
Serangan besar Reina menghancurkan semua Monster tanpa sisa. Shiki senyum penuh semangat, Dion dan Vira di dekatnya terlihat sangat terkejut dan bertanya soal itu.
"Itu adalah sihir terkuat yang pernah aku lihat setelah sekian lama. Cahaya Ilahi milik keluarga Stardust, jadi itu adalah kekuatan senjata mulia terkuat." komentar Vira sambil melihat Shiki.
"Komentarmu sama denganku saat pertama kali melihat serangan itu." ucap Shiki senyum.
Shiki melihat ke arah dimana Kira dan Mira berada. Setelah semua Monster yang mereka panggil habis tanpa sisa, apa yang akan mereka lakukan?
"Aniki!" Yui datang bersama Alicia.
"Yui, Alicia." Shiki memanggil mereka.
Mereka membahas serangan Reina tadi, dan angin kemenangan langsung berbalik pada mereka sekarang. Namun mereka sadar harus bergerak cepat, sebelum Mira melakukan "pemanggilan" Monster lagi dalam skala yang sama.
Shiki pun membagi tim dengan Dion dan Yui, sementara Vira akan menjaga garis belakang dan Alicia...
"Kau tidak ikut menyerang duluan, Alicia?" tanya Shiki pada gadis rambut oranye itu.
Alicia diam, dia merasa tidak bisa menyerang duluan sekarang karena suatu alasan juga. "Aku memang mau menyelesaikan ini dengan Kira dan Mira, namun aku perlu menyiapkan mental dan strategi lebih dulu."
"Hah, alasan klise." Yui tidak percaya.
Alicia kesal dengar itu. "Kau..."
"Aku mengerti, mereka berdua awalnya sangat kau percayai, dan kau sudah menganggap mereka sebagai teman. Itu memang merusak mental dan kau perlu mempersiapkan itu kembali untuk melawan mereka." Shiki mengerti kondisi Alicia sekarang, dan itu bukanlah hal bagus jika mental Alicia belum siap.
"Benar." Alicia senyum, dia lega Shiki mengerti.
"Ayo, Dion! Yui! Kita turun duluan kalau begitu dan menyerang mereka!" Shiki melompat dari gerbang, Yui dan Dion juga melompat bersama menyusulnya.
Setelah itu, Vira dan Alicia yang berjaga di garis belakang membahas kekuatan Mira yang bisa menggunakan "sihir pemanggilan Monster"
"Sihir pemanggilan Monster, huh. Aku tidak percaya ada sihir seperti itu." ucap Vira disana.
"Kau tahu soal itu, Vira?" Alicia bertanya pada wanita rambut ungu.
"Entah, namun yang pasti kemungkinan besar si Mira ini adalah seorang Valkyrie. Salah satu ciri khas Valkyrie adalah memiliki "sihir unik, khusus dan sangat kuat"..." Vira menjelaskan pada mereka.
"Begitu." Alicia diam, dan tidak mengejutkan Mira memang seorang Valkyrie.
"Tapi sihir pemanggilan Monster seharusnya mustahil dilakukan oleh manusia, bahkan jika kau adalah seorang Valkyrie." Vira bilang itu lagi. "Tapi fakta bahwa sihir itu bisa memanggil Monster saja membuatnya menjadi lawan yang berbahaya."
"Keputusanmu tepat untuk mempersiapkan mental dan strategi untuk melawannya." ucap Vira lagi, senyum.
Alicia mengangguk, dia sekarang harus mempersiapkan diri. Alicia punya beberapa cara untuk menghentikan Vira, namun sekarang Vira sangat kuat, dan Alicia harus berpikir matang untuk menjalankan strateginya.
Suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah kota, asal dari ledakan itu ada di timur kota dan muncul 7 ekor ular raksasa yang membuat semua orang terkejut.
7 ular itu tiba-tiba muncul, Vira dan Alicia kaget. "Ular raksasa ada di kota?! Bagaimana bisa?!" Vira tidak percaya.
"Apa mereka Monster juga?!" tanya Alicia panik.
Ketua Silva juga terkejut. "Ular raksasa..."
...
Sebelumnya, beberapa saat setelah serangan Reina yang menghanguskan semua Monster tak bersisa. Dr. Goblin tidak percaya, menganga seperti orang yang sangat terkejut akan sebuah plot twist tidak terduga;
"Mu...mu...mustahil!! Tidak terduga! Benar-benar gila! Bagaimana bisa...?!!" Dr. Goblin panik bukan main melihat kekuatan tadi, dia sekarang ada di kota yang sudah sepi karena para warga sudah mengungsi keluar.
