ADVENTURER OF EDEN

ADVENTURER OF EDEN
3.5 "Vs. Para Monster"


__ADS_3

Pertarungan Shiki, Dion dan Yui melawan tiga Monster kuat yang dipanggil Mira dimulai.


Di tempat Dion, dia menyerang Thunder Warg. Monster serigala yang diselimuti petir pada seluruh tubuhnya. Serangan Dion adalah petir dan tentu tidak mempan pada serigala, Thunder Warg menerkam Dion dan berhasil mengelak.


"Heh!" Dion tetap nyengir meski musuhnya mustahil baginya.


...


Shiki melawan Lava Golem; Shiki berkonsentrasi penuh pada penajaman tertinggi. Penajaman adalah sihir yang unik, karena kebanyakan yang menggunakannya adalah para petarung yang bukanlah seorang mage.


Energi magis tidak diolah menjadi sebuah sihir, namun tetaplah menjadi energi magis yang memberikan Penajaman atau Pertahanan pada senjata yang digunakan. Ini adalah teknik yang rumit karena butuh konsentrasi penuh dan juga keinginan bertarung yang kuat.


Itulah kenapa klan Haruna, yang dikenal sebagai klan petarung yang barbar, mampu menggunakan Penajaman atau Pertahanan sebagai kekuatan bertarung mereka.


Teknik ini juga menjadi kekuatan untuk Shiki dan selalu optimis mampu mengalahkan siapapun. Sekarang, Shiki menebas Lava Golem dengan Penajaman Tertinggi, namun badannya cuma tergores besar pada bagian perutnya dan Lava yang menetes membuat bagian yang terpotong kembali normal.


"Apa?! Dia beregenerasi!" Shiki kaget makhluk itu malah beregenerasi. Dan Lava Golem tetap berjalan melaju tanpa melawan Shiki.


(Monster ini...) Shiki berpikir kalau Lava Golem sudah diset untuk berjalan terus ke arah Guildtown.


Ditambah dengan dia beregenerasi, dan kerasnya tubuhnya, walau tidak lebih keras dari Golem biasa yang dia lawan di Star Island, Lava Golem lebih merepotkan.


(Nampaknya begitu, semua jenis Golem memang harus dihancurkan dengan satu serangan besar...!) pikir Shiki serius.


"Dan sialnya aku tidak punya serangan seperti itu sekarang...huh?"


"GUH!" Suara Yui terlempar terdengar dan Shiki melihat itu, dimana adik perempuannya terlempar karena serangan monster yang dia lawan, yaitu Minotaurus.


"Yui!" Teriak Shiki khawatir. 


(Dan Monster banteng itu yang paling kuat diantara ketiganya!) pikir Shiki, yakin soal itu.


Shiki melihat Alicia berlari dari arah kota, dan dia mengangguk ke Alicia yang menyadari itu. Alicia mengerti apa maksud Shiki begitu dia melihat Yui terlempar dan berusaha bangun.


"...'aku serahkan Monster ini padamu, adik perempuanku yang kuat itu berada dalam bahaya.'...begitu yang kau katakan secara tidak langsung." Gadis rambut pirang itu menghela nafas, dan mengangguk mengerti.


...


Shiki menyerang Minotaurus dan ditahan dengan kapaknya, dia tahu jika meladeni bentrokan seperti ini, dia akan kalah kuat. Shiki mundur langsung ke tempat Yui, dan adik perempuannya yang berambut coklat itu memanggil dengan senang; "Aniki!"


"Ayo kita bertarung bersama, Monster itu jauh lebih kuat dari perkiraan, bukan?" tanya Shiki membangunkan adik perempuannya


"Benar." Yui bangun, dia terus memegang tangan Shiki. "Ini akan menjadi pertarungan pertama kita sebagai (calon) pasangan suami-isteri!" Shiki heran mendengar itu.


***


Alicia turun, dia mau mengalahkan Monster yang diminta Shiki (dari jauh) untuk dia kalahkan. Situasi pertempuran yang masih jauh dari kata menang, dengan mengalahkan Kira dan Mira, maka kemenangan akan diraih oleh Guild Petualang.


