ADVENTURER OF EDEN

ADVENTURER OF EDEN
1.2 "Quest terakhir dimulai"


__ADS_3

Quest adalah sebuah tawaran pekerjaan di Guild. Ketika seseorang meminta Guild untuk membantunya, dia harus mendaftarkan quest nya ke resepsionis. Imbalan untuk menyelesaikan quest yang dimaksud pun tergantung dari klien yang meminta.


Sebagai contoh, jika quest nya mudah maka imbalannya kecil dan begitu juga sebaliknya. Meski begitu tidak ada batasan juga untuk menentukan imbalan, itulah kenapa ada juga quest yang tingkat sulitnya cukup namun imbalannya tidak sesuai harapan. Dan berakibat quest itu tidak akan diambil oleh para Petualang.


Shiki biasanya mengambil quest dengan kesulitan paling tinggi. Dalam dua tahun ini, quest paling tinggi yang diambil adalah "pemburuan bandit" dan sudah sering Shiki lakukan.


Itulah kenapa Shiki dikenal banyak bandit di kerajaan sebagai "pemburu bandit", nama dia tersebar ke para bandit dari mulut ke mulut.


Sekarang Shiki tidak mengambil quest memburu bandit, melainkan sebuah "quest pribadi" yang tidak terikat dengan Guild. Sebuah quest yang diajukan padanya tanpa perantara Guild dari seorang wanita bangsawan kerajaan.


Quest pribadi seperti ini biasanya akan Shiki atau Petualang lain tolak, namun untuk kali ini, sebagai quest terakhirnya, Shiki menerima quest ini untuk menemukan ayahnya Reina yang hilang.


***


Mereka berdua memulai perjalanan dari pagi buta di Guildtown, alasannya karena Shiki tidak mau ketahuan oleh petualang lain kalau sedang mengambil quest pribadi dengan wanita cantik seperti Reina.


Dengan naik kuda gerobak, mereka menuju selatan Guildtown dimana sebuah dermaga cukup besar berada.


Kepala dermaga itu mengenal Shiki dan para Petualang yang sering ada di dermaga ini. Shiki meminta bantuannya langsung untuk menuju tujuan mereka berikutnya, sebuah pulau sakral yang berada di selatan kerajaan.


"Star Island...? Aku baru pertama kali mendengar nama pulau itu." ucap kepala dermaga.


"Benar, karena pulau itu sakral. Hanya tiga keluarga kerajaan saja yang tahu soal pulau itu. Aku akan pergi kesana, aku spesial karena salah satu tuan putri dari tiga bangsawan kerajaan ada bersamaku."


Shiki menunjuk Reina yang membungkuk sopan pada kepala dermaga. Pria itu menelan ludahnya, dari aura kecantikan dan setiap tubuhnya, tidak salah dia adalah anggota bangsawan kerajaan.


Kepala dermaga menurut dengan Shiki, dan pemuda itu membayar 10 ribu Rupi untuk sebuah kapal kuat yang mampu membawa mereka sampai ke Star Island.


...


Di laut, mereka berlayar dan Shiki yang menjadi juru mudi serta navigator. Reina cuma bisa mengawasi saja karena Shiki menganggap akan kacau jika orang awam sepertinya membantu untuk hal penting dalam pelayaran ini.


Mereka berlayar dari dermaga itu menuju Star Island dan siang menuju sore adalah waktu mereka sekarang.


Shiki mengerutkan dahinya saat melihat lautan sekitarnya. Dia terkejut karena lautannya menjadi tenang dan angin menguntungkan mereka berlayar ke arah selatan.


"Hei, Reina. Sudah berapa kali kau ke pulau ini?"


"Umm...dua kali? Aku agak lupa." jawab Reina, dia turun dari atas kabin.


"Apa ada yang aneh, Shiki-san?"


"Ya, ada. Lautnya tenang dan anginnya menguntungkan kita dalam berlayar ke pulau. Seakan pulau ini menyambut kedatangan kita...tidak, mungkin lebih tepatnya menyambut kedatanganmu."


Reina berkedip, dia melihat apa yang Shiki maksud dan mengerti ketika lautnya menjadi tenang serta angin membawa mereka ke Star Island lebih cepat.


Benar saja, belum sampai sejam sejak Shiki menyadari keanehan itu, Star Island terlihat. Sebuah pulau yang dipenuhi hutan dengan sebuah menara besar menjulang tinggi sampai atas hutan.


"Jadi itu Star Island, benar-benar pulau yang biasa..." Shiki heran.


Namun ucapan Reina membuatnya cukup terkejut setelah itu. "Itu hanyalah bagian paling luar, menara batu itu adalah pusatnya dan itu tujuan kita."


