After World Breaker

After World Breaker
Chapter 38: Hari pertama sekolah dimulai


__ADS_3

Allenz menguap, dirinya terlihat mengantuk di kelas. Akibat dirinya berlatih selama semalam, membuat dirinya sekarang mengantuk.


Pada depan kelas, Rose tengah mengajarkan soal dasar sihir dan cara membuat aliran sihir menjadi tenang pada seluruh tubuh, dengan memberi ilustrasi gambar berupa anatomi tubuh manusia. Dan menjelaskan bagaimana mana sihir pada tubuh mengalir.


Rose melihat ke arah para murid, dia menjelaskan bagaimana menetralkan mana sihior pada tubuh untuk tidak mnengalami lonjakan yang belerbih, dan bisa berakibat fatal, seperti ledakan mana pada dalam tubuh berujung keluarnya banyak mana sihir dari dalam tubuh.


Nayaka mendengar perjelasan Rose, ini mengingatkan dirinya saat ibunya membakar rumah mereka sebelumnya. Dengan begitu dia belajar hal baru, dan bertekad untuk menjaga aliran mana miliknya tetap stabil.


Rose lantas mengajak murid-muridnya yang berjumlah dua puluh orang itu. Dia mengajak pada tempat latihan, disana dia akan mengajar mereka untuk mengendalikan mana sihir pada diri mereka.


Semua murid mengikuti Rose, mengikutinya kesana untuk mengajar mereka. Para murid saling mengobrol sambil mengikuti Rose dibelakang, ada yang ngajak wanita itu berbicara.


Pada bagian belakang kerumunan murid, Allenz bersama Hans yang mendampinginya. Mereka yanga menatap para murid di depan mereka. Allenz sesekali menguap, dirinya nampak lelah.


Hans bertanya soal Allenz, apakan dia beristirahat yang cukup semalam. "Al, apa kau sudah tidur malam ini?"


"Tidur ya? Aku tidak tidur malam ini." Ucap Allenz dengan nada mengantuk dengan menguap besar.


Hans terkejut mendengar Allenz tidak tidur semalam. "Kau serius?! di hari pertama kau sekolah, dan malah tidak tidur?! Untuk apa kau tidak tidur?"


"Hmm? Berlatih, habisnya saat siang, aku selalu bersama kalian setiap saat. Jadi pas malam hari aku memutuskan untuk berlatih sendiri."


Hans menepuk ijdatnya, dia tidak menyangka Allenz akan menggunakan waktunya seburuk itu. "Baiklah, untuk kedepannya, jika kau ingin berlatih, beritahu kami. Karena akan sangat buruk jika kau tetap berlatih pada saat malam hari."


Allenz hanya mengangguk pelan saja, matanya nampak berat dan sulit untuk menahan kantuk yang dia rasakan saat ini.


Sesampai di tempat latihan, mereka bertemu dengan dua kelas lain yang lebih senior. Guru yang mengajar dua kelas itu ada Zen dan Ludwik yang tengah mengajar kelas mereka sendiri.


Ludwik yang menyadari kedatangan Rose bersama para muridnya, dia menyambut Rose dengan caranya yang agak narsistik. "Ibu Rose, saya tidak menyangka kita akan dipertemukan di tempat ini, apakah in~"


Rose menyela. "Aku hanya mengajar para murid mengontrol mana sihir mereka."


Ludwik dengan sigap memegang tanagn Rose, dari belakang Hans menahan amarahnya melihat kakaknya disentuh orang asing. Allenz yang masih mengantuk, mampu menahan Hans yang hendak maju menghadapi pria yang menjadi guru senior itu.


"Tuan Ludwik?! Kita berada disekolah?!"


"Tidak masal~" Ucapan Ludwik terpotong dan Rose dengan cepat melepaskan tangannya dari pria itu, pandangan mereka teralihkan dengan para murid Zen yang menertawakan dirinya.


