ADVENTURER OF EDEN

ADVENTURER OF EDEN
4.9 "Cemburu"


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Besar, di rombongan kuda gerobak Count Erick.


"Tinggal 3 jam lagi, Count Erick. Kita akan sampai di Pelabuhan Besar." ucap Ksatria Suci kursi ketujuh, Braun.


"Aku senang Leonard serius mengantarku. Namun di satu sisi ini lebih baik karena bisa mengawasiku, benar?" Count Erick nanya. "Ada rumor yang tersebar soal diriku adalah kolaborator NARAKU."


"Itu benar, Count. Itulah kenapa Sir Leonard menerima permintaan anda dan mengirim tiga dari kami untuk mengawal anda." jawab Albert.


"Yah, itu tindakan pencegahan yang bagus. Namun pada akhirnya, aku bukanlah kolaborator NARAKU. Aku setia pada negeri dimana aku lahir dan tumbuh." ucap Erick; "...meski benar jika NARAKU mencoba mengajakku bergabung, namun aku sudah menolak mereka."


"Aku percaya masa depan Kerajaan Asteria akan lebih baik selama NARAKU tidak ikut campur dengan kita." lanjut Count Erick serius.


GroB, Benzu dan Albert mengangguk setuju.


💠💠💠


"OH! SUGOI!" Yui kagum, bukan cuma dia, Shiki, Reina dan Alicia menampakkan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka.


"Jadi ini... Air Terjun Metrania!"


Sebuah air terjun yang lebar, air turun mengalir deras. Air terjun ini ada di West Area, di "dataran tinggi Inori" yang merupakan hutan besar di Kerajaan Asteria.


"Hei, kau tidak bilang kalau tempatnya bakal sebagus ini!" Shiki protes pada Alicia.


"Aku mau surprise tentunya, namun aku juga baru pertama kali kemari." balas Alicia; "Salah satu tempat terindah di Kerajaan Asteria, inilah air terjun Metrania!"


"Dimana letak GATE nya? Apa kau bisa merasakannya, Reina?" tanya Shiki pada wanita rambut hitam itu.


Reina menunjuk ke air terjun, dan jawab. "GATE keempat ada di dalam air terjun itu, Shiki-san."


"Hmm, begitu ya." Shiki mengerti.


"Ada di dalam air terjun? Bagaimana cara kita kesana?" Yui penasaran, gadis rambut coklat itu yakin diantara Shiki atau Alicia akan memiliki ide untuk ini.


"Mengendalikan air berarti mampu menggunakan bending, dan itu adalah skill yang sulit. Aku pikir Dion dari Guild itu bisa disebut mage juga dengan bending petir." ucap Alicia, inti dari ucapannya adalah dia tidak bisa mengendalikan air karena bukan mage pengendali.


"Jika Alicia-san tidak bisa, maka yang perlu kita lakukan menghancurkan air terjun itu dengan Rhongomyniad." Reina mengajukan ide itu. Shiki heran wanita ini punya ide absurd begitu.


"Aku punya ide. Kalian bertiga ikuti intruksiku." Shiki beritahu mereka.


"Alicia, Reina, kalian diam disitu." Shiki beritahu kedua putri itu, kemudian meraih paha mereka dengan kedua lengannya dan membuat mereka duduk di atas lengannya.


"AH! Apa yang kau lakukan?!" Alicia protes sambil tersipu.


Reina terkekeh dan tersipu juga. "Shiki-san kuat!"


Yui jengkel melihat itu. "Kenapa bukan aku saja, aniki! Aku kan paling kecil disini!"


"Ya, bagaimana kalau kau digendong saja Yui? Sama seperti waktu kecil dulu." Shiki senyum pada adik perempuan angkatnya.


Yui tersipu dan bersemangat. "Aku mau!"


Setelah Yui digendong Shiki, kedua Putri itu diminta untuk berpegangan pada kedua tangan Shiki. Kemudian pemuda berambut hitam itu bersiap; "Jangan dilepas!"


Shiki berlari melompat ke air terjun, wajah histeris terlihat pada Alicia, Reina terlihat menikmati dan Yui bersemangat karena jantungnya berdegup kencang.


"Gust Jet!" Shiki menggunakan Gust Jet, sihir angin dasar "Gust", namun angin dilepaskan dari kedua kakinya lebih banyak dan membuat Shiki melontar lebih jauh ke dalam air terjun.

__ADS_1


Mereka berempat berhasil masuk ke dalam air terjun dan sebagian besar pakaian mereka basah. Alicia bangun, DUAGH! Dan memukul kepala Shiki tanpa ragu; "Jangan begitu lagi!"


"Ok, tapi jangan memukulku juga." Shiki heran.


