
Dua bulan sudah terlewati, Allenz yang tengah membersihkan pedang pendeknya, dengan bilah pada pedang itu tipis dan ringan, namun cukup untuk menyayat musuhnya.
Tiba-tiba Sean mendatangi dirinya. "Yo, bagaimana tadi malam? Menikmatinya?"
Semalam para prajurit sedikit mengadakan acara kecil, dengan makan berlimpah dan minum-minum.
"Yah... kau lihat saja sendiri." Ucap Allenz.
Sean juga melihat sekitar mereka, banyak para prajurit yang bergelimpangan dimana-mana, karena akibat mabuk berat karena minum terlalu banyak.
Tak lama, Woulle muncul, Sean dan Allenz langsung berdiri dan memberi hormat. Woulle kemudian melihat sekitar, cukup buruk untuk menyebut tempat ini adalah barak militer.
"Sean Gale Raatz!!" Ucap Woulle dengan keras.
"Ya!!" Sahut Sean.
"Sebentar lagi kau akan lulus dari militer ini, dan akan masuk akademi. Untuk itu, besok kau dan orang-orang yang mengikuti pelatihan militer akan mengadakan tes terakhir. Lalu Allenz, kau akan menjadi salah satu pembimbing kelompok ini." Ucap Woulle .
Allenz cukup terkejut dengan ucapan Woulle "Huh?! Aku?!"
"Iya, kau, siapa lagi? Menurutku kau mampu membimbing mereka. Jadi mohon kerjasamanya kalian berdua."
"Baik!!" Ucap Sean dan Allenz bersamaan.
Setelah itu Woulle pergi, meninggalkan mereka, keduanya kemudian berpisah untuk mempersiapkan diri mereka pada besok hari.
Di tenda komando, Woulle kembali, dia melihat Finn yang tengah bersantai dengan merokok, Woulle kemudian mendekati Finn dan berkata. "Sampai kapan kau akan berhenti merokok?"
Finn menyadari kehadiran Woulle, lalu menjawab. "Entahlah, selagi ini bisa membuatku tenang."
"Setidaknya, kau harus mengurangi jumlah penggunaan rokok mu, kau hampir setiap saat selalu saja merokok."
"Apa ini mengganggumu?"
"Tidak, lupakan."
Setelah itu, keduanya bersantai kembali.
Disisi lain, di istana. Raja tengah meminta seorang pesuruh untuk mengantar sebuah surat untuk kerajaan Spadeforia. Raja ingin membuat aliansi dengan Spadeforia agar menambah kekuatan militer. Maka, dia mengirim seseorang ke sana.
Keesokan harinya, Allenz dan Sean, bersama beberapa orang lainnya, mengadakan pelatihan terakhir bagi para mereka yang mengikuti pelatihan militer. Kini mereka akan menghadapi beberapa bandit dan monster yang kadang meresahkan jalur para pengembara dan pedagang.
Tentu saja mereka menggunakan strategi, dengan berdiam diri, lalu mengintai untuk memperhatikan gerak-gerik para bandit yang tengah berkemah. Dari laporan yang didapat, kadang mereka berkamuflase sebagai para perantau agar para pedagang yang membawa wagon terkecoh dan mengangkut bandit yang menyamar itu bersama mereka. Lalu akan dijebak dan dibunuh setelahnya.
"Semuanya tenang..." Ucap seorang pembimbing kelompok itu. "Allenz."
Allenz mengangguk mengerti, dia kemudian bersiul kecil, tak lama dua bandit tumbang dengan kepala mereka terlepas dari tubuhnya.
"Serang!!" Seru pembimbing sebelumnya.
Para pemanah dan penembak sihir langsung menyerang lebih dulu, ada yang mengenai tenda dan orang-orang disana.
Karena serangan mendadak itu, membuat para bandit tidak siap, dengan cepat jumlah mereka berkurang drastis karena banyak yang mati.
Allenz dan Sean saling membelakangi satu sama lain, mereka saling menutupi kekurangan mereka dengan berkerjasama. Dengan strategi itu, dengan cepat kemenangan berhasil mereka raih.