Disana para murid Rose dan Ludwik juga teralihkan pada kelas Zen.


Pada kelas itu, mereka menertawakan Zen yang memiliki tingkat sihir yang hanya setingkat 4 dan hanya bisa satu jenis sihir.


Ludwik mengungkapkan ketidaksukaan dirinya pada Zen. "Pria yang aneh, bagaimana bisa dia menjadi guru, sementara tingkat sihirnya berada dibawah muridnya sendiri. Apa-apan itu."


Rose merasa alasan Zen bisa menjadi guru juga, karena rekomendasi oleh kepala sekolah. Ludwik hanya diam sambil menatap pada Zen dengan wajah tidak suka.


Pada Zen, dia hanya diam sambil menatap para murid yang menertawakannya. Zen menggaruk tengkuknya, dia berbicara kembali. "Baik, kalau begitu maju tiga orang dan coba rapalkan mantra terpendek yang bisa kalian gunakan, lalu serang aku."


Beberapa murid nampak tertarik, tiga murid laki-laki maju, mereka hendak menghadapi Zen seorang diri.


"Apa tidak ada siswi yang tertarik? Tidak ada?" Tanya Zen pada para siswi yang tidak ada yang ikut maju. "Baiklah, kalian bertiga coba serang aku dengan mantra terpendek yang kalian punya. aku akan menghitung dari selama sepuluh detik, jika tidak berhasil maka aku yang akan menyerang kalian"


Ketiga murid itu lantas merapal mantra secara bersamaan. Zen juga memulai hitungannya. "1, 2, 3, 4..."


Hitungan itu bahkan sampai setengah dari hitungan Zen, Zen tersenyum. "9, dan 10! Kalian terlalu lama!" membuat dua bola hitam, dia lantas melemparnya pada dua murid, membuat mereka terhempas kebelakang. Murid yang tersisa mampu menyelesaikan mantra miliknya, tapi sebuah bola sihir hitam sudah lebih dulu mengenai pundak kanannya, menjatuhkan dirinya.


Zen mendekati murid yang terakhir. "Aku sudah memberimu sepuluh detik, tapi kau malah terlalu lama merapal mantra."


Sang murid masih tidak percaya yang baru saja terjadi, sama seperti semua orang disana yang menyaksikan hal itu. "Apa itu?! Anda tidak merapal?!"


"Tentu saja tidak, buat apa? Jika kau ada dimedan perang, dan kau terlalu lama merapal, bisa saja sedetik kemudian kau tewas, akibat terlalu lama merapal mantra." Zen mengulurkan tangan kanannya ke samping, sebuah bola hitam terbentuk, dan melesat hingga mengenai sebuah manekin disana, menghancurkannya berkeping-keping, dia sedikit memberi contoh pada mereka.


Ludwik dan Rose melebarkan mata mereka, selama mereka hidup. Belum pernah mereka melihat seseorang menggunakan sihir tanpa mantra sama sekali, Rose kini mengerti kenapa Zen dijadikan guru disini.


Zen menatap kepada semua muridnya, dia bertanya. "Kalian semua, berapa lama kalian biasa merapal mantra?"

__ADS_1


Dari semua murid, ada yang membutuhkan dua puluh detik, tiga puluh, bahkan sampai semenit lebih. Zen terdiam, dia lantas mengacak-acak rambutnya. "Astaga! Tingkat sihir kalian saja yang tinggi, tapi sampai butuh semenit lebih untuk merapal?! Yang benar saja!" Umpat Zen,  dia lantas menyuruh para muridnya untuk melalukan meditasi sihir, untuk membuat sihir mereka terkendali sambil mengajar cara mengontrolnya dengan baik.


Meski, ada beberapa murid yang mengeluh jika mereka tidak dapat fokus sepenuhnya, namun Zen tidak peduli alasan mereka. Dan tetap menyuruh mereka melakukan meditasi.


