After World Breaker

After World Breaker
Chater 23: Zen vs Selial


__ADS_3

Zen bersiap dengan dua pedangnya, di depannya ada iblis yang hendak menuju tempat Allenz berada. Dengan menghentikan niat iblis itu, Zen menantangnya bertarung, untuk mengulur waktu.


Keduanya bersiap, dan saling memandangi musuh mereka. Ayah Gregory, Selial, membuat dua kapak sedang sebagai senjatanya. Hingga keduanya maju secara bersamaan.


Dampak senjata mereka membuat sedikit gelombang kejut. Dengan serang-tangkis secara berulang membuat mereka sengit dan mampu bertahan. Bahkan, mereka belum mendaratkan luka pada lawan mereka.


Keduanya mengambil langkah mundur, dan bersiap kembali menyerang.


Dengan sihir mereka masing-masing yang disalurkan pada senjata mereka. Mereka akan lebih serius lagi untuk menumbangkan lawan mereka.


Zen yang hendak menghalangi Selial, dan Selial sendiri hendak membawa kembali anaknya untuk mundur.


Keduanya mengambil langkah mundur, Selial kemudian menatap Zen dengan baik, dia kemudian bertanya dengan mengacungkan kapaknya pada Zen. "Kehebatan dirimu dalam senjata aku akui, jika kau berkenan, aku mau tau namamu?"


Zen menjadi sedikit curiga saat iblis di depannya bertanya demikian, namun dia menjawab pertanyaan itu. "Zen, Zen Rasyid Aditya."


Mengerutkan keningnya. "Dari namamu, pasti kau berasal dari Indonesia. Kau cukup jauh juga dari tempatmu lahir."


"Yap, karena dulu sekali. Akibat sebuah pekerjaan, kini aku ada di tanah Polandia ini, hingga sekarang." Balas Zen. "Tapi, aku akui juga kau bisa menebak tempat diriku berasal."


Karena sudah mengetahui lawannya, Selial memperkenalkan dirinya sendiri. "Terima kasih atas pujiannya. Perkenalkan namaku Selial, iblis perusak dan perpecahan. Yang dulu memimpin 400 unit iblis, anak dari iblis Krampus."


Sedikit membingungkan dirinya, Zen bertanya. "Kau... Anak dari seorang iblis? Jadi, kalian para iblis memiliki anak?"


"Jika dulu tidak, semenjak kami datang di sini, tubuh kami perlahan menjadi seperti manusia, kami menjadi butuh makan, minum dan istirahat. Bahkan, kini kami bisa merasakan hal lain dari dalam diri kami. Pada awalnya kami juga tidak memiliki wujud pasti dan hanya makhluk astral." Jelas Selial.


Mendengar itu, Zen cukup bersyukur dengan begitu iblis mudah di bunuh. "Ternyata... Cukup menguntungkan juga bagi kami, manusia. Untuk bisa membunuh kalian."


"Itulah, kini aku benci manusia."


"Sama, aku juga benci kalian." Sahut Zen.


Keduanya dengan cepat menyerang kembali, dan dengan kekuatan sihir masing-masing menambah gelombang kejut saat senjata mereka saling bertemu.


Serangan mereka juga memberi dampak kerusakan pada sekitarnya, hingga membuat salju di kaki mereka beterbangan di udara dan rumput terlihat yang sebelumnya tertutupi salju. Mereka juga masuk ke dalam sebuah tempat yang memiliki pohon yang tidak terlalu rimbun.


Cuaca saat itu kian memburuk saat langit menjadi mendung, hingga muncul angin yang menurunkan hujan salju, membuat pandangan semua orang mulai kabur. Angin ini kian kencang, yang diakibatkan oleh Alans yang menggunakan sihir angin tingkat tinggi, yang mempengaruhi awan-awan diatas mereka. Hingga menurunkan hujan salju yang kian lebat.

__ADS_1


Zen yang mundur dan kembali maju untuk menyerang Selial, dirinya sejak tadi terus memberi serang tanpa henti, untuk membuat iblis yang dia lawan ini menjauh dari posisi Allenz.


"Kau tidak seperti orang yang menghadapi anakku, kau hanya semut yang mengganggu. Aku saja bisa mengetahui jumlah kekuatan kalian." Ucap Selial yang membandingkan kekuatan Allenz dengan Zen.


