
Seminggu telah terlewati, Allenz, Nayak, Teresa, Zen, dan Iris kini bersiap untuk pergi ke ibukota. Dengan barang-barang yang mereka perlukan untuk di akademi nanti.
Semuanya berpisah dengan orang tua mereka, Nayak dan Allenz pamit pada Anya, Arthur dan Nia.
"Kami pergi ibu, ayah, bibi Nia." Pamit Nayaka pada mereka.
"Hati-hati dijalan, dan jangan membuat hal aneh disana. Jika kau punya waktu, kirimlah kami surat untuk mengabari keadaanmu disana." Ucap Anya berpesan pada Nayaka.
"Baik, ibu." Nayaka memeluk sang ibu untuk berpisah dengannya.
Arthur juga berpesan pada Zen untuk menjaga kedua anaknya, karena Allenz dan Nayaka menjadi tanggung jawabnya sekarang. Zen juga di beri surat dari Anya untuk di berikan kepala akademi nanti untuk mempermudah Zen disana.
Allenz berpamitan pada Arthur dan Nia, tidak lupa pada si kecil Jack, sang adik.
Iris yang masih menempel pada Zen, dirinya seakan tidak mau lepas dari pria itu. Bahkan, Anya mengusulkan untuk merawat Iris, tapi nampaknya gadis itu tidak mau bersama dengan wanita yang akan berusia 35 tahun itu.
Tak lama, kereta kuda dari keluarga Batford datang, yang akan mengantar mereka menuju tempat pangakalan kapal udara, mereka menaiki kereta itu, dari jendela mereka melambaikan tangan untuk berpisah pada kedua orang tua mereka.
Dari luar, Arthur berpesan kembali. "Jika ada masalah, jangan berlebihan!"
Hal ini di tanggapi oleh Nayaka dan Allenz dengan anggukan. Lalu, sebelum berpisah juga, Nia memberikan sesuatu pada Zen, benda itu di bungkus dengan kantung kulit. Zen tanpa bertanya lebih hanya menerimanya saja, tak lama kereta berjalan dan pergi.
Nayaka, dan Teresa menjadi penasaran apa yang di berikan Nia pada Zen. Tentu, Zen juga penasaran dengan benda apa yang ada di dalam kantung ini, dia membukanya dan terdapat sebuah pin dengan sebuah mawar oranye. Semua orang saling bertatapan saat mengetahui isi dari pemberian Nia itu.
"Mawar oranye, kalau tidak salah artinya rasa kepercayaan diri, kegembiraan dan kesuksesan pada seseorang." Ucap Teresa. "Jadi, bisa dibilang, bibi Nia memberikan ini pada anda untuk mendoakan kesuksesan anda di ibukota nanti." Tambahnya.
"Begitukah? Cukup bagus, aku akan menyimpannya." Ucap Zen.
Allenz juga bertanya soal Teresa yang mengapa memotong rambutnya. "Lalu, kenapa rambutmu sekarang pendek?"
"Oh, ini... Tolong jangan bertanya soal itu." Ungkap Teresa yang langsung seperti mengingat suatu kejadian mengerikan. Yang mana, rambutnya pendek sekarang akibat pelatihannya bersama Yia. "Dari pada tanya soal rambutku, kau saja kenapa tidak pernah potong rambut?"
Pertanyaan itu membuat Allenz diam, memang semenjak dia ikut perang, rambutnya tidak pernah di potong, bahkan kini sudah mencapai sepunggung. "Apa ada masalah soal itu?"
"Tidak, hanya aku aneh saja melihat laki-laki berambut panjang." Jawab Teresa.
"Padahal kakak terlihat keren jika rambut panjang." Ucap Nayaka yang berpendapat soal rambut Allenz.
"Begitu? Tapi, memang kadang rambut panjang ini menganggu, mungkin akan aku potong sebagian sekarang." Allenz mengeluarkan pisau yang dia bawa, lalu memotong rambutnya hingga selehernya. "Bagaimana?'
