
"Kau lebih baik minggir, jangan menghalangi jalanku!" Ucap Teresa pada Allenz yang baru bangun tidur, dan bertemu di lorong rumah.
Allenz kini tengah bertunangan dengan keluarga Bartfold, salah satu bangsawan di kota Nevelheim, sang kepala keluarga ini bernama Ford Theodore Bartfold, sementara sang istri bernama Tiara Xennia Bartfold, mereka memiliki dua anak, bernama Teresa Sena Bartfold, dan Benard Dan Bartfold, Allenz kini bertunangan dengan putri sulung keluarga ini, hal ini bisa terjadi karena permintaan kedua orang tuanya, dengan alasan untuk melindungi Nayaka.
Tentu Allenz menanyakan hubungan perjodohan ini dengan Nayaka, kedua orang tuanya menjelaskan bahwa Allenz harus bertunangan dengan Teresa, sebagai tunangan pertama dan Nayaka akan menjadi posisi tunangan kedua.
Hal itu jelas ditolak oleh Allenz, tidak mungkin dia bertunangan dengan adiknya sendiri, meski mereka bukan saudara sesungguhnya, namun hal ini terjadi karena untuk menghindari orang-orang yang ingin menjodohkan putra mereka pada Nayaka, yang merupakan kerabat keluarga kerajaan.
Karena hal itu mau tidak mau Allenz menurut dan kini dia berakhir ditempat keluarga Bartfold, namun dirinya tidak disambut ramah oleh kedua anak Ford itu.
Dirinya disediakan kamar sendiri, kamar khusus tamu, dan dia tidur disana, setelah merapikan kamarnya dia hendak ingin mandi, namun dirinya bertemu dengan Teresa dengan beberapa maid yang membawa handuk dan pakaiannya. Seperti sebelumnya, dia masih belum menerima Allenz disini.
Allenz yg berada disana hanya bisa mencari cara untuk membuat perjodohan ini jadi lebih baik, terlebih lagi hubungan dirinya dengan Teresa sendiri, yang merupakan tunangannya.
Jadi terkadang Allenz mencoba beberapa kali untuk menyapanya, atau hanya untuk berinteraksi dengan Teresa, namun hampir semua yang dia lakukan selalu gagal.
Karena sudah tidak mungkin untuk mendekati Teresa, Allenz memutuskan untuk merenung sejenak di taman samping rumah keluarga Bartfold itu. Dia hanya duduk sendiri, dengan mata yang terlihat sudah tidak semangat lagi, dia menyerah untuk mendapat hati putri sulung keluarga ini.
Tak lama istri Ford datang, dia melihat Allenz yang seperti kehilangan semangat, tidak seperti sebelumnya. "Ara~ Nak Allenz, kenapa ada disini? Bukankah seharusnya kau menemani putriku?"
Allenz melihat Tiara yang menatapnya bingung, bagaimana anak muda bisa seperti kehilangan cinta seperti itu, Allenz kemudian membenarkan posisi duduknya, dan duduk tegap, "hah.... Sepertinya cukup sulit untuk mendekati anak anda, bahkan keduanya juga seperti menghindari saya sama sekali." Ucap Allenz yang sudah seperti menyerah akan hal yang dilakukan itu.
Mendengar keluhan Allenz, Tiara merasa kasihan karena bagaimana mungkin kedua anaknya tidak menyambut ramah Allenz yang merupakan tunangan anaknya.
Setelah perbincangan itu, Allenz juga berbicara tentang hal lain, dia jadi cukup banyak belajar dari Tiara, soal keempat kerajaan manusia, sihir, perkembangan teknologi, dan banyak lagi.
Sesekali Allenz juga berkomentar tentang beberapa sihir, dan sejauh yang dia dapat, baru hanya beberapa orang saja yang mecapai tingkat dua belas sejak beberapa tahun terakhir, namun mereka tidak digunakan dalam perang dengan iblis, karena mereka lebih dikhususkan untuk keluarga kerajaan, Allenz juga sempat berpikir karena keluarga kerajaan sering menyewa orang-orang kuat, membuat kekuatan tempur manusia jadi menurun, karena hanya tingkat sembilan dan delapan saja yang ikut serta dalam perang.
'Pantas saja mereka kalah dengan ras iblis.' Ucapnya dalam hati, kenapa juga keluarga kerajaan bisa sampai membuat para orang kuat seperti itu dimasukan kedalam kerajaan.
