
Meski sempat menolak, tapi Khanza merasa tidak enak jika harus menolak ajakan Arga sebab perjalanan mereka memang satu tujuan. Sebenarnya dalam hati Khanza yang paling dalam, ia tidak ingin berada satu mobil dengan laki-laki lain karena ia masih memiliki suami.
"Khanza apa yang sedang kamu pikirkan? Sejak tadi aku perhatikan kamu hanya melamun," ujar Arga yang sesekali melihat ke arah Khanza karena sedang menyetir.
"A, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya tidak enak saja kalau kita berada satu mobil seperti ini," jawab Khanza.
"Oh karena kita seperti ini, tapi kan kita tidak melakukan apa-apa. Aku mengajakmu hanya karena kita satu tujuan," ucap Arga lagi.
"Iya juga sih," timpal Khanza yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ternyata kamu tidak berubah Khanza, kamu masih selalu mencemaskan hal-hal kecil," gumam batin Arga.
Sepanjang perjalanan membuat Khanza tidak tenang. Ditambah suaminya yang lagi-lagi pergi tanpa kabar. Entah apa yang harus dilakukan Khanza. Bagaimana jika orang tuanya mengetahui tentang semua ini. Apa yang harus ia katakan.
"Khanza," panggil Arga.
"Khanza," panggil Arga lagi untuk kedua kalinya.
"Eh iya, kenapa?" tanya Khanza yang merasa bingung.
"Kita sudah sampai, kamu mau diem di mobil terus," ujar Arga yang lagi-lagi melihat Khanza melamun.
"Apa? Jadi kita sudah sampai?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya.
"Iya dari tadi kita sudah sampai Khanza," jawab Arga penuh penekanan.
Khanza pun terperanjat dan segera turun dari mobil Arga. Khanza merasa malu karena sejak tadi pikirannya selalu kemana-mana memikirkan banyak hal.
"Apa yang sebenarnya Khanza pikirkan? Kenapa sejak tadi dia selalu melamun?" gumam batin Arga.
"Terima kasih pak karena sudah memberikan saya tumpangan," ujar Khanza sesaat sebelum pergi meninggalkan parkiran.
"Ya sama-sama," jawab Arga tersenyum simpul.
__ADS_1
Beberapa karyawan yang melihat Khanza turun dari mobil bosnya merasa iri. Tak sedikit diantara mereka yang berbisik kepada karyawan lain saat mereka menyaksikan kedekatan Arga dan Khanza.
"Kenapa dia bisa bareng Pak Arga? Padahal dia cuma karyawan baru disini?" bisik karyawan lain yang baru saja datang melihat Khanza turun dari mobil Arga.
"Iya ya, sebenarnya dia pake apa? kok bisa langsung deket gitu ya?"
Arga memang dikenal dengan bos yang tampan. Banyak para wanita yang menyukainya, hanya saja Arga selalu bersikap dingin pada wanita yang mendekatinya. Saat Arga memperhatikan beberapa karyawannya yang saling berbisik Arga pun tampak marah.
"Apa yang kalian lihat?" pekik Arga yang memperhatikan karyawannya yang membicarakan Khanza.
"Ti, tidak pak," jawab karyawan itu yang mempercepat langkahnya.
"Sudah cepat-cepat kita pergi."
"Dasar wanita itu memang selalu suka bergosip," umpat Arga dalam hati.
Dengan penuh amarah Arga melangkahkan kakinya. Ia merasa tidak terima jika orang-orang membicarakan Khanza. Sejak dulu Arga memang sudah menyukai Khanza, bahkan hingga saat ini Arga masih belum bisa melupakan perasaannya kepada Khanza.
Sementara di ruangan lain Khanza mulai melakukan pekerjaannya. Hari ini adalah hari terakhir kerja bagi Sindi, sebab besok ia sudah mulai cuti melahirkan. Untuk itu hari ini Khanza harus benar-benar menguasai semua yang dijelaskan Sindi.
