
Alicia menunggu di kamarnya, dia menyesal meninggalkan Yui dan Shiki berdua di ruangan tamu itu. Alicia mendengar apa yang Shiki minta pada Yui setelah mereka "berdebat" dan konklusi dari itu semua adalah Shiki mengajak Yui untuk berhubungan intim.
Mendengar itu, Alicia mau menangis dan pergi dari sana. Alicia yakin Yui akan menerimanya, dia mencintai Shiki dan cintanya besar karena mereka sudah lama bersama.
Dibanding dengan Alicia yang baru bertemu selama beberapa hari, bahkan tidak sampai sebulan. Cinta Yui dibanding cintanya pada Shiki tentu saja kalah karena itu adalah cinta yang bertahun-tahun sejak kecil.
"Alicia, kau disitu rupanya." ucap Yui muncul.
"Yui..." Alicia bangun dari duduk di atas kasur, melihat Yui dengan kesal dan bilang; "...kau sudah melakukannya. Kau menang, kau mendapatkan Shiki."
"Aku menyesal bilang itu padanya, namun penyesalan selalu datang belakangan!" Alicia kesal, mengepalkan tangannya bilang itu pada Yui. "Aku akan menjauh dari Shiki, dan selamat karena kau-"
"HAH?" Yui memperlihatkan wajah yang kaget pada Alicia. "Kau ini mabuk apa gimana? Apa kau berhalusinasi? Kau bicara ngaco seperti itu."
"Apa?! Kau malah pura-pura bodoh?!" Alicia jengkel balik dengan Yui. "Kau telah berhubungan **** dengan Shiki, tadi, kan? Itu berarti sudah ada cinta diantara kalian!"
"Kalian akan menikah setelah semua berakhir, hidup bahagia sampai tua, dan...kenapa kau malah mau tertawa begitu?! Jangan mengejekku...!" Alicia kesal, gadis rambut coklat ini menahan tawanya dengan menutup mulutnya.
"Ah, begitu. Jadi kau mendengar apa yang Aniki minta padaku." Yui bicara dengan tertawa kecil. "Itu memang sangat mengejutkan, aku bahkan sempat salah tingkah mendengar itu... Tapi..."
...
Yui mengingat apa jawaban dia saat Shiki memintanya berhubungan ****.
"A-a-a-apa kau serius meminta itu...padaku, aniki?!!" Yui tidak mempercayai itu.
"Benar, maksudku... Itu..." Shiki tersipu dan kelihatan bingung juga. "Aku pikir itu bisa membuatku terasa lebih tenang setelah hatiku hancur."
"Aku ingin melakukannya denganmu, aniki. Akan tetapi, kau mungkin belum dengar ini..." Yui bilang dengan senyum. "Kita tidak bisa melakukan **** sebelum kita menikah, itu adalah tradisi klan Haruna yang harus dilestarikan."
"...bahkan jika ayah dengar, dia akan marah dengan kita, haha..."
"Huh...??" Shiki baru tahu itu.
"Jadi kalau mau bercinta denganku sampai lumpuh, mari kita menikah dulu!" Yui tertawa bicara diakhiri itu. "Tapi...itu bukan waktu yang tepat karena masih ada banyak masalah serius yang perlu kita hadapi, benar?"
Shiki cuma senyum mendengar itu dan mengangguk setuju dengan Yui. "Kau benar."
...
"Huh?" Alicia tidak percaya mendengarnya. Klan Haruna memiliki kebijakan untuk tidak bercinta sebelum menikah. Sebuah kebijakan atau mungkin sebuah tradisi yang cukup unik untuk klan Haruna yang terkenal sebagai klan petarung yang kuat.
"Aku tidak percaya ada tradisi seperti itu di klan Haruna..." Alicia menggeleng tidak mengerti. "Tidak, aku rasa aku mengerti. Berhubungan intim setelah menikah berarti membuktikan bahwa cinta mereka murni."
"Lagipula pernikahan adalah upacara yang sakral, dan klan Haruna memperhatikan itu dengan baik, benar?" Alicia menyimpulkan dengan rasa kagumnya pada klan Haruna soal cinta dan pernikahan.
Yui tahu Alicia kagum dengan klannya, mengangguk soal itu. "Yup, kau benar!"
"Setelah menikah, baru deh, punya anak 10 pun tidak masalah asalkan kau bisa merawatnya!"