Reina berdiri, melihat GATE keempat yang ada dihadapannya sekarang. Setelah di Gunung Yoru, Hutan Raime, Desa Cornell dan keempat, air terjun Metra.


"Itu dia, GATE keempat." Reina berjalan kesana, dan menyentuh artefak kuno bulat seperti donat yang terbuat dari batu itu.


"Uh!" Reina memancarkan cahaya kuning yang terang, membuat mereka bertiga silau dan cahaya itu sampai terlihat keluar dari air terjun, meski dalam beberapa detik, cahaya itu langsung lenyap dan Reina kembali seperti semula.


"Cahayanya jauh lebih terang dari sebelumnya." komentar Alicia.


"Apa yang terjadi, Reina? Apa kau baik-baik saja?!" tanya Shiki agak panik jadinya.


Reina senyum pada Shiki bersamaan dia sempat jatuh. Wanita rambut hitam itu memegang kepalanya, dan melihat Shiki dengan tatapan yang lemah.


"Tidak terjadi apa-apa kok, aku baik-baik saja, Shiki-san."


***


Mereka berempat keluar dengan cara yang sama, membuat Alicia kesal lagi, namun tidak ada cara paling logis yang bisa dilakukan.


Ketika melihat ke langit, cahaya matahari sudah tiada dan malam mulai datang. Keputusan yang mudah bagi mereka berempat untuk memilih bermalam di desa kecil dekat Air Terjun Metrania.


Yui dan Alicia mandi di pemandian bareng, keduanya memakai handuk saja tentunya dan Alicia yang nyebur langsung duluan ke pemandian.


"Tidak ada yang dapat mengalahkan rasa mandi air hangat setelah perjalanan jauh!" ucap Alicia merasa nyaman, dia sudah membuka handuknya.


"Hmph...lihat kulit putih mulus, rambut kuning panjang, serta kedua payudara berukuran pas dan kencang itu; kau memang diberkati, ya! Bangsawan kerajaan memang bikin kesal saja bisanya!" Yui minder, bilang itu sambil menenggelamkan dirinya di pemandian.


"Wow, gadis yang penuh percaya diri sepertimu bisa minder, Yui." Alicia tidak percaya juga.


Alicia tersipu mendengar itu, memang tubuhnya bisa dia gunakan untuk merayu Shiki. Namun dia ingin Shiki menyukainya bukan karena alasan itu.


Yui semakin sebal saat lihat reaksi Alicia. "Alicia...kau suka dengan abangku, kan?"


"Ya, aku menyukai Shiki, aku sudah menyatakan perasaanku padanya." Alicia jawab jujur dan percaya diri.


"GAKH! Bikin kesal!" Teriak Yui jengkel, dia tersipu dan bilang lagi; "Kau lebih parah dari Reina...!"


"Huh? Kau tidak perlu kesal begitu, aku juga bilang ke Shiki kalau dia tidak perlu menjawab perasaanku sekarang, dan aku ingin dia menyukaiku lebih dulu." Alicia bilang itu, senyum.


Alicia menghampiri Yui dan bilang. "Kau pun punya kesempatan juga, Yui. Apalagi kau adalah adik perempuan dan teman masa kecilnya."


"Itu memang benar..." Yui senyum, dia semakin percaya diri, dan bilang; "Tidak ada yang lebih mengenal Shiki dibanding aku! Hehe!"


"Hmph, apa kau pernah dengar mitos? Teman masa kecil selalu kalah. Jadi jangan berharap banyak, ok?" Alicia senyum bilang itu pada Yui yang kesal padanya.


"Gghhh! Itu cuma mitos!!" Teriak Yui kesal, dan Alicia tertawa senang lihat reaksi Yui tadi; "Haha!"


***


Di saat yang sama, Shiki jalan-jalan ke desa dan melihat Reina keluar dari sana. Shiki tahu Alicia dan Yui sedang mandi bareng di pemandian air panas, namun Reina tidak ikut dengan mereka.


Shiki penasaran kenapa Reina tidak ikut, dan jika dipikir lagi, gerak-gerik Reina agak berbeda setelah menyentuh GATE keempat. Dia menjadi lebih diam, lebih sayu dan lebih mudah merenung.


Sesuatu yang berbeda dari Reina, wanita yang lembut dan mudah senyum pada orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Shiki yang berjalan-jalan di sekitar air terjun melihat Reina yang berdiri dan melihat air terjun Metrania. Tentu Shiki panik melihat wanita rambut hitam itu, dan meneriakinya.


"Jangan bunuh diri, Reina!"


"Ahahaha, jangan khawatir. Aku takkan melakukan hal percuma begitu, Shiki-san." Reina berbalik, melihat pemuda rambut hitam dengan senyum.