"Benar, aku rasa ada alasan besar kenapa disebut sebagai pulau sakral." Shiki mengerti. "Mari kita mendekat kalau begitu."


Shiki membawa perahu layar mereka mendekat ke Star Island. Saat mau sampai di dekat pantai, Shiki sangat terkejut akan sesuatu.


Satu pisau hitamnya diambil, kemudian ditaruh di lehernya dan seseorang berkata kepada Shiki. "Jawab aku, Shiki si Petualang Terkuat. Jawab aku dimana ayahku?!"

__ADS_1


"Jadi...kau sudah merencanakan ini sedari awal." ucap Shiki tenang.


"Benar! Ini adalah rencanaku. Aku menjebakmu dan menipumu! Agar kau mengatakan padaku, dimana ayahku berada!!" Teriak Reina dengan kesal, dan Shiki dengan tenangnya senyum simpul saja untuk meladeni wanita berusia 18 tahun itu.


...


Shiki dijebak, hal paling mengejutkan baginya adalah bagaimana wanita ini dengan lancarnya berakting agar Shiki bisa menerima permintaannya.


Tidak, Shiki tidak berpikir wanita kikuk sepertinya akan merencanakan ini selancar itu, namun apakah semua yang dia lakukan adalah rencananya?


Shiki tidak tahu, namun bukti paling jelas sekarang adalah Reina Stardust sedang mengancamnya dan menjebaknya. Agar mengetahui dimana ayahnya, Duke Robert Stardust, berada sekarang.


Shiki hanya bisa senyum simpul saat dengar pertanyaan Reina soal ayahnya. Hal paling lucu adalah Reina menjalankan rencananya dengan baik, namun dia melupakan hal terpenting...


"Kau ini bodoh atau bagaimana? Aku saja baru tahu kalau ayahmu hilang dan kau malah mencurigaiku?"


"Ya! Aku mencurigaimu karena Guild Petualang terlibat dalam hilangnya ayahku! Mereka mengantar ayahku ke pulau ini!"


Shiki mengerutkan dahinya, Reina tidak sembarangan menuduh dan paling penting, Shiki baru tahu ada quest untuk mengantar Duke Robert Stardust ke Star Island.


"Sebagai seseorang yang disebut Petualang Terkuat di Guild, tidak mungkin kau tidak mengetahui hal ini!"


Uh, jadi itu alasan Reina mencurigainya, hanya karena Shiki disebut "Petualang Terkuat di Guild". Shiki benar-benar terkesan dengan pemikiran simpel wanita ini.


"Heh..."


"Jangan tertawa! Aku serius! Aku akan membunuhmu langsung sekarang! Jawab aku dalam 10 detik! Kau akan mati jika tetap diam!"


"Kau serius membunuhku, ya? Aku merasakan naluri membunuhmu. Tanpa rasa takut, tahu resiko, namun sangat naif seperti para bandit itu." ucap Shiki.


Dengar itu, Reina agak kesal dan mengayunkan pisau hitamnya ke Shiki. "Sok sekali!"


Reina terkejut bukan main, Shiki tanpa ragu mau memukulnya, namun dia tidak memukulnya. Reina terasa seperti itu tadi, namun tatapan matanya yang serius membuat Reina merinding sekarang.


Namun bukan Reina namanya jika dia tidak mengatasi rasa takut itu.


"Jika kau sudah semarah itu padaku, maka pukul aku! Bunuh aku! Aku tidak peduli! Aku sudah sampai disini sekarang dan aku tidak akan takut dengan apapun!"


"Jika aku mati disini, tidak akan ada yang menangisiku..." Reina kesal, namun dia meneteskan air matanya. "...karena ayahku sendiri sudah tidak bersamaku sekarang...!"


Shiki diam dengar itu, dan beberapa detik kemudian dia bilang. "Kau akting lagi?"


Reina kaget dan kesal mendengar Shiki tidak percaya marah dan tangisannya.


"Aku tidak! Aku serius marah padamu..."


"Huh..." Shiki merasa lucu mendengar itu dan akhirnya tertawa terbahak-bahak; "HAHAHAHAHAHAHA...!!"


Reina kaget dan Shiki masih terus tertawa. Menertawakan tindakan Reina karena baginya itu adalah hal yang sangat menggelitik. Shiki tadinya marah sekarang tertawa, kemudian situasi Reina juga tidak berpihak padanya.


"Kau...!"


"Haha, tunggu. Jangan marah begitu, ok? Aku juga marah padamu, namun setelah dipikir lagi, rencanamu untuk menjebakku ini cukup brilian." Shiki memuji itu.