"Tidak... Tentu saja bisa! Hanya ada satu jawaban kenapa mereka bisa melenyapkan satu gerombolan Monster... Jawabannya ada pada wanita itu!" Dr. Goblin tahu siapa yang melakukannya; "Putri dari Duke Robert Stardust! Seseorang yang tidak boleh kami sentuh oleh Master!"
"Gadis Suci Keselamatan" dari Sanctum... Itu yang para Priest juluki padanya; Reina Stardust." Goblin melihat ke arah menara lonceng dengan kesal.
"Yah selama Master bilang kami tidak boleh menyentuhnya, maka akan kami lakukan. Aku penasaran apa rencana Master kepada putrinya, namun wanita itu, yang diincar oleh Master, membuatku lebih penasaran!" ucap Dr. Goblin nyengir; "Aku akan mencarinya...hmm?"
7 orang Petualang melihat Dr. Goblin. Mereka kaget melihat seorang pria berwajah buruk rupa yang pendek terbang dan bertanya; "Siapa kau?!"
"Kau bukan warga kota ini, kan?!"
"Apalagi wajahmu itu sangat aneh...!"
"Kehkehkeh!" Goblin tertawa dengar itu; "Wajah aneh ini tentu saja aku bukan manusia!"
Dr. Goblin turun ke bawah di hadapan 7 petualang itu, dan mengenalkan diri pada mereka. "Namaku Dr. Goblin! Itu bukan nama asliku dan dulunya aku adalah manusia!"
Dr. Goblin mengeluarkan tiga botol cairan warna ungu dari belakang dirinya. "Namun kalian cocok... Aku membawa beberapa ramuan eksperimen yang telah aku kembangkan selama 20 tahun ini! Aku sudah membuat sekitar seratus, namun yang sukses hanya 10 dari mereka!"
"Dan kalian bertujuh akan mencobanya sekarang! Aku penasaran berapa persentase yang membuat kalian menjadi Monster...!"
Dr. Goblin mau menjadikan 7 Petualang itu sebagai bahan percobaan. Mereka bertujuh panik tentunya, dan mau kabur memberitahu ketua Silva; "Kita harus beritahu ketua Silva!"
"Dia berbahaya! Dia pasti anggota NARAKU!"
"Silva...?" Goblin berkedip, nyengir. "Begitu, dia masih hidup ternyata!"
"Tali Darah Kutukan!" Dr. Goblin menangkap 7 Petualang itu dengan sihirnya, sebuah tali tebal energi magis berwarna kemerahan.
"Sekarang, aku akan memaksa kalian meminumnya...! Kita lihat siapa diantara kalian yang paling kuat dan menjadi Monster!" Goblin nyengir berkata itu.
__ADS_1
***
7 Ular Piton Raksasa itu muncul di kota. Alicia dan Vira tidak percaya melihat kemunculan tiba-tiba. "Mereka mengeluarkan Monster di tengah kota!!"
Silva kesal jadinya dan ini membuat semuanya menjadi semakin sulit. "Beruntung evakuasi sudah dilakukan dengan cepat.. tapi ular piton sebesar ini! Satu kota akan hancur lebur jika mereka terlalu banyak bergerak!"
"Warren! Theo! Tangani ini! Para Petualang akan membantu! Hentikan gerakan para ular itu!" Silva memerintahkan dua dari beberapa anak buah terkuatnya.
"Mustahil memang, namun jangan buat kota ini hancur!"
""Oke!"" Warren dan Theo mengerti.
...
Para Petualang mencoba menghentikan semua ular itu, namun tebalnya kulit ular adalah halangan besar. Tidak ada senjata mereka seperti pedang, kapak dan tombak yang bisa menembus tebalnya kulit ular itu.
Satu ular itu menyerang ke arah mereka, Warren, pria paruh baya itu melompat dan meninju dagu ular besar itu dengan telak; "HEAVY SMASH!"
BOGH! "Warren-san!" Semua Petualang bersorak, Warren menjatuhkan satu ular itu, namun bukan berarti dia dikalahkan.
"Mundur! Jangan gegabah menyerang! Ketebalan kulit ular besar ini lebih tebal dari tembok!" Warren beritahu mereka; "Jika mau menyerang, ambil kesempatan saat kepalanya mendekat!"
