#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
8. Kepergian Azam


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, tapi tidak ada sedikitpun perubahan yang diperlihatkan Azam. Semakin hari Azam malah semakin menjadi. Bukan hanya tidak memberikan nafkah untuk Khanza, kini bahkan Azam selalu pulang larut malam.


Tok... tok...


"Cepat buka pintunya!" pekik Azam dari luar yang mengetuk pintu.


Khanza yang ketiduran disofa karena sejak tadi menunggu kedatangan suaminya, sontak terperanjat bangun.


"Mas kamu dari mana saja mas? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Khanza yang sejak tadi mencemaskan suaminya.


"Jangan banyak tanya, aku lelah! Minggir sana!" pekik Azam yang mendorong Khanza secara kasar karena menghalanginya saat akan masuk ke dalam rumah.


Brugh..


Seketika Khanza terjatuh hingga tersungkur diatas lantai. Sementara Azam melewati Khanza tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu, Azam bergegas menuju kamarnya dan langsung tertidur pulas.


Khanza yang merasa sakit hati karena didorong oleh suaminya sendiri hanya bisa menangis. Khanza tidak pernah berfikir jika hidupnya akan berjalan seperti in. Khanza berusaha bangun dengan perasaan yang begitu sedih.


"Kamu memang tega mas," lirih Khanza.


Setelah berdiri Khanza berjalan menuju kamarnya. Ia melihat suaminya yang sudah tertidur dengan pulas. Meski sakit hati tapi Khanza tetap memberikan perhatiannya. Saat Azam tertidur, Khanza mendekati Azam dan berusaha melepas sepatunya yang dipakai suaminya.


Tidak lupa Khanza pun membuka jaket yang dikenakan suaminya. Dengan sangat hati-hati Sintia melepas jaket itu.


"Kenapa kamu bisa berubah seperti ini mas," lirih Khanza.


Hingga akhirnya Khanza pun tertidur disamping Azam.


Keesokan harinya saat Azam terbangun, ia merasa terkejut sebab Khanza tertidur disampingnya.


"Sedang apa kamu disini?" pekik Azam yang terkejut dengan keberadaan Khanza disampingnya.


"Aku ketiduran mas," jawab Khanza takut. Sebagai seorang istri, tidak salah jika Khanza tidur disamping suaminya. Merasa takut dengan suaminya yang pemarah Khanza segera bergegas keluar kamar untuk menyiapkan makanan.

__ADS_1


Setelah memarahi Khanza, Azam melanjutkan tidurnya kembali. Entah apa yang ada didalam pikirannya, sudah beberapa bulan terakhir Azam tidak bekerja. Selama ini Khanza bisa memasak hanya karena pemberian dari ibunya.


"Aku minta izin akan mencari pekerjaan mas," lirih Khanza.


"Terserah dengan apa yang akan kau lakukan!" pekik Azam.


Mendengar kata-kata Azam membuat Khanza begitu sakit hati. Khanza sudah tidak tahan dengan apa yang sudah dilakukan Azam. Khanza terpaksa harus mencari pekerjaan agar ia tidak bergantung kepada Azam. Sebab sebagai seorang suami Azam sudah tidak bisa diandalkan.


Khanza segera bersiap dengan membawa beberapa lamaran pekerjaan. Ia tidak mau jika ibunya merasa curiga sebab sudah beberapa kali ia meminjam uang. Meski berada dalam kesulitan tapi Khanza tidak mau bergantung pada kedua orang tuanya.


Khanza mulai memasuki lamaran pekerjaannya ke kantor yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Selain ke kantor, Khanza juga tidak lupa memasukan lamarannya ke toko-toko besar dan beberapa pabrik.


Entah nanti akan bekerja apa, yang terpenting Khanza harus memiliki penghasilan untuk kelangsungan hidupnya. Tak terasa hari mulai terik, Khanza pun mencari tempat berteduh untuk beristirahat. Ia pun mengedarkan pandagannya, hingga pandangan Khanza tertuju pada sebuah kursi panjang dibawah pohon rindang.