Beberapa saat Sindi pun menerangkan tugasnya, akan tetapi lagi-lagi Khanza malah sibuk memikirkan sesuatu.
"Mba, mba," panggil Sindi yang menepuk-nepuk punggung Khanza.
"Iya kenapa?" tanya Khanza balik yang menautkan kedua halisnya.
"Mba kenapa kok seperti sedang memikirkan sesuatu," ujar Sindi yang menebak-nebak.
"Eh maaf, aku ga bisa konsen," jawab Khanza.
"Sepertinya mba sedang memikirkan sesuatu ya?" tanya Sindi lagi.
"Mmh iya, aku sedang ada sedikit masalah tapi tidak apa-apa. Sampai dimana kita tadi? Ayo kita lanjutkan," jawab Khanza antusias.
__ADS_1
"Tadi sampai sini mba," tunjuk Sindi ke arah komputernya. Sindi pun kembali menerangkan.
Khanza pun segera berkonsentrasi, ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatifnya. Ini adalah hari kedua ia masuk kerja, jadi Khanza harus bekerja dengan sungguh-sungguh.
Di tempat lain Azzam justru sedang sibuk bersama selingkuhannya yang bernama Manohara. Wanita yang sangat ia cintai saat ini sehingga membuat Azzam melupakan istrinya. Wanita berparas cantik, berkulit putih serta berhidung mancung itu merupakan wanita blasteran.
Mereka tak sengaja bertemu saat sedang berjalan ditrotoar. Ketika itu Azzam tidak sengaja menabrak Manohara yang sedang berdiri menunggu taksi. Saat itu pula Azzam mulai jatuh cinta pada pandangan pertama, begitupun sebaliknya dengan Manohara yang merasakan hal yang sama.
Dia juga merasa jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Melihat ketampanan Azzam membuat ia jatuh hati kepadanya. Sejak saat itu mereka menjalin sebuah hubungan yang terlarang. Azzam mengaku jika dirinya belum menikah dan belum mempunyai seorang istri.
Manohara yang baru mengenal Azzam pun percaya begitu saja. Ia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun karena ia begitu mencintainya. Bahkan hingga saat ini hubungan mereka semakin dekat.
"Aku sangat mencintaimu," ujar Manohara yang memegang tangan Azzam.
"Aku juga sangat mencintaimu dan tidak ingin jauh darimu," jawab Azzam yang langsung memeluk kekasihnya itu dengan begitu erat.
"Bagaimana kalau kita segera menikah," ajak Manohara.
"Apa? Menikah?" tanya Azzam yang merasa terkejut dengan pernyataan Manohara.
"Iya menikah, kita kan saling mencintai. Lebih baik kita segera menikah," ujar Manohara lagi.
"I, iya pasti kita akan segera menikah," jawab Azzam yang mencoba meyakinkan kekasihnya.
Setelah mendengar kata-kata kekasihnya barusan membuat Azzam merasa bingung. Tidak mungkin jika ia harus menikahi kekasihnya itu sebab saat ini dia masih memiliki seorang istri. Bagaimana ia akan menghadapi semua ini.
Sebenarnya Azzam juga sangat mencintai Manohara, akan tetapi ia masih bingung jika harus berpisah dengan Khanza. Bagaimana ia akan menghadapi orang tua Khanza? Apa yang akan ia katakan?
"Kenapa sayang? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Manohara yang tiba-tiba melihat Azzam terdiam.
"Tidak aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya memikirkan pernikahan kita saja," jawab Azzam yang terpaksa berbohong.
Tidak berapa lama ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Dari kejauhan orang itu memperhatikan Azzam dan kekasihnya sejak tadi. Ia juga sengaja memperhatikan mereka lebih lama agar semua yang ia lihat lebih jelas.
__ADS_1
Dan ternyata benar saja, ternyata wanita itu. Wanita yang sebelumnya pernah ia lihat bersama Azzam dijalan itu. Untuk lebih banyak mendapatkan bukti, ia sengaja merekam semua percakapan diantara mereka berdua.