"Dia monster yang sama seperti di Star Island; Golem... Namun nampaknya jauh berbeda karena elemennya adalah api atau lava, dia pasti Lava Golem." ucap Alicia melihat Lava Golem terus berjalan ke depan.


Dengan tongkat sihirnya, Alicia bersiap, Lava Golem adalah lawannya. Alicia memejamkan matanya penuh konsentrasi, energi magis dengan kualitas tinggi menyertainya sekarang;


"Ini adalah sihir pamungkas yang aku pelajari selama 6 tahun." Alicia membentuk lima buah bola elemen dari masing-masing elemen yang dia bisa gunakan.


"Api, Air, Tanah, Angin dan Petir..." Semua bola lima elemen itu berputar dari tongkat sihirnya, dan Lava Golem semakin mendekat.


Alicia perlu mengambil persiapan lama agar sihir pamungkasnya ini memberikan damage yang siginifikan. Jika miss, maka sihir ini akan menghancurkan tongkat sihirnya.


...


Bersamaan, Shiki dan Yui siap melawan Minotaurus lagi. Dari apa yang dia lihat, Minotaurus ini memiliki ketebalan kulit yang besar dan membuatnya sulit dilukai dengan senjata tajam.


"Kulit tebal, dan musuh dengan kekuatan seperti itu lebih merepotkan daripada musuh yang memiliki kulit keras." ucap Shiki.

__ADS_1


"Setuju banget, aniki. Namun aku sudah tahu dimana kita bisa menebasnya." balas Yui, dan dia memberitahu titik lemah dari Minotaurus; "yaitu di lehernya. Jika kita menebasnya disana, kita bisa mengalahkannya."


"Leher... Huh. Mari kita lakukan; gunakan Penajaman Tertinggi." Shiki beritahu dan kedua pisau hitamnya itu ditajamkan dengan energi magis sekarang.


Yui juga melakukannya. "Penajaman Tertinggi!"


"3$...3!..." Minotaurus itu bicara dan membuat kedua kakak-beradik itu kaget; "Huh?!"


Minotaurus itu berlari ke arah mereka, Shiki dan Yui langsung waspada. Shiki menggunakan kedua mata sihirnya, ada banyak serangan Shiki yang mengenai dan ditangkis, dan yang paling pasti adalah kemungkinan Shiki mengelak serangan Minotaurus dari bawah kakinya.


"Semua kesempatan yang aku lihat begitu bagus, namun yang paling jelas adalah mengelak dari bawah kakinya..." Shiki beritahu Yui bahwa itu adalah ide untuk melawan Minotaurus.


"Itu agak terdengar nekat, tapi jika kau melihatnya dengan mata sihir itu, maka itu sudah pasti, kan?" Yui senyum.


Shiki mengangguk, Minotaurus semakin dekat dan Yui melompat mundur. Shiki merosot ke bawah Minotaurus dan makhluk itu tidak mengenai Shiki saat dia menghantam keras dengan kapaknya.


Shiki melompat, Yui mendekat. Katana dan kedua pisau hitam mengincar leher Minotaurus. Namun Monster banteng dengan kapak itu memutar kapaknya, dan kedua kakak-beradik itu berakselerasi di udara dan kemudian...


"Kena!" Shiki dan Yui memberikan serangan bersamaan di leher Minotaurus yang memenggal kepalanya sampai copot.


"Menang!" Yui senang, dan Minotaurus perlahan menjadi abu, namun ekspresi Shiki masih ragu akan kemenangan mereka.


(Energi magisnya belum hilang...) pikir Shiki.


Beberapa detik kemudian, Minotaurus kembali menjadi makhluk yang sama padahal tadi dia dikalahkan oleh Shiki dan Yui.


Shiki dan Yui kaget. (Dia tidak jadi mati!)


Kemudian Minotaurus menjadi merah matanya, dia semakin lebih buas dilihat dari ekspresi yang marah dan melihat Shiki dan Yui yang telah membunuhnya sekali.


"WOH!!!!!" Minotaurus berteriak.