Banyak barang yang disita dari tempat itu, dan para mayat bandit itu dibakar karena bagi mereka, bandit keji seperti itu tidak layak untuk dikubur.
Setelah semua selesai, para orang-orang membawa hasil itu kembali ke barak, dan dengan ini para pelatih militer dianggap lulus, bahkan mereka tidak menyangka akan mudah, bahkan tidak ada korban meski ada yang terluka, dengan ini mereka kembali ke kota, namun.
"???"
"Kenapa?" Tanya Sean.
"Aku merasa ada yang mengawasi kita." Ucap Allenz.
Wajah Sean menjadi serius, dia langsung menatap sekitar mereka, dia nampak juga merasakan hal yang sama. Tak lama pembimbing mereka juga memberi sinyal tangan untuk diam, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, para tentara masa depan Hearterra tidak boleh diremehkan disini, karena menyangkut harga diri ksatria Hearterra.
"Diatas!!" Tak lama hujan panah muncul dari atas pepohonan, dan menyerangnya mereka.
"Ahh!!"
"Akh!"
"Sialan!?"
"Medis!!"
Semua langsung panik, dan mencoba melindungi diri. Banyak yang terkena tembakan itu, namun dengan cepat beberapa orang langsung membuat pelindung sihir untuk menjaga mereka dari tembakan panah itu.
Serangan dadakan ini membuat para orang-orang disana terkejut, ini adalah serangan kelompok bandit lainnya.
__ADS_1
Allenz dengan cepat langsung merapal mantra angin dan membuat daerah mereka diterjang oleh angin kencang, membuat beberapa persembunyian musuh ketahuan. Bahkan ada yang terjatuh dari pepohonan.
"Serang!!" Ucap Sean dengan keras.
Orang-orang yang masih bisa bertarung langsung menyerang musuh yang telah muncul. Sebisa mungkin beberapa pembimbing mencoba melindungi orang-orang disana terutama yang terluka, ditambah mereka yang masih muda untuk melanjutkan hidup mereka, para pembimbing tidak ingin mereka tewas di tempat seperti ini.
Allenz juga tak kalah menyerang, dia dengan cepat menyerang musuh sambil menaiki papan miliknya. Kadang dia juga melihat dari atas untuk mengetahui posisi musuh dan akan menyerang mereka dari belakang atau juga menggunakan Whistling Spell.
Tak terasa sudah tiga jam mereka terus bertahan dari serangan para bandit, dan membuahkan hasil yang sempurna, tidak ada korban jiwa di pihak mereka -kemenangan mutlak-, meski korban yang terluka bertambah, karena sudah malam, mereka melakukan kemah. Dengan ini para pemuda itu akan mendapat bros penghargaan di pelatihan militer dari komandan atau raja langsung nanti setelah mereka kembali.
Disaat yang langsung tengah merayakan hal itu, dengan makan daging dan cola. Allenz memutuskan untuk pergi sendiri, dia ingin mencari tempat untuk sendiri.
Tak lama, dia menemukan tempat yang cocok untuk sendiri. Disana hanya rerumputan dan beberapa bunga yang disinari oleh bulan. Tak ada suara gaduh, hanya ketenangan.
Allenz mengambil sesuatu dari tas pinggangnya, dia mengeluarkan pan flute, sebuah alat musik dari bambu yang memiliki banyak panjang yang berbeda. Kadang dia memainkan pan flute ini saat malam hari atau sendiri, atau menggunakan suling bambu biasa.
Lagu yang di mainkan olehnya adalah Der einsame Hirte, sebuah lagu yang menurutnya sangat cocok untuk saat ini, apalagi dengan ketenangan malam.
(Kalian bisa cari Der einsame Hirte di YouTube.)
Dengan tenang, Allenz memainkan pan flute itu, dengan nada yang terbilang pelan, malam kini di terdengar pan flute yang di mainkan oleh Allenz. Bulan dan bintang menjadi saksi bisu atas apa yang di mainkan oleh Allenz.
Tak lama lagu itu selesai, Allenz menatap sejenak langit malam, dengan cahaya rembulan dan bintang-bintang yang menemani di langit.