"Kami mengerti!" Para Petualang mengerti.
"Para mage, bagi menjadi tiga orang dalam satu tim! Satu tim tangani dua ular! Kalian cuma 13 orang, namun sihir kalian dibutuhkan!" Silva mengkomandoi para mage Guild; "Incar kepala mereka dan bagian bawah kepala!"
"Ok!" Para mage itu mengerti, mereka semua juga berada dalam pengawasan langsung Vira.
Mereka menembak satu ular dengan sihir elemen mereka. Ada tiga ular yang diserang langsung dengan sihir oleh tiga tim mage, dan tiga ular lainnya mulai bergerak lagi.
(Meski dengan para mage, sihir mereka tidak bisa dibandingkan dengan Vira tentunya! Butuh waktu lama!) pikir Silva panik.
Satu ular datang mengincar para mage, namun seseorang berlari dan melompat ke arah ular itu. "Penajaman Tinggi!" CRATZ! Theo memotong satu ular di kepala sampai berdarah keluar dari sana.
"Theo!" Semua orang senang.
"Heh, dia menebas dengan gaya bertarung Shiki! Kau benar-benar mengidolakannya, Theo!" Warren nyengir. Dan Theo turun di dekat Warren; "Kita bisa mengalahkan para ular ini dengan cepat, masih ada 4 lagi!"
"Tapi... Mereka malah mengeluarkan darah! Bukannya Shiki cerita kalau para Monster akan menghilang jika mereka mati?" tanya Warren kaget juga.
"Hanya ada satu jawabannya, senpai..." ucap Theo; "Mereka adalah ular asli, bukan Monster. Aku pikir sudah jelas karena bentuk mereka adalah ular piton!"
Satu ular juga bergerak lihai ke arah kantor Guild, dan Warren menyadari itu; "Sial!" Warren mengejar ular itu dan Silva menggunakan sihirnya untuk menghentikan ular besar yang datang ke arah kantor Guild.
"Creation!" Satu ular itu dihantam sesuatu sampai berhenti.
Warren melompat dan nyengir berterimakasih pada Silva. "Mantap, ketua Silva...!" Teriak Warren; "Meteorite SMASH!"
"Woh!!!" Semua Petualang bersorak, kekuatan dari 4 Pilar Petualang memang beda.
"Nampaknya Warren dan Theo sudah mengatasi 3 ular, itu berarti empat sisanya untuk kita." ucap Vira, dia dan Alicia masih ada di atas gerbang kota.
"Apa tidak masalah kau membantuku, Putri? Apa kau sudah siap mental sebelum berhadapan dengan kedua ajudan pengkhianatmu itu, kan?" tanya Vira penasaran pada Alicia.
"Mentalku siap, tubuhku siap, energi magisku siap, semua sudah siap. Aku akan membantumu lebih dulu sebelum menghadapi Mira dan Kira..." Alicia mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Begitu, aku rasa kombinasi kita akan bagus. Kita adalah dua mage terkuat di kerajaan, bukan?" tanya Vira senyum.
...
Di kantor Guild, Silva dan para Petualang melihat empat ular bangun. Theo dan Warren siap menghadapi lagi, namun sudah hampir 50% kota ini hancur sejak para ular itu muncul entah darimana.
"Aku akan menghentikan gerakan mereka dengan Creation; Warren, Theo dan para mage, lenyapkan tiga ular seketika dan satunya akan dihentikan oleh Vira dan Putri Alicia!" Silva beritahu mereka.
"Oke!" Mereka mengerti.
"Kehkehkeh!" Dr. Goblin tertawa, dia melayang di atas; "Kau dan sihirmu memang duo yang menyebalkan sejak dulu, Silvaria...!"
"Huh?" Mereka kaget dengar suara itu, dan Silva melihat Goblin; "Siapa kau?"
"Oh...kau tidak kenal suaraku? Yah, kita pernah bekerjasama saat masih muda dulu! Namun dengan wujudku dan suaraku yang berbeda, itu membuatmu tidak mengenalku!" Dr. Goblin turun dan para Petualang bersiaga;
"Mari simpan reuni kita nanti! Aku akan mengenalkan diri dan tujuanku kemari...!" Dr. Goblin mengenalkan dirinya; "Namaku Dr. Goblin, salah satu dari 7 Jendral Jahat NARAKU! Tujuanku adalah wanita bernama Anna...!"