"Oh iya, Allenz apa kamu akan mengikuti "Pelatihan Militer"? Tanya Tiara.
"Pelatihan Militer?"
"Kau tidak tau? Pelatihan Militer itu, dimana kau akan diajarkan dasar menjadi seorang prajurit, jadi jika ada suatu hal mendesak kau sudah mengetahui dasar-dasar militer seorang prajurit." Jelas Tiara, "tapi, kau hanya diberi pelatihan ringan, seperti menghadapi monster kelas rendah, dan menghadapi bandit atau pemberontak, dan masa pelatihannya hanya selama 5 bulan." Lanjut Tiara.
Allenz mendengar itu, dia seperti berpikir Pelatihan Militer itu seperti Wajib Militer, dibeberapa negara sebelumnya, contoh Korea Selatan. Namun, nampaknya hal ini lebih mudah, karena tugas yang dihadapi bagi para orang-orang yang ingin jadi prajurit kerajaan.
"Kalau kau tidak berminat ikut, kau bisa juga jadi seorang petualang, namun petualang lebih bebas ketimbang seorang prajurit." Tambah Tiara.
Namun, entah Pelatihan Militer atau petualang, Allenz tidak tertarik keduanya, dia berencana untuk menjadi seorang pembuat alat atau semacamnya.
Malam tiba, keluarga Bartfold mengajak Allenz makan bersama seperti biasa, dan bahkan posisi Allenz tepat pada disebelah Teresa. Namun, itu cukup membuat Allenz tidak enak, karena Teresa menganggap Allenz tidak ada disebelahnya saat itu.
Mereka makan bersama, Allenz sebisa mungkin menghindari tatapan kedua anak Ford, dia hanya ingin menikmati makan malamnya.
"Oh, iya Allenz apa besok kau ada kegiatan?" Tanya Ford.
"Tidak, sama sekali, ada apa?"
"Bagaimana kalau kau adu tanding denganku, aku ingin tau seberapa hebat dirimu, tidak masalah jika kau baru bisa beberapa jenis sihir saja, tapi aku hanya ingin melihat cara kau bertarung menggunakan pedang." Ucap Ford mengajak Allenz esok hari untuk melihat seberapa pontensi Allenz dalam menggunakan senjata, dia ingin melihat kekuatan Allenz, meski Allenz bisa meningkatkan kemampuan bertarung dimasa depan.
Selesai makan, Teresa dan seorang maid pribadinya berjalan di lorong rumah, mereka menuju perpustakaan mansion, karena kadang Teresa sering menyempatkan diri untuk membaca buku untuk masuk akademi nanti, meski butuh empat tahun lagi, namun dia memiliki mimpi untuk meraih posisi teratas di ujian masuk.
__ADS_1
"Nona, apa nona tidak masalah mengabaikan tunangan anda?" Tanya sang maid ditengah kesunyian malam.
Teresa sontak terdiam, dan berhenti didepan pintu perpustakaan, maid itu seakan telah berbicara lancang, "ah, ma-maaf saya tidak bermaksud untuk–"
"Yia, apa menurutmu dia adalah pria yang baik?"
Pertanyaan itu sontak membuat Yia sang maid terdiam sejenak, dia tidak menduga sang nona akan menanyakan kembali sebuah pertanyaan. "Eh? Ah? Um... Bagaimana ya... Menurut saya di orang yang ramah, dan mau belajar mandiri."
Teresa terkekeh kecil, lalu menjawab pertanyaannya sendiri, "semua orang seperti itu, mereka awalnya akan berkata manis lebih dahulu, namun saat kita jatuh mereka akan menunjukkan diri mereka yang sesungguhnya, ingat itu Yia," ucap Teresa. "Dan kau tau alasan aku tidak menerimanya disini?"
"Kenapa?" Tanya Yia sambil memiringkan kepalanya.
"Itu untuk melindungi adiknya, jadi aku hanya dijadikan tameng perlindungan untuk adik dari tunangan ku, menjijikkan bukan? Bahkan orang tua ku malah menyetujui perjodohan bodoh ini, aku berharap perjodohan ini bisa dibatalkan jika aku bisa." Ucap Teresa yang mulai terdengar tertekan akibat perjodohan bodoh ini, dirinya seperti dipermainkan setiap saat.
