
Meski hubungan itu sudah berlangsung sangat lama, tapi Arga masih mengingat segalanya. Arga masih ingat jika Khanza sangat menyukai spageti dan jus stoberi. Bahkan barang-barang kesukaan Khanza pun Arga masih mengingatnya.
"Kenapa kamu masih ingat semuanya Ga?" gumam batin Khanza yang lagi-lagi masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arga.
"Khanza?" tanya Arga yang melihat Khanza tiba-tiba terdiam.
"Eh iya, kenapa Ga?" tanya balik Khanza yang merasa terkejut.
"Kamu kenapa?" tanya Arga yang melihat Khanza tiba-tiba terdiam.
"Tidak Ga, aku tidak apa-apa," jawab Khanza yang menjadi salah tingkah. Khanza pun menyeruput minumannya untuk menghilangkan ketegangannya.
Arga pun melanjutkan makannya kembali. Arga berhenti mengunyah makannya setelah melihat ada sesuatu yang menempel di mulut Khanza.
"Maaf," ujar Arga sambil mengusap sesuatu yang menempel dibibir Khanza dengan menggunakan tisu.
"Eh iya, tidak apa-apa," jawab Khanza yang merasa malu karena sesuatu yang menempel itu.
"Terima kasih," tukas Khanza yang merasa malu.
Tak terasa hampir satu jam mereka menghabiskan waktu makan siang bersama. Kini mereka segera bergegas menuju kantornya. Tidak ada obrolan khusus didalam mobil. Arga fokus mengendarai kendaraannya, sedangkan Khanza melihat-lihat pemandangan diluar mobil.
Beberapa menit kemudian tibalah mereka dikantor. Mereka meneruskan pekerjaan yang sejak tadi tertunda.
"Terima kasih pak," ujar Khanza sesaat sebelum keluar dari mobil Arga.
"Sama-sama Khanza," jawab Arga.
Sebagian karyawan ada yang tidak suka melihat kedekatan Arga dengan Khanza.
"Kok bisa ya pegawai baru itu pergi bareng Pak Arga," ujar Desy yang berbisik kepada temannya Yuna.
"Iya ya, dia pake apa ya? Kok Pak Arga mau-maunya pergi bareng dia, cantik juga engga," timpal Yuna yang sama-sama merasa tidak suka melihat kedekatan Arga dan Khanza.
Sementara Khanza yang merasa tidak suka melihat mereka berbisik-bisik, berusaha tidak perduli dengan omongan mereka berdua.
"Apa yang mereka bicarakan ya? Ah sudahlah untuk apa juga aku memikirkan hal-hal yang tidak berguna," gumam batin Khanza yang menoleh ke arah mereka berdua dan memalingkan wajahnya. Khanza terus melangkah menghiraukan mereka berdua.
__ADS_1
Memang dimana pun kita berada pasti akan ada saja orang yang tidak menyukai kita. Namun untuk apa kita memikirkan hal yang akan membuat kita sakit hati. Lebih baik kita melakukan apa yang kita suka selama perbuatan itu tidak merugikan orang lain.
Tak terasa hampir seharian penuh Khanza bekerja. Sekarang saatnya bagi Khanza untuk bersiap pulang. Khanza terlebih dulu merapikan meja kerjanya, setelah selesai baru ia bergegas menuju tempat parkir.
Khanza bergegas pergi menuju motornya berada.
"Khanza!" teriak seseorang dari arah belakang yang tidak lain adalah Arga.
"Iya pak," jawab Khanza yang sedang memarkirkan motornya.
"Biar aku antar pulang ya," ajak Arga.
"Tidak usah Ga, lagian aku bawa motor sendiri," jawab Khanza yang kini sudah siap melajukan motornya.
"Motornya simpan saja disini," ujar Khanza.
"Tidak usah repot-repot Ga, aku bisa pulang sendiri. Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Khanza yang segera melajukan kendaraannya.
