ADVENTURER OF EDEN

ADVENTURER OF EDEN
1.1 "Shiki si Petualang Terkuat"


__ADS_3

...PROLOG...


Pada hari itu, semuanya telah dihancurkan.


Ketika semua orang melihat cahaya yang terang, sebuah cahaya keselamatan menurut mereka. Namun itu bukanlah keselamatan, namun sebuah kehancuran.


Aku berdiri dan melihat semuanya tidak bersisa. Tidak ada seorangpun, tidak ada apapun.


Semuanya lenyap dan menjadi sebuah kekosongan.


"Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti. Dimana semua orang?!"


Namun ketika aku mempertanyakan itu semua, cahaya-cahaya biru itu mulai berkumpul mengelilingi.


Mereka berputar seakan menari-nari. Memberikan suara senang dan semangat.


"La~ lala~ lalalala~ lala~๐ŸŽต"


Begitu aku menikmati nyanyian dan tarian mereka, aku sadar bahwa waktu cepat berlalu dan seorang wanita cantik yang penuh cahaya itu ada di hadapanku.


"Itu semua yang bisa aku berikan padamu. Apa itu sudah cukup? Jika belum cukup, kamu bisa meminta lebih."


Tidak, itu sudah cukup. Aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini.


Wanita itu terkekeh. "Tidak, tidak, aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu."


"Ini adalah janjiku. Aku senang kamu disini, menemaniku tiap hari. Semuanya juga senang, kamu memang cocok untuk takdir ini."


"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi. Namun sayang sekali memang, meski bukan masalah karena suatu hari nanti kamu akan kembali kesini."


"Kembali kemari... Ke firdaus tempatku tinggal..."


Kedua tangan bercahayanya memegang wajahku, dan sangat jelas aku melihat wajah cantiknya yang bersedih karena aku tinggalkan.


Beberapa kalimat dia ucapkan saat itu sambil menangis. Aku bilang "jangan menangis, kamu adalah wanita terkuat" dan sebelum pergi, aku berjanji padanya "aku pasti akan kembali lagi dan berada di sisimu lagi..."


Setelah itu... Semuanya menjadi gelap dan...


"UWAH!"


"Shiki! Kau mengagetkan aku!"


"Huh?"


Aku terbangun, dan melihat dua...tiga orang wanita duduk di kursi kayu kereta kuda yang biasa kami kendarai.


Wanita rambut hitam pendek sampai bahu yang menyapaku dengan lembut.


"Selamat pagi, Shiki-san. Apa mimpimu indah tadi?"


"Mimpi apanya dan ini sudah mau sore, tahu!"


Gadis rambut pirang panjang yang protes padanya.


"Aniki tadi tidur siang, dan kau berisik mengganggunya, Alicia."


Dan gadis rambut coklat dikuncir dua yang membawa kereta kuda.


Aku memegang kepalaku, bertanya-tanya mimpi tadi yang tidak bisa aku ingat, namun entah kenapa membuatku merasa nostalgia.


Pada akhirnya itu cuma mimpi, sebuah bunga tidur. Aku melihat ketiga wanitaku itu dan senyum pada mereka.


"Sudah, jangan ribut. Aku akan mengambil kemudinya, Yui. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."


""YA!""


Ini adalah kisah takdirku dan ketiga heroine-ku. Tiga dunia yang diambang kehancuran oleh takdir mereka sendiri.


Namun cerita itu tidak dimulai dari sini, tapi dimulai dari awal yang membosankan.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Suara-suara langkah kaki terdengar dengan terburu-buru. Senjata-senjata itu mereka pegang, tombak, panah, pedang, kapak, beragam senjata mereka namun cuma senjata biasa yang bisa dibeli murah di toko senjata.


Para bandit, itulah mereka semua. Orang-orangย  tanpa hukum yang suka merampok orang atau rombongan di tengah jalan. Menyerang mereka dengan brutal dan tidak manusiawi.


Namun para bandit itu cuma menargetkan mereka yang lemah, dan ketika mereka dihampiri oleh orang yang kuat, maka mereka akan panik bukan main.


"Cepat hentikan dia!"


