
"Apa katamu?! Penjaga di lonceng kota tewas?!" Silva kaget mendengar laporan dari para Petualang.
Setelah lonceng kota berdentang 16 kali, para Petualang langsung ke lonceng, namun penjaga lonceng yang juga seorang petualang telah tewas mengenaskan.
Bukanlah penjaga ini yang membunyikan lonceng, namun ada orang lain yang melakukannya.
Silva, dengan wajah serius nan kesal itu akhirnya sadar, dugaan terbesar siapa yang melakukan ini langsung mengarah padanya, sang pengkhianat Guild.
(Jadi sudah bergerak... pengkhianat di Guild ini...!) pikir Silva kesal.
"Apa yang harus dilakukan, ketua?! Apa bahaya yang bakal datang ke Guild? Sejauh ini tidak ada apapun..."
"Ya, kau benar." Silva setuju dengan dugaan petualang itu. "Kemungkinan lonceng yang dibunyikan cuma ingin menimbulkan kepanikan saja..."
"KETUA! KETUA!" Warren muncul dan teriak penuh kepanikan.
"Kenapa lagi?! Dan kau yang berteriak sekencang itu, Warren!" Silva jengkel.
Warren menghampiri Silva di depan mejanya. Wajahnya panik dan bilang. "Di arah jam 3 dari kota, para Monster muncul dan menyerang kota kita...!"
Silva dan para petualang kaget mendengar informasi yang Warren berikan. "Para...monster katamu?!"
💠💠ðŸ’
Lonceng kota berbunyi sebanyak 16 kali. Awalnya mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tahu jika dibunyikan sebanyak itu, maka kota berada dalam bahaya. Bahaya yang dimaksud skalanya dapat menghancurkan kota, seperti kebakaran besar.
Sudah lama juga sejak lonceng itu dibunyikan sebanyak itu, bahkan tidak ada yang ingat kapan terakhir 16 kali lonceng itu berdentang.
Tetapi sekarang lonceng itu berdentang. Ancaman mendekat ke kota, dari dua orang mencurigakan yang bergerak ke kota para Petualang.
"Kita mulai serangan ini, Mira. Lakukan yang terbaik." Kira beritahu wanita berambut biru gelap itu.
Tanpa jawaban, Mira memejamkan matanya. Apollon, tongkat sihir matahari, dengan warna keemasan itu sudah di tangan. Di ujungnya ada sebuah bola energi magis padat yang saat digunakan, bola energi magis itu berputar-putar.
"Cermin yang dikutuk oleh penguasa jurang, membawa keputusasaan dan kehancuran. Ini adalah sihir cermin-ku..."
Tiga buah cermin besar dibentuk di sekitar Mira, cermin memancarkan energi magis keunguan, dilepaskan dengan ledakan besar energi magis kutukan dari ketiga cermin itu.
"Cermin Dunia Bawah: Ankoku."
Para Monster keluar dari tiga cermin yang Mira panggil "Ankoku". Para Monster aneh dengan beragam macam bentuk, setiap dari cermin Ankoku akan keluar puluhan Monster memberikan.
Diantara mereka ada beberapa Golem, ada belasan Warg juga. Kemudian monster berwujud manusia buruk rupa dengan kulit mereka yang berwarna hijau, jumlah monster bentuk manusia ini yang paling banyak diciptakan oleh Mira.
"Ah." Mira langsung jatuh saat itu juga, tubuhnya memang kuat untuk melepaskan sihir skala besar ini, namun ada sebuah efek yang membuat tubuhnya penuh rasa sakit sekarang.
"Mira!" Kira memanggilnya khawatir, dia menghampirinya.
"Kehkehkeh, kerja bagus Mira!" Dr. Goblin muncul di dekat mereka.
"Dr. Goblin!" Kira memanggilnya.
"Ada banyak Goblin, lalu Ogre juga, para Golem, Warg dan Wyvern. Mereka memang Monster dari strata tertinggi, namun "memanggil" mereka dalam skala seperti ini sudah sangat mengesankan!" Dr. Goblin sungguh bersemangat.
"Itulah yang diharapkan dari seorang Valkyrie yang memiliki senjata mulia! Master akan lebih mencintaimu, Mira!"