Alicia heran dan jengkel mendengar itu. "Mustahil kau bisa merawat anak sebanyak itu, bahkan bagi seorang aristokrat sekalipun!"
"Lalu...? Apa itu berarti Shiki akan menikahimu? Jika begitu, maka itu adalah kekalahanku." tanya Alicia, dia sudah siap dengan kekalahannya melawan Yui.
Namun Yui menggeleng. "Tidak, aniki tidak bilang dia akan menikahiku, berarti persaingan kita tetap jalan, Alicia." balas Yui menyilangkan kedua tangannya. "Aku yang menolak Aniki meski aku mencintainya, aku bilang padanya untuk memikirkan soal cinta di akhir nanti."
Alicia cukup terkejut, Yui nampak "adil" dalam persaingan mereka. Yui tidak memaksa Shiki menikahinya, meski di awal seperti itu, namun persaingannya dengan Alicia nampaknya merubah sedikit dirinya soal tujuan dia membawa Shiki kembali ke kampung halamannya.
"Kau..." Alicia memeluk Yui senang. "...kau akan menjadi adik ipar yang baik untukku, Yui-chan~!"
"Diam! Aku takkan menjadi adik iparmu, bodoh!" Yui jengkel komikal, kemudian mereka terlihat semakin akrab.
"Lalu...kemana Shiki sekarang?" tanya Alicia penasaran, Yui sudah menyingkirkan pelukannya tadi.
"Aniki bilang dia mau menemui ketua Silva dan meminta maaf padanya." Yui beritahu. "Aku rasa kita menunggu disini saja, nanti dia akan kemari kok." Alicia mengangguk setuju dengan itu "kau benar"
__ADS_1
***
Shiki datang ke ruangan Leonard dimana ketua Silva berada. Pria berusia 45 tahun itu sedang berdiskusi dengan sang kursi pertama Ksatria Bintang, mereka berdua cukup mengenal tentunya.
Saat Shiki tiba, Leonard bersama istrinya, Hibari, dan Silva senyum melihat Shiki tiba.
"Sudah aku duga kau kemari, Shiki." Leonard menyambutnya. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku rasa aku sudah baikan," jawab Shiki, dia melihat pada Silva dan membungkuk padanya. "Sorry, ketua Silva... Aku terlihat menyedihkan sebelumnya."
"Aku kekanak-kanakan. Aku bodoh. Aku benar-benar payah soal cinta." Shiki meminta maaf, dan itu cukup mengejutkan Silva.
Pria rambut hitam itu balas. "Bodoh. Untuk apa kau minta maaf? Kau masih 20 tahun, mentalmu soal ini memang masih hijau. Aku memaklumi itu dan kau masih punya jalan panjang untuk menjadi pria dewasa sesungguhnya."
Shiki mengangguk mengerti. Leonard berkedip, dia merasa Silva adalah figur ayah yang baik untuk Shiki. Leonard sendiri tahu Shiki dirawat oleh kepala klan Haruna, itulah kenapa dia sangat kuat. Di Guild Petualang, Shiki menemukan hal-hal yang bisa membuatnya berkembang baik sebagai manusia.
Leonard senyum, dia semakin mengerti karakter Shiki dan semakin mempermudah dia untuk mengalahkannya.
"Hehehe!" Leonard bersemangat.
"Kenapa kau malah tiba-tiba nyengir begitu...?" Hibari melihatnya heran.
"Bagaimana keadaanmu juga, Leonard? Dengan duduk di kursi roda begitu...aku rasa kau tidak bisa turun ke pertempuran untuk sementara waktu." tanya Shiki pada sang rival.
"Ya, setidaknya dalam tiga bulan." jawab pria rambut merah. "Namun aku mempercayai semua Ksatria Bintang yang tersisa, jadi aku tidak takut jika situasi buruk terjadi nanti."
"Benar...aku disini membahas itu dengan Sir Leonard," Silva bilang pada Shiki. "Kami membahas potensi bekerjasama untuk melawan NARAKU di kemudian hari."
Shiki berkedip dengar itu. "Itu terdengar bagus."
"Tentu, kita tidak tahu kapan NARAKU akan datang lagi. Bekerjasama antar sesama fraksi akan sangat menguntungkan. Setelah apa yang terjadi pada Guildtown dan insiden Berserk Knight sebelumnya, kita sadar bahwa NARAKU mustahil dikalahkan dengan kekuatan sendiri-sendiri." Leonard bilang itu dan Shiki duduk di dekat Silva.