"Serahkan dia, maka pertempuran bodoh ini akan berakhir!" Goblin beritahu dia mengincar Anna, dan membuat semua Petualang terkejut, termasuk ketua Guild Silva; "APA?"
***
Anna di desa kecil dekat kota Guildtown, semua warga kota sudah mengungsi dengan aman dan membuat desa ini ramai sekali sekarang.
Anna bersama semua resepsionis, bahkan yang libur Gina dan Honjou sudah ada disini sekarang, membantu warga kota dan menenangkan mereka.
Sebuah serangan yang sangat tidak terduga; para Monster datang, makhluk yang cuma ada di cerita urban saja dan organisasi misterius yang baru pertama kali mereka dengar, "NARAKU" adalah dalang dibalik serangan ini.
(Naraku... Aku baru mendengar nama mereka. Siapa mereka sebenarnya? Dan apa tujuan mereka?) pikir Anna bertanya-tanya, dan dia mengkhawatirkan Shiki; (Shiki-kun... Kau berhadapan dengan mereka dan tentunya ini yang kau cari selama ini... bertarung dengan lawan yang kuat...)
"Anna-san! Apa yang kau khawatirkan?!' Gina muncul dari belakang dan bertanya pada Anna;
"Huh? Gina?" Anna kaget.
__ADS_1
"Jangan terlihat khawatir begitu, lho. Kau bisa membuat warga kota jadi khawatir juga! Tugas kita sebagai resepsionis adalah untuk membuat semua warga tidak panik dan percaya pada semua Petualang di Guild!" Gina beritahu itu pada Anna dengan senyum.
Candy setuju, dia datang bersama Paula dan Honjou. "Itu benar! Percaya pada Ketua Silva dan Shiki-san! Mereka itu kuat!"
Anna mengangguk setuju. "Benar."
Anna memang mempercayai mereka, tahu seperti apa kehebatan ketua Silva dan Shiki. Namun feeling dia tidak enak, dia melihat ke kota dan perasaan yang tidak menyenangkan ini membuat kekhawatiran dia tidak hilang.
***
Dr. Goblin mengungkap bahwa dia mengincar seorang wanita bernama Anna. Nama yang sangat tidak asing bagi para Petualang, salah satu dari enam resepsionis mereka dan wanita yang disukai oleh figur terkuat di Guild Petualang.
"Serahkan dia kepadaku, dan aku akan menghentikan pertempuran ini!" Dr. Goblin beritahu mereka.
Para Petualang berbisik-bisik soal itu, mereka tidak mengerti kenapa wanita biasa seperti Anna diincar, dan bahkan ada yang bertanya, apa mereka harus menyerahkan Anna agar semua kegilaan ini berakhir?
Ketua Guild, Silva yang ada disana nanya pada Goblin. "Apa ini perintah langsung dari atasanmu atau keinginan pribadimu sendiri?"
Goblin jawab langsung. "Tentu saja perintah dari atasanku, "MASTER" yang meminta! Aku diperintahkan untuk membunuhnya, namun aku rasa akan lebih baik jika aku bawa dia ke hadapan Master dan membunuhnya dengan tangannya sendiri!"
Silva terdiam mendengar itu, dan mengerutkan dahinya mendengar nama "Master" yang merupakan pemimpin dari kelompok ******* musuh mereka saat ini, NARAKU.
"Tentu saja kami takkan memberikan Anna, dia adalah bagian dari kami. Ditambah... Jika kau menyentuhnya, Shiki si Petualang Terkuat akan mengejarmu sampai ujung Abyss sekalipun." Silva mengancam itu pada Dr. Goblin; Shiki akan mengejarnya jika dia berani menyentuh Anna.
"Kehkehkeh!" Goblin terkekeh dengar itu; "Shiki... Nama yang sudah lama tidak aku dengar, huh!"
"Tapi itu bagus!" Goblin malah bersemangat. "Justru itu yang aku inginkan! Aku akan menantikan reuni dengannya!"
Disaat Dr. Goblin fokus soal Shiki, Silva menganggukkan kepalanya pada Vira, yang mengerti dan membalas dengan anggukan.
"Kehkehkeh! Aku tahu akan ada serangan sihir dalam jumlah besar dari atas langit, aku tinggal kabur ke pengungsian setelah ini dan membawa wanita bernama Anna itu...!"
