
"Tidak perlu, aku sendiri saja sudah cukup untuk menangani Monster ini."
Reina bilang dengan wajah serius, kata-kata yang penuh percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan Monster bernama Golem ini.
"EH?" Tapi dengan wajah syoknya, Shiki tidak percaya akan hal itu dan melihat itu, Reina kaget komikal karena Shiki meragukan ucapannya; "Wajah yang meragukan aku!"
"Tentu saja aku ragu! Bagaimana bisa kau langsung bicara dengan pede begitu?! Padahal kau tidak pernah bertarung sebelumnya?!"
"Uh, aku pernah bilang padamu aku bisa bertarung, kan?"
Shiki berkedip dengar itu, memang benar Reina bilang dia bisa bertarung. Ditambah sebelumnya, Shiki merasakan energi magis kuat juga yang tidak pernah Shiki rasakan sebelumnya saat dia bergerak menolong Alicia.
Shiki menyadari Golem itu bergerak lagi, entah siapa yang dia incar, ini pasti akan membahayakan mereka.
"Ok! Aku mengerti, sekarang Golem itu bergerak... Apa yang akan kau lakukan?!"
Reina menjelaskan soal Golem bersamaan Monster yang mereka hadapi itu bergerak. Golem adalah Monster dari Abyss, dan ada banyak jenis Golem, namun Stone Golem ini adalah Golem paling mudah meski sulit dikalahkan oleh petarung jarak dekat yang menggunakan senjata tajam seperti Shiki.
"Ulur waktu untukku, Shiki-san." Reina bilang itu; "Aku akan menyiapkan satu serangan besar. Golem akan mudah hancur dengan itu."
"Aku mengerti." Shiki bersiap.
Bersamaan Reina membawa mundur Alicia ke dekat pohon. Alicia yang masih memulihkan diri tidak bicara banyak, dia cuma melihat diam saat teman masa kecilnya itu bertarung. Ini bukan pertama kali dia melihat Reina bertarung sih.
Shiki menggunakan mata sihirnya, kedua bola matanya berubah menjadi warna pelangi. Dia melihat beberapa garis ke arah Stone Golem, semua garis itu belok-belok, menandakan arah kemana Shiki harus menyerang Monster ini.
Semua garis itu bisa menyerang Golem, namun tubuh kerasnya adalah halangan terbesar. Ketika Shiki mengikuti satu garis itu, dia menebas dengan cepat dan tajam, tapi tidak membuat Stone Golem itu bergeming.
Tubuh batu keras itu diarahkan juga dengan sebuah tinju padanya. Shiki menghindar dengan mudah karena tinju batu Golem itu lamban.
Bersamaan energi magis keemasan dilepaskan oleh Reina.
"Cahaya Ilahi, dilepaskan." Reina mengangkat satu tangannya dan kalung kristal miliknya bercahaya terang; "Tombak sakral...terbuka!"
Tangan kanan itu membentuk sebuah tombak lance yang indah karena sinar keemasan yang mengitarinya.
Perhatian Golem langsung kepada Reina dan Shiki juga ikut mundur karena dia mungkin akan kena serang juga dari arah serangan Reina.
Alicia cuma diam memperhatikan, tangan kanan Reina ke belakang dan diayunkan ke depan untuk menembak tombak sakral dengan satu serangan kuat ke arah Golem.
"RHONGOMYNIAD!"
Golem langsung hancur tidak bersisa saat tombak lance sakral itu menembus tubuhnya. Serangan "Rhongomyniad" menghancurkan semua pepohonan di belakang Golem dan meledak di arah lautan pulau sakral.
Shiki tidak percaya, ini pertama kalinya dia melihat serangan besar seperti itu. "Luar biasa."
Reina membuang nafas lebar, dan jatuh. Namun Shiki menolongnya hampir jatuh; "Kerja bagus, Reina."
"Makasih, Shiki-san." Reina tersipu sedikit karena dia jatuh di pelukan Shiki.
Alicia memejamkan matanya saja dan Shiki melihat itu, dia penasaran apa gadis itu iri dengan Reina yang melepaskan satu serangan besar.
"Shiki-san, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Huh? Apa itu?"
"Antarkan aku ke kamar mandi."
Shiki kaget dengar itu. "Disini bukan hotel!"