Sang maid yang menyadari bahwa mood majikannya sedang buruk, dia langsung menyarankan untuk membaca buku seperti tujuan awal mereka mendatangi perpustakaan mansion.
Saat menarik pintu, terlihat rak besar berisi buku-buku, banyak sekali, hampir ada ribuan buku, karena malam hari, membuat perpustakaan terlihat gelap, dengan hanya diterangi sejumlah lilin gantung disetiap dinding dan pilar pondasi perpustakaan. Juga cahaya rembulan yang menembus kaca perpustakaan dari luar, untuk menambah penerangan pada malam hari.
”Jadi nona akan belajar apa hari ini?"
"Perang antara manusia dengan iblis, juga tentang sihir kuno."
"Baik, biar saya ambilkan beberapa buku tentang hal itu." Yia pergi meninggalkan Teresa didekat pintu, Teresa kemudian duduk disebuah kursi dan tangannya menyangga kepalanya dimeja.
Yia yang mencari buku itu, dengan membawa lentera yang dia bawakan sebelumnya, bergumam menyebut nama buku sambil mencari buku yang majikannya inginkan, sambil menunjuk dengan jari.
Menemukan buku yang dicari, Yia kemudian berinisiatif mengambil tangga perpustakaan, tangga yang digunakan untuk mengambil buku yang dirak teratas.
"Oh, tangga perpustakaan? Aku melihatnya disebelah sana." Ucap orang itu sambil menunjuk pada sebuah sudut ruangan, dan di dinding sudut ada tangga perpustakaan yang disandarkan.
"Terima ka–" Yia terdiam sejenak, ada orang lain selain dirinya dan nona muda? Lalu siapa? Hal itu membuat Yia menjerit karena dia baru sadar bahwa ada orang lain selain mereka. "Kyyaaaaa!!!"
Teriak Yia sukses membuat Teresa mendatanginya, Teresa menemukan Yia yang berlutut ketakutan dilantai dengan dua buku berserakan.
"Ada apa ini?! Apa yang kau lakukan sialan?! Kau ingin mengambil keuntungan dari Yia, hah?!" Teriak Teresa pada orang yang tengah membaca sebelumnya, yang merupakan Allenz yang dari awal sudah berada disana sejak awal sambil menikmati sejumlah apel disana.
"Huh?! Kau menuduhku? Hei?! kenapa setiap wanita selalu berpikir yang tidak-tidak pada laki-laki?!" Ketus Allenz yang kemudian menutup buku yang dia baca. "Lagi pula, sejak awal aku hanya membaca, dan tiba-tiba maid mu itu menjerit sendiri, mungkin dia melihat hantu perpustakaan?"
Teresa langsung merinding mendengar ucapan Allenz, dikarenakan Teresa cukup takut akan hal yang menyangkut hantu.
"Bagaimana kau ada disini?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Sudah jelas aku mau baca buku! Apa lagi? Kau pikir kegunaan perpustakaan itu apa?!" Allenz cukup muak dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya, yang seakan dirinya disalahkan disini.
"Sudahlah, kau memang sejak awal memiliki karakter yang buruk, ya?" Sindir Teresa pada Allenz yang membentaknya.
"Huh? Kau pikir siapa yang lebih dulu menunjukkan sifat buruknya? Saat aku pertama kali datang, kau seperti tidak menyambut ku dengan baik, dan sekarang kau menyalahkan ku? Kau sepertinya butuh cermin, nona." Balas Allenz dengan menyindir kembali ucapan Teresa.
Ucapan itu membuat Teresa tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalas ucapan Allenz. Dia hanya bisa mengelak kembali dengan bahasan awal mereka. "Kau... Lalu kenapa kau menakuti, Yia?!"
"Heh! Sepertinya nona Teresa tidak dapat membalas ucapan ku, sampai-sampai mengalihkan pembicaraan, huhuhu~ menyedihkan."
Tanggapan itu membuat Teresa muak, dari semua orang yang diajak bertunangan dengannya, hanya Allenz satu-satunya orang yang berani membalas sindirannya, biasanya orang-orang sebelumnya hanya menyembunyikannya dengan tertawa halus atau seakan tertarik sifat marah dirinya, yang dibilang lucu, padahal dirinya ingin membuat orang-orang itu mengeluarkan sifat asli mereka yang cuma menggunakan topeng berwajah ramah, kenyataannya tidak mereka itu busuk didalam.
