
"Serang!!"
Perang membuat orang kadang tidak menyadari bahwa mereka membuat sebuah keadaan menjadi lebih buruk. Mengambil nyawa seseorang, menghancurkan tempat tinggal orang lain, dan membuat orang lain berduka atas kehilangan keluarga mereka.
Allenz terkejut dengan dirinya yang berada di perang antara Old Human dan New Human dulu, dirinya kini menggunakan pakaian serba hitamnya semasa dia ikut perang. Topeng Cocketrice miliknya ada di sebelahnya, melihat kedua tangannya. Dia terkejut dengan tangan kirinya yang kembali seperti sedia kala. Tak lama sebuah pesawat datang dan menembakinya. Membuat Allenz berlari menghindar, dirinya mencoba menggunakan sihir anginnya. Namun, tidak ada yang keluar darinya, dia tidak merasakan mana sihir.
Hanya bisa berlari, dia mengerahkan kekuatannya, benda-benda dibelakangnya hancur, mobil, lampu jalan, dan sebagainya. Hingga tembakan itu mengenai dirinya dan memusnahkannya.
"AAAHH!!"
"Kyaa!!"
Allenz terbangun di taman rumah keluarga Bartfort, dan disampingnya ada Teresa yang nampak terkejut.
"Huh? Res, kau kenapa?"
"Huh!? Seharusnya aku yang bertanya, kau tiba-tiba terbangun secara mengejutkan begitu!?" Ucap gadis itu. Teresa kini sudah mengalami perubahan sejak tiga tahun terakhir, dirinya memiliki rambut hitam sebahu yang berkilau dan rambut dalamnya berwarna ungu, dengan tubuhnya kini seperti gadis remaja pada umumnya, terutama bagian depannya yang memiliki kemajuan, yap kemajuan yang luar biasa.
"Aku... Mimpu buruk."
Merasa khawatir pada Allenz. "Kurasa kau perlu beristirahat dengan baik, dan mencari ketenangan."
"Kurasa begitu, ngomong-ngomong, kenapa kau disini?"
"Ah?! Aku? Hahaha... Hanya kebetulan mencari angin." Ucap Teresa dengan tertawa kering. "Oh iya, ini sudah jam makan siang."
"Kurasa benar."
Teresa membantu Allenz berdiri dan menariknya masuk mansion. Teresa hanya tersenyum, membuat Allenz bertanya. "Ada apa?"
"Hehe, bagaimana kalau hari ini aku menyuapimu makan?"
"Tidak, terima kasih, aku bisa makan sendiri."
Teresa hanya bisa memasang muka kesal, lalu meninju perut Allenz. "Ouch."
Dimeja makan, Allenz makan bersama Teresa, Nayaka, dan Ben yang kini sudah berusia 13 tahun.
Hingga Tiara, ibu dari Teresa dan Benard, mendatangi mereka saat makan. "Senangnya, melihat kalian berkumpul seperti ini." Ucapnya. "Aku seperti melihat kalian saat berkeluarga nanti."
Ucapan Tiara membuat Allenz dan yang lain terkejut, bahkan Nayaka sampai tersedak makanannya, lalu Ben malah menyemburkan minumannya yang baru dia minum.
"Ibu?! Itu terlalu cepat?! Apa tidak ada pembahasan lain?!" Keluh Teresa.
"Hmm? Apa pembahasan ibu terlalu dewasa? Baiklah, bagaimana kita membahas soal saat kalian meni–"
"Yia, tolong bawa ibuku keluar dari sini." Ucap Teresa memanggil maid-nya, dan mengusir ibunya dari sana.
"Eh!? Lho, Teresa tunggu." Tiara pada akhirnya di bawa keluar oleh para maid.
Setelah pintu ruangan ditutup, hanya keheningan diruangan itu, suasananya menjadi canggung.
"Haah...." Mereka hanya bisa menghela nafas secara bersamaan.