"Jauh lebih keren!!" Puji Nayaka.
Hanya bisa tersenyum canggung, Allenz membalas. "Baguslah jika begitu, ini."
Rambut potongan Allenz kemudian dia kasih pada Zen yang masih terdiam sejak tadi. "Untuk apa ini?! Kenapa tidak kau buang saja?!"
Tak lama mereka sampai di tempat dermaga kapal udara Nevelheim, mereka semua turun dari sana, lalu mengeluarkan barang-barang mereka. Lalu, pergi kesana. Sebelum itu, rambut potongan Allenz tadi dibakar oleh Teresa, dan mereka melanjutkan masuk ke sana.
Zen membeli mereka semacam kertas yang di jadikan tiket untuk naik, selepas membelinya, dia kembali pada yang lain. Dan mereka masuk ke dalam salah satu kapal udara.
Ternyata cukup banyak orang yang naik kapal udara, ini membuat Zen berpikir mungkin sebagian orang tengah mengantar anak mereka untuk masuk akademi.
Dikarekan hanya memakan waktu satu jam, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat khusus untuk duduk saja di ruangan depan, karena mereka tidak memesan tiket khusus yang memiliki kamar.
Semuanya duduk di satu bangku yang sama, mereka menaruh kotak barang mereka di lantai, dan menikmati suasana kapal yang cukup ramai oleh orang. Bahkan Iris sampai di pangku oleh Teresa.
Hingga\, sebuah suara mengumumkan bahwa kapal udara mereka akan berangkat. **[Bagi semua penumpang\, harap tenang dan tolong duduk atau pergi ke kamar yang telah dipesan\, kmai sebentar lagi akan berangkat. Jadi mohon kerja samanya\, dan dimohon tenang selama perjalanan berlangsung.] **
Setelah itu semua orang dengan cepat mencari tempat mereka masing-masing, karena sebentar lagi akan berangkat. Nayaka dan Teresa tampak takut, terlihat wajah mereka yang cukup tegang.
Allenz yang sadar juga, dia baru ingat bahwa Teresa dan Nayaka masih tidak terbiasa naik kapal udara, dia mengetahui ini karena di ceritakan oelh Anya sendiri.
Hingga sebuah guncangan terjadi, membuat Nayaka, dan Teresa langsung mengenggam erat Allenz yang ada di tengah mereka. Bahkan, Iris hampir jatuh karena di lepas oleh Teresa.
"Kalian tidak perlu takut, ini hal biasa saat kapal udara hendak berangkat." Ucap Allenz menenangkan keduanya.
"Tapi aku tidak terbiasa."
Zen mengambil Iris dari pangkuan Teresa, dan dia mendudukan gadis itu pada dirnya, membiarkan Iris yang hendak tidur.
__ADS_1
Selama perjalanan satu jam penuh, kedua lengan Allenz dibuat keram akibat genggaman Nayaka dan Teresa yang terlalu kuat.
Hingga sesampainya mereka di ibukota, mereka di sambut dengan banyak banguan mewah dan indah, Nayak dan Teresa sudah sejak lama tidak melihat suasana ibukota, apa lagi yang sekarang. Mereka pun pergi untuk menyewa pedati, untuk pergi ke akademi ibu kota.
Selama di pedati, mereka melihat bangunan yang jauh lebih besar dari kota Nevelheim, dan banyaknya penduduk yang berlalu-lalang. Keramaian disini sangat berbeda dari kota mereka sendiri.
Sang kusir bertanya. "Kalian ingin mendaftar ke akademi?"
Allenz menjawab. "Iya."
"Wah, niat sekali, padahal setau saya, pendaftaran murid baru akademi akan dibuka dua hari lagi." Jelas sang kusir.
Jawaban itu menyita mereka, semuanya terkejut karena akan hal itu.
"Eh?"
"Yang benar saja?!"
Sang kusir melanjutkan. "Lho, saya pikir kalian tau, dan saya duga juga adalah anak bangsawan yang sengaja untuk mendaftar lebih dulu, agar tidak mengantri nantinya."