"Aku ingin mengajak Sanctum, akan tetapi..." Leonard agak ragu, Sanctum itu tertutup dan mereka tidak tahu apa tujuan organisasi keagamaan itu.
"Aku berencana untuk ke Sanctum setelah ini dan bertemu dengan Reina." ucap Shiki. "Menara Valhalla... Reina kembali kesana, dan mungkin hal baik akan terjadi nanti."
"Setelah kekalahan Kira dan Mira, NARAKU tinggal memiliki 5 Jendral saja. Nama-nama mereka sudah diketahui kecuali satu orang. Ditambah, Raja para Imp itu, Baros adalah namanya... Dia bicara soal "Dark Lord Balor"..." Silva berkata, dan wajahnya terlihat khawatir.
"Nama dari Penguasa Jurang, Raja Iblis, dia adalah penguasa Monster Abyss! Jika makhluk mahakuasa sepertinya adalah musuh kita, maka pertempuran melawan NARAKU ini bisa saja sampai menghancurkan dunia manusia!"
Shiki dan Leonard diam dengar itu. Lawan mereka, musuh utama mereka bukanlah manusia, namun salah satu dari dua "makhluk mahakuasa" dalam legenda Eden dan Abyss.
Dark Lord Balor sang Penguasa Jurang dan Great Mother Vivian sang Penguasa Firdaus. Dikatakan mereka berdua hidup bagai dua sisi koin yang berlawanan. Baik dan jahat. Yin dan Yang. Perseteruan mereka berdua selama ini, selama waktu yang tidak bisa dihitung manusia membuat mereka menciptakan dunia manusia.
Dunia manusia menjadi "tembok" untuk menghentikan perseteruan tanpa akhir mereka. Namun jika Dark Lord Balor bergerak, maka dunia manusia akan menjadi korban dalam perseteruan dua makhluk mahakuasa ini.
"Sialan, memikirkan hal seperti ini membuatku merinding." ucap Leonard menggaruk kepalanya. "Apa yang perlu kita lakukan berikutnya akan menentukan nasib dunia ini."
"Andai Parlemen itu mau menerima Putri Alicia sebagai "raja sementara", kita bisa memutuskan semuanya dengan cepat." Hibari sama khawatirnya dengan Leonard.
Silva setuju dengan keduanya. "Kalian benar, masih ada jalan yang panjang untuk menyelamatkan dunia kita. Kita harus melakukannya satu persatu, setahap demi tahap."
"Ya." Leonard setuju. "Mari kita lakukan itu."
...
Shiki dan Silva keluar dari ruangan. Silva bicara. "Aku akan kembali ke Guildtown malam ini."
"Huh? Bukankah terlalu cepat...ah, benar, di saat seperti ini, kau perlu menjadi pemimpin agar Guild Petualang bisa kembali." Shiki mengerti. "Kau adalah ketua yang luar biasa, ketua... Aku rasa cuma itu keahlianmu."
"Bocah sialan." Silva jengkel.
Shiki membahas sesuatu dengan Silva. "Apa suami dan anaknya Anna sudah diberitahu soal ini?"
"Sudah, Vira yang mengurus itu. Mereka mungkin akan datang hari ini atau besok. Meski dalam suasana duka, aku ingin bertanya banyak hal pada mereka soal Anna." jawab Silva.
__ADS_1
Shiki diam, "Anna adalah seorang Peri" sangat mengejutkannya. Kedua mata sihir Shiki disebut dengan "mata peri" dan itulah yang memberinya kekuatan besar untuk bertarung.
Dua tahun yang lalu, Anna datang ke Guild dan mendaftar sebagai resepsionis. Akrab dengan Shiki, yang akhirnya jatuh cinta dengannya dan mereka berdua memiliki hubungan dekat, namun tidak berani menyelam lebih dalam.
Shiki penasaran apa semuanya terkoneksi? Kedua mata peri Shiki ada setidaknya sejak 10 tahun lalu, dan Anna seorang peri. Apa mungkin Anna yang memberikan mata peri ini pada Shiki?
Sejujurnya, Shiki tidak pernah bertemu Anna. Namun perasaan nostalgia, nyaman dan senang selalu datang bersamanya saat dia berduaan dengan Anna.
Shiki tahu Anna sudah tiada, namun dia masih ingin lebih tahu tentangnya. Kematian Anna adalah pukulan besar dan Shiki semakin mengerti semuanya.
