#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
16. Akhirnya Ketahuan Juga


__ADS_3

Hari ini Pak Ahmad dan Bu Bela berencana akan mengunjungi Khanza dirumahnya. Mereka sengaja memilih hari minggu dengan harapan Khanza akan berada dirumahnya. Sebab jika memilih hari biasa, mungkin Khanza tidak akan berada dirumah karena harus bekerja.


"Sudah siap bu?" tanya Pak Ahmad yang sudah menunggu istrinya sejak tadi.


"Iya yah sebentar lagi," teriak Bu Bela dari dalam rumah sambil membetulkan kerudungnya.


"Wanita itu memang kebiasaan ya kalau dandan itu pasti lama," ujar Pak Ahmad yang sudah menunggu sejak tadi. Pak Ahmad merasa kesal karena ia diminta tidak terlalu lama saat bersiap, akan tetapi kini kenyataannya Bu Bela lah yang ternyata masih belum siap.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Bu Bela datang juga.


"Ibu ini lama sekali," ujar Pak Ahmad yang merasa senang saat istrinya keluar dari rumah.


"Baru sebentar juga," tukas Bu Bela yang malah menggoda suaminya.


"Sebentar apanya. Ya sudah kita berangkat sudah siang," ujar Pak Ahmad yang segera melajukan kendaraannya.


Rumah Khanza memang cukup jauh. Sehingga mereka harus menempuh jarak selama beberapa jam. Tidak berapa lama akhirnya mereka tiba dirumah Khanza.


"Disini sejuk ya bu," ujar Pak Ahmad yang baru saja datang turun dari mobil.


"Iya disini suasananya sejuk yah," jawab Bu Bela.


"Perasaan ada suara mobil, tapi siapa ya?" gumam batin Khanza didalam rumah.


Tok.. tok... tok..


"Assalamualaikum," ujar Pak Ahmad sambil mengetuk pintu.


"Ayah, ibu?" tanya Khanza yang merasa terkejut dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba.


"Iya sayang, apa kabar?" tanya Pak Ahmad yang langsung memeluk anaknya karena sudah cukup lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Kenapa ayah sama ibu tidak mengabari dulu jika akan ke sini?" tanya Khanza.


"Ayahmu sengaja ingin bertemu denganmu nak," timpal Bu Bela yang segera memeluk anaknya. Padahal belum lama mereka bertemu, tapi rasanya sudah cukup lama.


"Aku baik yah, silahkan masuk dulu yah, bu," ajak Khanza.


"Dimana suamimu?" tanya Pak Ahmad yang sejak tadi mencari keberadaan menantunya.


Deg..


Pertanyaan ayahnya seolah membuat Khanza merasa bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena memang begitulah sikap Azam akhir-akhir ini. Kadang pulang ke rumah, kadang tidak.


"Apa yang harus aku katakan pada ayah. Sejak semalam mas Azam tidak pulang," gumam batin Khanza.


"Khanza," panggil Pak Ahmad yang menepuk pundak Khanza.


"Sayang," timpal Bu Bela yang juga ikut memanggil anaknya karena melihat Khanza sejak tadi terdiam.


"Mas Azam, sedang ada pekerjaan diluar kota yah," jawab Khanza yang terpaksa harus berbohong sebab memang sejak semalam suaminya tidak pulang. Entah kebohongan apa lagi yang harus Khanza ucapkan untuk menutupi kesalahan suaminya. Meski begitu tapi Khanza tidak pernah mengadu kepada orang tuanya karena ia merasa takut jika permasalahannya akan semakin rumit.


"Iya yah, kemarin sebelum pergi mas Azam yang bilang seperti itu," lirih Khanza yang mencoba mencari alasan.


"Ayah sudah tahu semuanya nak," ujar Pak Ahmad sambil termenung.


"Iya nak, kami sudah tahu semuanya," timpal Bu Bela yang segera mengusap punggung Khanza.


"Apa? Jadi kalian sudah tahu semuanya?" tanya Khanza yang tidak percaya. Dari mana mereka tahu tentang sikap buruk suaminya..


