After World Breaker

After World Breaker
Chapter 42: Isla, Rose, dan kebohongan lain Zen


__ADS_3

Di tengah lapangan luar, beberapa kelas tengah berkumpul, semuanya adalah kelas satu. Yang berarti anak-anak yang baru bergabung pada tahun ini, termasuk kelas Allenz. Mereka hendak di adu dalam sebuah bertempur dan dalam pengendalian sihir. Awalnya para guru datang ke setiap kelas dan bertanya ada murid yang akan ikut dalam kelas ini, dimana murid-murid yang ikut akan diuji dalam cara bertarung mereka.


Beberapa ada yang memiliki dua sampai tiga jenis sihir yang bisa dia gunakan, bahkan tingkat dari mereka ada yang sampai empat sampai tujuh, itu sebuah tingkatan yang cukup hebat bagi seorang siswa. tentu, sebagian dari mereka adalah anak-anak berprestasi atau dari kalangan bangsawan yang memang mendalami sebuah sihir atau teknik bersenjata. Zen dan Rose ikut menyaksikan, Rose ikut dengan Zen yang mana pria itu ingin melihat Allenz bertarung.


Beberapa murid yang tidak ikut hanya menjadi penonton, dan membantu para guru dalam beberapa hal kecil. Allenz, Teresa dan Isla ikut dalam kelas ini. Teresa dan Isla lebih dulu bertarung dengan murid dari kelas lain, dan tentu mereka menang. Meski ada kesulitan bagi Isla saat melawan lawannya.


Teresa tentu yang ikut dan berhasil menang, dia lantas datang pada Allenz dan mencoba mendapat pujian dari Allenz. Tentu, Allenz sadar, dia tau Teresa ingin di manja oleh dirinya. Dia mengelus kepala gadis itu, dan itu membuat Teresa senang.


Nayaka yang menonton bertanya pada Hans. "Kau tidak ikut?"


Menyadari dia ditanya, Hans menjawab. "Tidak perlu, lagi pula aku lebih penasaran dengan sihir Allenz. Sihirnya sudah sejauh apa, ya?"


Nayaka berkata. "Sejauh yang aku tau, dia saat ini berfokus pada sihir api, dan baru mencapai tingkat dua."


Hans terkejut dengan ucapan Nayaka, tingkat dua dia bilang? Hans bertanya lagi, dia tidak percaya akan hal itu, orang sehebat Allenz seharusnya memiliki sekitar tiga tau empat sihir yang dikuasai. Namun, Nayaka tetap menjawab seperti sebelumnya, tapi dia lupa tingkat sihir angin milik Allenz yang difokuskan oleh anak itu. Karena dia tau, Allenz dulu memang fokus hanya pada satu sihir.


Hingga sampai bagian Allenz tiba, dia di perintahkan oleh guru disana untuk masuk ke tengah-tengah bersama seorang lain dari kelas lain. Seorang pemuda lain, dia memiliki perawakan yang ramah, dan bersemangat. Allenz merasa tidak enak melawan anak itu, anak itu menunjuk pada Allenz untuk tidak menahan diri, Allenz hanya memperhatikan sang guru sambil membawa papan selancarnya.


Guru yang ditengah arena menyebutkan nama dan kemampuan sihir anak-anal yang maju ke tengah arena. "Louis Gózdsky, pengguna tiga sihir. Sihir api tingkat empat, sihir es tingkat tiga, dan sihir tanah tingkat empat." Jelas sang guru, dia melanjutkan pada Allenz. "Allenz Wellerd, pengguna dua sihir. Sihir api tingkat dua~" Sang guru belum selesai bicara, para murid lain lantas menertawakan tingkat sihir Allenz. Mereka menertawakan dirinya karena tingkat sihirnya yang rendah, seharusnya tingkat seperti itu tidak perlu ikut dalam kelas ini. Sampai guru yang menenenagkan mereka dan melanjutkan ucapannya. "Dan sihir angin tingkat tiga belas."