"Bersembunyi dari tampang polosmu itu, dan menjebakku. Naluri membunuhmu cukup bagus, dan kau percaya diri dengan kekuatanmu."


Shiki senyum, Reina masih terlihat kesal. Namun wanita yang dia jatuhkan itu memakai sebuah kalung cantik dengan sebuah liontin berbentuk bintang.

__ADS_1


Yah, peduli amat dengan kalung liontin itu untuk saat ini dan Shiki masih menyelesaikan kesalahpahaman Reina ini padanya.


"Dengar, Tuan Putri Reina Stardust yang terhormat. Aku akan mengatakan ini sekali saja... Aku SAMA SEKALI tidak pernah terlibat dengan hilangnya ayahmu!" Shiki menegaskan itu kepada wanita rambut hitam di bawahnya.


"Aku memang terkuat di Guild, namun bukan berarti aku tahu semuanya. Aku bahkan baru tahu kalau sebelum menghilang, ayahmu dikawal oleh Petualang Guild."


Reina menjadi tenang mendengar ucapan serius Shiki, dan jadi merasa malu dengan itu.


"Jadi...kau tidak tahu apapun soal ayahku, Shiki-san? Itu berarti aku asal menuduhmu...?"


"Benar." Shiki heran dia baru sadar itu, atau lebih tepatnya terpaksa menyadarinya.


Reina tersipu, dia memalingkan wajahnya dan kedua tangannya dilebarkan. Shiki sadar Reina dalam posisi pasrah, dan wanita rambut hitam pendek sampai bahu itu bilang pada Shiki dihiasi wajah tersipunya;


"Hukum aku."


"Huh?" Shiki kaget dengar itu.


"Hukum aku... Shiki-san!"


"Untuk apa?!" Shiki kaget sekarang.


"Tentu saja karena aku telah menjebakmu dan menuduhmu, kau tadi sangat marah, kan? Apa kau tidak mencoba menghukumku agar aku jera?" tanya Reina meminta dengan serius.


Shiki tidak mempertanyakan keseriusan wanita ini lagi. Pikiran Shiki juga mencoba mencerna apa yang Reina katakan, kemudian berpikir apa hukuman yang bisa dia berikan pada Reina.


Hukuman, huh. Dengan seorang wanita secantik dan sebagus Reina meminta dihukum olehnya, Shiki mau melakukan semua yang dia mau padanya.


Namun Shiki bukan orang seperti itu.


Aku harus menahan diri. Itulah yang dia pikirkan sebelum memutuskan untuk menghukum Reina.


"Aku tidak akan menghukummu, asalkan kau berniat serius kembali mencari ayahmu yang hilang." Shiki bilang itu padanya, wajah Reina cukup terkejut dengar itu.


"Jadi kau mau membantuku lagi meski aku telah menjebakmu?" tanya Reina penasaran.


"Tentu, kau adalah anak dari pak tua itu. Kami memang bukan teman, namun ayahmu adalah orang yang pertama kali menyebutku sebagai 'Petualang Terkuat'..."


"Eh.." Reina baru tahu itu.


Setelah bilang itu, Shiki memberikan tangannya pada Reina. "Ini bukan berarti aku berutang budi padanya. Alasanku masih sama, aku tidak akan membiarkanmu berbuat sia-sia dan malah mati."


"Shiki-san..." Reina terkejut mendengar itu.


Reina menerima tangan Shiki, dia sangat senang Shiki masih mempercayainya. Meski perasaan tidak enak itu ada, itulah kenapa Reina meminta Shiki menghukumnya.


Perahu layar mereka siap dijalankan lagi, sedikit rusakan pada lantai kayu dek bukan masalah karena Shiki akan memperbaikinya nanti.


***


Dan di pesisir pantai Star Island.


Ada dua orang yang mengawasi perahu layar Shiki yang segera sampai ke pulau. Seorang pria dengan teropong, dia memberitahu kedatangan perahu layar itu pada seseorang.


"Nona Putri! Perahu layar milik Putri Reina Stardust tiba! Tidak salah lagi, dia bersama dengan seseorang!"


Seseorang yang dipanggil Nona Putri itu keluar, seorang gadis berambut jingga agak bergelombang. Memakai bando ungu di rambutnya, memakai gaun satu potong warna krem dan memiliki mata ungu cantik disana.

__ADS_1


"Apa dia ditemani oleh Priest Sanctum? Kalau begitu, siap bertarung, Kira! Mira! Jangan sampai mereka mengacaukan rencana kita!"


...Bab 1.2 "Quest terakhir dimulai" - selesai...


__ADS_2