Shiki diam mendengar itu. Reina melihat ke langit malam, dan bicara lagi. "Shiki-san mengkhawatirkan aku, ya? Shiki-san merasa aku berubah setelah menyentuh GATE keempat?"


"Kau membaca pikiranku. Tidak, aku pikir kau menyadarinya," balas Shiki. "Apa yang terjadi sebenarnya, Reina? Apa ada sesuatu yang kau lihat saat menyentuh GATE keempat kalinya?"


"Bisa dibilang seperti itu," jawab Reina. "Ingatanku yang disegel 13 tahun lalu telah kembali."


"Huh?" Shiki kaget dengar itu, tidak disangka ternyata Reina hilang ingatan. Namun yang membuat Shiki penasaran ingatan Reina awalnya "disegel"


"Tapi aku rasa tidak semuanya, dan aku rasa aku perlu menyalakan setidaknya satu GATE lagi agar semuanya siap."


"Shiki-san, ada banyak hal yang mau aku katakan padamu," ucap Reina. "Dan pertama... Tolong jangan beritahu soal ini pada Alicia-san."


Ah, Shiki mengerti. Shiki nanya soal itu. "Dan aku mengerti, kau hilang ingatan, berarti ingatanmu bersama Alicia waktu kecil tidak ada. Itu mungkin alasan kenapa Alicia tidak berhubungan baik denganmu."


"...kau melupakan kenangan pertemanan kalian sendiri sewaktu kecil dulu, benar?"


Reina diam dengar pertanyaan jelas Shiki. Pemuda berambut hitam itu bertanya lagi. "Jika kau menjelaskan itu pada Alicia, semuanya bisa saja selesai, tapi kenapa kau tidak mau mengatakannya pada Alicia?"


"Jangan bilang kalau kau tidak mau berteman lagi dengannya?"


Reina menggeleng. "Tidak seperti itu. Bahkan jika Alicia-san tahu soal ingatanku, dia tidak akan pernah memaafkan aku." jawab Reina.


"Alicia-san adalah wanita yang seperti itu. Jika dia membenci sesuatu, atau menyukai sesuatu, perasaan dia akan sangat dalam akan hal itu."


Shiki berkedip, Reina benar. Alicia adalah orang yang mudah terbawa perasaan, itulah alasan kenapa dia tidak menyangka akan dikhianati oleh kedua ajudannya. Namun sifat seperti itu menandakan keteguhan dari hatinya sendiri.


"Aku rasa kau benar. Jika klienku meminta itu, maka aku akan menurutinya," Shiki tidak ada pilihan lain, dia rasa ini keputusan tepat.


"Makasih, Shiki-san." Reina berterimakasih soal itu.


"Kalau begitu, ayo kembali ke penginapan," Shiki mengajak Reina kembali. "Mereka berdua akan mencari kita."


"Mereka berdua, benar, mereka menyukaimu, Shiki-san. Dan aku rasa Shiki-san sudah tahu akan hal itu."


Shiki berkedip, Reina sudah menduga hal jelas itu. "Benar."


"Dan bagaimana perasaan Shiki-san padaku? Apa Shiki-san menyukaiku? Atau Shiki-san menyukai salah satu dari mereka?" tanya Reina terdengar penasaran.


"Soal itu..." Shiki mau menjawab namun dirinya ragu. Dia ingin bilang "aku belum mau menjawab perasaan salah satu dari kalian" dan pertanyaan Reina berbeda, dia bertanya apa perasaan Shiki padanya.


"Perasaanku padamu, ya." Shiki menjawab dengan jujur. "Aku tidak tahu, aku mungkin naksir padamu. Kau banyak mengingatkan aku pada Anna."


"Ditambah, soal imbalan quest kita nanti. Bukan tidak mungkin kita akan menikah setelah mengalahkan NARAKU dan menemukan ayahmu, benar?"


"Benar." Reina setuju. "Jika kita menikah, itu berarti Shiki-san harus mencintaiku...namun aku tidak mau Shiki-san mencintaiku. Aku ingin Shiki-san membenciku."


"HAH?" Shiki kaget dengar itu. "Apa maksudmu...?!"


"Shiki-san, aku ingin mengatakan ini padamu. Aku yakin karena ini, perasaanmu padaku akan menjadi benci." Reina mau mengungkap sesuatu pada Shiki.


"Aku adalah wanita berdosa, yang membunuh banyak orang di kampung halamanmu, Pulau Paradise, 13 tahun yang lalu."

__ADS_1


Shiki menganga mendengar itu, Reina yang telah menghancurkan kampung halamannya... Tidak pernah dia sangka dan duga, kalau saat masih kecil, wanita ini yang melakukannya.


__ADS_2