Pada akhirnya Shiki meminta Reina ke kamar mandi perahu layar mereka, dan dia mau membantu Alicia yang masih memulihkan diri. Mereka bertiga ke perahu layar Shiki karena milik Alicia dibawa oleh Kira dan Mira.
***
"Cahaya Ilahi, salah satu dari tiga senjata mulia milik tiga keluarga kerajaan." ucap Mira, dia dan Kira melihat serangan Reina dari kapal dan mengesankan mereka.
Mereka berdua semakin jauh dari Star Island dan mustahil Shiki mengejar mereka.
"Keluarga Stardust adalah pemilik Cahaya Ilahi itu dan aku tidak menyangka Putri Reina bisa menggunakannya dengan baik."
"Hah, bukankah itu karena dia seorang Valkyrie sepertimu? Sekali dirasakan pun aku bisa menebaknya. Tidak ada manusia yang bisa menggunakan energi magis aneh dan sebesar itu kecuali kau seorang Valkyrie." Kira di kemudi bicara itu, istilah baru disebut 'Valkyrie' terungkap.
Mira diam saja mendengar itu, tidak menyangkal bahwa dia juga seorang Valkyrie.
"Aku penasaran kenapa tidak diminta membunuh Putri Reina juga? Jelas dia lebih berbahaya dibanding Alicia."
"(Itu tidak perlu. Konfrontasi dengan Putri Reina Stardust akan datang dengan sendirinya. Membunuh Putri Alicia Romanova adalah hal pertama karena dia calon terkuat Raja Asteria saat ini.)"
__ADS_1
"Suara ini...!" Kira dan Mira kaget.
Mereka berdua langsung membungkuk saat seekor burung hantu besar terbang di atas kapal mereka dan turun ke atas kabin.
"MASTER!"
"(Jadi kalian berhasil melakukannya, Kira, Mira. Sangat bagus. Aku bisa merasakan Apollon dengan kalian, namun apa kalian berhasil membunuh Alicia Romanova?)"
Suara pria itu bertanya soal misi mereka. Mira menjelaskan apa yang terjadi di Star Island. Mereka berhasil mendapatkan Apollon, namun gagal untuk membunuh Putri Alicia Romanova.
"Begitulah ceritanya, Master! Jika tidak ada Shiki si Petualang Terkuat, kami pasti bisa membunuh Alicia Romanova! Namun pria itu diluar dugaan kami muncul bersama Putri Reina!"
"(Begitu rupanya, 'Shiki'... Aku tahu nama itu. Anak muda yang baik dan berpotensi. Namun wanita itu sudah mendapatkannya.)"
Master mengenal Shiki, dan dia adalah seorang pria tua dengan rambut putih terang panjang. Memakai jubah dan pakaian rapih seorang bangsawan.
Tentu saja dia mengenal Shiki, karena identitas asli Master adalah...
"Putriku juga melihatnya, jadi karena itu dia mengajak Shiki, tidak...pertemuan mereka memang sudah takdir yang ditulis sejak awal. Sangat bagus..."
Duke Robert Stardust senyum.
"Aku akan membiarkan kalian membunuh Shiki, namun persiapan kalian harus matang."
Kira dan Mira menerima perintah berikutnya dari Master itu. "(Temui Dr. Goblin di lab no 22, dan dia akan menjelaskan apa misi kalian berikutnya.)"
""Dimengerti, MASTER!""
...
Duke Robert Stardust mengakhiri pembicaraan, dan wajah penuh senyuman mendengar berita barusan. Shiki bersama dengan anak perempuannya, Reina dan melakukan perjalanan untuk mencarinya yang hilang sejak 6 bulan lalu.
"Takdir adalah suatu hal yang tidak bisa diganggu gugat. Pada akhirnya kau dipilih oleh wanita itu dan mendapatkan mata itu. Menjijikan memang, namun itulah takdir."
"Aku tidak sabar untuk berkonfrontasi dengan kalian berdua. Aku berharap good ending nantinya, namun untuk mendapatkan itu, kalian berdua harus membunuhku..."
💠💠ðŸ’
Pagi hari di Star Island, setelah insiden pengkhianatan sebelumnya, Shiki memutuskan beristirahat sampai besok di pulau ini sampai Alicia sembuh. Mereka tidak menyelidiki soal Kuil Bintang Agung, dan beristirahat saja.