__ADS_1
Teresa yang naik pitam, langsung mendekati meja Allenz, dan menampar anak laki-laki itu, seorang yang seumuran dengannya. Lalu menarik baju Allenz sambil memberikan wajah marah dengan muka yang sudah memerah.
Allenz cukup terkejut Teresa akan menamparnya, tak lama mata Teresa berkaca-kaca, dirinya yang menyadari dirinya mulai mengeluarkan air mata, kemudian menundukkan kepalanya kebawah dan berharap Allenz tidak melihat dirinya itu.
"Seandainya... Aku tidak pernah dijodohkan sama sekali, mungkin aku tidak akan seperti ini, aku benci sebuah kebohongan yang disembunyikan dibalik ekspresi wajah setiap orang, aku benci, aku benci, AKU BENCI ITUU!!!" Ucapnya sambil tersedu-sedu, dia meluapkan emosinya selama ini.
Dirinya awalnya hanya seorang gadis kecil biasa, polos, dan tidak mengetahui apa itu perjodohan, namun dia tau apa itu cinta. Saat ibunya mengajar apa itu perjodohan, yang ibunya katakan adalah 'perjodohan itu adalah saat dirimu dikenalkan dengan seseorang yang tidak kau tau, namun hal itu untuk membangun hubungan antara kalian, atas dasar cinta' namun, semuanya itu kebohongan, mereka hanya ingin kedudukan yang dimiliki oleh mereka Bartfold, atau hanya memandang dirinya sebagai gadis muda yang cantik dan akan memiliki tubuh yang menggoda saat besar nanti, karena hal itulah membuatnya membenci semua pria, kecuali orang-orang dirumahnya.
Dia sudah cukup banyak membuat para tunangannya sebelumnya mengundurkan diri, meski Teresa masih berusia 13 tahun, namun berkat bantuan para pelayannya dia bisa membuat orang-orang bodoh itu mundur dari perjodohan ini, hingga ada seseorang yang tetap merasa perjodohan mereka masih berlanjut, dia seorang Viscount terus mendesaknya untuk melanjutkan perjodohan itu, jelas-jelas dia sudah menolaknya, bahkan keluarganya juga ikut menolak hal itu.
Hal ini dikarenakan Teresa memiliki pengalaman buruk dengan putra Viscount itu, bahkan kasus itu sampai masuk ranah pengadilan kota Nevelheim. Dan hal ini tentu saja dimenangkan oleh keluarga Bartfold, dan pihak pengadilan kota mengancam keras pada keluarga Viscount itu.
Melihat majikannya menangis, Yia ingin membawanya kembali ke kamarnya, namun Allenz memperhatikan dengan baik dari sifat Teresa sebelumnya, dia seperti tertekan akibat perjodohan itu, bahkan sampai dirinya berteriak seperti itu, Allenz menduga Teresa terpaksa akan hal itu, gadis ini nampaknya tidak ingin membantah perkataan orang tuanya sendiri, yang malah itu membuat dirinya sendiri harus tidak pernah membantah.
Allenz kemudian melepaskan tangan Teresa dari bajunya yang ditarik sebelumnya, setelah terlepas Teresa terduduk dilantai dirinya menangis sejadi-jadinya, dia benar-benar tertekan akibat dirinya yang tidak jujur pada dirinya sendiri, dia terus menahan kemauannya sendiri, itu membuatnya seperti terpenjara tak berpintu yang mana hanya yang terkurung lah yang bisa membukanya sendiri kurungan itu.
Allenz kemudian berjalan mendekati Teresa yang terduduk, lalu memeluk gadis itu, dirinya tau hal itu akan membuat gadis itu membencinya, semakin benci? Namun Allenz tidak peduli akan hal itu, orang tuanya seperti tidak mengetahui apa yang selama ini dilakukan putri sulung mereka, dia ingin melindungi keluarga Bartfold, keluarganya sendiri, namun harus mengorbankan kejujurannya sendiri dan berakibat dia tidak pernah jujur dan selalu melakukannya sendiri, dia tidak memiliki sandaran apapun, dia hanya berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Tenanglah..." Ucap pelan Allenz, gadis itu terus menangis dipeluknya, Allenz seperti cukup menyadari sesuatu, gadis ini nampaknya tidak menyukai perjodohan ini sejak awal, dan itu membuat pertanyaan besar bagi Allenz, mungkin setelah ini dia akan bertanya pada pelayan disini, atau mungkin pada Yia nanti.