"...Jadi kak Allenz mau punya anak berapa?" Tiba-tiba Ben bertanya pada Allenz yang berujung pada sebuah ikan bakar yang menghantam wajahnya.
Diatas dinding kota Nevelheim, Allenz duduk pada pinggir dinding. Dirinya tengah menikmati waktu sendirinya, dia melihat kondisi luar kota yang hanya bukit dan padang luas.
Memejamkan matanya, dia membayangkan dirinya yang sekarang, memiliki keluarga yang lengkap, kehidupan yang damai, sudah memiliki wanita, apa lagi yang kurang? Mungkin hanya tangan kirinya. Pasca parang terdahulu, dia berpikir para New Human tidak akan bertahan, namun sebaliknya, sebuah peradaban baru dengan adanya sihir.
Membuka matanya, dia ingat bahwa masalah bagi para manusia baru saat ini adalah hewan yang bermutasi menjadi monster dan para iblis yang muncul entah dari mana.
Menyadari sesuatu, dia ingat. Dari mana para iblis ini berasal? Seharusnya entitas seperti iblis hanya sebuah penggambaran dari sifat buruk manusia, lalu iblis yang dia hadapi ini apa? Berpikir, yang dia tau entitas iblis hanya sebuah kepercayaan atau ketakutan manusia saat menjadi buruk perilakunya.
Apakah iblis ini adalah iblis asli yang berasal dari neraka? Allenz juga mengingat projek New human miliknya, dia tidak hanya membuat prototipe manusia buatan, tapi juga dari ras seperti dalam cerita fantasi lain, seperti Elf, Beastman, dan Dwarf, meski ada ras lainnya, para ras buatan ini mereka buat untuk membuat peradaban baru yang lebih variatif, meski sebenarnya ini adalah permintaan beberapa orang berkuasa yang ingin memiliki semacam budak dari ras lain. Namun, tidak dengan iblis, kemunculan mereka secara tiba-tiba saat perang New Human melawan Old Human sedang berlangsung.
Mengingat ras lain juga, dia jadi penasaran bagaimana dengan perkembangan ras lain, sejauh ini dia hanya tau manusia dan iblis saja.
Karena mengingat hal itu, dia hendak mencoba mencari tau soal ras lain, yang nampak tersembunyi dibelahan dunia ini, entah dimana.
"Alans, apa kau tau info soal ras lain?"
Mendapat pertanyaan dari Allenz, Alans menjawab. "Tidak tau, ingatan saya dan anda itu saling terhubung, namun tidak ada yang bisa saya dapat dari ingatan itu. Selain, saat pelaksanaan projek tubuh ras itu."
Menghela nafas kecewa, Allenz berharap menemukan info untuk mengetahui hal itu.
"Bagaimana kalau pergi ke tempat anda pertama kali ditemukan, mungkin kita dapat informasi melalui satelit." Saran Alans.
Seperti menemukan harapan, Allenz menyetujui untuk kembali ke lab lama miliknya. "Tunggu, aku tidak ingat tempatnya."
"Anda bisa mengandalkan saya." Ucap Alans.
"Baik, kita berangkat saat ini juga."
"Anda tidak meminta ijin dulu?"
"Tidak perlu, yang ada aku tidak akan diijinkan pergi." Ucap Allenz langsung menaiki papannya dan pergi ke tempat laboratorium saat dia pertama kali ditemukan.
Melayang di udara dia dengan bantuan arahan Alans, Allenz memasuki hutan tempat lab itu berada.
Hingga melewati atas hutan, dia melihat sebuah gedung yang berdiri di tengah hutan, sudah mengetahui lokasi tempat yang dia tuju, Allenz turun dan berhenti di depan pintu.
"Apa tidak masalah masuk dengan kondisi seperti itu?" Tanya Alans pada Allenz yang datang dengan kondisinya yang belum pulih sepenuhnya, terutama dia sudah tidak memiliki tangan kiri.
