
Shiki dan Reina naik kuda gerobak dari dermaga sebelumnya saat siang menjelang sore. Perjalanan satu jam, mereka tiba di kota para Petualang yang ramai karena ini sudah sore.
Agar tidak mencolok, Shiki meminta Reina memakai jubah kupluk. Tentu jika ketahuan Shiki mengambil quest dengan salah satu putri bangsawan kerajaan, maka berita besar akan langsung terdengar di seluruh kota.
Shiki berencana untuk memberitahu beberapa orang soal quest terakhirnya. Dia juga yakin beritanya mau pensiun takkan terdengar dengan cepat karena Anna sendiri bukan tipe wanita yang mudah membocorkan informasi.
Soal itu, para Petualang yang dekat dengan Shiki akan mengetahuinya dan estimasinya adalah seminggu dari sekarang berita tentang pensiunnya akan tersebar.
Rencana Shiki adalah pensiun dan kembali ke kampung halamannya, namun karena quest terakhir ini, dia tentu berpikir ulang dan tidak yakin kalau quest ini akan berakhir dalam seminggu atau dua minggu.
"Shiki-san, hei, Shiki-san."
"Ada apa?"
"Lihat kerumunan disana, apa ada festival di kota ini?" Reina menunjuk ke depan mereka, di jalan utama kota, puluhan warga berkumpul.
Jika bicara festival, memang dalam waktu dekat akan diadakan, namun bukan hari ini. Shiki bilang itu ke Reina, bersamaan dia berjalan ke kerumunan yang ditunjuk wanita itu.
Saat sampai disana, Shiki senyum. Warga bersorak untuk beberapa orang yang Shiki kenal, mereka adalah petualang, namun bukan petualang biasa.
Nama mereka disorak meriah oleh warga "Dion! Vira! Warren!" Itulah ketiga nama yang digaungkan oleh mereka.
Dion, seorang pemuda berambut kuning acak-acakan. Wajah yang pemberani dari kedua mata kuning keputihan itu terlihat jelas. Pakaian petualang dia pakai, dan membawa sebuah tombak dengan gagang besi di punggungnya.
"Ya! Sebutlah namaku, semuanya! Aku adalah Petualang Terkuat (kedua) di Guild! Wahahaha!"
Di belakangnya, wanita cantik dewasa berambut ungu lurus panjang. Berpakaian mage dengan topi dan gaun ungu sesuai warna rambutnya. Kecantikan dan kedewasaannya tiada banding di Guild.
Vira adalah nama wanita ini, Petualang Terkuat ketiga di Guild menurut orang-orang.
"Sorakanku! Ayo lebih meriah! Teriaklah, para penggemarku!"
Seorang pria paruh baya berambut coklat. Dia juga memiliki kulit coklat berbadan berotot kuat. Memakai baju kulit tanpa lengan warna abu-abu dan celana panjang merah dan sepatu boot.
Warren adalah nama pria paruh baya ini, Petualang Terkuat keempat di Guild.
Mereka disambut meriah oleh warga kota karena suatu alasan. Sudah dua pekan mereka tidak ada di Guild dan baru saja kembali dari ibukota.
"Padahal mereka baru saja tiba, namun disambut bak selebriti. Mereka cuma Petualang, tahu." Shiki senyum melewati kerumunan orang itu.
Mereka sadar Shiki tiba-tiba menyerobot masuk. "Eh, itu kan! Aku memang dengar dia tidak ikut, tapi..."
"Jika dia disini juga, maka berarti sudah lengkap!"
"4 Pilar Petualang!"
Shiki senyum, disambut dengan semangat juga oleh tiga sobatnya itu. Para warga bersorak senang juga, dihadapan mereka 4 Pilar Petualang yang terkuat di Guild berkumpul.
"Jadi mereka bertiga adalah rekan-rekannya Shiki-san!" Reina mengerti, pantas saja sangat meriah karena mereka disambut layaknya pahlawan di kota para Petualang ini.
