
Sudah beberapa hari Khanza berada dirumah orang tuanya. Semenjak pertengkaran terakhirnya bersama Azam, Khanza memutuskan untuk pergi dari rumah sebab ia sudah tidak tahan lagi dengan semua sikap Azam. Bahkan kini Khanza meminta bercerai dari suaminya.
Sudah beberapa hari juga Khanza tidak masuk kantor. Arga yang sudah beberapa hari memperhatikan kehadiran Khanza merasa khawatir. Ia pun mencoba menghubungi Khanza melalui panggilan selulernya.
"Sudah beberapa hari ini Khanza tidak masuk kantor, apa dia baik-baik saja," gumam batin Arga. Ia pun segera mengeluarkan benda pipihnya dari dalam saku celananya.
"Halo Khanza, apa kabar?" tanya Arga yang langsung membuka pembicaraan.
"Iya halo pak, saya hanya sedikit kurang enak badan saja pak. Mungkin setelah beberapa hari istirahat, saya akan kembali bekerja," jawab Khanza di sebrang sana.
"Baiklah kalau begitu, semoga cepat sembuh ya Khanza," pamit Arga yang segera mengakhiri panggilannya. Walaupun sebenarnya Arga masih ingin berbicara banyak hal dengan Khanza, tapi Arga merasa malu.
"Iya pak, makasih," jawab Khanza.
"Maafkan aku Ga, aku tidak bisa menceritakan masalahku," gumam batin Khanza setelah menutup telponnya.
Sementara Arga merasa lega setelah mendengar suara Khanza. Sejak pertemuannya pertama kali membuat Arga tidak bisa melupakan Khanza. Bahkan hingga detik ini Arga masih menyimpan rasa itu. Rasa yang mungkin tidak akan pernah hilang.
"Entah kenapa aku merasa jika kamu sedang ada masalah Khanza. Tapi apapun itu semoga kamu bisa melewati semuanya," gumam batin Arga yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Khanza masih memikirkan perceraiannya dengan Azam. Khanza tidak pernah membayangkan jika pernikahannya akan berakhir seperti ini.
"Assalamualaikum," ucap Pak Ahmad saat membukakan pintu.
"Waalaikumsalam yah," jawab Khanza yang merasa terkejut dengan kedatangan ayahnya.
"Ayah sudah mengurus perceraian kamu nak, besok sidang pertama akan dilakukan," ujar Pak Ahmad yang baru saja datang dari kantor pengadilan agama.
"Syukurlah yah, aku harap semuanya akan berjalan lancar agar aku bisa segera bebas dari mas Azam," ucap Khanza penuh harap.
"Iya sayang aamiin, pokoknya ayah doakan semua yang terbaik untuk kamu nak," tukas sang ayah yang langsung memeluk ayahnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu ayah ke kamar dulu yah mau istirahat," pamit Pak Ahmad yang segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Iya yah," jawab Khanza.
Keesokan harinya Khanza sudah datang lebih awal di persidangan. Sedangkan Azam sedikit terlambat. Namun saat mereka sedang berjalan menuju ruangan itu tiba-tiba saja Azam menghampiri Khanza.
"Khanza tolong pikirkan sekali lagi. Aku benar-benar sangat menyesal dengan perbuatan yang sudah aku lakukan," lirih Azam sambil berlutut dihadapan Khanza.
"Maaf mas sepertinya penyesalan itu datang terlambat. Aku sudah memberikan kesempatan yang kedua, tapi kamu malah menyia-nyiakannya mas," lirih Khanza.
"Ya aku tahu Khanza, maka dari itu tolong berikan aku kesempatan yang terakhir, please," ujar Azam yang menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permohonan.
"Maafkan aku mas, aku tidak bisa memberikan kesempatan lagi. Semuanya sudah terlambat," ujar Khanza sambil berlalu meninggalkan Azam dibelakang.
Sekarang Khanza duduk dibagian depan dan bersebelahan dengan Azam. Acara persidangan pun dimulai beberapa menit. Didalam sidang itu terasa sungguh rumit karena Azam sudah merencanakan semuanya.