Murid dari kelas lain, lantas membicarakan hal yang baru saja terjadi, mereka tidak menyangka dapat melihat seseorang yang mampu menggunakan sihir tanpa rapalan. Dari sela-sela itu, Allenz tersenyum melihat Zen yang sudah mampu menggunakan sihir tanpa rapalan.


Rose juga kemudian mengajak para muridnya untuk melakukan meditasi juga selama 15 menit, dan akan dilanjut dengan mencoba mengajarkan para murid mantra dasar pada setiap sihir.


Pada siang hari, para murid murid berisitirahat, berkumpul, pergi ke kantin atau ke tempat lain pada akademi. Di taman sekolah, Allenz memutuskan untuk tidur, dia sejenak untuk beristirahat. Dikarekan dirinya yang tidak tidur, dengan menggunakan waktu istirahat sekolah.


Teresa mendengar beberapa percakapan soal kejadian tadi, gosip soal Zen yang bisa menggunakan sihir tanpa mantra. Ini juga cukup mengejutkan dirinya, saat sebelum dia bersekolah, dia dan Nayaka yang emngajar pengendalian sihir pada Zen. Tapi, mengejutkannya Zen sudah mampu menggunakan sihir tanpa rapalan sama seperti Allenz. Ini membuat dirinya bingung dan bertanya-tanya.


Teresa lantas bertanya pada Allenz yang sudah tidur. "Al, Allenz." Ucapnya pelan sambil mengoyangkan tubuh pemuda itu.


Allenz tersadar. "Hmm? Ada apa?"


"Apa kau bisa beritahu padaku, bagaimana cara menggunakan sihir tanpa rapalan?" Tanya Teresa. Gadis berkacamata dan rambut pendek itu cukup penasaran cara Allenz menguasai sihir itu.


Allenz bangun dari tidurnya, dia merenganggkan dirinya, lalu menjawab. "Sering-seringlah, kau menyatu dengan sihirmu."


"Huh?"


Allenz menlanjutkan. "Jika ada satu atau dua sihir yang paling kau kuasai, kau harus mencoba mengendalikan sihir itu, atau lebih mudahnya bagaimana cara memanipulasinya."


Hans dan Nayaka juga ikut mendengar, mereka juga ingin tau akan hal itu.


"Selain mengontrol mana pada dalam tubuh, kau juga harus bisa mengontrol mana pada luar tubuhmu juga, karena ini kunci terpenting untuk bisa memanipulasi sihir itu. Lalu, sebisa mungkin kau juga dapat membuat mana pada tubuh mengalir ke seluruh tubuh dengan seimbang, tanpa ada yang kelebihan atau kekurangan mana pada bagian tubuhmu." Jelas Allenz.


Hans yang mendengar itu, dia lantas mencoba. Membuka telapak tangan kanannya, dia mengalirkan semua mana pada tubuhnya dengan teratur dan seimbang. Sebuah percikan muncul, hingga percikan petir itu menjadi sebesar bola ping pong. Nayaka dan Teresa terkesan dengan apa yang Hans lakukan.


"A-aku bisa?!" hans nampak gembira, namun tak lama percikan itu meledak. Membuat Teresa dan Nayaka panik. "Ah, sial!"


Allenz berkomentar. "Kau terlalu senang, menyebabkan aliran mana milikmu menjadi tidak seimbang."


Allenz menambah. "Itulah letak tersulitnya, bagaimana kau harus bisa mengontrol emosi pada dirimu, atau langkah termudah, namun tidak terlalu besar saat menggunakan sihir..."


Ketiganya menjadi penasaran, apa itu. Allenz melanjutkan. "...Kalian jangan mengeluarkan emosi atau ekspresi saat menggunakan sihir."


"Jadi harus diam dan seperti orang hampa, begitu?!" Keluh Teresa.


"Yap, dan juga kalian kalau bisa jangan memikirkan hal lain di pikiran kalian saat menggunakan sihir ini dan fokus saja pada sihir yang hendak kalian keluarkan." jelas Allenz lagi.