Melangkah masuk, dia memasuki lorong yang sudah rusak, dan banyak tumbuh-tumbuhan yang menempel pada dinding, lampu-lampu juga berkelap-kelip dengan sendirinya.
Tempat ini sudah rusak total.
Berjalan lurus, dia menemukan pertigaan, satu pintu tertutup rapat dan butuh sebuah kunci berupa kartu identitas, dan dia tau bahwa pada tubuh lamanya ada kunci kartu itu, itulah Allenz memutuskan untuk berjalan lurus. Akhirnya, dirinya menemukan tempat dirinya dulu memindahkan tubuh lamanya pada tubuh baru yang dia gunakan saat ini.
Bahkan tempat itu juga sudah rusak dan terlihat tua, mayatnya saja masih ada disana, di ruang itu juga ada komputer yang menyala yang menampilkan video rekaman ruangan itu.
__ADS_1
"Hmm?? Kartu identitasku tidak ada." Allenz sadar bahwa kartunya pada tubuh lamanya sudah tidak ada, ini membuat dirinya tidak bisa masuk lebih dalam.
Namun, dia tidak habis akal. Dia kembali ke pertigaan sebelumnya. Berdiri didepan pintu itu, menarik nafas panjang. Allenz dengan bersiul nyaring, membuat serangan angin kuat yang menghancurkan pintu itu dengan mudah, membuat suara gemuruh.
Berjalan masuk, dia menemukan lorong yang lebih baik dari sebelumnya, lorong ini masih cukup baik, meski ada beberapa bagian yang sudah nampak termakan usia. Mencapai ujung lorong, dia memasuki lift yang masih bisa digunakan.
Allenz menuju lantai bawah tanah, dia hendak pergi ke ruang keamanan, dimana disana menyimpan juga banyak informasi yang mungkin dia perlukan.
Mencapai lantai yang dituju, pintu lift terbuka, Allenz melangkah keluar dengan disambut berbagai senjata keamanan di ruangan itu, laser merah mengarah pada tubuh dan kepalanya. Cukup banyak senjata yang diarahkan kepadanya.
"... Apa-apaan ini?"
...****************...
Diruang keamanan, Zen tengah tertidur pulas, dia sudah tinggal disini beberapa hari untuk mempersiapkan dirinya keluar, sambil mencari informasi lebih soal dunia luar.
Pada tidurnya, dia dengan nyenyak tidur, hingga alarm di ruangan itu berbunyi.
Suara keras membuat siapa saja akan terbangun dari tidurnya.
"Ada apa ini?! Program ada apa?!"
Program menjawab [Menjawab, seseorang telah menerobos masuk tempat ini, dia sedang menuju lift ke lantai bawah]
"Apa?! Penyusup?! Sial!!" Bangun dari tidurnya, Zen lekas menggunakan masker penetral sihir dan menuju layar yang ada di dekatnya untuk mengaktifkan senjata keamanan yang berada di luar ruangan ini, terutama lorong depan lift. "Program, pindai orang itu!"
Program kemudian memindai dan butuh waktu lama untuk pemindaian selesai.
Zen kini sibuk dengan layar didepannya, dia bahkan mengerahkan seluruh senjata pada lorong depan lift hingga tahap penghancuran.
Menyalakan kamera pengawas pada lorong depan lift, dia melihat cahaya pada pintu lift menyala, menandakan bahwa ada seseorang yang turun ke lantai ini.
Pintu lift terbuka, menunjukkan seorang remaja dengan rambut abu-abu dengan membawa papan di belakangnya, namun remaja itu tidak memiliki tangan kiri alias disabilitas.
"Wah, wah, wah, kau hebat juga bisa melewati ruangan atas yang menetralkan sihir, bagaimana dengan ini, huh?! Apa kau mampu bisa lewat?? Ini dengan keamanan tingkat akhir kau tau?! Tingkat kehancuran maksimal!" Ucap Zen yang tersenyum kemenangan.