Teresa kemudian dibawa kembali ke kamarnya setelah dia tertidur ditengah tangisnya, dikamar Teresa, Yia membaringkan tubuh Teresa yang terlelap, lalu melepaskan kacamata gadis itu.
Setelah keluar dari kamar, Yia melihat Allenz yang bersandar pada dinding, lalu mendekati Yia yang baru saja keluar. "Tolong jelaskan kenapa dia tidak menyukai perjodohan ini sejak awal?"
Yia terkejut dengan pertanyaan itu, Allenz seperti benar-benar ingin tau lebih lanjut tentang hal ini, "tapi mungkin anda tidak mengerti."
"Jelaskan saja secara sederhana, mungkin aku akan mempertimbangkan perjodohan ini lagi."
Yia kemudian mengajak Allenz ketempat lain, dia membawa ke ruang tamu, lalu menjelaskan bagaimana perjuangan nona kecilnya itu berusaha melindungi keluarga ini dari perjodohan itu, dia juga bahkan pernah mengeluh, apakah orang tuanya tidak memiliki pekerjaan lain selain menjodohkan anak mereka? Namun Teresa lebih memendamnya didalam hatinya. Hingga sekarang tidak kunjung dia ucapkan pada orang tuanya.
Dugaan Allenz cukup benar, dirinya merasa aneh, Teresa seperti tidak menyetujui perjodohan ini sejak awal, karena pasti ada faktor awal yang membuat Teresa seperti itu.
Esok harinya, Teresa yang tengah tertidur, membuka matanya secara perlahan, lalu mengambil posisi duduk dipinggir kasur. Dirinya terkejut dengan pakaiannya yang dia kenakan, dia belum berganti baju sejak malam kemarin, dia tidak menggunakan pakaian tidur biasanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan dari luar, "Ford!! Ford!! Aku ingin berbicara!!" Suara pria itu membuat Teresa terdiam, lalu dengan cepat melihat jendela untuk melihat orang yang datang, dalam hatinya dia berharap bukan orang itu. Dia terus berdoa akan hal itu, namun Dewi tidak mendengar doanya. Mimpi buruknya datang kembali.
Beberapa orang berdiri didepan gerbang mansion keluarga Bartfold, ada sekitar tujuh orang dengan satu kereta kuda mewah yang terlalu kontras untuk dilihat, semua orang mungkin berpendapat bahwa hiasan kereta itu terlalu banyak dan seperti pemborosan pada kereta kuda.
Ford dan Tiara keluar dari mansion, Ford juga sudah memasang muka tidak senang dengan kunjungan orang bodoh itu, "untuk apa kau kembali?! Bukankah sudah dikatakan bahwa kau tidak akan kembali kesini? Bahkan hakim sudah memberimu sanksi tegas!" Ucap Ford dengan nada marah.
Namun, tidak lama kemudian satu orang disana maju, dia seorang pria seperti berusia 20 tahun lebih, dengan rambut yang dirapihkan, poni dibelah tengah, dan tak lupa baju yang terlalu mewah. "Aduh... Bapak mertua kenapa anda tidak menyambut kami dengan ramah seperti biasanya?" Ucap pria itu dengan nada ramah.
"Hah?! Sejak kapan aku jadi mertuamu? Menjijikkan?!"
Didalam mansion Teresa seperti penuh ketakutan, tangannya gemetar, keringat dingin mengucur deras, dia tidak ingin mengingat kembali masa lalu buruknya. Allenz yang menghampiri mereka, Teresa dan adiknya yang tengah mengintip dari jendela, "siapa mereka?"
Teresa memutar tubuhnya dengan rasa takut, Allenz menyadari hal itu, nampaknya ini cukup serius.
"O-orang yang berbicara dengan ayahku, d-dia... adalah tunangan ku sebelumnya, Borath Foss Gothan." Jawab Teresa dengan rasa takut.
Allenz kemudian menatap serius pada orang yang berbicara pada Ford, dia mengetahui orang ini setelah Yia memberitahunya semalam, namun yang Allenz terkejut adalah perawakannya yang sudah cukup jauh dari Teresa..
"O-orang ini... seorang pedofil?!" Ucap Allenz dengan Alans bersama.
__ADS_1