"Kehkehkeh! seperti yang diharapkan dari salah satu Monster paling tangguh di Abyss!" Dr. Goblin selamat, dia melihat pertarungan Shiki dan Yui melawan Minotaurus;


"Kau akan terus bertarung selama memiliki energi magis dan keinginan untuk bertarung! Itu memberikanmu kekuatan meski kau sudah terluka parah!"


"Namun Guts dari Minotaurus adalah sihir terkutuk. Dia sudah mati sekali, namun langsung kembali dan menjadi lebih kuat. Sihir seperti ini ada di beberapa Monster kuat dari Abyss selain Minotaurus." Dr. Goblin menjelaskan dengan percaya diri.


"Aku penasaran apa yang akan kau lakukan berikutnya, Shiki! Aku yakin kau sama keras kepalanya dengan ayahmu, kehkehkeh!" Goblin tertawa dan dia mengenal siapa ayah kandung Shiki.


Dr. Goblin lalu dihubungi seseorang melalui Call Chip. "(Salam, Dr. Goblin. Kau masih ada di Guildtown sekarang?)"


"Apa maumu sialan?" tanya Dr. Goblin kesal.


"Jangan kasar begitu padaku, Goblin. Aku disini cuma mau menyampaikan pesan dari Master.)" jawab seorang pria berambut panjang di suatu tempat;


"(Aku ada di lab no 13 sekarang, aku ingin mendengar rencanamu yang pernah kau bilang itu.'... itulah pesan Master padamu.)" Pria itu beritahu Dr. Goblin.


"Hmph, baiklah! Bagaimana dengan perempuan bernama Anna itu? Aku berencana membawanya ke hadapan Master."


"(Serahkan saja kepada "orang itu", lagipula Guild Petualang adalah "daerahnya" dan dia mengenal wanita bernama Anna itu dengan baik.)"


"Hmph, aku rasa kau benar. Aku akan kembali kalau begitu." Dr. Goblin mengakhiri komunikasinya, kemudian melihat ke arah Kira dan Mira di garis depan;


"Aku akan menjemput kalian nanti, Kira.. Mira... Mau kalian hidup atau mati! Kehkehkeh!" Dr. Goblin tertawa bilang itu sebelum dia pergi dari sana.


***


Dion vs Raiun Warg; Serigala Thunder Warg itu menembak petir pada Dion dari mulutnya, dan dibalas dengan petir dari tombaknya.


"Cih!" Dion kesal, dan Thunder Warg menembaki petir lagi dari tubuh yang membuat Dion harus mengelak dengan lincah untuk menghindar.


"Petir kita seimbang, aku tetap optimis!" Dion semangat, dia kemudian teringat kilas balik dengan Vira dua tahun lalu.

__ADS_1


...


Vira menengoknya di ruang perawatan. Dion terluka cukup parah dan dikalahkan oleh seseorang. "Shiki memenangkan semifinal dan akan menghadapi orang yang mengalahkanmu sebelumnya, "Ksatria Bintang" Leonard di final."


"Bilang pada Shiki untuk balaskan dendamku." ucap Dion nyengir.


"Hmm, hmm, kau tidak mati, jadi aku tidak yakin Shiki mau melakukannya." Vira terkekeh beritahu itu.


"Hei, Vira... sebenarnya apa perbedaanku dengan Shiki?" tanya Dion penasaran. "Shiki suka bertarung, aku juga suka bertarung. Namun aku merasa Shiki lebih kuat dariku, bahkan dia sampai ke final sekarang...!"


Vira nampak terkejut mendengar itu. "Ini pertama kali aku mendengarmu serius iri dengan seseorang. Aku rasa ini perasaan yang kau pendam."


"Perbedaan, huh..." Vira memejamkan matanya; "Aku merasa kalian lebih memiliki banyak persamaan daripada perbedaan."


"Tapi kalau perbedaan soal bertarung, sebagai seorang mage, aku bisa melihatnya. Shiki punya mata yang spesial, dan tubuhnya terbiasa dengan kekuatan matanya, hingga dia mampu menyinkronkan dengan baik, lalu menjadi petarung yang tidak terkalahkan dalam jarak dekat."