Mendengar angka tiga belas membuat mereka terdiam, mereka yang sebelumnya tertawa menjadi tidak percaya dan malah ada yang menanyakan keaslian tingkat sihir milik Allenz. Sang guru menjawab bahwa memang dia sudah setingkat itu, dan menjelaskan kenapa sihir satunya tidaklah tinggi. Sang guru menjelaskan bahwa Allenz lebih melatih satu sihir satu per satu, tidak seperti mereka yang berlatih langsung banyak sihir.


Sang guru juga memulai pertarungan itu, Louis berkata dengan percaya diri, dia orang yang cukup adil. Dia meminta Allenz mengeluarkan potensi miliknya saat melawan anak itu. Allenz setuju saja, pada saat Louis merapal mantera, jari Allenz menunjuk ke atas, hingga angin berkumpul di kaki Louis, hingga mengangkatnya ke udara. Saking kuat sihir itu, Louis di terbangkan sangat tinggi.


Dengan cepat Allenz melempar papannya, menaiki papan itu dan menyusul Louis yang dia terbangkan, semua orang terkejut akan hal itu, terutama Allenz yang tidak menggunakan mantera sihir seperti Zen.


Di langit, Louis sangat takut, dia tidak menduga Allenz akan menerbangkannya, dirinya yang jatuh dengan cepat membuatnya sangat panik dan berteriak. Saat di ketinggian, dia melihat Allenz yang menyusulnya terbang, Allenz dengan cepat menarik punggungnya, dan menahan jatuh Louis. Dengan cara itu dia memperlambat kecepatan jatuh Louis.


Di bawah para orang-orang panik apa yang di perbuat oleh Allenz, mereka tidak akan menyangka Allenz akan menerbangkan Louis sampai ke langit. Mereka panik melihat Louis yang jatuh dari ketinggian, sampai Allenz yang terbang dan menyusul Louis di atas sana, menahan Louis yang jatuh.


Hingga sampai ke tengah arena, Allenz menurunkan Louis, dia melepaskan pegangannya di punggung baju anak itu, membiarkan Louis terjatuh begitu saja dan dalam keadaan yang sudah pingsan karena ketakutan yang mendalam. Allenz juga turun dari papannya dan menatap pada semua murid disana. "Ada yang mau aku terbangkan juga? Lumayan, selagi gratis."


Tidak ada yang menjawab, mereka takut untuk di terbang seperti Louis. Jadi, mereka lebih memilih diam, Allenz juga pergi dari sana, dia merasa sudah selesai. Jadi dia tidak punya alasan lain untuk tetap disitu.


Teman-temannya lantas ikut kemana Allenz pergi. Disisi lain, Louis dibawa untuk diperiksa keadaannya. Allenz hanya menjauh dari sana, dia hendak kembali ke kamarnya. Mengingat hari sudah sore, yang lain juga ikut kembali ke kamar masing-masing.


Isla kembali bersama Nayaka, Teresa, dan Joanna, mereka berencana untuk bermain ke kamar Teresa untuk perkumpulan gadis-gadis. Mereka membahas beberapa hal yang tidak di mengerti seputar para gadis, sementara para pria tengah pergi bersama ke kantin akademi.


Pada tempat lain, Rose tengah membereskan beberapa dokumen untuk dia bawa di ruangan guru. Tempat itu ada beberapa guru wanita lain yang sibuk juga mengurus dokumen mereka. Tak lama Ludwik datang, seperti biasa dia selalu mencoba menggoda Rose. "Nona Rose, apa anda ada waktu malam ini? Akan sangat bagus jika kita makan diluar."


Rose dengan cepat menolak, dia beralasan memiliki berkas yang belum dia selesaikan. Namun Ludwik cukup memaksa, itu membuat Rose agak terganggu. Dengan sedikit bentakan Rose menjawab. "Saya sangat minta maaf Tuan Ludwik, daripada anda mengajak saya, lebih baik anda mengajak istri anda sendiri!" Ucap Rose dengan serius. Rose juga meninggalkan Ludwik yang terdiam.


Rose pergi dengan perasaan yang cukup buruk, dia juga di kejar oleh seorang guru lain, bernama Zofia. Wanita yang lebih tua tiga tahun dari Rose dan mencoba menghibur wanita itu.


"Anda tidak apa-apa, Tuan Putri?"