Hans nampak kecewa, dia tidak menyangka butuh sampai mengontrol emosi mereka saat menggunakan sihir. "Ini sepertinya butuh waktu, untuk bisa seperti dirimu. Baiklah, Allenz jika kau ingin berlatih, tolong ajak aku, oke?"


Allenz menatap pada Hans. "Tentu, aku tidak keberatan."


"Nayaka juga! Nayaka mau ikut berlatih!" Ucap Nayaka yang ikut berlatih dengan Allenz.


Teresa melihat Hans dan Nayaka yang hendak berlatih bersama Allenz, dia juga lantas ingin juga ikut bersama mereka, untuk berlatih bersama. "Aku juga, aku mau ikut kalian!"


Nayaka tiba-tiba merasa lapar, dia lantas mengajak makan Teresa di kantin. "Teresa, ayo kita ke kantin, aku lapar." Nayaka menarik tangan Teresa untuk ikut bersamanya menuju kantin.


Teresa yang terkejut, dia mengatakan. "Tunggu, kita sudah makan dari sana, astaga Nayaka." Protes Teresa yang mencoba melepaskan diri dari tangan Nayaka.


Hans dan Allenz hnaya menatap keduanya pergi dan menjauh. Hans meminum minumannya, dengan perlahan, Allenz bertanya pada Hans yang tengah menikmati minumannya. "Oi, aku mau bertanya."


"Soal apa?" Ucap Hans sambul menyeruput minuman miliknya.


"Apa kau sudah memiliki tunangan?"


Hans menyemburkan minuman dari mulutnya, dai tidak menyangka Allenz akan bertanya soal itu. "Hah? Tunangan?" Hans nampak kebingungan untuk menjawab itu, dia bahkan terbata untuk menjawab. "Ehhh itu, itu.... Aku... Tidak pernah memikirkan itu." Ucapnya dengan nada lemas.


"Begitu? Aku pikir kau sudah memiliki tunangan sejak lama." Ujar Allenz.


"Belum..." Jawab hans dengan muka bermasalah.

__ADS_1


Allenz berpikir, menurutnya Hans seharusnya mudah menemukan pasangan yang dia inginkan. "Seharusnya kau ini yang adalah seorang pengeran, akan mudah menemukan jodohmu sendiri, pasangan yang menurutmu cocok."


Hans semakin lemas saat Allenz berbicara seperti itu. "Tolong, jangan bahas itu lebih jauh soal itu."


Allenz lantas menebak. "Jangan bilang, tidak ada yang menerima dirimu?!"


Dengan nada pelan, Hans menjawab. "I-iya..."


"Pfft... Hahahaha!! Aku tidak menyangka orang yang sekelas pangeran seperti dirimu belum memiliki tunangan?!" Allenz tertawa terbahak-bahak mendengar Hans yang belum memiliki tunangan hingga sekarang.


Hans menjadi murung, dirinya merebahkan tubuhnya pada meja. "Allenz, kau jahat sekali."


Allenz mencoba meredakan dirinya, dia bertanya lagi. "Memangnya bagaimana bisa kau belum memiliki tunangan? Aku pikir kau sudah bertunangan dengan seseorang, hanya saja kau dan tunanganmu itu masih fokus pada kegiatan kalian masing-masing."


"Tidak, aku sebenarnya pernah bertunangan dengan bangsawan lain, hanya saja karena ternyata keluarga bangsawan itu hendak mengancam keluarga kerajaan. Lantas kedua orang tuaku memutuskan hubungan dengan keluarga tersebut, dan mengasingkan mereka keluar dari wilayah ibukota." Jelas Hans.


Allenz menjadi teringat dengan kejadian saat dirinya yang bertunangan dengan Teresa dan terlibat dengan Borath. Yang menyebabkan Borath diasingkan oleh pihak pengadilan kerajaan, ini membuat Allenz bertanya bagaimana nasib si pria itu.