"Dia datang kemari!"


"Si 'Pemburu Bandit' itu!"


Jumlah para bandit itu sekitar 20 orang. Senjata sudah mereka siapkan dan kebanyakan untuk menyerang dari jarak dekat.


Tapi yang mereka hadapi adalah mimpi buruk mereka. Seorang pemuda 20 tahun yang para bandit sebut sebagai 'pemburu bandit', ditakuti oleh mereka karena dia adalah penyebab ketakutan.


Shiki adalah nama pemuda ini. Berambut hitam acak-acakan dengan pakaian petualang satu set warna putih dan merah, ditambah sebuah jubah hitam yang menutupi pakaian petualang-nya.


"Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat."


Shiki mengeluarkan dua buah pisau hitam dari sarungnya. Dua pisau hitam legam, yang memiliki corak mengkilap di badan pisaunya.


Mungkin tidak masuk akal mengalahkan dua puluh bandit cuma dengan dua buah pisau, tetapi yang kita bicarakan adalah Shiki.ย 


Tanpa Shiki terluka, bahkan tergores sama sekali. Gerakan lincahnya dan kecepatannya, serta kemampuan bertarungnya yang tingkat atas. Shiki berhasil mengatasi para bandit itu dengan mudah bagai dia membalikkan telapak tangan.


Namun masalah berikutnya datang, para bandit lainnya muncul dengan senjata yang sama lengkapnya. Dibawa oleh seorang pria mencolok karena kepala botaknya dan tubuh berotot, membawa sebuah bazoka di punggungnya.


"Beraninya kau... Datang kemari hanya untuk menghabisi kami, Pemburu Bandit!" Dia bos bandit "Orka".


"Aku cuma menjalankan quest. Dan setiap aku memburu bandit juga seperti itu." jawab Shiki santai.


"...itu salah kalian sendiri yang telah menjadi bandit. Aku tahu ini karena kehidupan sulit kalian, namun nasib kalian akan berakhir cepat atau lambat."


"Sok sekali! Serbu!" Orka memberi perintah pada sekitar 30 orang bandit di sekitarnya; "...potong setiap anggota tubuhnya! Kita akan menggunakan itu untuk pelajaran pada semua orang di kerajaan!"


"...jangan remehkan para bandit!"


Teriakan Orka memberi semangat penuh pada para bandit. Semua dari mereka berlari menyerbu Shiki, namun kedua mata Shiki menjadi warna pelangi sekarang.


"Ini beda dengan yang tadi, semangat kalian untuk membunuhku kuat dan jelas."


Shiki juga bergerak ke arah mereka dan bilang. "Namun sekali lagi, kalian cuma bandit. Lemah, tidak ada harganya dan... Membosankan!"


Apa yang terjadi berikutnya saat Shiki serius. Para bandit tanpa perlawanan bernasib seperti rekan mereka sebelumnya.

__ADS_1


Shiki sangat kuat, dia sangat lincah dan cepat. Instingnya dan gerakan tubuhnya, tidak ada manusia normal yang bisa menandingi itu dan tidak ada manusia normal yang bisa seperti itu.


"Ini mustahil, dia benar-benar sekuat ini!" Orka tidak percaya; "Pemburu Bandit... Tidak, julukannya yang asli adalah 'Petualang Terkuat di Guild'...!!"


Satu orang terakhir berhasil Shiki tebas dan beralih pada bos bandit, Orka, yang sudah mengarahkan bazoka nya pada Shiki.


"Sialan!! Petualang Sialan!!!"


Orka menembak bazoka nya, dan Shiki melepaskan serangan jauh ke Orka, sebuah angin pemotong berbentuk sabit, sihir angin yang Shiki sebut dengan "Angin Pemotong" dan melukai telak Orka di badannya sampai jatuh dikalahkan.


"Huft..." Shiki menghela nafas, melihat ke belakang apa yang dia perbuat; "Membosankan..."


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Di sebuah ruangan pribadi dengan dua kursi dan satu meja kayu, Shiki sedang duduk dengan seorang wanita berambut merah pendek sedang membaca laporan yang dia buat.