Rose hanya menarik nafas panjang, dia mencoba menenangkan dirinya, ini sebenarnya bukan pertama kali dirinya di dekati oleh beberapa pria. Tapi, yang cukup membuatnya tidak nyaman adalah jika ada pria lain yang sudah menikah mendekati dirinya. Rose merasa jika dia terlalu dekat dengan pria yang memiliki status menikah akan ada rumor buruk soal dirinya yang terlalu dekat dengan pria yang sudah menikah. Itulah mengapa Rose cukup berhati-hati saat dekat dengan pria asing.


Zofia mencoba menghibur Rose, dikala situasi hati Rose yang cukup buruk. Rose hanya bisa menghembuskan nafas panjang menghadapi situasi seperti ini sering kali. Ini membuatnya benar-benar ingin mencari pasangan yang tidak mengincar kedudukannya sebagai suaminya kelak, seseorang yang tidak peduli meski dia seorang Putri sekalipun.


Dengan yang lain, Isla berpisah dengan yang lain. Setelah mereka makan malam, dia kembali ke kamarnya bersama Nayaka, Teresa dan Joanna. Keempatnya kembali ke kamar masing-masing, termasuk Isla. Masuk ke dalam kamar dia memperhatikan kamarnya yang sepi. Dia juga teringat dengan kejadian saat dirinya di culik, menghembuskan nafas panjang, dia masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu dan jendelanya.

__ADS_1


Isla kemudian menganti pakaiannya menjadi pakaian tidur, selepas memakai pakaiannya, dia membaringkan dirinya pada kasur yang empuk. Menikmati tiap sentuhan kasur pada kulitnya, dia seperti merasa ada di rumahnya sendiri. Berbaring dan hanya diam, pikiran Isla hanya hal-hal lain. Karena belum mengantuk, dia bangun dari tidurnya, lalu mengambil surat di meja dekat kasurnya. Surat dari orang tuanya, surat itu mengingatkan dirinya saat orang tuanya datang ke akademi untuk menanyakan keadaan dirinya pasca kejadian penculikan. Tawa kecil muncul saat mengingat hal itu.


Hingga Isla mendengar suara dari suatu tempat, seperti sebuah seruling. Karena begitu sunyi malam membuat dirinya mendengar samar-samar suara itu. Dia dengan perlahan membuka jendela kamarnya kembali, suara itu jauh lebih jelas saat jendela terbuka. Isla tidak tau darimana asal suara itu, dia juga tidak tau lagu apa yang tengah di lantunkan oleh musik seruling itu. Tapi yang dia tau, lagu itu membuat tenang hatinya. Lagu dari musik itu membuatnya berharap lagu itu di mainkan selama mungkin. Hingga lagu itu mulai perlahan hilang dari telinganya, menandakan lagu itu telah selesai. Pada diri Isla dia berharap bisa mendengar lagu itu kembali. Karena lagu itu telah selesai, dia menutup kembali jendela kamar miliknya dan tidur untuk esok hari.


Pada esok hari, Rose datang ke kelas dia mengajar, dan memulai pelajaran. Dengan mengajarkan mereka sejarah Hearterra, sambil memberi mereka beberapa pertanyaan soal sejarah Kerajaan ini. Selama dia mengajar di sini dia sangat menyukainya, dengan berinteraksi dengan para murid.


Tak lama, guru lain datang, dia Zofia. Kedatangannya ke sini untuk membantu Rose dalam mengajar para murid, dengan senang hati Rose menerima hal itu, mempersilahkan Zofia masuk dan membantunya dalam mengajar para murid. Memberi mereka beberapa soal untuk para murid jawab, dan memberi penjelasan pada mereka.


Para murid memperhatikan ajaran yang di berikan dari Rose, dengan seksama memahami apa yang di ajarkan wanita itu pada mereka. Mulai dari awal berdiri kerajaan ini, para raja-rajanya dan pahlawan yang pernah lahir dari tanah Hearterra. Bahkan beberapa tradisi dari tanah Warsawa ini, seperti Penenggelaman Marzanna, Pertempuran Warsawa Pertama yang menjadi konflik besar pertama kali antar keempat kerajaan, Tradisi Sobótki, Tradisi Dożynki, dan banyak hal lain. Rose juga menjelaskan beberapa tradisi tadi bahkan lebih tua dari empat kerajaan. Membuktikan betapa terjaganya tradisi itu dari sejak dulu.