Vira dan Alicia menciptakan puluhan bola api dari atas langit Guildtown. Bola api itu begitu padat akan api, dan begitu menghujani semua ular itu, maka mereka semua akan langsung hangus tidak bersisa.
Meski begitu kerusakan yang diterima di kota akan besar karena api pasti akan membakar banyak bagian kota.
Yah, selama itu berhasil mengalahkan semua ular piton raksasa ini, maka itu akan berharga. Selalu akan ada pengorbanan untuk sebuah keberhasilan, begitulah yang mereka bilang.
""Hujan Bola Api!""
Semua bola api itu diturunkan dari atas, menghujani semua ular piton yang tersisa, termasuk yang dikalahkan Warren dan Theo.
"Jangan pikir kau bisa mengenai...sialan!" Dr. Goblin kaget saat dia mau kabur, dia malah terpentok sesuatu yang bening dan dia tahu siapa penyebab benda yang menghalanginya itu.
Silva; "Creation Barrier."
"Silva!" Teriak Dr. Goblin, namun tidak ada bola api yang menghujaninya; "Huh?"
Dan malah CRATZ! Dr. Goblin lehernya dipenggal oleh Theo menggunakan Penajaman Tinggi dan kemudian tubuhnya bercahaya dan mau meledak;
"Sial, Theo! Awas!" Teriak Silva, dan kemudian DHUAR!
Ledakan cukup besar terlihat dari kota dekat kantor Guild Petualang. "!!?" Vira dan Alicia melihat dengan kaget, tidak percaya ledakan besar tadi. Mereka yakin bukan berasal dari bola api yang mereka hujani, namun berasal dari orang yang dihadapi Ketua Silva tadi.
"Ketua Guild terkena ledakan! Ini gawat!" Alicia panik jadinya.
"Ya, meski ketua memiliki sihir yang sangat berguna, dia adalah orang yang kadang suka bikin khawatir." Vira jawab, dan dia nampak tenang. "Aku akan pergi ke tempat ketua, aku serahkan garis depan padamu."
Vira senyum beritahu itu, dan Alicia mengangguk mengerti. "Oke."
***
Di tempat mereka berdua, Kira melihat Mira, wanita berambut biru dongker itu bersiap menggunakan kartu asnya. Mira sempat jatuh tadi, namun dia sudah menyiapkan kartu andalannya sebagai serangan pamungkas untuk menyerang Guildtown.
"Mira! Dasar bodoh!" Kira khawatir, dia tahu konsekuensi apa yang terjadi pada Mira setelah ini.
"Ini sudah lima tahun sejak aku menjalani eksperimen dengan Master. Meski aku mati sekalipun, asalkan Master senang, itu bukanlah masalah...!" ucap Mira serius.
"Idiot..." Kira kesal mendengar itu, Mira benar-benar siap mati demi Duke Robert Stardust.
"Ankoku Mirror." Mira menggunakan sihirnya lagi, dan membuat seluruh tubuhnya dilanda rasa sakit luar biasa.
"GUH! GAGH! AGH!" Namun Mira terus menahannya dan berusaha sekuat tenaga; "Thunder Warg! Lava Golem! Minotaurus!"
Monster yang disebutkan oleh Mira keluar dari cermin yang di tengahnya melepaskan energi keunguan; pertama, serigala Monster yang diselimuti petir; "Thunder Warg" dari Abyss strata keempat.
Satu Golem diselimuti lava pijar panas yang melelehkan apapun yang dia lewati; "Lava Golem" dari Abyss strata keempat.
"GAAAAH!!!" suara teriakan Monster terdengar begitu sebuah kepala banteng dan tubuhnya yang seperti manusia berotot dengan ekor keluar. Membawa kapak dan berwajah ganas mengintimidasi; "Minotaurus" dari Abyss strata kelima.
Tiga Monster berbahaya itu keluar, akan menghancurkan Guildtown, itulah tujuan mereka yang Mira tanam pada mereka.
Kira menangkap Mira yang jatuh dan melihat Mira yang tersipu padanya meski tubuhnya dipenuhi rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Tubuhku..." ucap Mira.
"Aku tahu, ini bukan pertama kalinya kita melakukan ini." Kira kesal bilang itu, dan memegang kedua pundak Mira;
"Aku takkan membiarkan kau menderita. Selama aku masih hidup, kau tidak boleh mati, saudariku."
__ADS_1
...Bab 3.4 "Pertarungan Mempertahankan Guildtown" - selesai...