"Kau hebat juga memainkan alat itu." Ucap Sean.
Allenz langsung menatap Sean di belakangnya, dia tidak menyangka ada Sean disana.
"Kau mendengar semuanya?!"
"Tidak juga, hanya sebagian. Tapi, kau hebat juga bisa bermain musik."
"A-ah, terima kasih."
Sean kemudian mendekati Allenz, dan bertanya. "Ngomong-ngomong, bagaimana cara memainkan alat itu?"
"Seperti meniup seruling biasa, hanya saja kadang berganti tiup pada pipanya." Jelas Allenz. "Mau mencobanya?"
"Tentu!" Ucap Sean dengan semangat.
"Namun, kita perlu mencari bambu atau kayu." Ucap Allenz.
Dimana kayu dipotong dengan ukuran yang berbeda-beda, dari yang agak panjang hingga pendek, sekitar 15-7cm. Kayu kemudian di lubangi pada tengahnya, untuk menghasilkan suara, dan dimasukkan semacam kulit lentur pada dalamnya untuk menambah suara yang merdu, disini Allenz tidak menggunakan gabus, tidak ada gabus disini, bahkan bahannya Allenz tidak tau, maka dari itu, dia menggunakan kulit yang agak mengeras, meski padat namun agak lentur seperti gabus.
Setelah selesai membuatnya, Allenz mencoba suaranya lebih dulu, dan tidak buruk, meski suaranya agak berbeda dengan pan flute miliknya yang terbuat dari bambu, tapi yang kayu ini tak kalah bagusnya pada suara yang dihasilkan.
Kemudian Allenz mengajarkan Sean bermain pan flute, dia juga menjelaskan secara perlahan namun detail. Sean juga dengan mudah mengerti, meski kadang tiupannya kadang salah.
Satu jam lebih tak terasa. Sean cukup hebat bisa memainkan alat musik itu, meski harus berlatih lebih lagi.
Jam sepertinya sudah hampir tengah malam, Allenz dan Sean memutuskan untuk kembali ke kemah mereka.
Tak jauh dari sana, Allenz dan Sean melihat seperti sebuah cahaya yang bergerak ditengah hutan.
"Apa itu?"
"Obor? Orang yang membawa obor?" Tebak mereka.
"Itu memang orang!! Dia seperti lari dari sesuatu?!" Ucap Allenz yang menyadari hal itu. Keduanya langsung berlari kearah orang itu.
Hingga mereka tak mampu mengejar orang itu, dia terlalu cepat bagi mereka, seandainya Allenz membawa papannya mungkin dia mampu mengejar orang itu.
Tak lama orang-orang yang mengejar itu bertemu dengan mereka, orang-orang yang mengejar juga menggunakan kuda agar bisa lebih cepat hingga mereka bertemu.
"Komandan Finn?!"
"Kalian?! Bagaimana kalian ada disini?!" Ucap Finn bertanya pada mereka sambil menghentikan kudanya.
"Kami sedang mengikuti tes terakhir dari pelatihan militer." Jawab Sean.
Finn akhirnya paham, dia juga baru ingat bahwa mereka tengah melakukan tes terakhir di pelatihan militer. Sementara rombongan Finn lainnya tengah mengejar orang itu sebelumnya, meninggalkan Finn bersama Allenz dan Sean.
Allenz kemudian bertanya apa yang terjadi, bahkan sampai Finn mengejar seseorang di tengah malam. "Apa yang terjadi?!"
"Ah, kami menduga orang itu adalah seorang pembunuh dari Spadeforia, itu juga terlihat dari jubah yang dia pakai." Jelas Finn.
"Kenapa pembunuh bayaran Spadeforia ada disini?!" Ucap Sean tidak percaya.
"Sore tadi kami menemui jasad orang yang seharusnya mengantar pesan raja ke kerajaan Spadeforia. Dan nampaknya Spadeforia hendak menjebak kita, makanya kami hendak menangkapnya untuk mendapat informasi."