Satu jam kemudian akhirnya persidangan itu selesai. Setelah hakim mendengar duduk perkara yang sebenarnya, akhirnya hakim memutuskan bahwa rumah tangga mereka tidak bisa dilanjutkan karena suami tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya.
"Alhamdulillah akhirnya," ujar Khanza yang segera mengamini doa hakim.
"Terima kasih yah,bu," gumam batin Khanza yang merasa tidak enak karena selalu merepotkan mereka.
"Sama-sama sayang," ujar Bu Bela.
Khanza pun segera menuju mobil milik ayahnya. Entah perasaan apa yang harus Khanza rasakan. Merasa senang atau sedih setelah perpisahan ini terjadi. Apakah Khanza harus merasa senang karena akhirnya ia benar-benar berpisah dari Azam.
Suami yang sama sekali tidak pernah memperdulikan atau bahkan menafkahi Khanza selama ini. Ataukah Khanza harus merasa bersedih karena harus berpisah dari seseorang yang sangat ia cintai.
"Bagaimana perasaanmu sekarang nak?" tanya Bu Bela yang sejak tadi memperhatikan anaknya terdiam.
"Entahlah bu, aku juga merasa bingung harus merasa senang atau sedih setelah perpisahan ini. Padahal dulu kita saling mencintai. Bahkan aku pernah sangat mencintai mas Azam, tapi dia ternyata tega mengkhianati aku bu," lirih Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sudahlah nak, sekarang jangan pikirkan dia lagi. Untuk apa kamu mencintai seseorang yang tidak pernah memperdulikan perasaanmu," ujar Bu Bela yang segera memeluk anaknya.
Khanza pun kini menangis dipelukan ibunya. Cukup lama Khanza sesegukan berada dipelukan ibunya, namun hal itu seolah menjadi obat yang paling mujarab saat ini. Setelah Khanza menumpahkan segala kesedihannya kepada sang, kini Khanza merasa begitu lega.
"Yang sabar nak, Allah memberikan kamu cobaan seperti berarti Allah tahu jika kamu bisa melewati ini semua," timpal Pak Ahmad saat ia sedang menyetir namun ia juga memperhatikan kejadian di belakang antara ibu dan anak itu.
Satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba dirumah. Khanza segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Tak berapa lama terdengar suara sang ibu yang mengetuk pintu kamar.
Tok.. tok..
"Khanza, makan dulu sayang. Ibu perhatikan sejak pagi kamu belum makan," ujar Bu Bela sambil membawa makanan untuk anaknya.
"Nanti saja Bu, aku belum lapar," teriak Khanza dari dalam kamar.
"Tidak sayang tolong buka dulu pintunya," pinta sang ibu.
Khanza pun terbangun dari pembaringannya. Sebenarnya ia sedang tidak nafsu makan, akan tetapi Bu Bela sengaja masuk agar dapat menyuapi anaknya makan. Mungkin dengan cara seperti ini Khanza akhirnya mau makan.
"Terima kasih bu," ujar Khanza saat menerima suapan pertama dari ibunya.
"Iya sayang," jawab Bu Bela yang langsung mengendorkan nasi untuk yang kedua kalinya.
Khanza jadi teringat akan masa lalunya dulu saat ia masih kecil. Bu Bela selalu menyuapi Khanza saat ia tidak mau makan. Sekarang setelah bertahun-tahun, Khanza baru merasakan lagi suapan sang ibu.
"Mungkin besok aku akan mulai bekerja lagi bu," ujar Khanza setelah menghabiskan makanannya.
"Kenapa sayang? Lebih baik kamu dirumah saja," timpal sang ibu.
"Tapi aku merasa bosan jika berada dirumah terus bu," lirih Khanza.
"Ya sudah jika memang itu yang menjadi keputusan kamu, ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik saja untuk kamu sayang," tukas Bu Bela.
__ADS_1
"Iya bu, terima kasih ya bu," ujar Khanza yang lagi-lagi memeluk ibunya. Khanza merasa beruntung karena ibunya selalu ada saat ia menghadapi masa-masa sulit.