***
Setelah sorakan dan sambutan meriah, 4 Petualang itu langsung kembali ke kantor Guild dan mengadakan pesta kecil-kecilan dengan minuman serta makanan yang disediakan para resepsionis.
"Satu...dua...tiga... BERSULANG!"
Tentu saja dengan kembalinya mereka berempat, kantor Guild Petualang yang letaknya di tengah kota itu menjadi sangat meriah.
Shiki juga ikut minum dengan segelas besar bir, bersama Warren. Dion juga berdansa dan dia yang paling mencolok. Vira cuma bisa senyum melihat itu dan duduk di dekat meja resepsionis, dan di dekatnya ada resepsionis bernama Gina.
"Uwah, ramai sekali disini, dan Shiki-san sibuk dengan teman-temannya sampai mengabaikan aku."
Reina sekarang bingung harus ngapain ketika Shiki sedang sibuk. Dia tidak berani menganggu atau mungkin lebih tepatnya tidak berani karena takut itu akan merusak kesepakatan quest mereka.
"Hei, kau mengenal abangku?"
"Uh? Iya...?" Reina bingung, nampaknya gadis di sebelahnya ini bertanya soal Shiki.
"Ikut aku sebentar!"
"Eh! Tunggu...uwah! Shiki-san!"
Reina ditarik pergi keluar dari kantor Guild, teriakannya tidak terdengar oleh Shiki yang masih bersenang-senang, tapi kemudian;
"Benar juga, Shiki...! Kau tadi muncul dari arah gerbang kota, kan? Kau habis darimana?" Warren nanya itu sebelum dia mengunyah dagingnya.
"Aku baru saja... Sial!" Shiki ingat dia meninggalkan Reina di kota sendiri.
Tentu dia langsung bergegas, bilang pada Warren dan beberapa petualang tadi jika ada barang yang tertinggal di gerbang kota.
(Uh! Aku rasa dia bisa menjaga diri seperti anak baik, harusnya!) Pikir Shiki, dia ceroboh meninggalkan Reina sendirian.
...
Saat sampai dekat gerbang kota, Shiki tidak melihat dimana Reina berada. Shiki jadi panik tentunya, dan tidak tahu harus mencari kemana. Reina cuma sekali datang ke apartemennya, Shiki ragu kalau dia bisa ingat jalan kesana.
"Ah, sedang apa kau disitu, senpai?" Seorang petualang muncul nanya pada Shiki.
Seorang pemuda berkacamata dengan rambut hitam. "Wajahmu panik, apa kau kehilangan sesuatu disitu? Apa kedua pisaumu hilang...ah, itu ada kok."
__ADS_1
"Theo!" Shiki kenal nama pemuda itu, dia bernama Theo.
Shiki ingat kalau ada seseorang yang mengantar Reina ke apartemennya kemarin, dan Shiki menduga bahwa itu Theo. Asumsinya Shiki yakin Theo tahu wajah Reina sebagai Putri Stardust.
"Theo! Apa kau ingat dengan wanita yang kau antar ke apartemenku kemarin? Apa kau melihatnya?"
"Oh! Putri Reina Stardust, benar? Aku kaget dia bersama... Ah, ini masalah gawat! Jika dia hilang, satu negeri akan memburumu, senpai!" Theo berkata itu, menakuti Shiki
Kemudian dia memberitahu kemana Reina. "Aku sempat melihatnya sih, dia tidak kembali ke apartemenmu. Namun dibawa ke ruko kosong di dekat kantor Guild."
"Apa?!!" Shiki panik lagi dan kabur langsung kesana. Theo ingin memberitahu lebih detail lagi, tapi Shiki sudah jauh berlari dengan panik
...
Shiki ke ruko kosong yang Theo maksud, dia merasakan ada dua orang di ruko ini. Kemampuan ini adalah merasakan keberadaan seseorang dengan energi magis. Kemampuan yang sudah Shiki gunakan sebelum dia bergabung dengan Guild. Sensitivitas Shiki kepada energi magis juga sangat kuat.