Shiki mengumpulkan bahan makanan untuk mereka bertiga makan, berhasil mendapatkan beberapa buah-buahan.
Akan tetapi pepohonan dan tanah yang hancur itu tumbuh lagi dengan cepat. Keanehan itu bukan yang pertama Shiki sadari, karena sebelum mereka tiba di pulau sakral, lautan menjadi tenang dan angin menghembuskan perahu layar mereka ke pulau.
"Pulau ini memang aneh, tidak heran disebut sebagai pulau sakral. Apa fungsi pulau ini sebenarnya?" Shiki bertanya-tanya, jawaban yang tidak mungkin dia dapatkan sekarang.
...
Di tempat Alicia, dengan kotak p3k yang Shiki bawa di perahu layar, Reina memasangkan perban pada badan Alicia yang ditusuk telak oleh Kira dari belakang.
Perban putih itu mengitari bagian bawah dada gadis rambut jingga dan Reina sudah menutup bekas luka permanen itu.
"Sudah selesai, aku rasa dengan istirahat cukup, kamu akan kembali sehat, Alicia-san. Mungkin akan lebih cepat jika minum Elixir, namun Shiki-san cuma membawa satu!" Reina terkekeh. "Itu adalah ramuan ajaib yang mahal, bukan?"
"Hmph, aku hanya bisa berterimakasih atas apa yang kalian lakukan." Alicia berkata.
Jika tidak ada mereka, dia pasti akan mati. Bahkan tanpa Shiki, jika hanya ada Reina, dia juga pasti akan mati.
"Bagus sekali, meski kau tsundere dan arogan, kau masih punya rasa terimakasih." komentar Shiki bersamaan dia kembali ke kemah mereka.
"Tentu saja! Jangan meremehkan aku terus!" Alicia kesal, dia berdiri dan memarahi Shiki.
"Tunggu, Alicia-san! Tubuhmu belum memakai apapun!"
Alicia memerah wajahnya dan menutup bagian depan dadanya sambil berteriak "kyaaah!" dan Shiki memberikan jempolnya dengan dibalas Alicia dengan timpukan batu cukup besar yang jika tidak dihindari, kepala Shiki pasti sudah bocor.
...
Setelah momen komikal itu, mereka menikmati siang hari di pulau sakral.
"Setelah ini kita akan berangkat, kau sudah baikan, kan?"
"Ya." Alicia jawab pertanyaan Shiki. "Tidak ada masalah bagiku melakukan pelayaran."
"Bagus." Shiki mengerti.
Setelah itu jadi agak canggung, Reina penasaran apa karena momen tadi saat Shiki melihat payudara indah Alicia itu? Reina berniat memecah kecanggungan, namun Shiki duluan yang melakukannya.
__ADS_1
"Oi, kau mau membantu Reina sebelumnya, bukan? Apa itu berarti kau punya cara untuk menemukan ayahnya?"
Alicia jengkel dipanggil "oi" saja, tapi tidak ada waktu marah ke Shiki. Alicia jawab pertanyaan Shiki langsung; "Ya, aku punya cara. Aku pikir Nona Stardust akan kepikiran soal rencana ini."
"Ini adalah kesimpulan yang aku buat dari laporan yang aku dengar soal hilangnya Duke Robert Stardust." Alicia memberitahu mereka; "...mencari sebuah benda kuno yang disebut GATE."
"AH! Kenapa aku tidak kepikiran!" Reina sadar itu cara terbaik menemukan ayahnya; "GATE... Ayah memang pergi mencari GATE sebelum dia menghilang 6 bulan lalu!"
"Kau bodoh apa bagaimana?! Lalu kenapa kau malah ke Star Island?!" Alicia tidak percaya Reina tidak kepikiran.
"Itu karena Petualang Guild mengantar Duke Robert Stardust kemari, jadi itulah alasan kenapa kami disini." Shiki beritahu. "...ditambah, bagaimana bisa kau kepikiran kalau Reina kemari?"
"Karena Duke Robert Stardust menghilang disini, kan?"
Shiki heran. "Kau benar."
Shiki mengerti sekarang, berarti tujuan dia dan Reina setelah kembali ke pulau utama sudah jelas, yaitu mencari GATE. Dengan mencari benda kuno itu, mereka mungkin akan berhasil menemukan jejak Duke Robert Stardust.