"Sangat hebat kamu. Baru pagi tadi mengambil quest dan selesai siang ini. Laporan langsung selesai dan diberikan padaku."


Wanita rambut merah pendek itu bernama Anna, salah satu resepsionis Guild dan Shiki adalah salah satu petualang-nya.


"Seperti yang diharapkan, namun itu normal bagimu, Shiki-kun. Kamu memang terbaik diantara semua petualang saat ini."


"Pujianmu normal, kau selalu melakukannya begitu aku selesai quest."


Anna terkekeh mendengar itu. "Aku resepsionismu soalnya. Selain dengan imbalan, aku akan mengapresiasimu dengan pujian."


Shiki senyum mendengar itu. Ini sudah dua tahun sejak dia bekerja dengan Anna. Dua tahun sudah sejak Shiki disebut 'Petualang Terkuat di Guild' karena sebuah alasan.


Shiki selalu senang dengan kebaikan dan kelembutan Anna padanya. Wanita dewasa yang pengertian, Anna adalah wanita sempurna bagi Shiki. Dan dia tidak pernah menyangkal perasaan sukanya kepada Anna.


Kemudian Shiki mau bicara sesuatu dengannya, dan ini akan mengejutkan Anna atau siapapun yang mendengarnya.


"Ngomong-ngomong, Anna... Aku sudah memutuskannya, aku akan pensiun sebagai seorang Petualang."


"EH." Anna kaget senyum terkejut.


Ekspresi wajah yang sudah Shiki duga. Dengan Shiki menjelaskan alasan kuatnya memutuskan untuk pensiun sebagai Petualang di usia yang masih sangat muda.


Sebagai seseorang yang menganggap bertarung sebagai kesenangan, Shiki menganggap siapapun yang dia lawan selama dua tahun ini hanya lawan kroco saja, alias lemah, seperti para bandit tentunya.


Namun pengecualian bagi lawan yang suka sparing bertarung dengan Shiki, yaitu rekan-rekan petualang nya yang kuat.


Mendengar alasan itu, reaksi Anna yang tadinya sangat terkejut, menjadi menerimanya. "Begitu ya, aku rasa itu memang dirimu banget. Tidak menemukan lawan yang kuat, sebagai seseorang yang disebut terkuat di Guild, itulah yang harus kamu cari."


"Maaf, Anna. Itu pasti mengagetkanmu." Shiki mengerti kekecewaan Anna. "Aku sudah memikirkan ini cukup lama, namun aku tidak berani membicarakannya padamu karena kau tidak mungkin setuju dengan ini."


"Tidak, tidak." Anna menggeleng. "Apapun yang kamu putuskan, aku tidak berhak untuk mencegahnya."


"Meski kita dekat, aku tidak bisa menghentikanmu melakukan apapun yang kamu mau. Soalnya hubungan kita sebatas rekan kerja... Hanya Petualang dan Resepsionis saja."


Shiki melihat Anna senyum mengatakan kenyataan itu. Shiki senyum, bilang "kau benar" dan memang kenyataan bahwa hubungan mereka hanya seperti itu.


"Benar... Ayo kita berkencan, Anna. Kencan sungguhan. Aku pikir itu akan bagus sebagai perpisahan...!"


Shiki blak-blakan mengajak Anna kencan. Reaksi wanita itu terkekeh saat mendengarnya. Mereka sering berjalan berdua bersama dan tanpa disadari itu seperti mereka berdua sedang kencan, namun saat Shiki mengajaknya kencan sungguhan, itu terasa lucu.


Anna pun memberikan jawabannya. "Maaf, Shiki-kun. Apa kamu lupa? Aku sudah punya suami dan anak, jadi kencan sungguhan tidak bisa dilakukan."


"Ah..." Shiki aslinya tidak lupa soal itu, cuma pura-pura lupa. "Aku lupa."


Anna senyum dan bilang lagi. "Hmm, hmm, maaf jika alasan itu menyakitkan. Aku juga tidak bisa egois dengan ini, kita bisa mengadakan pesta perpisahan nanti setelah semua orang tahu bahwa kamu ingin pensiun."


