After World Breaker

After World Breaker
Chapter 2: Allenz dan Nayaka


__ADS_3

Setelah penemuan bayi itu, Anya dan Arthur mengadopsi anak itu, dia seorang anak laki-laki bernama Allenz Wellerd, yang mana nama Wellerd adalah nama keluarga Anya, dua bulan setelahnya bayi pertama keluarga itu lahir, dia seorang anak perempuan, dia diberi nama Nayaka Vonna Hearterra, dengan menggunakan nama keluarga ayahnya yang anggota kerajaan, dan juga resminya Arthur pensiun dari komandan utama kerajaan.


Kedua anak itu tumbuh bersama dengan hanya selisih dua bulan, namun mereka seperti kakak adik yang rukun. Allenz juga belajar tentang bahasa dunia ini yang diberi nama Worage, Allenz sempat berpikir nama itu seperti singkat dari "World Language?" Dan bahasa ini digunakan oleh seluruh ras. Tapi dia tidak permasalahkan itu, kalender pada jaman ini menggunakan era, dan era saat ini adalah era batu, setiap era akan berubah jika ada perubahan dampak besar bagi dunia, contoh perkembangan teknologi, dan lainnya, yang sebelumnya era batu, kini adalah era kayu.


Lalu, Allenz dan Nayaka juga belajar tentang peta dari wilayah manusia, yang terdiri dari empat kerajaan, yaitu Hearterra, Diamondnia, Spadeforia, dan Clubnesia. Ada jika keempat kerajaan ini melakukan aliansi, melawan iblis, mereka diberi nama, "Ace Alliance", dimana Hearterra berlambang hati dengan mahkota; Diamondnia berlambang pedang menyilang dengan berlian/wajik di tengah; Spadeforia berlambang singa yang memegang sekop/waru; dan yang terakhir Clubnesia berlambang perisai dengan keriting ditengahnya.


(merasa familiar dengan nama kerajaannya?)


Belajar dari orang tua mereka, keduanya tumbuh akrab, dan setelah berumur enam tahun, mereka mulai diajarkan sihir oleh kedua orang tua mereka, dan dibimbing oleh maid mereka, Torronia Francesca, atau yang biasa dikenal Nia. Dia membimbing mereka cukup tegas, yang menyebabkan kedua anak itu sedikit menjauhi dirinya, namun Nia tidak bermaksud begitu.


Diumur sepuluh tahun, mereka dimulai diajarkan menggunakan senjata, dimana mereka disuruh memilih senjata mereka dan Nayaka memilih panah dan pedang, sementara Allenz memilih pedang saja.


Kini mereka diajarkan oleh kedua orang tua mereka sendiri, panah diajar oleh Anya, sedangkan pedang diajarkan oleh Arthur. Belajar selama dua tahun menggunakan senjata membuat mereka mahir dalam bidangnya, sedangkan Allenz terkadang diam-diam belajar sendiri ditengah hutan untuk meningkatan sihirnya dan belajar menggunakan belati.


Terkadang juga Arthur, Nia, dan Anya menemukan Allenz dengan sikap yang berbeda dari biasanya, seperti terlihat orang lain dan bukan Allenz. Mereka mengira itu sihir orang lain yang tengah berencana sesuatu pada putra mereka, namun mereka tidak menemukan siapa orang itu. Hal ini terjadi karena saat Allenz berpindah pada tubuh New Human ini, dia tidak menyadari bahwa jiwanya terbelah dua, dan membuat kesadaran lain atau kepribadian lain bernama Alans, Alans memiliki sifat pendiam, namun peduli, tapi terkadang terlihat menyeramkan karena suka menatap orang lain dengan tatapan sinis tanpa alasan yang jelas. Alans juga tidak akan keluar jika tidak menyangkut hal yang berkaitan dengan kekerasan. Hal ini dirahasiakan oleh Allenz dari keluarganya sendiri.


"Ayo, kak!" Ajak Nayaka.


"Sebentar." Jawab Allenz.


Nayaka nampak semangat untuk mengajak Allenz keluar rumah.


Anya yang melihat Nayaka hendak keluar sambil menarik lengan Allenz, langsung dengan cepat menghentikan mereka. "Mau kemana kalian?!"


Mendengar sang ibu menghentikan mereka, Nayaka berhenti sebentar, lalu melihat ibunya yang memasang wajah marah kepada mereka. "Wleee..."


Anya menaikkan alisnya saat Nayaka malah menjulurkan lidahnya, dan menarik Allenz pergi keluar pagar rumah. "Nayaka!"


"Hahahaha, ayo kita kabur, kak!" Ucap Nayaka berlari menjauh dari rumah dan disusul dengan Allenz yang mau tidak mau mengikuti kemana adiknya pergi.


Menghembuskan nafas panjang, Anya langsung memanggil Nia. "Nia."


Tak berselang Nia muncul bagai angin. "Ya, nyonya."


"Tolong kejar mereka, dan awasi mereka dari hal yang membahayakan diri mereka." Perintah Anya.


"Baik." Dengan merapal mantra, Nia menghilang kembali dengan udara.


Nayaka yang nampak seperti anak bebas, berlari ria dengan gembira. Wajahnya seperti berhasil lepas dari hal berat. "Kakak, ayo kita pergi ke tempat kak Hanna."


Mendengar nama Hanna, Allenz terkejut mendengarnya. "Tunggu?! Itu 'kan cukup jauh dari sini?!"


"Hehehe... Apa kakak takut?" Ucap Nayaka dengan tersenyum remeh.


Merasa diremehkan, Allenz menyahut. "Cih, mana sudi aku diremehkan anak bocah!!" Dengan cepat Allenz berlari, dan mulai mendahului Nayaka.


Terkejut kakaknya mulai mendahului dirinya, Nayaka mulai panik dan menarik lengan baju Allenz, alhasil membuat dirinya terjatuh.


Allenz pada akhirnya malah menggendong Nayaka yang terluka pada lutut gadis itu. Meski sudah di sembuhkan dengan sihir penyembuh, tapi luka itu belum pulih sepenuhnya. Allenz belum bisa sihir penyembuhan.


Berjalan sambil menggendong Nayaka yang terluka, Allenz hanya manatap ke depan dan memperhatikan langkahnya.


Nayaka yang di gendong oleh Allenz membuka suara. "Kak, apa aku berat?"


"Tidak."


Mendengar jawaban Allenz, Nayaka terdiam. "Apa... Apa aku merepotkan kakak?"


"Tidak."


"Begitu..."


"Tenang, sedikit lagi kita akan sampai."


Sedikit jauh dari mereka, terlihat padang yang cukup luas, rumput hijau luas yang terbentang. Adanya kawanan domba yang tengah asik memakan rumput disana. Tak hanya domba, kambing dan sapi ada disana bersama dengan pengawas dan gembalanya.


Berjalan kesana, mereka menemukan seseorang yang tengah duduk pada kayu besar dan tengah mengawasi domba-domba dari sana. Dia seorang gadis yang berusia 19 tahun, dengan rambut kuning keemasan yang nampak indah saat angin menerpa rambutnya.


Melihat kedatangan Allenz dan Nayaka, gadis itu menyambut mereka. "Selamat siang." Sapanya.

__ADS_1


"Siang." Balas Allenz.


Melihat Nayaka yang di gendong di punggung Allenz. Hanna bertanya pada Allenz kenapa dia menggendong Nayaka. "Al, kenapa kau menggendong Nayaka?"


Mendengar peetanyaan itu, Allenz menjawab. "Lutut Nayaka terluka akibat terjatuh saat di perjalanan kemari."


"Astaga, kemari, aku akan menyembuhkannya."


Allenz mengikuti perintah itu, dan menurunkan Nayaka di dekat Hanna.


"Sini, aku akan menyembuhkanmu. "Mendekati Nayaka yang didudukan pada kayu besar dengannya. Hanna melihat luka pada lutut Nayaka, dan merapal mantra. "Kekuatan suci seperti air jernih, biar alam membantumu, kau 'ku lindungi. Heal." Cahaya berkumpul pada tangan kanan Hanna dan cahaya itu di dekatkan pada lutut Nayaka, dan luka itu mulai pulih secara perlahan.


"Terima kasih, kak Hanna!" Ucap Nayaka.


"Sama-sama." Balas Hanna dengan tersenyum. "Ngoimong-ngomong, kalian tidak kabur lagi dari ibu kalian, 'kan?"


Allenz dan Nayaka langsung membisu saat mendengar pertanyaan itu.


Menepuk jidatnya, Hanna memutuskan mengajak berkeliling mereka sambil melihat suasana sekitar. Mengandeng tangan mungil Nayaka, melihat bagaimana para gembala menjaga kawanan ternak mereka, tak membiarkan satu pun kawanan terpisah dari yang lain.


Disana juga ada beberapa prajurit yang mengawasi para gembala disana. Melihat hal yang cukup aneh itu, Nayaka bertanya pada Hanna. "Kak, kenapa disini banyak prajurit?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Hanna menjawab. "Aku dengar ada suatu hal yang kadang menyerang ternak saat malam hari, dan itu berasal di sini. Itulah mengapa kini cukup banyak prajurit yang berpatroli."


"Apa itu monster?" Tebak Allenz.


Mendengar tebakan Allenz, Hanna menyangkal hal itu, sangat tidak mungkin adanya monster yang masuk kedalam kota.


Merasa janggal, Allenz berlari dan mencoba bertanya pada seorang prajurit disana. "Paman, apakah disini ada monster?"


Mendengar seseorang anak kecil datang dan bertanya hal yang cukup mengejutkannya, sang prajurit awalnya cukup kaget dengan kedatangan Allenz.


"Ada apa, nak? Monster? Aku tidak tau, tapi menurut penyelidikan itu bisa saja mungkin, karena banyak lubang yang muncul pada malam hari, dan membuat semua orang kerepotan akibat kemunculan lubang-lubang itu. Jadi aku sarankan kau jangan berada disini." Jelas sang prajurit.


Hanna yang kini berhasil mencapai Allenz, dia dengan cepat meminta maaf pada prajurit itu akibat tingkah bodoh dari si bocah tersebut. Lalu, menarik telinga Allenz untuk menjauh dari sana.


"Kau cukup sampai disitu." Ucap Nia dengan dingin sambil menatap Hanna.


"Kak Nia?!"


Hanna yang merasa tangannya digenggam terlalu kuat, dia meminta Nia untuk melepaskannya. "Lepaskan.'


"Lepaskan? Aku tanya padamu, kenapa kau menarik telinganya?" Tanya Nia dengan serius.


Hanna yang merasa tangannya mulai sakit, dirinya hanya bisa menjelaskan apa yang terjadi. Allenz hendak bertanya soal isu monster yang kadang muncul ditempat ini, dan menurutnya hal itu seharusnya jangan dipertanyakan.


Mendengar jawaban Hanna, Nia melepaskan tangan wanita itu. Lalu mendekati Allenz dan malah menampar Allenz, akibat bertanya soal monster tersebut, hal itu membuat Hanna dan Nayaka terkejut.


"Kau seharusnya tidak perlu bertanya soal monster itu, itu bukan hal yang seharusnya kau pertanyakan." Ucap Nia dengan wajah datar.


Terdiam sambil memegang pipinya yang sakit. Allenz membalas ucapan Nia. "Lalu, jika soal monster itu benar, apa kita akan diam saja?" Ucapnya dengan menatap Nia dengan wajah kesal.


Mendengar ucapan Allenz, Nia langsung menampar sisi lain wajah bocah itu, dan menjawab hal yang sama. "Itu bukan urusanmu, biarkan saja para prajurit yang menangani hal itu."


Disisi lain, Nayaka dan Hanna memilih diam melihat konflik yang tengah terjadi didepan mereka, dan memutuskan untuk tidak ikut campur.


Arthur yang juga kebetulan lewat situ, setelah kembali dari pekerjaannya menebang pepohon di luar kota, dia juga sudah tau soal desas-desus monster yang kadang muncul di wilayah area padang rumput ternak penduduk, hal ini menjadi perbincangan bagi orang-orang yang biasa melakukan aktifitas di tempat ini, seperti para penjual yang lewat dan para gembala yang menjaga ternak mereka disana.


Melewati tempat itu, Arthur kebetulan melihat kedua anaknya yang tengah bersama Nia dan Hanna.


"Semuanya, aku akan turun disini." Ucap Arthur yang turun dari wagon pembawa kayu-kayu dari hutan.


"Baik, bos." Sang kusir menghentikan wagon itu, membiarkan Arthur turun disana, lalu berlanjut pergi.


Arthur dengan berlari kecil, Arthur menghampiri keempat orang itu. "Kenapa kalian disini?"


Nayaka dan Hanna kebingungan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski mereka bisa menjawab dengan mudah. Tapi yang datang adalah Arthur, mereka takut jika menjawab, masalah itu akan bertambah buruk.


"Nia ada apa ini?" Tanya Arthur pada Nia.

__ADS_1


"Allenz hendak mencampuri masalah soal isu monster di tempat ini." Jawab Nia.


Arthur terdiam soal permasalahan mereka. Arthur kemudian menjelaskan soal desas-desus itu. "Kau ingin menjadi seorang pahlawan?"


"Iya, ten~ Tidak, untuk apa?! Aku bukan sok jadi pahlawan, ayah! Maksudku, setidaknya kita melakukan sesuatu pada monster yang mungkin saja benar adanya." Balas Allenz dengan nada yang sedikit ditinggikan.


Menghembuskan nafas panjang, Arthur membalas. "Aku tau, kau sepertinya khawatir dan peduli pada tempat ini, tapi tidak perlu sampai berlebihan akan hal itu, sudah ada pihak yang menangani hal tersebut. Lagipula kita masih tidak tau ini betul ulah monster atau bukan."


Allenz menjadi diam dan nampak seperti mengerutu. Arthur juga sadar sikap anaknya itu, dia pun memutuskan untuk mengajaknya pergi ke tempat lain. "Sudahlah, ayah tau soal kekhawatiranmu itu. Tapi, setidaknya kau tau tolak ukur antara dirimu dan masalah tempat ini." Ucap Arthur sambil mengacak-acak rambut putranya tersebut. "Baiklah, sebaiknya kita kembali, dan bertemu dengan ibu kalian, nampaknya kalian kabur lagi, iya 'kan, Nayaka?"


"Eh? Ah! Eh? I-iya..." Jawab Nayaka terbata.


Tersenyum dengan jawaban putrinya, Arthur kemudian menggendong Allenz pada pundaknya.


"Kalau begitu, kami permisi, Hanna."


"Iya, Tuan Besar." Sahut Hanna.


"Pada akhirnya kita tidak bermain disana, huh." Ujar Nayaka yang nada kecewa.


"Hahaha, setidaknya kalian menjauh dari tem~" Belum selesai dengan ucapannya, suara keras terdengar dari tempat padang ternak sebelumnya. "Suara apa itu?!" Merasa suatu hal buruk terjadi, Arthur menurunkan Allenz, dan meminta Nia untuk membawa Allenz dan Nayaka pulang. "Nia, bawa anak-anak pergi dari sini!"


Banyak orang dan pranjurit yang mulai mendatangi tempat itu sebelumnya. Bahkan beberapa pekerja disana berlari menjauh, termasuk Hanna, nampak dari wajahnya seperti sangat ketakutan.


Arthur lantas bertanya pada gadis itu, apa yang terjadi di tempat itu.


Dengan ketakutan, Hanna menjawab. "Sejumlah monster keluar dari tanah, dan mulai mengincar ternak yang ada disana. B-bahkan ada monster seperti cacing yang cukup besar."


Mendengar itu, Arthur buru-buru kembali ke tempat itu. Bersama dengan beberapa prajurit untuk menangani sejumlah monster yang muncul di dalam kota.


"Seseorang beri aku senjata!" Teriak Arthur.


Allenz yang melihat itu, memutuskan untuk melihat kondisi disana. Adanya banyak monster yang keluar dari tanah, dari tempat lubang-lubang yang sebelumnya ditutup. Dia dengan cepat melepaskan genggaman tangan Nia,membiarkannya pergi, sementara Nia, Nayaka dan Hanna menjadi panik saat Allenz malah pergi ke tempat berbahaya itu.


Merasa kondisi cukup gawat, dan tanpa pikir panjang. Hanna memutuskan untuk mengejar Allenz.


"Hanna!!" Teriak Nia, dirinya dibuat pusing dengan harus menjaga Nayaka atau mengejar mereka, dan memutuskan untuk membawa gadis itu kembali ke rumah.


"Jauhkan semua orang dari sini!"


"Panggil para bangsawan dan prajurit kesini!"


Banyak orang berlarian menjauh, terbalik dengan mereka, Allenz malah pergi ke tempat berbahaya bagi dirinya sekarang. Hanna yang mencoba mengejar Allenz tidak mampu mengejar bocah bersurai abu-abu itu.


"Apa yang kau lalukan?! Pergi dari sini! Disini berbahaya!" Cegah seorang prajurit pada Hanna.


"Tapi, disana masih ada anak kecil!!" Teriak Hanna sambil menunjuk pada Allenz. Prajurit itu melihat Allenz yang ditunjuk oleh Hanna. Keduanya pun mencoba menghentikan aksi Allenz yang mencoba melihat kekacauan itu.


Allenz dari sela-sela keramaian, dia sedikit melihat konflik para prajurit dengan kawanan monster itu, dimana para monster dapat melukai para prajurit dengan mudah, bahkan sampai membunuh mereka dengan mengerikan.


Hanna dan prajurit itu lantas membawa Allenz dari sana, Hanna dengan cepat mengendong Allenz yang masih terpaku melihat konflik itu.


Sesampainya di rumah, Anya nampak khawatir saat mendengar adanya monster yang muncul di dalam kota. Apalagi di tempat padang ternak, tempat biasa kedua anaknya bermain disana.


Hingga kedua anaknya kembali dan dibawa oleh Nia dan Hanna.


Anya langsung menghampiri mereka. Dan bersyukur kedua anaknya dapat kembali dengan selamat. Nia juga menjelaskan bahwa Arthur ikut dalam konflik disana, hal ini malah tetap membuat Anya khawatir. Meski kedua anaknya kembali dengan selamat. Tapi, suaminya masih berada disana dan melawan sejumlah monster yang mungkin saja hal itu tidak mampu ditangani dengan baik.


Hanya bisa menunggu didalam rumah. Hingga butuh waktu tiga jam lamanya konflik itu selesai. Semua orang bisa kembali beraktifitas. Meski ada yang memutuskan untuk melihat tempat konflik terjadi.


Semuanya pergi kesana, untuk melihat bagaimana keadaan tempat itu. Berharap Arthur masih baik-baik saja.


Sesampainya disana, banyak kerusakan, dan sebagian besar tanah sudah tidak layak dijadikan tempat ternak untuk makan. Ditambah adanya mayat monster dan manusia yang ditutup dengan kain untuk sementara waktu.


Dari sela-sela kerumunan, Arthur keluar dan langsung di sambut Anya dengan tangisan. Anya merasa hampir kehilangan suaminya pada konflik ini. Hal ini diduga dari para monster yang hendak mencari makanan, hingga membuat jalur bawah tanah hingga tembus padang ternak dan akan aktif pada malam hari.


Lalu, kemunculan monster pada siang itu juga masih diselidiki, dan lubang-lubang disana semuanya ditutup, bahkan sisi lain lubang yang berada di luar kota, tepatnya didalam hutan.


Allenz terdiam melihat mayat dari beberapa prajurit, Nayaka hanya bisa menutup matanya dan memeluk erat kaki Nia. Untuk pertama kalinya dia melihat hal mengerikan seperti ini setelah keluar dari tabung.

__ADS_1


__ADS_2