Masih fokus pada layar dan bersiap menekan tombol Enter untuk memulai tembakan.
"Heh, meski kau masih muda, kau tidak mungkin bisa lewat!! Apa lagi kau ini hanya manusia ciptaan, hanya New Human! Hahaha!!"
Saat melihat pemuda itu, sang pemuda mengambil papan yang dia bawa dan menjadikannya perisai, dan bersiap maju.
"Hohoho... Kau berani juga." Ucap Zen remeh.
Namun, dengan sekejap mata, pemuda itu menghilang, membuat Zen terkejut dan langsung menekan tombol Enter, lorong itu langsung di hujani oleh tembakan yang menyerang pemuda rambut abu-abu itu.
"Apa, dia melewati semua serangan itu?!" Panik Zen.
Hingga pintu ruangan keamanan dimana Zen berada dihantam keras, sampai kedua pintu ruangan itu terlepas dan melayang ke sudut ruangan.
...****************...
Allenz terdiam dengan semua senjata yang diarahkan padanya, dia melihat semua senjata itu satu per satu.
"Apa anda akan menerobos semua ini?" Tanya Alans.
"Kita tidak punya pilihan lain, aku juga tidak mau kembali, sebelum mendapat informasi yang aku inginkan." Ucap Allenz yang kemudian mengambil papannya dan di pegang didepannya, seakan menggunakan perisai.
Mengambil nafas dalam, memejamkan matanya.
"YOLO!!!" Dengan cepat Allenz melesat menghindar semua serangan dari lorong ini, dia berusaha menghindar semua tembakan ini dengan kecepatannya.
"Dimana? Dimana? Dimana ruang keamanan?" Mencari ruang keamanan, hingga dia melihat lorong yang memiliki tiga jalur dan diatas langit-langit pertigaan itu ada penunjuk arah, dan ruang keamanan berada di kiri. "Ruang Keamanan!!"
Berbelok ke kiri, melihat sebuah pintu yang tertutup pada lorong itu, dengan tanpa basa-basi Allenz menggunakan Whistling Spell yang kuat dan mampu menghancurkan pintu yang menutupi ruang itu, dan berhasil masuk, sampai Allenz menabrak dinding pada ujung ruangan.
"Sial, sepertinya aku terlalu kencang sampai menabrak dinding." Keluh Allenz sambil memegang kepala.
Ruangan itu kini di penuhi oleh debu, membersihkan debu pada bajunya. Allenz sibuk dengan bajunya, sampai sebuah granat bergelinding dikakinya. Reflek, Allenz melompat ke samping, karena dia sekarang hanya memiliki satu tangan, dia sampai susah berguling dengan baik.
Allenz terkejut dengan adanya seseorang disini, dia tidak menyangka hal itu. Apa para iblis sudah tau tempat ini? Atau para iblis hendak mengambil informasi dari tempat ini.
"Siapapun kau?! Keluarlah, tunjukkan dirimu!" Teriak Allenz.
Di bawah meja, Zen tengah bersiap dengan shotgun yang dia punya, dirinya saat ini sedang menunggu momen yang tepat untuk menyerang balik. Saat ini dia hanya bisa mendengar pemuda misterius itu berteriak dengan bahasa yang dia tidak mengerti.
Menarik nafas dalam, dia menyiapkan dirinya. Berdiri dengan spontan, lalu menodongkan senjatanya pada pemuda itu.
"Raise your hand there! And don't try to use your magic!" Itulah yang didengar oleh Allenz. Dirinya terkejut dengan seseorang yang menggunakan bahasa inggris disini. Memutar tubuhnya secara perlahan, dia mendapati seorang pria tua yang menggunakan topeng anti sihir dan mengenakan baju pasien.
"Ah, jangan kau coba-coba maju selangkah, jika tidak mau kepalamu pecah oleh peluru!" Tegas Zen.