Di saat yang sama, gadis rambut coklat itu juga merasakan Shiki datang.
"Dia datang..." Gadis itu memakai topeng rubah yang biasanya ada di festival.
Sementara Reina diikat di sebuah tiang besi dengan mulut di sumpal oleh kain dan tangan juga diikat oleh kain.
Kemudian... "REINA!" Shiki teriak begitu dia muncul.
Shiki melihat Reina, reflek mau ke tempatnya, namun sebuah serangan datang dari atas, yang langsung ditahan Shiki dengan kedua pisau hitamnya.
Serangan memakai sebuah katana, pedang tajam dari timur jauh. Shiki sangat kenal dengan seluk beluk pedang itu, namun tidak ada waktu mempertanyakannya karena lawannya kuat dan membuat dia bersemangat.
"Heh!"
Shiki melepas bentrokan mereka, gadis dengan topeng rubah itu menyerang lagi dengan cepat. Bentrokan beberapa kali terjadi dan Shiki mampu menangkis setiap serangan gadis ini dengan mata sihirnya.
Mata sihir ini selain bisa melihat semua peluang menyerang, bisa juga melihat semua peluang bertahan. Shiki sudah dengan baik mampu menggunakan mata sihirnya ini.
Julukan dia selain "terkuat di Guild" juga dia disebut "yang tidak terkalahkan dalam pertarungan jarak dekat"
Dan Shiki menunjukkan itu dengan mementalkan ayuna katana lawannya. Setelah itu, gadis itu mundur dan mengambil sebuah ancang-ancang.
Ancang-ancang dengan kedua tangannya memegang gagang katana dan mengarahkan itu ke depan.
(Dia mau menggunakan jurusnya... Tapi tunggu...) Shiki tahu ada yang aneh dari ancang-ancang berpedang gadis ini.
"Ini adalah puncak dari kemampuan berpedangku!"
Gadis itu melesat dan Shiki terlihat sangat kaget saat mendengar suara gadis ini.
"Tanpa cahaya, tusukan tiga dorongan!"
Gadis itu langsung di depan Shiki, dan dengan melihat semua arah serangannya, Shiki mempersiapkan kedua pisau hitamnya.
Namun tusukan pedang gadis itu terlalu cepat dan bersamaan, meski Shiki menangkis satu dan dua tusukan, namun tusukan ketiga yang cepat mengenai telapak tangan kanannya.
Shiki juga langsung mementalkan katana gadis itu, sebuah katana dengan bilah kemerahan yang cukup panjang.
"Datang dan berniat membunuhku. Apa kau begitu kesal denganku...? Yui."
Shiki tentu langsung kenal dengan gadis yang menyerangnya tadi. Dengan suaranya, Shiki langsung sadar kalau dia adalah adik perempuannya.
Yui membuka topeng rubahnya dan menjulurkan lidahnya sebal. "Benar! Itu semua karena ulahmu sendiri, aniki!"
***
Ini adalah cerita dari 10 tahun yang lalu.
Ketika seorang pria datang padaku dengan wajah yang sedih dan sangat terkejut. Pria itu memelukku dan bilang; "Aku senang kau baik-baik saja! Aku senang kau selamat!"
Aku tidak tahu siapa dia, namun yang pasti, pelukan pria itu sangat tulus. Pria berbadan besar dan kuat itu memelukku seakan-akan aku adalah putranya yang telah lama hilang.
Di sebelahnya ada seorang gadis kecil malu-malu saat melihatku. Gadis kecil rambut pink itu membuang wajahnya saat aku menatapnya serius.
Pria itu adalah ayah kandungnya, mengenalkan gadis kecil itu padaku.
"Dia Yui Haruna, mulai hari ini dia adalah adik perempuanmu dan kau akan aku rawat dengan baik, Shiki."