Dengan nada ragu Teresa menjawab. "Kami, tidak tau itu, orang tua kami yang meminta kami untuk mendaftar hari ini langsung."
"Begitu? Wah hebat juga orang tua kalian. Tapi, memang bagus mendaftar sekarang, bahkan sebelum hari pendaftarnya di buka, pasti banyak murid yang akan mendaftar hari itu." Ucap sang kusir. "Pas sekali kita sampai."
Mereka semua turun dari pedati itu, Zen juga membayar. Kini, didepan mereka pagar dinding besar dan di baliknya sebuah bangunan mewah yang sepenuhnya terbuat dari batu yang tersusun tanpa di cat sama sekali.
"Apa kita berada di 'Hogwarts'?" Itulah ucapan pertama Zen saat melihat desain bangunan akademi. Zen juga dengan cepat mengenggam erat kedua pundak Allenz. "Bro?! Ini masih Polandia, 'kan? Bukan Inggris, 'kan? Iya, 'kan?!"
Dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Zen. "Tentu saja kita masih di Polandia?!"
Yang lain hanya kebingungan dengan apa yang mereka berdua bahas. Allenz juga mengajak mereka untuk masuk kesana. Mereka di sambut dengan bangunan yang terbuat dari batu-batu yang disusun menjadi bangunan semengah ini.
Ditengah itu juga, Teresa berkata, bahwa putri tertua Hearterra menjadi guru disini, ini membuatnya semangat. Bagi dirinya, itu suatu kehormatan bisa diajar oleh seorang keluarga kerajaan.
Nayaka langsung menimpa. "Aku seorang dari saudara keluarga kerajaan."
Hingga seseorang mendatangi mereka, seorang pria dengan rambut biru gelap dan kacamata yang terpasang di wajahnya, pakaian yang dia kenakan sangat rapih dan berlapis, dari kemeja hitam, dasi, lalu pakaian yang cukup besar berwarna abu-bau cerah. Dari penampilan, mereka bisa menebak bahwa dia adalah seorang guru. "Apa kalian ada calon murid yang ingin mendaftar?"
Semuanya mengangguk bersamaan, sang pria berbalik dan meminta mereka untuk mengikutinya ke ruang kepala sekolah.
Mereka masuk ke dalam akademi, disana ada beberapa siswa yang nampak adalah senior. Dari mereka seperti tengah melakukan kegiatan masing-masing.
Allenz bertanya. "Apa tidak ada jam pelajaran saat ini?"
Sang pria menjawab. "Setiap akan ada pembukaan untuk murid baru, para siswa akan diliburkan selama dua minggu, karena pihak sekolah akan fokus pada calon murid yang akan mendaftar." Jelasnya.
Semuanya mengangguk mengerti. Tak lama mereka sampai di depan ruang kepala sekolah yang ada di lantai satu. Membuka pintu, sang pria mengijinkan mereka masuk dan bertemu dengan kepala sekolah.
"Permisi pak, ada yang hendak bertemu."
Kepala sekolah yang merupakan seorang wanita yang sekitar berusia empat puluhan, namun memiliki paras seperti wanita tiga puluh tahun dan dengan kacamata yang dia pakai, dia bersama dengan dua orang lain, yang satu pria yang cukup tua dan yang lain wanita muda. Mereka tengah nampak mengurus beberapa berkas dan perkamen. Salah satu orang itu menyadari ke datangan sang guru dan yang lainnya.
Sang asisten pria langsung berbisik bahwa ada yang datang, sang kepala sekolah melihat mereka. Lalu, berdiri dan menyambut mereka. "Astaga, selamat datang di akademi Hearterra. Nama saya Iza Kaleena Dabrowski, kepala sekolah disini, senang bertemu dengan kalian, dan suatu kehormatan bisa menerima kalian di sekolah ini."
"Ah, iya..." Jawab Allenz.
