#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
28. Kedatangan Keluarga Arga


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian keluarga Arga sudah bersiap akan pergi menuju rumah Khanza. Perasaan Arga seolah tidak tenang, ada rasa takut yang ia rasakan. Namun Arga kembali menenangkan dirinya sendiri.


"Ayolah Arga, ini hanyalah lamaran bukan pernikahan," gumam batin Arga yang menyemangati dirinya sendiri.


"Ayo nak!" panggil Mentari yang justru melihat anaknya malah terdiam.


"Eh iya bu," jawab Arga yang merasa terkejut.


"Ada apa nak? Kok malah bengong!" ujar Mentari.


"Ah tidak apa-apa Bu, ayo kita berangkat!" ajak Arga sambil bergegas menuju mobilnya. Sementara Mentari dan suaminya mengekor dari belakang. Tak berapa lama mereka pun segera pergi menuju rumah Khanza.


Didalam perjalanan Arga tidak berhenti-berhentinya membicarakan tentang Khanza. Khanza yang seperti ini, Khanza yang seperti itu. Dan tak terasa karena perbincangan mereka, kini mereka tiba dikediaman Khanza.


Ting.. tong..


"Itu pasti keluarga Arga," ujar Khanza yang memang sudah menunggu kedatangan keluarga Arga sejak tadi.


"Assalamualaikum," ujar Arga dan keluarganya saat baru masuk ke dalam rumah Khanza.


"Waalaikumsalam," jawab Khanza dan keluarga serempak.


"Apa kabar?" tanya Bela sambil menyalami orang tua Arga satu persatu.

__ADS_1


"Kabar baik," jawab Mentari dan Hermawan serempak.


"Silahkan duduk," tawar Bela dengan tersenyum ramah.


"Terima kasih," timpal Mentari yang segera duduk diatas sofa.


"Mba Ayu, tolong ambilkan minum ya," pekik Bela yang segera memanggil asisten rumah tangganya.


"Baik bu," jawab Mba Ayu yang segera bergegas mengambil beberapa gelas minuman dan makanan ringan.


Sementara sambil menunggu kedatangan Mba Ayu, mereka berbincang dan membicarakan maksud kedatangannya datang ke rumah Khanza.


"Jadi begini, maksud kedatangan kami datang kemari yaitu untuk melamar nak Khanza,"ujar Hermawan membukan pembicaraan.


"Silahkan diminum den, pak, bu," ujar Mba Ayu sambil menyimpan makanan dan minuman tersebut diatas meja.


"Terima kasih mba," timpal Mentari.


"Sama-sama bu," tukas Mba Ayu sambil berlalu menuju dapur.


"Iya Khanza sebelumnya sudah menceritakan semuanya jika Arga dan keluarganya akan datang," ujar Ahmad.


"Namun semua keputusan berada ditangan Khanza, bagaimana nak?" tanya Ahmad.

__ADS_1


Tanpa menjawab apa-apa Khanza hanya menganggukan kepalanya.


"Alhamdulillah," ujar Arga dengan begitu lantangnya.


"Jadi apa kamu menerima lamaran ini nak?" tanya Ahmad memastikan.


"Iya yah," jawab Khanza.


"Syukurlah," timpal Arga lagi yang semakin merasa senang.


Sementara Mentari hanya tersenyum saat Khanza menerima lamaran ini. Hermawan sangat senang. Akhirnya ia akan segera menimang seorang cucu.


Arga pun segera mengeluarkan cincin yang sejak tadi ia kantong. Kini Arga menyematkan cincin di jari manis Khanza, begitupun sebaliknya dengan Khanza yang menyematkan cincin di jari Arga.


Semua orang terlihat sangat bahagia saat menyaksikan pertunangan mereka berdua. Setelah lamaran ini mungkin tidak lama lagi mereka akan segera melangsungkan acara pernikahan.


"Selamat ya jeng," ujar Mentari yang segera menyalami Bela dan memeluknya.


"Selamat untuk anda juga ya bu," timpal Bela yang segera membalas pelukan Mentari.


Begitupun dengan Hermawan dan Ahmad yang sama-sama saling memberikan selamat. Tak lupa mereka pun melakukan swafoto sebagai kenang-kenangan. Mereka terlihat begitu bahagia dengan semua ini. Terutama bagi Arga, karena sudah sangat lama Arga menantikan hal ini.


Sudah sejak lama Arga mencintai Khanza, namun baru kali ini Arga mendapatkan Khanza.

__ADS_1


__ADS_2