Mendengar itu, dan tidak terprovokasi, Zen menjawab. "Tentu, karena dia adalah prajurit andalan milik manusia, The Dark Bird. Seperti itulah julukan dia yang diberikan oleh para prajurit lain."


"Memang sudah sewajarnya aku mewaspadai dia."


"Jika kau ingin ke tempat temanku itu, lewati aku dulu dan kau bandingkan lagi." Ucap Zen yang menyerang kembali.


Meski cuaca kini menjadi buruk, Selial tidal nampak panik. Padahal matanya tidak mampu melihat sekitar. Dengan dirinya yang masih memiliki sisa iblis murni, dirinya dengan mudah tau keberadaan Zen, dengan melihat niat buruk Zen saat menyerang dirinya. Para iblis bisa merasakan sisi buruk makhluk hidup, seperti niat jahat, takut atau hal jahat lain untuk bisa merasakan tempat makhluk itu berada, terutama manusia. Dengan begini Selial bisa mengetahui posisi Zen dengan mudah.


"Sudahi saja, aku bisa dengan mudah mengetahui posisimu." Ucap Selial dengan santai sambil bertahan dengan serangan kejut dari Zen. Melihat arah Zen berlari dibalik badai salju, dia melihat Zen memutari dirinya dan menyerang dari sisi kanan.


Serangan Zen lagi-lagi dipatahkan, karena ditahan lagi, Zen mundur lagi dan bersembunyi di badai salju yang berlangsung.


Zen kini hanya diam dan mengawasi Selial dari dahan pohon besar, dengan topeng canggih miliknya dia mampu melihat secara tembus pandang salju yang menghalangi pandangannya. Dirinya juga hanya melihat Selial yang diam di tengah-tengah badai salju.


Hanya tersenyum, Selial berbicara di tengah badai. "Buat apa kau terus bertarung, hentikan saja. Semua rencanamu bisa aku baca." Menghilangkan senjatanya, Selial lanjut bicara. "Zen, Zen, Zen... Rasyid... Aditya. Aku bisa tau dari hatimu... Kau sejak dulu ingin sekali memiliki segalanya, bahkan wanita dan harta, itu hal biasa yang diinginkan semua pria di dunia ini, mungkin juga pria di alam semesta ini..."


Seketika Selial mencekik Zen dan membuat mereka terbang. Membuat senjata Zen terlepas dan tertinggal di belakang.


"Ukh?!" Zen mencoba melepaskan cekikan Selial. Tapi, iblis ini nampak cukup kuat membuat Zen tidak berdaya.


"Kenapa? Kenapa? KENAPA KAU MEMBUANG MIMPIMU!! MIMPU DIRIMU MENJADI ORANG YANG MEMILIKI SEGALANYA!!" Ucap Selial dengan nada suara mengerikan dan terdengar serak.


"Ughh.." Dengan keras Selial menyeret Zen ke tanah.


Dari telinga Zen, Program mengakses senjata Zen yang sebelum tertinggal. Dan mengubah senjata itu menjadi senapan, lalu aktif dengan sendiri dan menembakannya ke arah punggung Selial. [Mengaktifkan mode otomatis... Membidik sasaran... Tembak]


Karena serangan itu adalah serangan tanpa niat apapun, Selial tidak menyadari hal itu dan alhasil tembakan itu tepat mengenai punggung Selial, membuat dirinya melepaskan leher Zen.


Program juga langsung memberi arahan pada Zen untuk menggunakan anomali pada tubuhnya, dia dengan cepat memegang kaki iblis itu. Muncul urat berwarna ungu dari tangannya. Hingga membuat kaki Selial seperti tersengat, dirinya dengan kuat menendang Zen hingga terguling tak jauh darinya.


"Arrgg... Argg..." Melihat kakinya, nampak seperti luka bakar dan bekas tangan Zen pada kakinya itu.


Zen kemudian mencoba berdiri, dirinya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pusing. Mengarahkan tangannya yang terbuka pada Selial, sebuah serangan menghantam punggung Selial kembali. Serangan itu dari senjata koper milik Zen yang mendatangi tuannya.