Sang kepala sekolah mendatangi mereka, dan berdiri didepan Nayaka. "Anda pasti Nayaka Hearterra, suatu kehormatan bisa menerima saudara keluarga kerajaan disini." Ucapnya. Dia juga menerima Teresa, entah darimana kepala sekolah cukup tau soal keluarganya. Hingga dia berbicara pada Allenz dan Zen. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian, apalagi setelah cerita kalian yang berkontribusi dalam perang besar."
"Eh? 'Ku pikir soal diriku akan dirahasiakan." Ungkap Allenz.
Iza menjelaskan bahwa dia tau akan kedatangan Allenz dan Zen dari Anya dan juga Ronald. Ditambah dia ini orang yang cukup penting di kerajaan, jadi dia sedikit tau soal beberapa hal. Entah setelah mendengar penjelasan itu, membuat Zen dan Allenz memicingkan mata mereka pada kepala sekolah.
"Aku serius, aku bisa di percaya." Ujarnya. "Lalu, sekali lagi aku senang menerima kalian, kalau begitu kalian bisa mendaftar di ruang guru. Dan kalian akan mendapat baju sekolah bersama dengan kunci asrama kalian."
Zen kemudian memberikan surat dari Anya pada Iza, membiarkan Iza membacanya sekilas. Matanya dengan cepat membaca paragraf pertama surat itu. "Tolong biarkan aku bersama Sir Zen disini."
Dua asisten kepala sekolah mengajak Allenz dan yang lain keluar sekaligus mendaftar mereka, meninggalkan Zen dan Iris bersama Iza.
"Omong-omong siapa dua orang tadi?" tanya Zen.
__ADS_1
Iza menjawab. "Mereka adalah sekertaris dan bendahara disini."
Zen menyelas. "Jadi, anda mau membahas apa?"
"Jadi, dalam surat ini anda adalah orang asing yang membantu dalam perang Aliansi melawan pihak iblis. Saya terkesan dengan hal itu, di tambah anda tau cukup banyak soal tempat-tempat yang menyimpan senjata yang kuat." Jelas Iza.
Zen hanya diam dan mendengarkan.
Iza melanjutkan. "Setelah membantu kerajaan, dan mendapat pengakuan raja dan mendapat hal lainnya,anda cukup beruntung."
Zen kemudian membuka suara. "Jadi, poin penting dari isi surat itu apa?"
Tersenyum simpul. "Poin pentingnya... Anda mendapat rekomendasi menjadi guru di akademi ini oleh Nyonya Anya."
"Hah?! Apa? Aku tidak tau kalau akan di jadikan guru disini." Ucap Zen yang terkejut.
Iza juga terkejut. Dalam surat itu tertulis bahwa Zen sudah mengetahui untuk apa dia disini. "Eh? Saya pikir anda sudah membaca surat ini dulu."
"Tentu saja tidak, ibu Allenz malah berpesan padaku untuk tidak membuka surat sama sekali."
"Eh?"
"Eh?"
Iza langsung sadar bahwa dirinya bersama Zen baru saja di kerjai oleh Anya. Iris sampai sedikit menahan tertawa mendengar itu. Mengenggam erat kertas itu, Iza mendengus kesal. "Dasar murid sialan?!"
"M-murid?!"
"Ya! Murid, dulu Anya dan kakaknya sempat belajar bersamaku selama setahun, dan sifat jahilnya tidak pernah hilang, dasar murid tidak tau diri!" Iza dengan kesal merobek surat itu. Terdiam sejenak, dan berbalik menghadap Zen. "Dan selamat untuk anda yang kini menjadi guru tetap disini." Ucapnya dengan senyum mengerikan. "Dan untuk gadis disana, kau bisa ikut tuan Zen atau kunjungi saja aku." Ucapnya sambil tunjuk pada Iris.
Disisi lain, Allenz, Nayaka, dan Teresa di beri kotak kayu yang berisi baju akademi untuk mereka dan diberi kunci kamar asrama untuk mereka. Nayaka dan teresa menjadi teman bersebelahan, dimana sang pihak pemberi kunci bilang bahwa murid yang mendaftar awal bisa memilih kamar yang mereka mau, seperti Nayaka dan Teresa.