Kira terlihat kesal dengar itu dan nanya ke Goblin. "Kenapa pula kau disini sekarang? Serahkan penghancuran kota para Petualang itu padaku dan Mira!"
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir, Kira. Tugasku dan kau berbeda...! Aku dipercaya Master untuk membunuh seseorang, ini akan sangat mudah, namun Master menyuruhku berhati-hati." Dr. Goblin turun di dekat mereka.
"Namun aku akan sedikit membantu, aku punya sesuatu yang perlu aku coba soalnya!"
Mereka bertiga adalah dalang dalam serangan para Monster ke Guildtown. Kira dan Mira, salah satu dari "Jendral Jahat" dari NARAKU, begitu juga dengan Dr. Goblin yang merupakan salah satu dari Jendral Jahat.
***
Monster adalah makhluk penghuni Abyss. Ada ratusan jenis dari mereka yang hidup di Abyss, dan setiap dari mereka adalah ancaman umat manusia.
Dikatakan oleh legenda, para Monster merupakan pasukan milik penguasa Jurang "Demon King" dan mereka ada demi membuat teror pada umat manusia.
Di Abyss, setiap Monster menurut kekuatan mereka hidup di strata yang berbeda. Semakin bawah strata mereka, maka para Monster semakin kuat dan mengancam.
Golem yang muncul di Star Island adalah Monster dari strata ketiga dan Warg yang muncul di Gunung Romus adalah Monster strata kedua.
Beberapa Monster yang Mira munculkan, Goblin adalah Monster strata satu. Ogre adalah Monster strata kedua bersama Warg. Sementara Wyvern adalah Monster strata keempat.
Meski mereka berasal dari strata atas, jumlah mereka saja adalah ancaman besar. Mira memanggil sekitar 300 Monster dalam sekali panggil, dan jumlah itu akan dapat menghancurkan kota para Petualang serta membunuh semua orang disana dalam sekejap.
...
"Hei...ini gila, bukan? Kira tidak mungkin bisa bertahan dengan serangan makhluk dalam jumlah sebanyak itu...!"
"Apa yang bisa kira lakukan sekarang?! Kita harus pergi dari kota ini secepatnya!"
Para Petualang panik, informasi langsung menyebar soal serangan besar-besaran dari para Monster. Makhluk yang harusnya cuma dalam mitos saja, makhluk yang harusnya ada di dunia berbeda dibanding mereka.
Tidak pernah mereka mengantisipasi serangan para Monster, bahkan dalam mimpi terliar mereka sekalipun.
"Heh..."
Pemuda berambut kuning itu adalah Dion, salah satu dari 4 Petualang Terkuat di Guild. Wajah semangatnya tergambar jelas, dia bersemangat melawan para Monster!
"Dion!"
"Jangan hentikan dia." Vira datang dari belakang. "Ketika dia bersemangat begitu, tidak ada yang bisa menghentikannya."
"Nona Vira!"
"Ada dua Petualang Terkuat di garis depan! Dimana Shiki dan Warren?!"
"Warren membantu evakuasi warga bersama Theo dan para resepsionis. Kalau Shiki..." Vira penasaran juga dimana Shiki, dia belum melihatnya sejak tadi pagi dimana festival dimulai.
Shiki ada di menara lonceng bersama Reina. "Apa kau gugup? Kau kurang percaya diri?"
Shiki bertanya pada wanita rambut hitam pendek itu. Namun Reina menggeleng, dan jawab. "Aku percaya diri, aku bisa melepaskan serangan besar tergantung seberapa lama mengambil ancang-ancang."
"Jarak para Monster itu masih lima menit, aku rasa kau bisa melepaskan cahaya ilahi kurang dari waktu segitu." Shiki melihat menggunakan teropong.
"Ini adalah rencanamu, jadi aku meyakini bahwa kau sudah siap." Shiki senyum. "Aku serahkan semuanya padamu."
Shiki melompat turun langsung dari menara lonceng. "Eh!" Reina kaget, dia melihat ke bawah dan Shiki terjun dari sana
"Shiki-san!! Jika efeknya terlalu besar, kau harus tanggung jawab, ok!!!"