Tanpa banyak bicara, Khanza pun tiba-tiba menangis dipelukan ibunya. Khanza Kini air mata Khanza tidak tertahankan. Rasanya seluruh kekuatan yang ia miliki selama ini luluh lantah dihadapan kedua orang tuanya.


Sepandai-pandai Khanza menyembunyikan keburukan suaminya, tapi orang tua Khanza akhirnya tahu juga. Namun kali ini Khanza sudah tidak bisa menahan semua kesakitannya. Untuk kali ini Khanza benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.

__ADS_1


"Ayah sudah tahu semuanya. Suamimu memang bukan laki-laki yang baik. Ayah sudah melihat semuanya. Ayah juga tahu selama ini kamu selalu menyembunyikan setiap kesalahan suamimu," ujar Pak Ahmad yang menjelaskan semuanya.


"Tapi ayah tahu dari mana?" tanya Khanza yang merasa heran dari mana ayahnya tahu tentang suaminya, padahal selama ini ia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun.


"Ayah pernah melihat suamimu bersama wanita lain Khanza. Ayah juga sempat melabraknya saat itu," tukas Pak Ahmad yang menyesalkan sikap menantunya.


"Benarkah yah?" tanya Khanza yang merasa terkejut karena akhirnya Pak Ahmad tahu juga yang sebenarnya.


Setelah pembicaraan ini akhirnya mau tidak mau, Khanza pun terpaksa menceritakan semuanya kepada orang tuanya. Termasuk alasan Khanza bekerja karena suaminya sudah lama tidak menafkahi Khanza.


Mendengar penjelasan dari anaknya membuat Bu Bela dan Pak Ahmad semakin kesal terhadap Azam. Mereka tidak pernah menyangka jika anaknya ternyata akan disakiti seperti ini.


"Kurang ajar si Azam itu, berani-beraninya dia menyakiti anak!" seru Pak Ahmad yang merasa kesal setelah mendengar penuturan dari Khanza.


"Menurut ibu lebih kalian sudahi saja pernikahan ini. Untuk apalagi kamu mempertahankan rumah tangga ini jika dia bersikap semena-mena dan malah menyakitimu nak," ujar Bu Bela yang sudah tidak tahan mendengar anaknya ternyata selalu disakiti selama ini.


"Tuh kan yah, sedari awal feeling ibu memang sudah tidak enak. Ibu tidak setuju dengan pernikahan mereka waktu itu," ujar Bu Bela yang menyesali keputusannya dulu.


"Iya bu maafkan ayah. Ayah tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini," lirih Pak Ahmad yang ikut menyesal karena dulu memang dialah yang mau menikahkan mereka berdua.


"Sudah yah, bu jangan berdebat. Lagipula semua ini sudah terjadi. Aku ingin berpisah dari mas Azam yah, aku sudah tidak tahan lagi," lirih Khanza yang sedari tadi menangis.


"Iya nak, ayah dan ibu pasti akan mendukungmu selama keputusanmu tepat," ujar Bu Bela.


Lagi-lagi Khanza menangis dipelukan ibunya. Khanza tidak pernah menyangka jika pernikahannya akan berakhir seperti ini. Padahal dulu mereka saling menyayangi dan saling mencintai. Tapi kini rasanya sudah tidak ada lagi rasa cinta yang dimiliki Azam.


"Iya nak, coba kamu sholat dulu minta petunjuk sama Allah," ujar Pak Ahmad yang mencoba memberikan saran pada anaknya.


Berbicara pada ayah dan ibunya membuat hati Khanza menjadi lega. Awalnya dadanya terasa sesak karena selalu memikirkan perbuatan suaminya. Kesedihan yang selama ini ia rasakan selalu ia pendam dalam hati. Tapi kini rasanya begitu plong meski rasa sakit itu masih ada, setidaknya dengan pembicaraan ini akan mengurangi kesedihan Khanza.


Kini Khanza tidak perlu banyak berbohong lagi kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Maafkan Khanza yah, bu karena selama ini sudah membohongi kalian," ujar Khanza.


"Tidak apa-apa sayang," jawab Bu Bela yang langsung memeluk anaknya. Serta Pak Ahmad yang turut serta memeluk anak dan istrinya.


__ADS_2