__ADS_1
Allenz dan Sean terkejut dengan hal ini, jika hal ini terjadi, maka keempat kerajaan akan mengalami ketegangan yang serius. Maka hasil yang diterima dari ini semua adalah Perang.
Perang akan pecah lagi, dan tidak hanya itu, bisa aja perang yang langsung dikerahkan oleh keempat kerajaan sekaligus, tanpa aliansi sama sekali.
Tidak ada pihak yang bekerja sama, tidak ada suplai tambahan, tidak ada kekuatan militer yang bertambah, ditambah dua bulan lalu Hearterra dan Diamondnia baru saja perang, ini adalah hal yang merugikan bagi kerajaan mereka yang masih dalam masa pemulihan.
Tak lama seseorang mendekati mereka dengan kudanya, lalu berhenti dan memberi hormat pada Finn. "Komandan!! Maafkan kami, nampaknya orang itu berhasil kabur."
Wajah Finn menjadi runyam, dia menjadi gelisah dengan dampak yang akan datang, cepat atau lambat perang akan terjadi. Raja mungkin akan langsung menyatakan perang pada Spadeforia.
Dengan terpaksa dia memerintahkan orang itu untuk menyuruh yang lainnya kembali. "Kalau begitu, perintahkan yang lain untuk kembali, aku akan menghadap raja malam ini." Ucap Finn.
"Baik!!" Orang itu langsung berkuda dengan cepat untuk memerintahkan yang lain untuk kembali.
"Dan kalian, lebih baik kembali ke kemah kalian." Ucap Finn.
"Kami mengerti." Allenz dan Sean langsung kembali ke kemah mereka. Didalam hati Allenz, nampaknya ini akan menjadi masalah yang serius.
Esoknya Sean dan beberapa anak lainnya dinyatakan lulus dalam pelatihan militer, mereka bahkan di beri sanjungan dari raja sendiri, banyak yang datang disana. Bahkan keluarga Allenz dan keluarga Bartfold juga datang. Arthur juga mengabarkan bahwa tidak ada gangguan kali ini, status keluarga Borath telah dicabut, kini mereka tidak ada halangan apapun dengan pertunangan Allenz dan Teresa, bahkan jika untuk membatalkannya juga tidak masalah.
"Jadi kau bisa tenang, tidak ada yang menganggu kami, dan maaf telah menyeret mu dalam masalah keluarga kami." Ucap Ford pada Allenz.
"Tidak masalah, dan juga soal pertunangan it–"
Belum selesai bicara, Teresa langsung bicara yang membuat Allenz terkejut. "Soal pertunangan itu, aku sangat menyetujuinya, ayah, dan Allenz sudah mengirim surat secara pribadi padaku untuk melanjutkannya." Ucapan Teresa membuat keluarga Allenz dan keluarga Bartfold terkejut juga, disisi lain Nayaka juga nampak tersenyum senang akan hal itu.
"T-tu-tunggu dulu, sejak kapa–"
"Benarkah itu Allenz?! Kau ternyata melamar Terasa secara diam-diam rupanya." Ucap Anya.
"Tunggu ibu, aku tidak bilang begitu?!" Bantah Allenz.
Di samping itu, Tiara, ibu Teresa, nampaknya tak kalah terkejutnya. "Wah... romansa anak muda, betapa indahnya~"
"Tunggu, aku belum selesai bicara?!"
Sementara Arthur hanya bisa menangis karena menurutnya Allenz telah melakukan tindakan seorang pria.
"Ayah, kau terlalu berlebihan..." Ucap Allenz. "Dan..." Ucapan Allenz terhenti saat melihat Nia yang menatap tajam dirinya, yang membuat ngeri Allenz.
'Nampaknya dia cemburu' Ucap Alans.
"Kau bilang begitu?!" Ucap Allenz yang tidak percaya.
Hingga Sean dan keluarganya mendatangi Allenz yang tengah berbicara pada keluarganya.
"Maaf permisi, namaku Sean Gall Horner, senang bisa bertemu dengan anda sekalian, ini keluarga saya." Ucap Sean pada keluarga Allenz.
"Wah, salam kenal." Ucap Arthur dan Ford menyambut keluarga itu. Setelahnya mereka berbincang-bincang.