"Ketua, soal Anna... Aku akan membalas kematiannya."
Silva diam, tidak terkejut. "Aku ingin bilang "balas dendam adalah hal bodoh", tapi pada akhirnya kau akan tetap bertarung melawan NARAKU." jawab Silva.
"Selama kau memiliki alasan, aku tidak masalah. Kau keras kepala seperti ibumu, bakatmu bertarung berasal darinya." Silva menepuk pundak Shiki yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Kau adalah "Petualang Terkuat" dan kau bisa mengalahkan siapapun, nak."
"Thanks, ketua." ucapan Silva melegakan hatinya. Shiki yakin petualangannya akan mencapai babak baru setelah ini dan akhir yang besar nantinya, Shiki sudah siap untuk bertarung demi akhir yang bahagia.
***
Shiki makan malam bersama Yui dan Alicia. Setelah ketua pergi tadi sore, Shiki berdiskusi dengan mereka dan selesai makan malam. Kemudian Duma datang memberitahu sesuatu pada Alicia.
"Count Erick memberikan lampu hijau, Putri Alicia! Dia akan membantu sekuat tenaga untuk membuat anda menjadi Raja sementara negeri ini!"
"Heh!" Alicia senang mendengar itu. "Aku penasaran apa yang Count Erick akan lakukan soal ini...?"
"Aku masih akan tetap di ibukota, Shiki." Alicia beritahu Shiki, dia tidak ikut ke Valhalla. "Sekarang alasanku jelas, aku akan berjuang demi menjadi Raja meski cuma sementara."
"Huh, itu berarti aku akan berdua saja dengan aniki? Itu bagus~" Yui memegang tangan kiri Shiki. Alicia menaikkan kedua pundaknya. "Aku tidak masalah. Lagipula kau takkan mendapat jawaban dari Shiki sampai kita mengalahkan NARAKU nanti."
"Jangan merusak momen, dong!" Yui jengkel komikal.
"Kalian sangat akrab, bukan? Aku lega jadinya." ucap Shiki tersenyum.
Yui dan Alicia berteman baik. Namun Shiki tahu kalau keduanya tidak seperti itu pada Reina. Alicia sudah jelas, dan Yui punya alasan untuk tidak berteman dengan Reina karena cemburu padanya yang dekat dengan Shiki.
Shiki ingin mereka bertiga akrab setelah ini. Namun itu akan menjadi pekerjaan sulit dan butuh kerjasama Reina juga agar bisa memperkuat hubungan ketiga heroine-nya ini.
"Btw, Shiki." Duma bicara. "Ini adalah informasi yang bisa aku berikan padamu soal Sanctum dan Menara Valhalla."
Pria rambut merah muda itu memberikan laporan dari Leonard.
"Aku tahu kau datang dengan baik-baik ke Valhalla, namun jangan remehkan mereka. Sanctum mungkin beda dari Guild dan Militer, namun ada hal yang membuat mereka tidak bisa diremehkan."
"Hal apa yang kau maksud?" tanya Shiki penasaran.
"Aku tidak tahu," jawab Duma. "Namun tetap jangan remehkan mereka."
Shiki jengkel dengar itu, namun Duma benar, organisasi misterius yang punya tujuan tidak bisa dimengerti, Sanctum tidak bisa diremehkan dan Shiki harus waspada sebisa dia.
💠💠ðŸ’
Di Menara Valhalla, "Aula Dewa-dewi"
"Lapor, Mama." Seorang wanita berambut biru dengan pakaian Sanctum serba putih itu melapor pada seorang wanita yang memakai pakaian yang sama.
"Persiapan sudah baik. Kini tinggal menunggu sang Dewi untuk melakukannya."
"Ya, sang Dewi juga sudah siap." balas seseorang yang disebut "Mama", seorang wanita paruh baya yang memakai kerudung putih satu set pakaian Sanctum itu.
"Kita akan memulainya besok. Goddess Freyja akan membawa keselamatan untuk umat manusia dari kehancuran yang sudah di depan mata."
Bersamaan "Mama" bicara itu, seorang wanita cantik berambut hitam panjang terurai duduk di sebuah singgasana. Mata lembut wanita itu terlihat, wajah familiar yang Shiki akan datangi agar dia mengetahui semua tentang wanita ini.
__ADS_1
...Bab 4.15 "Aku rasa aku sudah baikan" - selesai...
...Arc 04: "Ibukota" - selesai...