
Keesokan paginya Bu Bela segera bersiap untuk pulang. Bukan tidak ingin berlama-lama tinggal bersama anaknya, hanya saja kini situasi nya sudah berbeda. Kini Khanza sudah hidup bersama suaminya. Sehingga tidak baik jika Bu Bela berada lama-lama dirumah itu.
Meski sebenarnya Bu Bela masih sangat merindukan anaknya, tapi ia tidak boleh egois.
"Apa ibu tidak akan menginap lagi?" tanya Khanza sambil bergelayut manja pada ibunya.
"Tidak nak, kasihan suami kamu. Dia pasti tidak nyaman jika ibu berada lama-lama disini," jawab Bu Bela.
"Hehe," kekeh Khanza yang merasa ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Kalau begitu ibu pulang ya," pamit Bu Bela setelah menghabiskan sarapannya.
"Iya bu hati-hati dijalan ya," ujar Khanza.
Bu Bela segera pulang dari rumah Khanza. Kini ia merasa lega karena kecurigaannya tidak terbukti. Ternyata pernikahan anaknya baik-baik saja. Bu Bela benar-benar sudah berburuk sangka pada anaknya sendiri.
Sementara di tempat lain Pak Ahmad seperti sedang melihat menantunya dengan wanita lain.
"Bukannya itu Azam? Apa aku yang sudah salah lihat, tapi wanita itu bukan Khanza," ujar Pak Ahmad.
Dari kejauhan Pak Ahmad pun mencoba mengamati, apakah dugaannya itu betul atau tidak. Apakah dia sudah salah melihat. Perlahan tapi pasti, Pak Ahmad segera mendekati laki-laki itu.
"Azam? Jadi ini benar kamu?" tunjuk Pak Ahmad.
"Bapak? Sedang apa bapak disini?"tanya Azam yang menautkan kedua halisnya.
"Kurang ajar, seharusnya aku yang bertanya sedang apa kamu disini? Dasar laki-laki kurang ajar!" seru Pak Ahmad yang langsung menghantam Azam.
"Apa maksud bapak aku tidak mengerti," lirih Azzam yang pura-pura merasa tidak bersalah.
"Kamu ini memang laki-laki brengsek," pekik Pak Ahmad yang lagi-lagi memukul pipi Azam.
__ADS_1
"Awas saja kamu, akan aku beritahu semuanya pada Khanza!" pekik Pak Ahmad setelah puas memukuli Azam.
"Silahkan pak, silahkan pak. Lagipula Khanza juga sudah tahu semuanya," ujar Azzam lagi.
Mendengar pernyataan Azam membuat Pak Ahmad semakin bingung. Jika Khanza sudah mengetahui semuanya, mengapa ia diam saja. Mengapa ia tidak memberitahukan segalanya yang sudah terjadi.
"Mengapa kamu tutupi semua ini dari ayah nak?" gumam batin Pak Ahmad.
Dengan kecepatan yang tinggi, Pak Ahmad segera melakukan kendaraannya. Ia merasa tidak habis pikir jika Azam akan melakukan hal itu kepada anaknya. Padahal sejak awal ia tahu jika Azam begitu mencintai Khanza. Tapi mengapa semua ini bisa terjadi.
Satu jam kemudian tibalah Pak Ahmad dirumah. Saat ia tiba, ternyata istrinya sudah ada dirumah.
"Eh ayah baru pulang," sapa Bu Bela.
"Iya bu, ayah ada perlu barusan," jawab Pak Ahmad.
Melihat istrinya yang terlihat begitu senang membuat Pak Ahmad tidak tega jika harus mengatakan segalanya.
"Tidak apa-apa bu. Ibu hanya senang saja, karena yang ibu pikirkan ternyata tidak terjadi. Pernikahan anak kita baik-baik saja yah," ujar Bu Bela menjelaskan.
Mendengar kata-kata istrinya membuat Pak Ahmad semakin bingung terdiam. Ia merasa jika apa yang disampaikan oleh istrinya itu ternyata bertolak belakang dengan apa yang dilihatnya. Namun walau bagaimanapun istrinya harus tahu tentang kejadian yang sebenarnya.