Allenz menatap Hans yang nampak murung, Allenz mencoba menghiburnya dengan mengajak Hans ke kantin, dan menyusul Nayaka dan Teresa. Hans dengan nada murung hanya setuju saja, dan berakhir Allenz seret untuk membawanya pergi.


Hans bahkan tidak mempermasalahkan dirinya yang diseret oleh Allenz, sepanjang mereka menuju ke kantin, dari naik tangga hingga turun tangga, Hans tetap di seret oleh Allenz.


Sambil menyeret Hans, Allenz memperhatikan sekitar sambil menuju kantin. Tak lama seorang siswi mendatangi mereka, dan memanggil Allenz.


"Kau! kau yang disana! Kau harusnya tidak melakukan itu?!" Ucap gadis itu menghentikan Allenz.


Allenz berbalik, bersamaan Hans yang juga melihat sang gadis yang memanggil Allenz.


"Aku bilang lepaskan dia!" Pinta gadis itu.


"Oke, aku lepaskan." Allenz melepaskan tangannya dari kerah baju Hans, membuat Hans terjatuh dan kepalanya terbentur lantai, membuat dia harus meringkuk kesakitan sambil memegang kepalanya.


Gadis itu masih menatap pada Allenz dengan wajah marah, Allenz menjadi aneh dengan gadis itu. Dia memiliki rambut pirang dengan mata berwarna ungu.


"Kau siapa?" Tanya Allenz dengan wajah malas.


Gadis itu menyombongkan dirinya, dia dengan angkuh mengucapkan. "Aku? Namaku hanya untuk orang aku anggap pantas saja! Orang sepertimu itu tidek perlu tau!"


"Baik, senang mengetahui hal itu, sampai jumpa." Allenz kemudian pergi lagi sambil menyeret Hans yang masih merasa sakit pada kepalanya.


"Hei! Aku belum selesai bicara?!"


"Tidak peduli dan tidak dengar."


Gadis itu lantas mendahului Allenz dan menghalangi jalannya. Tidak membiarkan dia lewat sama sekali. Allenz dan gadis itu saling bertatapan, mereka saling memicingkan mata mereka.


"Aku hanya ingin tau satu hal darimu." Ucap gadis itu.


"Apa itu?"


"Namamu Allenz Wellerd, benar?" Tanya gadis itu.


"Iya, sudah? Kalau begitu aku mau pergi." Allenz beranjak pergi, namun gadis itu tetap menghalangi jalannya


Gadis itu mencoba menahan Allenz. "Tunggu! Aku hanya ingin mengetahui alasanmu tidak datang ke pemakaman tuan Finn!!"


Mendengar arah pembicaran, Hans langsung tau ini akan bisa menjadi buruk, dia dengan gemetar lantas meminta Allenz melepaskan dirinya. "Al, Al, A-Allenz, bi-bisa kau lepaskan aku? A-aku tidak ingin ikut campur urusan kalian."


Allenz melepas genggaman tangannya pada kerah Hans, dengan perlahan, Hans menyeret tubuhnya untuk menjauh dari mereka. Dia benar-benar tidak ingin ikut campur soal permasalahan itu.


Allenz menjadi diam, gadis itu juga tau hal itu mungkin menyinggung Allenz. Dia bersiap menghadapi Allenz jika pemuda itu marah padanya.


Allenz menatap gadis itu dengan mata yang mengancam, membuat gadis itu seketika takut melihat cara pandang Allenz melihat pada dirinya. Allenz menatapnya dengan diam, mata yang fokus pada lawan bicara, namun dibalik itu, seperti tersembunyi makan Allenz bisa saja menghabisi gadis itu sepenuhnya.


Allenz berbalik, dia tidak jadi pergi ke kantin dan pergi menjauh dari sana, bahkan meninggalkan Hans yang ada disana, mencoba kabur. Gadis itu hanya bisa diam, dia tidak nyangka Allenz akan memberinya intimidasi pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2