
"Apa?!" Shiki terkejut dengar itu, begitu juga Alicia yang tanpa komentar dengan wajah terkejutnya.
"Ini masih sekedar asumsi saja. Sebuah asumsi yang membuatku berkesimpulan kalau ada pengkhianat di Guild ini." ucap Silva lagi.
"Tunggu, aku mengerti kalau ini cuma asumsi, tapi apa yang membuatmu berpikir bisa sampai sejauh itu?!" Shiki tidak mengerti.
Shiki langsung mengerti ketika dia sadar kalau asumsi Silva berkaitan dengan hilangnya Duke Robert Stardust. Shiki ingat jika ada para Petualang, sekitar tiga orang yang mengantar Duke Robert ke Star Island dan itulah alasan kenapa Reina menuduhnya.
"Begitu ya, ini soal para Petualang yang mengantar Duke Robert, benar?"
"Benar." Silva senyum, Shiki langsung menduga itu dengan baik.
"Apa kau tidak tahu soal itu, ketua Silva?" Alicia nanya.
"Ya, aku tidak tahu dan itulah kenapa aku menduga ada pengkhianat di Guild. Dan pengkhianat ini adalah orang yang memerintahkan ketiga petualang itu untuk mengantar Duke Robert Stardust." jawab Silva.
"Tapi pengkhianat, huh. Bukankah itu asumsi yang berlebihan?" Shiki ragu soal ini.
Silva memegang kepalanya, tidak menyangkal kalau asumsinya memang berlebihan. "Kau benar, aku memang berpikiran lebih. Namun asumsi pengkhianat ini ada karena NARAKU itu ada."
"Tujuan mereka adalah menghancurkan Asteria secara perlahan dan kejam. Jadi bukan tidak mungkin mereka memasukkan orang mereka ke tiga fraksi di Kerajaan ini." Silva bilang itu, dan tiga fraksi yang dia maksud adalah "militer", "sanctum" dan "Guild"
"Dan kemungkinan...ada salah satu dari 5 resepsionis kita yang merupakan pengkhianatnya." Silva berkata dengan tegas, Shiki menghela nafas atas dugaan itu, namun memang yang memberikan quest soal Duke Robert Stardust adalah resepsionis.
Kelima Resepsionis Guild memang bisa memberikan quest pada Petualang, bahkan itu quest tanpa pengajuan ke Guild. Quest mengantar Duke Robert Stardust pastinya adalah quest seperti itu, jadinya ketua Silva tidak mengetahuinya.
"Masuk akal memang jika salah satu resepsionis kita terlibat, meski itu sulit dibayangkan..." Shiki bicara, dia kenal dengan baik setiap resepsionis di Guild;
Anna, resepsionisnya sendiri, wanita yang dia sukai. Bagi Shiki mustahil Anna adalah pengkhianat.
Gina, dia disebut "idol" oleh para Petualang karena sifat cerianya dan mudah akrabnya. Gina adalah sahabat baik Anna.
Paula, resepsionis paling dewasa (tua) di Guild yang umurnya sudah mau kepala 4. Paula sudah bekerja di Guild selama 15 tahun dan sering ada rumor kalau Silva dan Paula adalah suami istri, meski bukan aslinya.
Candy, resepsionis paling muda di Guild, masih 12 tahun. Dia cucu dari sponsor Guild Petualang, yaitu "Keluarga Amatha" yang merupakan tuan tanah di dekat kota para Petualang.
Honjo, dia resepsionis paling biasa, namun paling cerdas. Honjo sendiri adalah seorang kutu buku dan jika dipikir lagi, mungkin dia yang memiliki peluang paling besar sebagai "pengkhianat" di Guild.
"Namun itu masih dugaan tanpa bukti, jadi tidak perlu mencurigai para resepsionis sejauh itu, kan?" Alicia nanya itu.
Shiki mengangguk setuju. "Benar, dengar itu...ketua!"
"Yah, aku tidak akan bicara soal ini pada orang lain, kalian tahu. Aku cuma bicara ini dengan Shiki karena dia adalah calon ketua Guild di masa depan." Silva bilang itu, dan Shiki melihatnya jengkel.
"Namun rencanaku soal ini adalah 'menunggu', menunggu pengkhianat itu bergerak agar kita tahu siapa yang melakukannya."
"Ya, aku setuju dengan itu. Karena itu opsi paling jelas untuk saat ini." balas Shiki.
"Jika sudah jelas pergerakan pengkhianat ini, maka aku rasa kau bisa dengan mudah menghentikan pergerakan mereka, bukan? Aku mengandalkan-mu, Petualang Terkuat." Silva senyum, dia meminta Shiki mengurus soal pengkhianat ini.
"Merepotkan." Shiki jengkel, bilang itu pada Silva.
...
Setelah itu mereka berdua pergi, Alicia berkomentar soal ketua Guild. "Aku tidak menyangka ketua Guild adalah orang yang seperti itu. Aku pikir dia akan mempercayai anak buahnya sebaik mungkin."
"Bukankah itu jadinya membuat dia seperti orang yang naif?" Shiki heran jadinya.
"Yah, ketua Silva memang orang yang seperti itu. Dia cerdas, lugas, dan peduli. Kepekaan dia terhadap sekitarnya sangat mengesankan." Shiki tahu banget seperti apa pria ini. "Kau bisa bilang dia seorang perfeksionis, namun dia lebih fleksibel dan bukan pemaksa."
"Hmm, begitu. Orang kompeten sepertimu dan Ketua Silva harus bekerja di Romanova." Alicia senyum.
Shiki heran mendengar itu. "Egois banget."
__ADS_1
"Bagaimana denganmu? Ini pertama kalinya kau ke kota ini, bukan? Apa kesanmu pada para Petualang di kota ini?"
Alicia senyum. "Aku tidak berekspektasi lebih saat tiba di kota ini. Namun mereka cukup mengejutkan aku." jawab gadis rambut jingga itu, dia berhenti dan melihat para Petualang yang tertawa; "Mereka pekerja keras, mereka menikmati pekerjaan mereka meski tahu bayaran pada pekerjaan ini sulit."
"Sebagai Romanova, aku tidak membenci orang yang seperti itu. Orang-orang yang berjuang dengan baik demi kehidupan mereka sendiri adalah orang terbaik dalam hidup."
Shiki cukup terkejut dengan jawaban jujur Alicia. Gadis ini punya opini yang bagus, dan mencerminkan betapa cerdasnya dia sebagai seorang wanita.
Rambut jingga gadis itu tertiup angin dengan pelan, dan wajahnya melihat ke Shiki, mengerutkan dahinya dan nanya; "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Nah, bukan apa-apa." jawab Shiki, dia membuang wajahnya dan jadi agak salah tingkah;
"Kau mau kemana setelah ini?" Shiki nanya dan membahas hal lain; "Mau kembali ke apartemen?"
"Ya, memangnya mau kemana lagi?"
"Ah, sial!" Shiki baru ingat; "Aku lupa nanya soal GATE pada ketua!"
"Kita bisa tanya besok soal itu!" Alicia bilang dengan kesal; "Ayo cepat antar aku kembali! Ini perintah!"
"Ok, ok." Shiki heran mendengar itu.
💠💠ðŸ’
Besok paginya, Festival Petualang dimulai dengan suara lonceng kota terdengar kencang sebanyak 4 kali.
Suara petasan dinyalakan ke langit, semua orang bersorak senang. Makanan dan minuman disajikan, para Petualang bersenang-senang dan para warga riang gembira.
"BERSULANG!" Dion mengangkat gelas bir nya bersama Vira dan Warren.
"Bir..." Alicia melihat minumannya. Alicia tidak pernah minum bir sebelumnya, dan lebih suka dengan wine.
"Minumlah, meski itu terlihat sebagai bir murahan, rasanya sangat manis dan bikin bergairah." Vira beritahu sambil senyum. Alicia heran dengar "bikin bergairah"
Alicia berkedip, dari yang dia dengar, wanita ini adalah Vira, salah satu Petualang Terkuat dan juga seorang mage.
...
Shiki melihat festival sendiri, semua Petualang dan warga menyapanya dengan semangat. Shiki membalas dengan sapaan atau lambaian tangan balik.
Hari ini, Yui diminta bantu oleh Gina dan Candy di markas, dia menjadi pelayan di markas Guild. Sementara Reina juga membantu para warga di kota, sejak semalam malah.
Ini kesempatan Shiki untuk sendirian dari ketiga heroine-nya, dan kesempatan Shiki untuk bicara dengan Anna berdua saja.
"Ah, Shiki-kun." Anna senyum, dia juga sedang membantu para warga.
"Anna..." Shiki menyapanya balik.
Anna tersipu, tiba-tiba saja dia begitu. Jantungnya berdebar dan memalingkan wajahnya. Anna bilang pada para warga dia tiba-tiba saja mau ke toilet dan Anna pergi dari sana; "Ah, Anna! Tunggu!"
Namun Anna tetap pergi, dan Shiki tidak mengejarnya. "Kenapa dia..."
"Shiki-san! Aku mencarimu sejak tadi!" Suara Reina terdengar dari belakang, wanita berambut hitam itu memakai apron putih dan baju santai berupa kaus belang-belang hitam putih ketat dan celana pendek warna coklat sampai atas lutut.
Shiki tersentak kaget tentunya dan Shiki mengerti Reina sedang membantu para warga dengan memasakkan makanan.
"Ada apa memangnya?" tanya Shiki berusaha tenang.
"Aku sedang memasak untuk para warga, namun aku butuh bantuanmu karena aku kerepotan meski ada banyak yang membantu." Reina bilang itu pada Shiki, kemudian matanya berbinar-binar; "Shiki-san mau bantu aku, kan?"
Shiki heran dan mengerti. "Yah, ini tidak seperti aku punya hal lain untuk dilakukan. Baiklah kalau begitu."
Mereka pun pergi ke tempat dimana Reina memasak.
__ADS_1
...
Selama beberapa jam mereka memasak, Shiki membantu Reina beberapa hal. Memang cukup mengejutkan Reina bisa memasak, dan masakannya bisa terbilang enak.
Para wanita yang membantu Reina berterimakasih pada Shiki dan Reina, bahkan ada yang bilang mereka pasangan serasi dan bercanda kalau Shiki sudah menyukai Anna.
Reina cuma bisa tertawa mendengar itu. "Hehehe, yah, selera Shiki-san adalah istri orang, jadi aku bukan tipenya."
"Kau bicara seakan-akan aku ini orang bejat." Shiki kaget dengar itu.
"Shiki-san, apa aku boleh tahu apa alasanmu menyukai Anna-san meski dia sudah punya suami?" tanya Reina soal itu, dia nanya perasaan pribadi Shiki.
"Kenapa kau mau tahu itu? Apa kau cemburu?" Shiki nanya penasaran, mencoba menggoda wanita 18 tahun ini.
"Mungkin~" Reina jawab terkekeh. "...kau adalah pria paling dekat denganku soalnya."
Shiki mengerti "begitu ya" dan dia jawab pertanyaan Reina. "Jawabannya simpel, aku dan Anna bertemu dua tahun lalu, kemudian aku jatuh cinta padanya begitu saja; kau bisa bilang, Anna adalah..." Shiki mengungkap alasannya; "...cinta pertamaku."
"Cinta pertama?!" Reina agak terkejut.
"Ya, mungkin terdengar seperti remaja baru pubertas, namun dua tahun lalu aku jatuh cinta pada Anna pada pandangan pertama. Saat melihatnya, aku merasa nostalgia. Saat bersamanya, aku merasa nyaman dan saat bicara dengannya, aku merasa senang." Shiki curhat pada Reina.
"Aku sadar bahwa aku jatuh cinta pada Anna, dan hubungan kami berjalan lurus saja..." Shiki bilang lagi; "...sebagai resepsionis dan petualang."
"Begitu ya." Reina mengerti; "...itu memanglah cinta."
"Tapi... Anna-san menyukaimu juga, bukan? Namun fakta bahwa kalian tidak pernah melangkah lebih soal perasaan kalian itu sangat mencengangkan." Reina berkata lagi, dia sudah dengar soal Shiki dan Anna dari para Petualang, terutama dari Vira.
"Mungkin karena Anna-san setia dengan suaminya, dan kau tahu soal itu. jadi kau terlambat beberapa tahun, Shiki-san."
"Tidak perlu kau beritahu, aku juga tahu kok." Shiki senyum.
Reina terkekeh, dia kemudian berdiri dan ke dapur lagi. Menyalakan kompor dan mengambil beberapa bahan makanan; "Sebagai rasa terima kasih karena mau jujur dan membantu tadi, aku akan memasak untukmu, ok?"
Reina menguncir rambutnya. "... tunggulah beberapa menit! Masakan-ku takkan kalah dari Shiki-san!"
Shiki senyum, mengangguk saja.
Namun melihat Reina sejak tadi, memakai apron dan memasak untuknya. Bukankah itu membuat Reina begitu cocok sebagai ibu rumah tangga?
"Reina, kau cocok sekali menjadi seorang istri." Shiki entah kenapa bilang itu, dia tidak bisa menahan diri untuk memuji kliennya.
Reina tersipu dengar itu. Jantungnya berdegup kencang, ini adalah sesuatu yang ia rasakan juga saat di Star Island, dimana dia meminta Shiki untuk menghukumnya.
Diam selama beberapa detik itu membuat Shiki bingung. "Reina...?"
"Ah, iya..." Reina senyum. "Thanks, Shiki-san. Kau membuatku merasa bergairah."
Shiki tersipu parah, dia kaget tentunya dan mengerti. Shiki menjadi salah tingkah, dan membuatnya berpikir macam-macam pada Reina.
Keduanya diam-diaman, sampai suara sebuah lonceng terdengar memecah rasa canggung mereka.
"Eh? Suara lonceng?" Reina kaget.
Wajah Shiki menjadi panik, dan dia keluar dari kedai itu. Reina mematikan kompornya dan kaget; "Shiki-san?!"
Suara lonceng berbunyi selama 8 kali dan menarik perhatian semua orang di kota.
"Shiki-san! Apa suara lonceng itu? Bukankah itu suara lonceng yang ada di tengah kota?" Reina tanya dengan panik.
"Ya, jika suara lonceng dibunyikan selama 4 kali, maka tanda festival dimulai, seperti tadi pagi. Namun jika dibunyikan 8 kali, tanda festival diakhiri." Shiki bilang dengan wajah panik.
Kemudian lonceng kota dibunyikan lagi selama 8 kali. "Dan...jika dibunyikan sebanyak 8 kali lagi...total 16 kali...itu menandakan bahwa kota ini berada dalam bahaya!" ucap Shiki serius, dan apa bahaya yang akan datang ke kota ini??
__ADS_1
...Bab 3.2 "Festival Petualang" - selesai....