Dan juga Sean tidak menyangka bahwa Allenz sudah bertunangan. Meski Allenz sendiri menjelaskan bahwa itu sebenarnya hanya rencana tipuan keluarganya dengan keluarga Bartfold.
Hingga setelah acara pemberian sanjungan bagi para orang yang mengikuti pelatihan militer, raja kemudian masuk kata sambutan bagi para tamu.
Raja, Ronald Seinn Hearterra, langsung diberi tepuk tangan yang meriah dari para tamu. Lalu setelah berdiri di podium, dia kemudian berbicara. "Para hadirin sekalian, para pria, wanita dan anak-anak sekalian. Terima kasih atas kedatangan kalian, disini kalian telah melihat beberapa orang yang telah selesai melaksanakan pelatihan militer. Dengan dasar menjadi ksatria kerajaan..."
Disisi lain Allenz juga terkejut dengan adanya beberapa wanita juga. "Hmm? Ada ksatria wanita juga?"
Sean yang mendengar itu langsung menjelaskan, bahwa ada juga pelatihan militer khusus wanita, mereka hampir sama seperti mereka, bahkan memiliki barak nya sendiri, meski agak jauh dari istana, berbeda dengan barak mereka yang dekat dengan istana, hanya saja pelatihan mereka tidak seberat pria. Meski sebenarnya pelatihan militer ini tidaklah wajib, namun bagi yang mengikuti hingga akhir dan masuk kembali kedalam militer akan diberi kenaikan pangkat langsung.
Disela-sela pidato raja, Allenz sadar bahwa raja tidak berbicara perihal informasi soal konflik masa depan Spadeforia dan Hearterra.
"Hmmm... Aneh, kenapa raja tidak berbicara soal kerajaan Hearterra yang akan–" Belum selesai, lengan Allenz langsung digenggam kuat oleh Sean, yang membuat Allenz langsung menatap Sean, dengan sedikit menggeleng sedikit, menandakan jangan membahas soal itu.
Allenz langsung paham makna itu, nampaknya raja menyembunyikan hal ini dari publik agar tidak panik. Apalagi kondisi Hearterra saat ini, Sean kemudian melepaskan tangan Allenz, lalu pergi begitu saja.
Dengan begini, konflik Hearterra dengan Spadeforia hanya diketahui oleh orang-orang militer saja tanpa boleh disebar luaskan.
Dua jam sudah acara itu selesai, semua orang kembali pulang, Sean kini akan masuk akademi, keluarga Allenz dan Bartfold akan kembali ke Nevelheim. Sementara Allenz akan kembali ke barak, dia sudah menjadi seorang ksatria kerajaan, sudah sepantasnya dia harus kembali bekerja, meski di umurnya yang baru 13 tahun.
Namun, sebelum itu dia ingin berbicara dengan keluarganya dan keluarga Bartfold, ditempat yang mereka sewa di ibukota. Disana Allenz benar-benar melamar Teresa, dengan Nayaka.
Kebahagiaan langsung saja terasa bagi mereka, tidak menyangka Allenz akan melamar Teresa bahkan Nayaka.
"Nia, tolong jaga mereka dan ibuku."
"Tentu, tuan muda."
Selepas itu semua, Allenz berpisah dengan keluarganya, bahkan sebelum berpisah dia mendapat kecupan dari Teresa.
Setelah mereka pergi menaiki kapal udara, dan pergi, Woulle dan Finn mendekati Allenz yang masih berdiam diri di hanggar ibukota, mereka tau bahwa hal ini dilakukan Allenz untuk tidak menjadi penyesalan bagi dirinya. Dengan begitu, tanpa keluarga Allenz tau, ini mungkin adalah perpisahan bagi mereka yang sesungguhnya. Bahwa sebentar lagi perang besar yang akan menjadi sejarah mengerikan empat kerajaan akan terjadi.
__ADS_1
"Allenz, saatnya kita bersiap." Ucap Woulle.
Allenz menoleh, dengan air mata di kedua pipinya. "Iya." Dengan begini, presentase kematian mereka jauh lebih besar.