanza.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang ibu sudah tenang," ujar Bu Bela sambil memeluk anaknya.
"Sebenarnya ibu masih inget menginap disini untuk beberapa hari lagi. Tapi ibu tidak enak dengan Reza. Mungkin ibu akan pulang besok pagi," ujar Bu Khanza.
"Yah ibu," sahut Khanza yang merasa kecewa. Sebenarnya Khanza juga ingin ibunya berada lebih lama dirumahnya, akan tetapi bagaimana dengan Reza.
Hampir semalaman mereka berbincang. Tapi tak membuat mereka mengantuk begitu saja. Bu Bela merasa curiga, kenapa menantunya belum pulang juga.
"Oiya Khanza, kenapa suami kamu belum pulang? Ini kan sudah mau jam 10 malam," ujar Bu Bela.
"Mungkin mas Azzam lembur bu. Sudah beberapa hari ini mas Azzam banyak kerjaan," jawab Khanza yang lagi-lagi harus berbohong.
"Paling sebentar lagi juga mas Azzam pulang bu, ibu istirahat aja ya sudah malam," timpal Khanza yang berusaha meyakinkan ibunnya.
"Ya sudah kalau begitu, ibu tidak dulu ya nak. Ibu ngantuk," pamit Bu Bela yang segera bergegas ke kamarnya.
"Akhirnya," gumam batin Khanza yang merasa lega karena akhirnya Bu Bela tidur juga.
"Kenapa mas Azzam belum datang juga ya? Apa jangan-jangan dia menemui wanita itu lagi," gumam batin Khanza. Setelah kejadian beberapa hari lalu , Khanza merasa takut jika suaminya akan bersikap seperti itu lagi.
Namun setelah Khanza tahu tentang hal itu, tidak membuat Azzam jera. Ternyata dibelakang Khanza, diam-diam Azzam masih menemui pacarnya. Hanya saja saat ini dirumah ada ibu mertuanya yang pasti merasa curiga jika ia tidak pulang. Akhirnya Azzam pun pulang sebelum tengah malam.
Khanza menunggu kedatangan suaminya diruang tamu. Saat ibunya berada dirumah, Khanza benar-benar tidak tenang karena ia takut jika suaminya akan berulah lagi. Satu jam kemudian karena lelah, Khanza pun tertidur diatas sofa.
Azzam yang ketika itu baru datang merasa kasihan melihat istrinya tertidur di sofa. Akhirnya ia pun membopong Khanza ke dalam kamarnya. Bu Bela yang kebetulan ingin ke kamar mandi merasa bersyukur melihat perhatian Azzam kepada istrinya.
__ADS_1
"Syukurlah, ternyata pernikahan kalian baik-baik saja," gumam batin Bu Bela sambil mengelus dadanya. Setelah dari kamar mandi, Bu Bela segera melanjutkan tidurnya hingga esok hari.