Sementara Arga hanya terdiam melihat Khanza yang berlalu begitu saja. Arga merasa jika Khanza masih sama seperti dulu, ia tidak mau merepotkan orang lain.
"Hati-hati di jalan Khanza," gumam batin Arga yang melihat kepergian Khanza.
Meski merasa lelah karena jarak kantor dari rumah orang tuanya yang cukup jauh, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Khanza dalam bekerja. Khanza merasa senang karena ia bisa bekerja.
Dua jam kemudian akhirnya Khanza tiba dirumah.
"Assalamualaikum bu," ujar Khanza yang baru saja tiba dirumahnya seraya memarkirkan motornya ke dalam garasi.
"Waalaikumsalam, anak ibu baru pulang jam segini," tukas Bu Bela yang merasa tidak tega melihat anaknya bekerja pulang malam.
"Makan dulu nak, lalu cepat istirahat," ucap Bu Bela.
"Iya bu," jawab Khanza.
Khanza pun bergegas masuk ke rumah, lalu membersihkan diri. Setelah itu ia makan, sholat magrib dan segera beristirahat. Cukup lelah memang, namun hal itu membuat Khanza merasa senang.
"Bagaimana kalau kamu dirumah saja nak," ujar Bu Bela membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Tapi bu aku sudah senang bekerja disana," tukas Khanza yang merasa tidak ingin berhenti dari pekerjaannya.
"Tapi ibu tidak tega melihat kamu harus pergi pagi pulang malam nak," lirih Bu Bela yang merasa tidak tega melihat anaknya harus bekerja cukup jauh.
"Tidak apa-apa bu, nanti kalau sudah ada penggantinya baru aku akan keluar dari sana," timpal Khanza.
"Ya sudah jika memang itu sudah menjadi keputusan kamu, ibu tidak bisa apa-apa," lirih Bu Bela lagi
"Ya sudah kalau begitu, aku ke kamar dulu mau istirahat bu," pamit Khanza yang segera bergegas ke kamarnya.
"Iya nak," jawab Bu Bela.
Khanza pun segera bergegas ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk miliknya. Namun tidak berapa lama, tiba-tiba saja ia teringat kepada Arga saat dimakan siang tadi.
"Kenapa tiba-tiba aku memikirkan Arga," gumam batin Khanza yang merasa bingung.
"Sudah bertahun-tahun, mengapa aku dipertemukan kembali dengan Arga," gumam batin Khanza lagi yang merasa ada yang aneh dengan kehidupan nya.
Sementara di tempat yang berbeda, Arga pun ternyata sedang memikirkan Khanza. Arga tidak pernah menyangka jika ia akan dipertemukan kembali dengan Khanza. Cinta pertamanya yang tidak akan pernah ia lupakan hingga saat ini.
Ditengah-tengah lamunannya, tiba-tiba ponsel Arga berdering. Ia pun memeriksa siapa yang memanggilnya, dan ternyata Gilang lah yang memanggilnya. Teman terbaik sekaligus sahabat Arga sejak masih sekolah dulu.
"Halo bro," ujar Arga yang langsung mengangkat telponnya.
"Halo juga bro, lagi apa nih malam-malam begini?" tanya Gilang dari sebrang sana.
"Aku hanya sedang istirahat saja. Tumben banget telpon, ada apa?" tanya Arga yang merasa ada yang aneh saat Gilang menghubunginya.
"Gue ada informasi penting buat lo," ujar Gilang yang langsung membicarakan maksud dari tujuannya menelpon.
"Informasi penting apa sih? Kayanya penting banget," tukas Arga yang merasa bukan informasi yang penting.
"Buat gue emang gak penting, tapi buat elo ini penting banget ga!" ujar Gilang penuh penekanan.
"Emangnya info apaan sih? Buruan kasih tau," gertak Arga.
"Apa lo udah tau tentang Khanza yang kini udah jadi janda," ucap Gilang yang langsung to the point.
__ADS_1
"Apa? Ga mungkin, lo tahu dari mana?" tanya Arga saat mendengar berita dari Gilang.