Shiki mengangguk mengerti. Dan dia bersiap pergi dari sana. "Setidaknya aku akan disini kurang lebih sampai seminggu, jadi masih ada waktu. Namun aku takkan mengambil quest lagi."


"Ya, sampai Guild Master kembali. Kita masih bisa bertemu seminggu ini."


Anna senyum dan Shiki senyum, kemudian pamit dari sana. Setelah pemuda rambut hitam itu pergi, Anna cuma bisa tertunduk merenungkan keputusan Shiki yang memang sangat mengejutkannya.


"Shiki-kun, kamu terlalu sering mengejutkanku."


***


Kota ini bernama Guildtown, disebut sebagai 'kota para Petualang' karena sejak 50 tahun lalu kota ini adalah rumah para Petualang. Menurut cerita, para Petualang Guild lah yang membangun kota ini selama bertahun-tahun sampai bisa ditempati oleh warga lain yang bukan Petualang.


Kota ini tidak dijaga oleh ksatria Kerajaan, namun oleh para Petualang itu sendiri. Bahkan kota ini tidak memiliki walikota dan Guild Master dari Guild Petualang adalah pemimpin kota ini.


Para Petualang pun begitu dikagumi, mereka berbaur dengan warga dan sebagai pelindung mereka. Shiki yang disebut terkuat di Guild pun disapa begitu ramah layaknya pahlawan kota ini.


Shiki juga membalas sapaan ramah mereka karena mereka juga baik dengannya dan sering membantu Guild jika sedang kesusahan.


Sekarang, Shiki berjalan kembali ke apartemennya yang terletak di tenggara kota dari kantor Guild yang ada di tengah kota. Jalan kaki selama 20 menit Shiki lalui, namun hari ini...


"Uh!"


Seseorang menabrak Shiki dengan sengaja, dan Shiki melihat orang dengan tudung jubah hijau itu dan jika dia adalah copet, maka Shiki akan langsung menangkapnya.


Tapi dugaan Shiki salah.


"Anda adalah Shiki-san, si Petualang Terkuat di Guild, bukan? Akhirnya aku menemukan anda."


Suaranya wanita, lembut dan sopan sekali. Shiki mau bertanya balik, namun wanita ini menarik tangannya dan bilang "ikut aku sebentar".


"Apa yang-" Shiki mau berontak, namun cengkraman wanita ini cukup kuat untuk seorang wanita.


Nampaknya dia ingin bicara hal privasi dengan Shiki, dan pemuda rambut hitam ini penasaran apa yang wanita ini inginkan.


...


Shiki dibawa ke sebuah gang kecil dekat jalan tadi, dan wanita itu membuka kupluknya sambil bilang. "Aku lega akhirnya kita bisa bertemu, ini sudah dua tahun, bukan? Shiki-san."


"Hah? Siapa kau?" Shiki kaget dia bilang seakan mereka pernah ketemu.


Wanita itu, dia berambut hitam lurus sampai pundak. Wajahnya cantik dengan pipi yang cukup tembem. Kulitnya putih dan kedua matanya warna biru muda.


Shiki menelan ludahnya, kaget wanita secantik ini datang padanya. Sementara wanita itu, mendengar balasan dari Shiki membuatnya sebal karena Shiki lupa padanya.


"Anda benar-benar melupakan aku?! Yah, aku memang mudah dilupakan sih..." Wanita itu merasa inferior. "...tapi mungkin salahku, aku tidak menyapamu saat itu padahal ayahku bicara banyak denganmu."


"Ayah...?" Shiki berusaha mengingat siapa yang wanita ini maksud.


Wanita rambut hitam ini mengenalkan diri pada Shiki akhirnya dan Shiki tahu siapa dia serta apa tujuannya.


"Aku Reina Stardust. Putri dari Duke Robert Stardust. Aku kemari mau meminta bantuanmu, Shiki-san...!"


Ah Shiki ingat siapa sekarang, nama 'Stardust' bukan nama asing di telinga semua orang di kerajaan ini.


"Bantu aku mencari ayahku yang hilang...!"