Shiki menggunakan pelontar angin di kakinya untuk melangkah di udara dan mendengar teriakan Reina. Dia tidak begitu mengerti apa yang Reina maksud, namun dia memberi jempolnya pada wanita rambut hitam itu yang menandakan bahwa dia "ok" dan akan bertanggung jawab.
__ADS_1
Reina senyum, dia lega dan kemudian kalung kristalnya bercahaya terang.
"Cahaya Ilahi, dilepaskan."
Di bawah menuju garis depan, Alicia berlari bersama Yui dan menyadari cahaya terang dari arah menara lonceng.
"Cahaya apa itu?!" tanya Yui baru pertama kali melihatnya.
"Itu Cahaya Ilahi." Alicia jawab tanpa menoleh kesana. "Jadi cewek itu akan melakukannya dengan serangan skala besar."
"Huh? Maksudmu Reina?" tanya Yui kaget juga.
"Kau lihat saja sendiri." ucap Alicia. "Jika dia berhasil, kota ini akan menang mudah, dan jika gagal, kota ini akan tamat."
Yui diam dengar itu, dan dia mengerti kalau ini akan menjadi "serangan penghabisan" yang mempertaruhkan kota ini dari serangan para Monster.
...
Shiki tiba di garis depan dan para Petualang bersorak untuknya. Vira dan Dion sudah ada disana, dan mereka nanya apa cahaya terang dari menara lonceng.
Shiki menyuruh mereka "menantikannya" karena ini akan dengan mudah membalikkan keadaan menjadi kemenangan kita.
Reina membentuk sebuah busur keemasan yang besar. Anak panah dibentuk dari tali busur yang wanita itu tarik, dan energi magis dilepaskan pada anak panah itu.
"Panah Bintang, terbuka...!"
Reina dengan kekuatan penuh menembak anak panah dari menara lonceng. Satu anak panah ditembak, kemudian satu anak panah berubah menjadi ratusan anak panah saat di langit ke arah para Monster itu.
Kira dan Mira menganga menyaksikan itu. Dr. Goblin yang bergerak ke kota juga tidak menyangkanya.
"Apa semua anak panah di langit itu...?!!!!" Teriak Dr. Goblin tidak percaya.
Ratusan anak panah itu melesat ke arah para Monster bersamaan Reina teriak nama serangan dari cahaya ilahinya itu;
"Panah Orion!!!!"
Para Monster dihujani oleh semua anak panah itu. Mereka hancur lebur menjadi abu bahkan sebelum ratusan anak panah itu menyentuh mereka.
Hanya dengan satu serangan besar ini, tidak ada Monster yang bertahan. Ratusan anak panah pamungkas yang saat di langit berkelap-kelip seperti bintang.
Panah Bintang, Panah Orion, berhasil meluluhlantakkan para Monster sampai tidak bersisa.
...
"Hah...hah...hah..." Reina langsung ambruk di menara lonceng.
Dia tersenyum lega saat rencananya berhasil. Pencapaian tingginya sejak lama, dan berhasil melindungi banyak orang membuat dia bahagia. Namun yang membuatnya puas adalah karena dia telah memenuhi ekspektasi dari Shiki yang mempercayainya.
"Terima kasih karena telah mempercayaiku, Shiki-san." ucap Reina, dia sekarang duduk. "Jantungku berdebar kencang... Shiki-san..."
"Selama Shiki-san mau tanggung jawab, aku..." Reina tersipu dan dia benar-benar ambruk tidak sadarkan diri setelah itu.
...
Shiki turun di depan gerbang kota sebelah timur. Para Monster sudah tidak bersisa, dan itu berarti tinggal "dalangnya" saja.
"Sudah aku duga dalangnya adalah mereka." Shiki melihat menggunakan teropong.
__ADS_1
Dia melempar teropong itu ke belakang. "Saatnya dimulai kalau begitu! Pertarungan melawan "orang kuat" yang sudah lama aku nantikan!" Shiki nyengir penuh semangat dan segera menyerang Kira dan Mira.
...Bab 3.3 "Penyerbuan Guildtown" - selesai....