Begitulah yang dia bilang, dia ingin merawatku sebagai anak angkatnya. Aku tidak tahu apa tujuannya saat itu, namun yang pasti...
Yang pasti... berbeda dari "si brengsek itu", pria ini akan menjadi ayah yang hebat untukku.
***
"Aniki!!!" Yui langsung melompat memeluk Shiki senang, Abang yang sudah lama dia tidak temui, sudah tiga tahun lamanya sejak Shiki pergi dari kampung halamannya untuk menjadi seorang petualang.
"Yui...!" Wajah Shiki juga sangat senang, adik perempuannya ini adalah keluarganya yang sangat berarti.
"Aku senang kau baik-baik saja. Nampaknya kau tidak banyak berubah..." ucap Shiki dengan mereka masih dalam pelukan; "...kecuali rambutmu, aku terkejut sekarang warnanya coklat."
"Benar, warna rambutku berubah. Ini bukan sekedar gaya-gayaan atau apapun." Yui bilang itu, kedua tangannya melingkari pinggang Shiki; "...warna rambut berubah menjadi coklat tanda aku sudah siap punya anak, aniki~"
Shiki kaget, sedikit tersipu dan balas "aku baru tahu"
__ADS_1
"EMMMM!"
"AH! Celaka! Reina!" Shiki melepas pelukannya dan membuka ikatan kain yang mengikat tangan dan mulut wanita rambut hitam itu.
Reina menggembungkan pipinya sebal melihat Shiki, yang heran melihat itu dan mengerti Reina kesal dengannya.
"Huh, jadi kau benar-benar kenal dengan cewek itu, aniki. Siapa dia? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa cewek ini dekat denganmu? Apa dia pacarmu atau bagaimana sampai kau perhatian segitunya?"
Shiki heran mendengar pertanyaan posesif Yui. Dan Shiki bertanya balik tentunya soal penculikan Reina.
"Dan kau yang menculik Reina kemari? Apa kau melakukan ini karena kau cemburu?"
"Tentu saja!" jawab Yui jelas.
Shiki menghela nafas panjang, dan Reina berkedip, dia mengerti apa hubungan Shiki dan Yui. Bukan sepasang kekasih, namun kakak-beradik
"Oh, jadi dia adik perempuanmu, Shiki-san."
"Benar." Shiki mengangguk.
Yui langsung memeluk erat tangan kiri Shiki. "Aku Yui Haruna! Aku adalah adik perempuan Shiki si Petualang Terkuat dan calon istrinya!"
"Oh begitu!" Reina senyum senang, dan dia kaget banget dengar kalimat terakhir; "Calon istri... Adik perempuan..."
"...INCEST!!!" Reina teriak kaget komikal dengan hubungan tidak beradab ini.
Namun Shiki menjelaskan dengan baik apa hubungannya dengan Yui sebenarnya. Mereka bukan saudara kandung, namun adik-kakak dan Shiki adalah anak angkat dari ayah kandung Yui. Mereka berdua sudah bersama selama tujuh tahun sampai Shiki meninggalkan "Paradise" 3 tahun lalu untuk menjadi seorang Petualang.
"Begitu ya, kamu harusnya bilang itu dari awal, Shiki-san." Reina tersipu kecil.
"Siapa dia ini memangnya?" tanya Yui masih memegangi tangan Shiki.
"Dia klienku." Shiki beritahu Yui; "...Reina Stardust adalah namanya."
Yui terlihat terkejut, dan Shiki baru sadar kalau dia bicara yang salah.
"Eh- AH!"
Shiki langsung melompat menolong Reina dari Yui yang mau langsung memenggalnya. Shiki ada di atas Reina dan teriak protes pada Yui; "Apa yang kau lakukan, Yui?! Kau mau membunuh klienku?!"
"Diam, aniki! Dia adalah bangsawan kerajaan! Dia harus mati!" Teriak Yui kesal.
Reina terlihat terkejut dengar itu.