__ADS_1


"Aku tidak-"


Reina memotong ucapannya dan bilang. "...jika anda berhasil membantu menemukan ayahku, aku akan menjadi istrimu!"


"HAH?!" Shiki menaikkan satu alisnya keheranan, wajahnya kaget.


Cewek ini tahu Shiki akan menolaknya dan tak membiarkan Shiki memberikan penolakan dengan mengatakan apa 'reward' yang akan dia berikan jika berhasil mencari ayahnya yang hilang.


***


Shiki kembali ke apartemennya. Mandi dan beristirahat setelah bertarung melakukan quest. Dengan tubuh berotot untuk pemuda seusianya, dia memang jelas kuat secara fisik dan energi magis. Banyak hal yang menonjol dari Shiki sebagai Petualang Terkuat di Guild, namun yang paling spesial adalah kedua matanya yang sangat membantu.


Yah, banyak hal yang terjadi hari ini dan Shiki telah mengatakan niatnya pada Anna, dia adalah orang pertama yang tahu Shiki memutuskan pensiun sebagai Petualang.


Setelah itu datang lagi hal terduga, wanita bernama Reina Stardust ini memintanya membantu mencari ayahnya yang hilang sejak 6 bulan lalu.


Awalnya Shiki mau menolak, namun Reina memberikan reward tidak terduga. Seorang bangsawan kerajaan memberikan dirinya sebagai imbalan untuk quest kepada orang biasa seperti Shiki, siapa yang bisa menyangka hal itu?


Jawaban Shiki setelah itu adalah penolakan. Shiki langsung kabur dari Reina setelah menolak itu dan bilang sudah pensiun sebagai Petualang.


"Aku sudah pensiun, dan aku menolak."


"EH! Ditolak?!"


Melihat Shiki kabur pun juga mengejutkan Reina. "Tunggu! Kenapa malah kabur?! Shiki-san!"


...


"Hah..." Suara elaan nafas terdengar bersamaan Shiki keluar dari kamar mandi.


Dengan hanya memakai handuk dan dada telanjangnya, Shiki terkejut saat melihat wanita tadi berada di ruang tamunya.


"Kenapa kau disini?!!"


"Ah itu..." Reina tersipu begitu melihat tubuh Shiki yang berotot. "....."


Diam beberapa detik, kemudian mengambil sebuah garpu dan melemparnya pada Shiki. "Tolong pakai bajumu, Shiki-san!!!"


"Woah?! Kau mau membunuhku?!"


Shiki berhasil menghindar dengan garpu menancap ke tembok dekat Shiki, dan kemudian...


Reina cerita bagaimana dia disini pada Shiki bersamaan pemuda itu memakai pakaiannya di kamar mandi. Reina diantar oleh seorang petualang dan kamar Shiki di rumah susun itu tidak terkunci.


"Petualang itu bilang tidak apa untuk masuk, dia takkan marah kok."


Shiki agak kesal dengar itu, dia keluar dari kamar mandi. "Siapa petualang yang bilang begitu? Apa Dion namanya?"


"Uh, aku tidak menanyakan namanya."


Shiki sudah menduga jawaban itu, dan dugaan soal petualang yang mengantar Reina juga salah, karena Dion sedang tidak ada di kota sekarang. Dan Shiki tahu siapa yang mengantar Reina.


"Baiklah, jika kau kemari berarti kau masih mau merayuku untuk menerima permintaanmu." Shiki duduk di depan Reina, mereka bicara di meja lesehan itu.


"Benar, tapi merayu itu terdengar berlebihan."


"Tidak juga, kau memberikan imbalan menikahimu dan itu diluar nalar. Bagaimana bisa itu tidak disebut merayu?"


"Ugh!"


Shiki bicara dia sudah pensiun, atau lebih tepatnya sudah memutuskan pensiun dan tidak mengambil quest lagi, apalagi quest yang tidak didaftarkan ke Guild dan itu tidak sesuai SOP sebagai Petualang Guild.


Mendengar itu tentu saja Reina terkejut, di usia yang masih muda dan badan masih sehat, dia tidak percaya dengan alasan Shiki.