"Yah, kenapa ayah diem? Apa yang sedang ayah pikirkan?" tanya Bu Bela yang merasa heran melihat suaminya terdiam.
"Eh anu bu, sebenarnya," ujar Pak Ahmad yang tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya apa yah?" tanya Bu Bela yang merasa penasaran.
"Sebenarnya tadi ayah melihat Azzam dengan wanita lain," lirih Pak Ahmad yang merasa tidak tega harus menceritakan segalanya kepada Bu Bela. Namun walau bagaimanapun dia harus tahu karena dia juga adalah ibunya.
"Apa? Apa ayah tidak salah lihat? mungkin ayah salah orang kali," timpal Bu Bela merasa yang merasa tidak percaya. Sebab semalam mereka masih terlihat begitu romantis.
__ADS_1
"Benar bu, bahkan ayah sendiri yang memukuli Azzam karena kesal melihat perbuatannya. Ayah tidak tega jika anak kita ternyata dikhianati oleh suaminya sendiri. Dia bermesraan dengan wanita lain," lirih Pak Ahmad.
"Tapi kenapa saat ibu melihat mereka seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan Azam begitu perhatian pada Khanza," lirih Bu Bela yang masih tidak percaya.
"Tapi saat ibu pulang juga Azam tidak ada. Apa ini juga alasan Khanza harus bekerja," lirih Bu Bela yang menebak-nebak. Bu Bela mulai menyadari jika kini ia merasa ada kejanggalan yang terjadi.
Sebagai seorang ibu, Bu Bela tidak terima jika anaknya dikhianati. Bu Bela tidak pernah menyangka jika Khanza akan menutupi masalah sebesar ini dari mereka.
"Sungguh kasian nasibmu nak, ternyata kamu begitu menderita selama ini," ujar Bu Bela dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jadi firasat ibu sejak awal memang benar terjadi. Azam bukan laki-laki yang tepat untuk Khanza," lirih Bu Bela.
"Sudah bu, jangan seperti ini," ujar Pak Ahmad yang mencoba menangkan istrinya.
"Jadi bagaimana ini yah, apa kita akan menelponnya apa berbicara langsung dengan Khanza?" tanya Bu Bela.
"Lebih baik besok kita temui Khanza saja bu. Akan lebih baik jika kita berbicara secara langsung," jawab Pak Ahmad.
Bu Bela hanya mengangguk mendengar kata-kata suaminya. Sebagai seorang ibu, Bu Belah masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bu Bela tidak pernah mengira jika anaknya akan menyembunyikan hal seperti ini.
"Kasihan kamu nak, jadi selama ini kamu menderita? Maafkan ibu karena selama ini ibu tidak peka, ibu tidak bisa merasakan kesedihanmu nak," lirih Bu Bela.
"Sudah bu, jangan seperti ini terus. Hari sudah malam, lebih baik ibu segera istirahat. Biar besok kita bicarakan lagi semuanya dengan Khanza. Kita cari jalan keluar dari masalah ini," ujar Pak Ahmad yang mencoba memberikan pengertian.
"Tapi ibu tidak bisa tidur pak, ibu merasa kasihan dengan Khanza. Ternyata Khanza menderita selama ini, dia dikhianati tapi kita tidak pernah tahu," lirih Bu Bela yang lagi-lagi mengucapkan hal yang sama.
"Sudah, sudah sekarang ibu coba pekan kan mata ibu," ujar Pak Ahmad yang kini terbaring disamping Bu Bela. Sementara Bu Bela akhirnya tertidur setelah ia kelelahan karen sejak tadi menangis memikirkan perasaan anaknya.
Sedangkan Pak Ahmad merasa ikut bersalah dalam hal ini. Sebab ialah yang turut andil dalam menikahkan putrinya dengan Azam. Dia juga memaksa Khanza agar mau menikah dengan Azam.
"Maafkan ayah nak, semua ini salah ayah. Tidak seharusnya kamu mengalami ini semua. Seharusnya kamu bisa hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai nak," lirih Pak Ahmad yang menyesali tindakannya dulu.
__ADS_1