Khanza berjalan menuju kursi panjang itu. Hampir seharian mencari pekerjaan membuat Khanza merasa lelah. Tapi walau bagaimana pun ia tidak boleh menyerah sebab perjalanannya masih sangat panjang.


Ia sudah tidak bisa lagi meminjam kepada ibunya, sebab jika terlalu sering Bu Bela akan merasa curiga. Saat sedang duduk di bawah pohon yang rindang tiba-tiba ada sebuah mobil yang menepi.


"Kamu, Arga?" tanya Khanza tak percaya.


"Kamu benar Khanza kan?" tanya Arga lagi yang tidak lain merupakan teman Khanza sejak masih SMP dulu. Arga juga merupakan cinta pertama bagi Khanza, begitu pun dengan Arga yang menganggap jika Khanza adalah cinta pertamanya.


"Iya aku Khanza, kamu apa kabar?" tanya Khanza lagi.


"Aku baik, kamu sedang apa disini sendirian?" tanya Arga yang merasa bingung sebab Khanza sedang duduk sendiri.


"Aku hanya sedang beristirahat saja, setelah hampir seharian mencari pekerjaan," ujar Khanza lirih.


"Memangnya kamu akan bekerja, bukannya aku dengar kamu sudah menikah ya? kenapa harus bekerja?" tanya Arga yang penasaran.


"Mmh, sebenarnya... Aku hanya merasa bosan jika diam saja dirumah," jawab Khanza yang tidak mungkin menceritakan alasan yang sesungguhnya.


"Oh kebetulan diperusahaanku sedang membutuhkan sekretaris, apa kamu berminat?" tanya Arga menawarkan pekerjaan.

__ADS_1


"Apa? Beneran Ga?" tanya Khanza yang merasa senang mendengar kabar dari Arga. Bertemu dengan Arga memberikan secercah harapan bagi Khanza bahwa ia akhirnya bisa bekerja.


"Beneran lah, masa aku bohong. Kalau kamu berminat, besok datang saja ya ke kantorku," tambah Arga lagi.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya Arga," ucap Khanza.


"Ya sama-sama. Oiya kamu pulang kemana biar aku antar," ujar Arga menawarkan diri.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri," jawab Khanza. Bukan tidak mau diantar pulang oleh Arga, tapi kini situasinya sudah berbeda. Khanza sudah memiliki seorang suami, jadi tidak mungkin jika ia berada satu mobil bersama laki-laki lain.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya," pamit Arga yang segera meninggalkan taman itu.


Khanza masih tidak mengerti kenapa hari ini ia bisa dipertemukan kembali dengan Arga. Padahal sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah bertemu, bahkan tahu kabarnya saja tidak.


Arga merupakan cinta lamanya saat Khanza sekolah dulu. Cinta yang baru pertama kali ia rasakan. Mungkin cinta itu bisa dibilang cinta monyet. Cinta yang mungkin masih ada hingga saat ini.


Namun saat akan menikah, Khanza benar-benar melupakan Arga sebab ia tidak pernah ada kabar. Begitupun dengan Arga yang saat itu baru pertama kali jatuh cinta dan akhirnya cinta itu terbalas.


Tidak lama setelah kepergian Arga, Khanza pun segera bergegas pulang. Khanza pulang menggunakan ojeg online yang sebelumnya ia pesan terlebih dahulu. Tak berapa lama akhirnya tukang ojeg itu datang.


"Dengan mba Khanza?" tanya tukang ojeg itu yang baru saja menepikan motornya.


"Benar, saya Khanza," jawab Khanza..


"Ke jalan mawar kan?" tanya tukang ojeg itu lagi untuk memastikan tujuannya.


"Iya benar," jawab Khanza yang segera menaiki ojeg itu.


Dijalanan yang cukup ramai, akhirnya Khanza bisa pulang lebih cepat. Khanza merasa senang karena akhirnya ia akan mendapatkan sebuah pekerjaan. Satu jam kemudian akhirnya Khanza tiba dirumah.


"Terima kasih," ujar Khanza saat turun dari motor dan memberikan ongkos ojeg itu.


"Sama-sama mba, saya permisi," jawab tukang ojeg itu dengan sopan dan segera bergegas pergi.

__ADS_1


__ADS_2