"Tentu saja jika aku ngomong begitu, maka tidak akan ada yang percaya. Namun aku punya alasanku sendiri dan itu bukan urusanmu, kan?"


Reina mengangguk. "Anda benar."


"Dan lagi, aku baru dengar ayahmu menghilang sejak 6 bulan lalu... Tidak, aku rasa wajar, karena berita itu tidak mungkin disebar ke publik."


Reina mengangguk membenarkan. "Ya. Itulah kenapa aku tidak bisa mendaftarkan quest ini ke Guild. Ditambah, aku ingat soalmu dan itulah kenapa aku mencarimu."


"Tapi harusnya pihak kerajaan mencari ayahmu, kan? Apa pencariannya tidak membuahkan hasil?"


"Tidak, pencariannya sudah berhenti sejak sebulan lalu. Mereka tidak memiliki petunjuk kuat dimana ayahku berada dan sudah melakukan pencarian sebisa mereka."


Shiki mengerti, alasan logis karena sudah 6 bulan tidak ketemu.


"Itulah kenapa aku ingin anda membantuku, Shiki-san! Aku serius meminta ini, aku pikir anda adalah satu-satunya orang yang bisa menemukan ayahku!"


"Kau terlalu percaya padaku, dan aku cuma bertemu ayahmu sekali dua tahun lalu. Dia memang kakek tua yang baik, namun bukan berarti aku berteman dengannya." Shiki beritahu itu.


"Ditambah... Bangsawan kerajaan telah menghancurkan kampung halamanku 13 tahun lalu."


"Huh?" Reina kaget dengar itu.


"Yah, aku sudah tidak dendam. Namun aku berusaha menjauh dan tidak terlibat dengan kalian karena kalian orang yang sangat egois dan merepotkan."


Reina diam dengar itu, gambaran Shiki soal bangsawan kerajaan cukup buruk dan bukan Shiki saja yang menganggap mereka seperti itu.


"Itu terlihat sekarang, kau bahkan cukup egois untuk memintaku dan memberikan imbalan sebesar itu."


"Maaf soal itu..." Reina minta maaf, dan Shiki punya banyak alasan untuk menolak pemintaan egoisnya ini.


Reina memutuskan untuk pergi sekarang. "Aku akan pergi kalau begitu. Maaf telah mengganggu waktumu, Shiki-san."


"Aku akan mencari ayahku sendiri. Lagipula aku bisa bertarung meski aku orang yang kikuk dan ceroboh. Aku tidak tahu kenapa ayahku pergi dan apa yang terlibat dengannya..."


"...namun aku tidak bisa bergantung pada orang lain, karena sejak awal, aku tidak memiliki siapapun yang bisa aku andalkan."


"Jika aku mati karena usahaku sendiri...aku rasa itu adalah nasibku, jadi tidak ada pilihan lain, hehe."


Reina bilang itu dengan pasrah, dia lalu pamit pada Shiki sebelum keluar dari kamarnya. Shiki cuma diam sambil menyilangkan tangannya, memejamkan matanya dan memutuskan sesuatu.


"Tunggu." Shiki meminta Reina berhenti; "...Reina."


"Huh?" Reina melihat pemuda itu dengan bingung.


"Aku tidak suka saat dengar ada orang yang melakukan sesuatu, namun niatan mereka adalah mati." Shiki berdiri, kemudian bilang lagi.


"Itu hal yang bodoh dan egois. Tidak ada untungnya kau melakukan itu."


Reina kaget dengar itu, sedikit tersipu karena ketegasan Shiki soal itu.


"Jadi simpel saja, aku akan membantumu mencari ayahmu, tuan putri. Itung-itung sebagai quest terakhir untukku. Jadi katakan padaku kemana kita harus mencari ayahmu yang hilang..."


Reina sangat senang mendengar itu, Shiki memutuskan untuk membantunya.

__ADS_1


Ini adalah awal takdir mereka, aslinya Shiki menganggap ini sebagai pemicu kecil, namun cerita akan menjadi lebih besar seiring waktu berjalan tanpa bisa mereka duga sebelumnya.


...Bab 1.1 "Shiki si Petualang Terkuat" - selesai...


__ADS_2