Pada sudut pandang Allenz, pemuda itu hanya tersenyum simpul. Dia cukup senang beberapa tradisi di sini masih cukup terjaga, meski banyak perubahan yang terjadi. Allenz juga seperti merasa berada pada saat era kuno pagan dulu, meski waktu saat ini adalah masa depan dari dua ratus tahun setelah konflik besar antara New Human melawan Old Human. Meski di pikirannya terbesit untuk bertanya soal konflik Old Human dengan New Human, tapi dia tidak menanyakan soal perang itu.


Pelajaran terus berlanjut sampai waktu istirahat tiba, pada kantin sekolah kini sudah ada beberapa murid dan guru musik yang menghibur pada saat makan di kantin. Suasana disana menjadi lebih meriah karena ada musik yang melantun saat para murid makan. Beberapa murid juga menikmati musik yang di mainkan oleh para pemain musik, Josef juga ikut bermain disana, dia memainkan Tuba yang cukup besar. Tapi Josef dapat memainkan alat musik itu dengan baik dan mampu mengiringi lagu yang lain.


Joanna menikmati lagu itu, bersama yang lain. Hans memuji cara Josef memainkan Tuba besar itu. "Josef hebat juga, aku tidak menyangka dia hebat bermain Tuba itu dengan baik."


Joanna tersenyum bangga, dia menjelaskan bahwa mereka memang sudah menyukai musik sejak kecil, hingga mereka di belikan alat musik sendiri oleh ayah mereka. Josef mendapat Tuba dan dirinya mendapat Harpa. Meski saat masuk sekolah mereka tidak membawa alat musik itu lantaran cukup besar dan akan menyusahkan jika dibawa ke akademi.


Nayaka nampak tertarik dengan Joanna yang mampu bermain Harpa, dia berharap bisa melihat Joanna bermain Harpa suatu saat nanti. Joanna hanya bisa tertawa kering mendengar Nayaka yang antusias untuk melihat dirinya bermain Harpa. Tapi Joanna mengeluarkan wajah aneh mendengar itu, seperti dirinya tengah berada di dalam tempat yang gelap. Hans menyadarkan dirinya, pemuda itu sedikit khawatir melihat ekspresi Joanna tadi, Joanna hanya menjawab dia baik-baik saja.


Hans terdiam sejenak melihat wajah Joanna sebelumnya, karena gadis itu bilang dia baik-baik saja. Hans tidak lagi memikirkan kejadian tadi, meski beberapa kali hal itu terus berputar di kepalanya.


Mereka kembali menikmati permainan musik para murid dan guru yang memainkan musik, disana juga ada yang memainkan Seruling, Tamborin, Akrodeon dan beberapa musik pukul lain. Allenz juga sedikit penasaran soal alat musik Mandolin, seingat dia alat musik itu bukan dari Polandia, melainkan negara lain. Tapi, kenapa alat ini cukup banyak dimainkan sini?


"Aku ingin bertanya pada kalian." Ucap Allenz, mereka yang bersama dengan dirinya melihat Allenz dan mencoba mendengar apa yang Allenz bahas. "Apa Mandolia itu populer disini?"


Hans dengan cepat menjawab. "Yap, bahkan sangat populer saat pertama kali di tunjukan oleh seorang pendatang dari negeri selatan yang jauh, meski aku tidak tau dari negeri apa itu. Dia tidak pernah memberitahu darimana asalnya. Tapi, yang pasti, alat musik itu menjadi sangat populer di kalangan penduduk Hearterra dan banyak yang ingin mencobanya. Sampai sekarang menjadi alat musik yang suka di minati oleh para penduduk." Jelasnya.


Mengetahui Hans memiliki banyak pengetahuan, Allenz sedikit memancing sebuah pertanyaan. "Hmm aku penasaran apa Warsawa itu hanya nama wilayah besar ini atau ada tempat lain, ya?"