Allenz merasa familiar dengan orang didepannya. Dirinya seperti mengenal orang itu, dia mencoba mengingatnya. Ingatan demi ingatan dia mencoba mengingat orang itu, dirinya sadar bahwa yang didepannya adalah seseorang yang dia kenal. "Zen? Rasyid?"
Namun, apa yang didengar Zen berbeda, Allenz memanggil namanya dengan bahasa Worage yang membuatnya tidak paham dan semakin mewaspadai pemuda itu.
Sadar dirinya memanggil Zen dengan bahasa era saat ini, Allenz mencoba memanggil Zen menggunakan bahasa Inggris. "Ras? Rasyid, it's me, calm down. I beg you to lower your weapon." Allenz mencoba berkomunikasi dengan Zen sebisa mungkin.
Namun, Zen semakin mewaspadai Allenz. "Now, you're trying to trick me by pretending to understand my language, huh?" Zen mengira Allenz mencoba menipunya dengan menggunakan bahasa inggris.
Sampai pemindaian Program selesai, dan mengonfirmasi pemuda yang berada didepannya.
"Program, bagaimana hasilnya?" Tanya Zen hasil pemindaian pada pemuda ini dengan masih mewaspadai gerak-gerik pemuda itu.
[Menjawab, hasil yang didapat adalah pemuda itu merupakan Christoper Fran Newton]
Terkejut dengan hasil program, Zen menanyakan lagi. "Tung– Apa?! Kau serius?!"
[Menjawab, hasil yang didapat adalah pemuda itu merupakan Christoper Fran Newton] Program menjawab dengan jawaban yang sama.
Zen menjadi terdiam, dia melihat pemuda itu masih mengangkat satu-satunya tangan miliknya sambil tertawa kecil. "Tertawalah, sialan?!"
__ADS_1
"Pfftt... Hahaha... Untunglah aku terbantu oleh Program disini. Jika tidak, mungkin kita masih saling serang dari tadi." Ucap Allenz, kini Allenz menggunakan bahasa inggris untuk berbicara dengan Zen.
"Apa-apaan bahasa aneh itu, terdengar seperti kumur-kumur ditelingaku." Ucap Zen.
"Itulah bahasa yang digunakan tempat ini." Jawab Allenz.
"Sudahlah, lalu apa yang membawamu ke sini? Apa tubuh barumu itu bisa merasakan diriku yang sudah terbangun?" Tanya Zen kedatangan Allenz pada tempat ini sambil menurunkan senjatanya.
"Tidak, tubuhku tidak mungkin bisa melakukannya. Aku hanya ingin mencari informasi melalui satelit."
Mendengar kata satelit, Zen memberitahu tentang perangkat yang menyerupai jam tangan miliknya, yang mampu mengakses semua satelit yang ada.
"Kau hendak mencari apa?"
"Para New Human jenis ras lain seperti elf, dwarf atau semacamnya." Jawab Allenz.
Zen terdiam, untuk apa temannya ini mencari ras lain? Tidak memusingkan hal itu. Menggunakan beberapa satelit dan menggunakan kamera satelit untuk mencari para ras lain.
Mencari dengan cepat, Zen menemukan beberapa pemukiman milik dwarf dan beastman, di antaranya pada wilayah Mesir, Amerika Selatan dan dekat bagian timur pegunungan Himalaya.
"Lihat, dengan ini kita bisa menemukan hal apapun dengan cepat." Ucap Zen dengan bangga pada Allenz.
"Itu baru hebat, seperti dirimu yang dulu saat menjadi tentara."
"Intel... Sudah aku beritahu beberapa, Chris."
"Owh... Ya..."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau hanya memiliki satu tangan?" Tanya Zen tentang diri Allenz yang memiliki satu tangan.
Menatap tangan kirinya yang sudah tidak ada, Allenz menjawab. "Ah, ini akibat aku melawan iblis."