__ADS_1


Mendapatkan kembali senjatanya, Zen menghembuskan nafas panjang, dan menenangkan dirinya. Dari balik topengnya, dia membuka mata, warna matanya kini berubah menjadi ungu orchid. Senjatanya kini dia ganti menjadi Gauntlet.


[Mengunakan anomali pada tubuh... Memproses anomali... Menyebarkan anomali ke seluruh tubuh. Detak jantung menurun. Aliran darah meningkat. Syaraf otot ditingkatkan. Syaraf otak dipercepat. Syaraf mata ditingkatkan... Anomali dalam tubuh siap digunakan, Mode Adrenalin, aktif.] Ucap Program.


Pada tubuh Zen, muncul banyak urat berwarna ungu, dirinya kini mengandalkan anomali pada tubuhnya untuk menjadi kemampuan tambahan pada saat bertarung.


Selesai dengan anomali pada tubuhnya. Zen dengan cepat mendatangi Selial, dan memberi tinjuan kuat. Bahkan Selial terkejut dengan kemampuan Zen yang meningkat.


Dengan banyak tinjuan yang diberikan, Selial tidak mampu menggunakan kapaknya karena jarak mereka yang cukup dekat.


Karena sudah tidak yakin dengan senjatanya, kedua tangannya dia selimuti dengan sihir untuk menyeimbangi serangan Zen. Zen juga kini jauh lebih diam dan tenang dari sebelumnya.


Saat mereka saling berganti tinju, Selial mendapat banyak serangan, apalagi saat Zen menyentuhnya, dia akan merasa tersengat seperti kakinya. Hal ini membuat Selial harus berpikir keras untuk tidak tersentuh oleh Zen.


Pada Zen, dirinya mengalami kondisi yang mulai nampak buruk, akibat turunnya tekanan detak jantung, membuat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Ini adalah efek samping yang di derita jika memiliki anomali pada tubuhnya.


Mengambil ancang-ancang, Zen dengan sigap melompat dan memutar dirinya, dan memberi Selial tendangan kuat tepat pada samping kepalanya. Membuat Selial hampir jatuh ke kanan berbalik arah. Dengan cepat, Zen berlari ke arah Selial, dan menjatuhkannya. Kini, Zen tengah duduk di punggung Selial dengan posisi tengkurap. Selias mencoba melawan. Zen dengan kedua tangannya, lantas memegang kepala bagian atas dekat dahi.


"AARRRHHH!!!" Kepalanya seperti tersengat banyak listrik, bahkan tangan Zen sampai mengeluarkan asap, menandakan dia tengah membakar kepala Selial.


Selial yang merasa kesakitan. Dia dengan cepat mengunakan Awaken Mode. Membuat Zen terpental dari punggung Selial. Kini dengan mode itu Selial menjadi lebih besar dan mengerikan.


Zen menjadi waspada, Selial kini mengamuk dan menyerang secara membabi buta, dengan badai salju yang masih berlangsung, Zen mencoba bersembunyi kembali di dalam badai.


Selial yang kini mengamuk, menghempaskan badai salju yang menghalanginya, membuat semua badai itu hilang di sekitar mereka. Namun, tidak ada tanda-tanda Zen.


Dari atas pohon, Zen turun dari sana, yang kini menggunakan pedang dan berhasil menusuk punggung atas Selial.


"AAHHHH!!" Selial mencoba membuat Zen yang berpegangan pada pedangnya, dirinya hendak menjatuhkan Zen. Tangan-tangannya mencoba meraih Zen di belakang. Namun, tidak sampai.


Zen mencabut pedangnya, dan hendak menusuk kembali. Tapi gagal, dia berhasil ditarik Selial dan langsung dibanting dengan keras ke tanah bersalju di bawah mereka, lalu melempar Zen pada sebuah pohon. Membuat punggungnya Zen menghantam keras pohon itu.


Saat hendak mendatangi Zen yang sudah lemas. Gregory muncul dan menimpa ayahnya yang hendak mendatangi Zen yang nampak pingsan.


Selial yang terjatuh, menyingkirkan tubuh anaknya, dimana Gregory dalam keadaan terluka parah, bahkan ada beberapa jarinya hilang.


Dari sisi munculnya Gregory, datanglah Alans yang berlari kencang dengan Iris yang setengah tubuhnya muncul dan berpegangan pada pundak Alans.

__ADS_1


__ADS_2