Yang lain mendengar ucapan Allenz, hanya tertawa, mereka bilang pada pemuda itu bahwa tanah yang membentuk semua wilayah termasuk empat kerajaan adalah Tanah Warsawa, bahkan sejak dahulu kala.


Allenz lantas bertanya. "Lalu, kapan pertama kali tanah ini di sebut Warsawa?"


Mereka terdiam, tidak ada yang bisa menjawab. Memang sejak awal, mereka tidak tau soal awal tanah ini lebih jauh, selain pembentukan Kerajaan Hearterra.


Hans yang nampak mendengar sedikit terpancing. "Kau bertanya soal itu, apa kau tau soal awal Tanah Warsawa?"


"Tidak, aku hanya penasaran kenapa seluruh wilayah ini di sebut Tanah Warsawa." Elak Allenz, tentu dia tidak mau pertanyaan yang aslinya terbongkar, dia sebisa mungkin bertanya secara langsung tanpa menyinggung soal dirinya yang tau soal Warsawa yang sesungguhnya. Itu bisa membongkar dirinya yang merupakan seorang Old Human.


"Begitu, aku tidak terlalu tau banyak. Tapi, mungkin ayahku tau soal itu, aku juga penasaran kenapa seluruh wilayah ini di namakan Tanah Warsawa. Bahkan, pada sejarah saja tidak ditulis." Ucap Hans.


Mereka semua lantas menjadi penasaran dan berakhir membuat teori liar ala anak-anak, mereka menjadi mengeluarkan apa yang ada di otak mereka, dari yang keempat kerajaan memiliki monster yang tertidur di masing-masing wilayah, atau adanya alat kuno dan hal sebagainya.


Sampai Allenz bertanya soal pertanyaan yang terakhir. "Apa ada sejarah yang lebih tua selain berdiri pertama kali kerajaan ini? Maksudku, soal catatan beberapa ratus tahun terakhir."


Hans menjawab, dia berkata tidak ada catatan soal beberapa ratus tahun terakhir, menurutnya tidak ada yang pernah mencatat hal itu selain dari beberapa cerita dari mulut ke mulut. Dia menyarankan pada Allenz untuk mencari di kerajaan lain atau dengan pergi ke negeri luar, di seberang dari Tanah Warsawa.


Mendengar saran Hans, Allenz mendapat ide untuk melakukan perjalanan untuk mengetahui keadaan seluruh dunia pasca dua ratus tahun terakhir. Dia mengatakan hal itu pada yang lain, dia ingin menjelajahi seluruh dunia.


Yang lain terkejut mendengar itu, hal itu butuh banyak persiapan dan membutuhkan banyak waktu selama perjalanan untuk pergi ke negeri luar. Nayaka orang pertama yang protes hal itu. "Kakak serius akan melakukan perjalanan pergi keluar?! Kalau begitu, apa kau akan membawaku juga?!" Allenz nampak enggan, itu terlihat dari wajahnya. Nayaka sadar itu, mungkin dia berpikir Allenz akan pergi ke tempat yang dia tidak ketahui, mungkin saja akan berbahaya. Mengingat mereka tidak tau keadaan luar selain wilayah Warsawa. Nayaka juga sadar mungkin dia akan menyulitkan kakaknya saat mereka melakukan perjalanan yang jauh.

__ADS_1


Allenz lantas menenangkan Nayaka. "Itu baru rencanaku, aku tidak yakin soal itu. Bisa saja aku membatalkan hal itu, oke?"


Isla lantas memotong. "Lalu, bagaimana kalau kau benar-benar pergi?"


"Bisakah kau tidak memperburuk keadaan?" Ucap Allenz menatap marah pada Isla.


Tak lama Zen datang, dia bersama Iris, menyapa mereka semua. "Halo, kalian sedang apa?"


"Ah, halo Pak Zen." Sapa Isla.


"Uh! Aku masih merasa aneh dipanggil 'Pak'." Ucapnya. "Kalian sedang membahas apa?"


Teresa menjawab. "Allenz berencana melakukan perjalanan mengelilingi dunia."


"Bagus itu! Apalagi pergi secara ramai."