"Aku tahu kau membenci bangsawan kerajaan, namun bukan berarti kau bisa membunuh orang yang tak ada kaitannya dengan kematian ibumu ataupun dengan hancurnya Paradise 13 tahun lalu!" Shiki teriak kesal pada adik perempuannya. Reina diam dengar itu, kemarahan Yui cukup dia wajarkan.
"Aku tahu... Tapi ugh...!" Yui jadi bimbang, dan dia dimarahi Shiki tadi.
Yui tahu apa yang dia lakukan kekanakan-kanakan, namun ini semua salah Shiki karena dia tidak pernah kembali ke Paradise selama tiga tahun.
"...ini semua salahmu, aniki! Kau tidak pernah kembali ke Paradise selama tiga tahun ini! Tidak pernah kirim surat juga!" Gadis rambut coklat itu teriak jengkel; "Memang jarak Paradise kemari jauh, tapi setidaknya kembali setahun sekali!"
"Hah?" Shiki kaget dan Yui membalas dia dengan kesalahannya.
"Ayah kesal padamu, semua orang di desa juga kecewa! Aku kemari untuk menyeretmu pulang, kemudian kita menikah dan punya banyak anak!" Yui teriak lagi. Reina tersipu kecil dengar itu, dia tidak berani komentar dan cuma diam saja.
"Cepat pergi dari wanita itu dan kembali ke Paradise!"
Shiki merasa bingung sekarang, Yui menyalahkannya dan memang dia yang salah karena tidak pernah kembali karena rasa malasnya.
Yui datang jauh-jauh kemari juga cuma untuk menyeretnya pulang dan mereka menikah, kemudian Shiki menjadi kepala klan Haruna.
"Yui, tenang... Maafkan aku, ok? Aku tidak kembali ke Paradise karena...malas."
Yui dan Reina kaget dengar itu. "Kau terburuk!"
"Tapi jujur saja, aku berencana pulang setelah ini karena aku sudah memutuskan pensiun. Quest Reina untuk mencari ayahnya yang hilang itu adalah quest terakhirku sebagai petualang." Shiki menjelaskan itu pada adik perempuannya.
"Jika kau mau membantu quest ini, aku akan kembali ke Paradise." Shiki bilang itu; "Bagaimana...?"
"Tapi kau cuma kembali ke Paradise? Tidak berniat menikahiku?" Yui bertanya, mengerutkan dahinya kesal.
Shiki tahu menikahi Yui adalah salah satu opsi terjelas dalam hidupnya. Yui adalah seorang wanita sekarang, namun sensasinya bagi Shiki bukanlah sebagai wanita yang bisa menjadi istri Shiki.
Yui adalah...dan akan selalu... "Aku selalu menganggapmu sebagai adik perempuanku." Shiki bicara jujur soal perasaannya ada Yui; "...kau dan ayah adalah keluargaku yang berharga."
Reina menyimak saja, penolakan Shiki pasti sakit untuk Yui. Meski begitu reaksi Yui masihlah diam, sampai beberapa detik kemudian jawaban Yui atas penolakan itu cukup mengejutkan Shiki dan Reina.
"Ah, sudah aku duga kau akan bilang begitu!" Yui nyengir dan terkekeh; "...aku sudah tahu kau menganggapku sebagai adik perempuan saja, tidak pernah lebih."
"Itu memang dirimu, aniki. Aku lega bagian dari dirimu itu tidak berubah."
Shiki bereaksi kaget dan menyebut nama adik perempuannya. "Yui..."
"Hmph! Aku akan ikut jika begitu! Tidak ada pilihan lain...jika aku berpetualang bersamamu, aku yakin aku bisa mempesonamu dan membuatmu jatuh cinta padaku sebagai wanita... Aniki!" Yui bilang pada abangnya sambil menunjuknya.
Wajah bersemangat itu menandakan bahwa Yui percaya diri bakal membuat Shiki jatuh cinta padanya.
...Bab 2.1 "Kembali ke Guildtown" - selesai...
__ADS_1