Allenz kemudian berpisah dengan keduanya, dan pergi ke kamar miliknya. Dimana asrama berada di timur akademi, dan memiliki gedung terpisah, dimana gedung utama berisi kelas, ruang guru dan kepala sekolah, kantin dan ruangan untuk pelajaran khusus.
Gedung yang terpisah dari gedung utama terdiri dari asrama siswa dan guru, tempat latihan luar ruangan, perpustakaan, dan taman.
Alasan adanya asrama guru untuk para guru yang tidak menyewa penginapan atau rumah di ibukota, seperti Zen, dia mendapat kamarnya sendiri.
Allenz berjalan menuju kamar asrama miliknya, sesampainya di asrama, dia melihat nomor kamar miliknya di papan buletin, yang berisi nomor kamar dan lantainya, jadwal pelajaran, dan jadwal makan bagi siswa.
Mendapati kamarnya di lantai dua dengan nomor 203, dia pergi ke atas dengan naik tangga, ini cukup beruntung baginya di lantai dua, jika dia ada dilantai atas, akan secapek apa jika dia harus naik turun tangga setiap harinya berulang kali.
Sampai dia lantai dua, suasana asrama tampak sepi dan hanya terkena sinar cerah matahari. Melangkah maju, matanya memerhatikan setiap nomor kamar asrama miliknya. Hingga langkah kakinya terhenti saat ada sesorang yang bersandar pada dinding tepat disebelah kamarnya.
Saat mendekati orang itu, Allenz tau orang tersebut, dan tidak mengubrisnya. Allenz melewati orang itu yang ternyata tertidur bersandar pada dinding depan kamarnya.
Membuka kunci pintu, dan masuk dengan menutup pintu dengan keras, membuat orang itu terbangun dan sadar bahwa Allenz sudah tiba, bahkan sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Al? Allenz, boleh aku masuk?"
"Tidak, orang asing tidak aku ijinkan masuk."
"Ayolah, kau sudah mengenalku sejak lama, tidak mungkin kau anggap aku ini orang asing."
Dari dalam Allenz menjawab lagi. "Tapi, kita jarang bertemu bahkan sudah 3 tahun, jadi kau sudah aku masukan dalam daftar orang asing kembali."
"Ayolah..."
"Tunggu, aku rapikan barang-barang milikku sebentar." Didalam kamar Allenz, dia merapikan semua barangnya, dan memakan cukup waktu. Setelah selesai merapikan semua barangnya, dia keluar dan mengunci kembali. Lalu, berbicara pada orang tadi yang masih menunggu diluar. "Baik, mau berkeliling?"
Orang itu yang terlihat hampir seusianya, dia langsung semangat saat Allenz mengajaknya berkeliling akademi. "Serius?! Serahkan padaku! Aku, Hans putra bungsu dari kerajaan Hearterra ini akan menjadi pemandu terbaikmu."
Keduanya keluar asrama, berkeliling akademi, Hans menjelaskan semua bagian ruangan akademi bahkan sampai titik terkecil seperti lampu dan letak pot bunga. Allenz juga terkadang bertanya satu-dua hal yang sekiranya dia bingung, dan akan dijelaskan oleh Hans.
Pemuda bersurai merah itu dengan senang menjelaskan semua hal yang dia tau soal akademi, ini sangat membantu bagi Allenz yang tidak terlalu tau soal akademi, dengan ini dia bisa tau tanpa perlu lagi mengikuti sesi pengenalan lingkungan akademi nantinya saat hari pembukaan pendaftaran akademi.
Saat hari nampak mau memasuki sore, Hans mengajak Allenz untuk pergi ke kantin sekolah yang memiliki ruangan yang besar dan memiliki dua lantai, dia juga sempat melihat Zen yang di ajak oleh pengajar untuk mengelilingi akademi juga.
"Aku jadi tidak sabar saat hari di mulainya akademi." Ungkap Hans yang tampak semangat.
__ADS_1