Terkejut dengan ucapan Allenz, Zen tidak menyangka akan hal itu. "Iblis?! Yang benar saja! Dunia ini gila?! Apa perang masih berlanjut?"
"Hanya aliansi manusia melawan iblis yang hendak mengambil wilayah kerajaan lain."
Menggaruk kepalanya, Zen ingat akan keberadaan iblis ini. Dia pikir kini dunia sudah diisi oleh para New Human dan monster saja.
Sedang memperhatikan layar hologram pada jam itu, Allenz menyadari sesuatu. "Ras, bagaimana kalau kau memindahkan kesadaranmu pada tubuh baru? Kau bisa keluar dari sini dan melihat dunia baru." Saran Allenz.
"Sekarang?"
"Sekarang!"
Merasa tidak yakin, Zen menjawab. "Aku tidak yakin, setelah melihat banyak projek yang gagal... Aku merasa takut jika akan gagal."
Mendengar jawaban Zen, Allenz sadar akan hal itu, bahkan dirinya saja yang hampir sempurna, sampai memiliki kesadaran baru saat proses pemindahan tubuh. Namun, untuk kali ini dia tidak ingin Zen bernasib sama.
Ditengah Allenz melamun, Zen berbicara kecil. "Ayo lakukan."
"Apa?"
"Ayo lakukan pemindahan pada tubuhku."
Kedua tengah menuju tempat laboratorium, dimana alat pemindahan tubuh berada dengan sampel tubuh-tubuh New Human, memasuki lift dan turun lebih dalam, mereka sampai dan memasuki ruang laboratorium.
"Baik, aku akan mengambil tubuh baru, sementara kau menyiapkan peralatan untuk memindahkan tubuh baruku, paham?" Ucap Zen dan Allenz membagi tugas mereka.
Allenz menarik sebuah kursi dan memasang beberapa kabel besar pada sebuah tabung air yang akan dimasukkan tubuh baru Zen. Dilanjutkan menyalakan monitor komputer didekat sana dan mengoperasikannya.
Ditempat lain, Zen masuk kedalam sebuah ruangan pendingin dimana tubuh para sampel disimpan bersamaan dengan beberapa organ tubuh disana. Disana banyak tubuh yang belum lengkap dan ada yang sudah sempurna dalam sebuah tempat yang tertutup kaca. Melihat banyak tubuh itu dari wanita, pria, dan ada yang dalam masa bayi atau janin. Mengambil sebuah tubuh dengan data yang memiliki tulisan Anomali, yang memiliki warna kulit coklat dan rambut putih ke abuan, Zen membuka kaca tempat tubuh itu disimpan dan mengotong tubuh itu keluar untuk dibawa pada Allenz.
Diruangan lab, Allenz sudah bersiap.
"Ok, masukkan tubuh itu pada tabung berisi air itu." Ucap Allenz.
Zen membuka tabung yang dalam posisi tertidur, membuat air didalamnya tumpah sebagian dan memasukkan tubuh itu dan menutup kembali, lalu menekan sebuah tombol biru. Mengisi penuh kembali tabung itu dan menenggelamkan tubuh tadi.
"Aku sudah siap." Ucap Allenz yang sudah bersiap didepan komputernya. "Ngomong-ngomong, tubuh apa yang kau pilih?"
"Tubuh yang memiliki anomali, apa itu buruk?"
"Tidak, itu malah bagus, karena tubuhmu bisa bertahan dari tempat yang tidak memiliki sihir sekalipun atau semacam itu." Jawab Allenz.
"Ok, baik aku akan duduk." Zen duduk dikursi yang disediakan Allenz didekat tabung itu, lalu menggunakan sebuah helm khusus yang terpasang banyak kabel.
Terdiam sejenak, Zen hendak bicara. "Chris... Jika ini..."
"Ras, kau lebih baik diam, dan bersiaplah."
"Oh ya, kau benar." