ADVENTURER OF EDEN

ADVENTURER OF EDEN
1.3 "Kedua Tuan Putri"


__ADS_3

Perahu layar Shiki tiba di pantai Star Island. Dengan jangkar diturunkan, Shiki membantu Reina melewati laut pesisir pantai sampai tiba di pasir putih itu.


Namun tentunya ada tiga orang yang menunggu. Shiki sudah merasakan keberadaan mereka dari tadi, namun memutuskan diam karena Shiki menunggu mereka menyerang.


"Lama tidak bertemu, Nona Stardust. Ini sudah 3 tahun, bukan?"


Reina terkejut melihat wanita yang pertama kali menyapanya itu. Wanita yang cantik dan sudah Shiki duga kalau dia juga bangsawan kerajaan seperti Reina.


Dan namanya adalah... "Alicia-san!"


Ah... Shiki kenal nama 'Alicia' ini. Tidak salah lagi dia adalah gadis bangsawan kerajaan yang cukup sering muncul di koran bintang.


Alicia Romanova, tuan putri kerajaan yang dijuluki 'Putri Jenius'. Nama yang terkenal dan entah kenapa Shiki tahu bakal merepotkan berurusan dengannya.


"Kenapa kau disini, Alicia-san?"


"Soal itu... Aku kesini cuma jalan-jalan dan kebetulan kau juga kemari." jawab Alicia serius.


"...namun aku juga mau berurusan denganmu disini."


Shiki menahan tawanya mendengar jawaban serius itu. "Tunggu... Kau ini memang tsundere atau bagaimana, tuan putri?"


"Siapa yang kau sebut tsundere! Dan siapa kau, orang biasa?!" Alicia kesal tentunya, dan identitas Shiki adalah hal pertama yang perlu dia tahu.


"Shiki, seorang petualang."


Alicia berkedip dengar itu. Diluar dugaan juga karena dia menebak kalau Reina akan dikawal oleh Priest Sanctum, namun ternyata oleh seorang petualang dari Guild.


"Petualang... Maksudmu kau salah satu orang bermasalah itu?"


"Hah?" Shiki menaikkan satu alisnya.


"Ya, bukankah reputasi kalian cukup jelek? Kalian membantu orang dengan pamrih."


"Diam! Kami bukan pahlawan, jadi tentu kami membantu dengan pamrih." Shiki jengkel juga persepsi pekerjaan dia sebagai petualang dianggap jelek oleh gadis arogan ini.


"Huh! Petualang tak ada bedanya dengan bandit kalau begitu, benar?"


"Kau-"


"Wah, tunggu disitu! Jangan marah padanya, ok? 'Shiki si Petualang Terkuat'..." Pria berambut merah jabrik itu berusaha menenangkan Shiki, dia tahu reputasi Shiki yang besar.


"Nona Putri tidak tahu soal dirimu, itulah kenapa dia berani bicara begitu." Pria ini bernama Kira, dia adalah ajudan dari Putri Alicia.


"Nona Putri, pria ini adalah Shiki si Petualang Terkuat. Pria yang terkenal karena kemenangannya di ibukota 2 tahun yang lalu! Masa anda tidak pernah dengar namanya?!"


Kira itu berusaha meyakinkan Alicia soal reputasi Shiki. Gadis itu memejamkan matanya dan berusaha ingat, tidak mungkin dia tidak tahu nama terkenal itu.


"Ah benar, Alfred memang pernah beritahu sedikit soal Turnamen Bintang 2 tahun lalu, namun aku tidak peduli juga." Alicia ingat, dia menatap serius Shiki yang menatapnya santai.


"Kalau begitu, aku akui reputasimu. Aku mengerti kau bukan petualang sembarangan dan itulah alasan Nona Stardust bersamamu."


Shiki mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dan beralih ke hal lain, bertanya pada Alicia; "Lalu apa urusanmu dengan Reina? Datang jauh-jauh kemari bukan cuma mau piknik, kan?"


"Aku kesini mau membantunya mencari ayahnya yang hilang, namun dengan syarat dan ketentuan berlaku."


"Eh." Reina kaget dengar niatan Alicia.


Bagi Reina, ini mengejutkan karena Alicia dan dia tidak memiliki hubungan yang bagus. Tentu dengan tawaran menarik itu, Reina bertanya apa syaratnya dan Alicia menjawabnya,


"Yah, kau harus berhenti mencari ayahmu dengan si petualang itu. Kita tidak bisa membiarkan orang biasa ikut campur dalam urusan bangsawan kerajaan."


"Hah." Shiki merasa lucu, tentu saja gadis ini akan mengajukan syarat seperti ini.


Reina melihat Shiki dengan tatapan bingung, wanita ini merasa tidak enak dengan Shiki dan pemuda rambut hitam tahu soal itu.


Yah, imbalan yang Shiki dapatkan masih belum tentu dan quest ini bukan quest yang diajukan langsung ke Guild. Jadi untuk menghentikannya meski belum selesai, maka bakal semudah membalikkan telapak tangan.


"Tidak perlu merasa tidak enak padaku. Justru aku lega karena tidak perlu ikut campur urusan merepotkan kalian." ucap Shiki menggaruk rambutnya.


"Maaf, Shiki-san." Reina senyum, pemuda ini cukup pengertian.


"Aku mengerti, jangan khawatir."

__ADS_1


Shiki melihat ke Alicia setelah itu dan bertanya sesuatu. "Namun ada satu hal yang perlu aku tanyakan padamu, putri jenius..."


"Ayahnya Reina sudah menghilang sejak 6 bulan lalu, dan jika kau serius mau membantu Reina, kenapa kau tidak lakukan dari awal?" Shiki mempertanyakan itu.


Alicia melihatnya dengan kesal, pertanyaan yang menusuk dari Shiki dan dijawab penuh emosi.


"Diam! Aku punya alasan sendiri dan itu bukan urusanmu! Cepat pergi dari sini, bodoh!"


Mendengar itu dengan heran, Shiki berbalik melambaikan tangan dan pergi dari sana.


Wanita rambut biru gelap di dekat Alicia menenangkan tuannya itu. "Tenanglah, Nona Putri. Anda jangan terprovokasi."


"Bikin jengkel! Dia memang ganteng dan keren, tapi ini pertama kalinya aku dibuat emosi oleh orang biasa!"


Alicia menghela nafas setelah mengomel tadi. "Kira, Mira, awasi petualang itu sampai dia pergi. Aku dan Nona Stardust akan ke Kuil Bintang Agung di tengah pulau."


""OK!"" Kira, pria rambut merah dan Mira, wanita rambut biru gelap itu mengerti, mereka pergi mengawasi Shiki sampai pergi dari pulau sakral ini.


Alicia mengajak Reina pergi, tujuan mereka berikutnya adalah Kuil Bintang Agung di tengah pulau.


***


Kuil Bintang Agung ada di tengah pulau sakral tiga keluarga kerajaan ini. Sebuah menara batu yang menjulang cukup tinggi, agak lebih tinggi daripada hutan belantara yang ada di sekitarnya.


Kedua Tuan Putri ini bisa sampai di depan menara ini dengan mudah, tidak ada hambatan sama sekali.


"Ini dia, Kuil Bintang Agung. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan mewujudkan ambisiku!" Alicia bersemangat.


"Ambisi... Apa mungkin syarat yang mau kamu ajukan padaku adalah membuatmu menjadi 'Raja', Alicia-san?" Reina menebak itu setelah mengerti kenapa Alicia membawanya kemari.


"Benar." gadis rambut jingga itu mengangguk. "Keluarga Stardust mampu membuat regalia untuk raja berikutnya, benar? Aku yakin ayahmu pernah mengajari itu."


"Ditambah, syarat berikutnya adalah "senjata mulia" milik salah satu keluarga sebagai simbol kekuatan." Alicia mengeluarkan sebuah tongkat sihir yang disebut "Senjata Mulia"


"Dalam kasusku, 'tongkat sihir matahari' ini adalah simbol kekuatan keluarga Romanova! Itu berarti tiga syarat utama untuk Romanova menjadi penguasa negeri ini terwujud!"


Alicia bilang itu dengan senang. Reina tersenyum, dia mengerti bahagianya Alicia. 


"Aku senang jika kamu senang, Alicia-san! Aku jadi bersemangat!"


"Minggir, biar aku yang hancurkan."


Alicia mengeluarkan Apollon, dan kemudian...


"Oh, tunggu disana, Nona Putri. Selangkah lagi kau melangkah, kepalamu akan terpisah dari lehermu."


"GAKH!" Alicia memuntahkan darahnya banyak dari mulut, dengan satu tangan dari Kira menancap ke punggungnya.


Reina melihat itu dengan syok dan teriakan kencangnya terdengar ke seluruh pulau.


"ALICIA-SAN!!!!!!"


...


Kematian tinggal selangkah lagi di depan Alicia setelah ajudannya untuk menusuknya dari belakang dengan brutal.


Hal seperti ini, kenapa bisa terjadi padanya? Ini sebuah nasib buruk. Dikhianati dan dibunuh.


Kira mencabut tangannya dari punggung Alicia yang langsung jatuh. Reina melihat dengan syok, dan beberapa detik kemudian cahaya emas menyilaukan bersinar dari kalung kristal milik wanita berusia 18 tahun itu.


"Cahaya apa ini?!" Kira panik.


Mira tidak percaya. "Energi magis ini...!"


Reina membentuk sebuah cahaya bulat di tangannya dan menembak itu pada Kira. Pria rambut merah jabrik itu mengelak dengan cepat, dan ledakan adalah efek dari serangan Reina tadi.


"Ah..." Alicia masih hidup, meski darah sudah keluar banyak sekali, dia masih bisa bertahan karena alasan.


Kira merasakan murka Reina, dan menemukan cara untuk "menghentikan" dengan paksa. Kira menangkap kembali Alicia dan kelima jari tangan kanannya berada di leher mantan bosnya itu;


"Berhenti murka padaku, Putri Stardust! Selama kau diam, aku takkan menusuk leher gadis ini!"


"Alicia-san!" Reina panik jadinya.

__ADS_1


"Kira...!" Alicia kesal.


Kira nyengir dan bilang. "Oh, kau marah, Nona Putri. Itu bagus...aku sudah merencanakan pengkhianatan ini sejak 9 bulan lalu dan semuanya sesuai rencana hingga Master memerintahkan kami mengeksekusi rencana besar ini!"


"Tujuanmu...apa?"


"Merebut Apollon tentunya!" Kira mengambil Apollon paksa sambil melukai tangan kanan Alicia; "AAAAH!"


Kira mendapatkan Apollon, dan bilang lagi. "Tanpa Apollon, regenerasimu akan kembali normal! Kau akan mati kehilangan banyak darah dan kehilangan semuanya!"


"Aku...aku tidak akan..." Alicia kesal, perasaannya campur aduk. Seluruh tubuhnya terluka dan tidak bisa bergerak untuk melawan kembali Kira.


"Alicia-san...!" Reina khawatir banget sekarang.


"Jangan kelamaan basa-basi, Kira! Bunuh wanita itu sesuai perintah- eh...?"


Seseorang muncul dari belakang Mira, dan dengan kaki belakangnya dia menendang kepala Mira telak sampai terlempar.


"Huh?!" Mereka kaget.


Kira lebih kaget ketika orang itu berlari sangat cepat dan memotong satu tangan Kira yang mengancam Mira dengan pisaunya sendiri.


"GAAAAAK!"


Alicia berhasil lepas dan Reina langsung menghampirinya.


"Cepat berikan dia ini." Shiki melempar sebuah elixir pada Alicia; "Itu Elixir, memang takkan menyembuhkan lukanya jauh lebih cepat, tapi setidaknya itu bisa mengatasi rasa sakitnya dan mengganti darahnya yang keluar!"


"Ba-baik!"


Shiki melihat Kira yang mundur dan berdiri dengan wajah penuh cengiran. Tangan kanan yang dipotong Shiki tadi dengan cepat tumbuh kembali, dan tangan kirinya memegang sebuah tongkat sihir yang pertama kali Shiki lihat.


"Begitu rupanya, 'pengkhianatan' memang terburuk, bukan? Aku berharap itu tidak pernah terjadi padaku, namun melihat seseorang dikhianati membuatku sakit juga."


"Hehe." Kira cuma nyengir.


Shiki bersiap dengan kedua pisau hitamnya. Kaki-kaki ditekan, dia melesat ke Kira.


Namun... Shiki menyadari sosok besar melompat padanya, dan langsung ngerem kedua kakinya. Sosok besar itu adalah makhluk batu yang muncul menghantam Shiki dengan kuat memakai tinjunya.


"Guh!" Shiki menahan tinju batu itu dengan tubuhnya, namun tetap terlempar cukup kencang.


"Apa itu...?" Alicia kaget, dia sudah agak mendingan setelah diberikan Elixir oleh mereka.


"Itu... Monster! Stone Golem." Reina tahu nama makhluk yang muncul, mendengar itu Alicia kaget karena ini pertama kali dia bertemu dengan "Monster"


Mira muncul, wajahnya memar karena ditendang kuat Shiki. Kira memarahi Mira tentunya karena mengganggu pertarungannya dengan Shiki; "Kau ini suka menganggu kesenangan, Mira!"


"Diam!" Mira membentaknya. "Misi kita sudah selesai, Apollon sudah berhasil direbut, namun Alicia belum mati."


"Memang, dan kenapa kau malah bilang misi kita sudah selesai?!" Kira jengkel jadinya.


Wanita rambut biru gelap itu bilang pada Kira. "Benar, merebut Apollon saja sudah cukup. Wanita itu bisa diurus nanti."


"Sialan... Beraninya kalian!" Teriak Alicia kesal. "Aku tidak pernah memaafkan kalian! Aku benci kalian! Pengkhianat sialan!"


"Hmph." Mira senyum, dan bersiap pergi dengan Kira. "Marah-lah sesuka hatimu. Benci-lah sesuka hatimu, kami tidak peduli."


"Kau tidak bisa melakukan apapun, dan semua angan-angan bodohmu takkan pernah terwujud."


Mira pergi setelah bilang itu, dengan wajah kesal Alicia perlihatkan.


Alicia mau mengejar, namun Reina terus menahan dan memintanya tenang. Saat keduanya berselisih soal itu, Stone Golem tadi muncul menyerang mereka.


Shiki dengan cepat menolong kedua putri itu dan memarahi mereka.


"Berhenti berkelahi! Kalian ini..." bentakan Shiki itu menenangkan keduanya, namun masalah lebih berat ada di depan mereka.


"Kalau kau mau mengejar mereka, kita tangani dulu makhluk ini. Jika tidak, mereka tidak akan terkejar dan bukan tidak mungkin kita akan mati." Shiki bilang itu, sudah lama dia tidak sewaspada ini melawan musuh.


Dan yang dihadapannya adalah musuh kuat, Shiki yakin mereka adalah makhluk yang disebut "Monster", penghuni Abyss dan teror mimpi buruk umat manusia.


"Aku akan menanganinya, kalian berdua pergilah-"

__ADS_1


"Tidak perlu." Reina beritahu. "Aku sendiri saja cukup untuk menghancurkan Monster ini."


...Bab 1.3: "Kedua Tuan Putri" - selesai...


__ADS_2