"Persamaannya, kau dan Shiki memiliki kemampuan bertarung yang setara, menurutku. Namun Shiki lebih jago dalam bertahan, sementara kau sangat ceroboh."


Vira menjelaskan semua itu pada Dion, pemuda berambut kuning itu mengerti; "begitu ya perbedaan kami."


"Yup." Vira mengangguk. "Namun terserahmu mau ahli dalam bertahan juga, meski sebagai mage, aku tahu petir tidak memiliki sihir untuk bertahan."


"Aku tahu, hehe." Dion tahu. "Bertahan memang tidak cocok untukku, bukan? Jadi aku akan tetap bertarung dengan cara yang sama!"


"Itu bagus." Vira mengerti. "Namun jangan terlalu ceroboh jika kau tidak mau mati."


"Jangan khawatir, aku belum mau mati selama aku tidak bosan denganmu, Vira...!" Vira terkekeh dengar itu.


***


Sekarang, Dion vs Monster Raiun Warg.


"Aku minta maaf padamu jika hari ini aku akan sangat ceroboh." ucap Dion dengan Thunder Warg menembak petir berkali kali lagi.


Dion kena beberapa kali meski dia mengelak dan masih kuat. Dion bersemangat dan bilang; "Namun jangan khawatir, aku tidak berniat mati disini!"


Dion yang tersambar petir kembali lagi, dia berdiri dengan penuh semangat. Dion dengan tombaknya yang biasa itu bersiap, dia memiliki rencana sendiri untuk mengalahkan Thunder Warg. Meski itu sangat ceroboh, dia tidak berniat mati.


"Mari kita mulai!" Dion berlari ke arah Thunder Warg yang langsung menerkamnya dari depan.


Dengan kecepatan, Dion mengelak ke samping dan serigala petir itu menembaki Dion dengan petir yang menyambar kesana kemari dulu sebelum akhirnya ke arahnya.


Dion menerobos semua petir itu dengan badan manusia. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia biasa, namun Dion bukan kategori itu; dengan tubuhnya yang sudah terbiasa dengan petir selama bertahun-tahun, dia terus menerobos petir itu meski semua tubuhnya terluka.


Thunder Warg menerkam Dion, dan pemuda berambut kuning itu melompat dalam beberapa detik, lalu berada di atas punggung sebelum berpijak pada badan berbulu petir itu.


"KENA!" Dion menusuk punggung berbulu petir dari serigala itu, mengeluarkan darah dan Thunder Warg melepaskan semua petirnya pada Dion yang ada di atasnya.


"GAAAKH! Sakit, sialan...!" kutuk Dion kesakitan karena petir, namun dia tidak berniat mati disini!


"Namun...!" Dion menusuk Thunder Warg semakin kuat. "Tubuhku dikutuk! Petir adalah makananku! Dan itu membuatku semakin kuat!"


"Thunder Spear!!!" Petir menusuk Warg itu dengan lebih kuat lagi, seluruh petir yang Warg miliki diambil oleh Dion untuk menciptakan petir yang menusuk dan sangat kuat.


Thunder Warg langsung tertusuk petir kuat itu sampai tembus dalam beberapa detik. Kemudian kalah dan menghilang menjadi butiran energi magis yang terhembus angin.


Vira melihat petir dari arah kota luar, dia mau menghampiri Ketua Silva, namun senyum melihat petir dan merasakan energi magis petir dari partnernya itu.


"Bagus, Dion." Vira memujinya, dia tahu seperti apa tubuh aneh Dion.


Itulah alasan Vira mendekati Dion yang usia mereka terpaut belasan tahun; Vira (39 tahun) dan Dion (20 tahun).


(Kalau tubuhmu semakin kuat, maka kau akan semakin bermanfaat. Aku sudah tidak sabar untuk menggunakanmu sebagai balas dendam atas hancurnya Akademi Sihir...!) pikir Vira punya tujuan pribadi untuk "mendekati" Dion.

__ADS_1


...Bab 3.5 "vs. Para Monster" - selesai...


__ADS_2