Setelah itu, mereka meninggalkan Star Island dan berangkat kembali ke pulau utama.
***
Mereka tiba di pulau utama Kerajaan Asteria, di dekat dermaga cukup besar dimana Shiki dan Reina juga menuju Star Island.
"Mengesankan, kau bisa berlayar dan pandai navigasi laut. Kau punya teknik bertahan hidup. Kau kuat, tampan dan cerdas..." Alicia memuji Shiki cukup banyak; "...kenapa kau malah menjadi Petualang?"
"Jika kau berada di militer, kau bisa mendapatkan jabatan tinggi dan menjadi pengawal utama keluarga Romanova."
"Diam! Aku punya alasan sendiri, ditambah aku tidak mau bekerja dengan cewek merepotkan sepertimu."
"Siapa yang kau bilang merepotkan?!"
"Sudah, Shiki-san, Alicia-san.." Reina berusaha melerai mereka yang tidak pernah berhenti mau berkelahi seperti kucing dan anjing.
Reina bertanya sesuatu ke Alicia. "Sesudah ini, kemana kamu akan pergi, Alicia-san?"
"Aku akan kembali ke kota Romanova. Yah, meski jaraknya jauh dari sini... Aku perlu informasi soal Kira dan Mira, lalu menebak apa pergerakan mereka berikutnya." Alicia beritahu mereka berdua; "Aku tidak akan memaafkan mereka, dan aku akan merebut Apollon dari mereka!"
"Bagus, tapi jangan gegabah." Shiki beritahu, dan "hmph" adalah balasan Alicia.
"Aku akan pergi sekarang, ada sebuah pangkalan militer kerajaan di dekat sini, aku akan kesana sebelum memutuskan tujuan berikutnya." Alicia bilang itu; "...kalian akan kembali ke kota para Petualang, bukan? Kapan kalian mencari GATE?"
"Secepatnya, ini adalah quest terakhirku. Aku takkan terburu-buru."
"Quest terakhir, huh. Kau pensiun setelah ini? Kau ini memang sudah kaya atau bagaimana?"
"Diam! Kau terlalu sering sinis padaku!"
Reina terkekeh, dia tidak melerai ini karena lama kelamaan lucu juga mendengar mereka saling membentak komikal.
Alicia pergi duluan. "Aku pergi. Jangan jadi beban untuknya, Nona Stardust."
Shiki berkedip, Alicia memanggil Reina "Nona Stardust" memang mengejutkan dan itu bukti kalau hubungan mereka memang tidak bagus. Namun Shiki akan membahas itu dengan Reina nanti, karena ada hal yang perlu dia bicarakan juga pada wanita rambut hitam ini.
"Reina, soal imbalan quest ini..." Shiki nanya soal itu. "Apa kau serius mau menikah denganku sebagai imbalannya?"
Reina tersipu, dia merencanakan itu sebagai antisipasi Shiki menolak ajakannya, tapi Shiki nampaknya masih menganggap serius imbalan itu.
"Ah itu, waktu itu aku pikir Shiki-san takkan menolak karena akan mudah menjebakmu. Tapi..." Reina diam dan tersipu; "...keluarga Stardust bukan keluarga bangsawan yang kaya, jadi aku tidak bisa memberikan uang banyak sebagai reward nya."
"Hah, begitu." Shiki sudah menduga jawaban Reina akan ragu begitu.
"Yah, mari kita pikirkan soal reward nya nanti, ayahmu mungkin akan memikirkan reward yang lebih baik nanti. Ditambah, tidak mungkin kau menikahi pria yang tidak kau cintai." Shiki senyum. Reina tersipu dan setuju "kau benar"
"Bahkan jika reward nya masih abu-abu, aku akan tetap profesional. Aku adalah 'Petualang-mu' soalnya."
"YA!" Reina mengangguk mendengar ucapan meyakinkan Shiki.
Shiki mengajak Reina kembali ke Guildtown dan memulai persiapan untuk mencari GATE.
***
Bersamaan, di Guildtown.
Seorang gadis berambut coklat tiba di depan pintu masuk kota. Memakai kimono pendek merah sampai lututnya, dan membawa sebuah katana di pinggang.
"Ini adalah kota para Petualang, bukan? Aku tidak sabar untuk bertemu lagi dengan abangku!"
__ADS_1
...Bab 1.4 "Cahaya Ilahi" - selesai...