"Apa tidak masalah?" Tanya Nayaka.


"Selagi kalian siap bertemu hal baru dan sesuatu yang berbahaya."


"Uhh!" Nayaka tampak kecewa, memang mereka tidak tau apa yang ada di luar sana, dan bahaya apa yang akan menunggu mereka.


Zen lantas sedikit berbicara. "Kebetulan aku adalah orang yang berasal dari luar Hearterra."


Hans menebak-nebak tempat asal Zen. "Biar aku tebak, dari salah satu tiga kerajaan di luar Hearterra?"


"Tidak, yang aku maksud aku orang yang bukan berasal dari Tanah Warsawa." Ungkap Zen. Allenz menatap Zen dengan menyipitkan matanya, seakan cerita karangan apa lagi yang akan dibuat oleh Zen. Tapi Zen menaikan kedua pundaknya, lagi pula cerita ini adalah cerita karangan bercampur cerita asli dirinya.


Nayaka, Isla, Joanna, dan Hans terkejut, mereka tidak menyangka Zen berasal dari luar Tanah Warsawa. Bertepatan dengan itu, Josef datang dan bergabung dengan mereka, dia bertanya apa yang mereka bahas.


Joanna sedikit menjelaskan secara singkat dari soal Allenz yang tertarik untuk melakukan perjalanan keluar, dan Zen yang merupakan orang dari luar Warsawa.


Zen lantas mulai bercerita. "Aku memang bukan dari tanah ini, itu terbukti dari saat pertama kali aku datang kesini. Apa Nayaka ingat, saat aku datang dan tidak paham bahasa kalian dan tidak terlalu mahir sihir? Itu saja sudah cukup membuktikan aku bukan dari wilayah ini." Nayaka dan Teresa membenarkan hal itu. Zen melanjutkan. "Awalnya diriku dan beberapa penduduk desaku adalah orang-orang yang melakukan perjalanan jauh dan sering berpindah tempat, hingga sampai ke tanah ini, Warsawa. Yang mana kedatangan kami tidaklah tepat, saat itu bertepatan terjadi perang Keempat Kerajaan. Akibatnya, tempat kami dimana tenda-tenda kami dibuat, lantas diserang monster yang menjauh dari medan tempur, hingga hanya aku yang tersisa."


Teresa yang tertarik dengan tempat asal Zen, gadis itu bertanya bagaimana tempat asal Zen berasal. "Lalu? Bagaimana keadaan tempat tinggal anda sekarang? Maksud saya tempat kelahiran anda."


"Aku tidak tau, itu sudah lama sekali. Bahkan untuk mencapai kesana, membutuhkan semacam kapal udara yang mampu memiliki kecepatan yang benar-benar cepat, karena tempat diriku berasal berada di seberang pulau." Jelas Zen kembali.


"Seberang pulau?!" Mereka terkejut secara bersamaan.


"Yap, meski alat yang membawa kami kemari sangat berbeda dengan kapal udara yang di miliki keempat kerajaan." Ucap Zen. "Yah, begitulah cerita dariku." Zen mengakhiri cerita dirinya, dia lantas berdiri hendak mengambil makanan untuk dirinya. Menjauh dari mereka, Zen berpikir untuk ikut melakukan perjalanan bersama Allenz, dia juga penasaran dengan kampung halamannya.


Iris sedikit memuji cerita karangan Zen. "Ceritamu hebat juga, mereka bahkan sampai percaya akan semua itu."


"Hahaha." Zen hanya sedikit tertawa mendengar ungkapan Iris. "Tapi, soal aku dari luar kan benar adanya."


"Tapi, kau juga akan melakukan perjalanan ke tempat asalmu?" Tanya Iris.


"Entahlah, tapi aku memang cukup tertarik untuk kembali, apalagi sudah sekitar dua ratus tahun terlewat. Aku penasaran bagaimana rumahku yang sekarang." Ucap Zen.


Iris hanya sedikit melihat wajah Zen yang seperti menunjukan rasa rindu akan tempat tinggalnya dulu, Iris bisa tau dengan melihat sekilas wajah Zen.

__ADS_1


__ADS_2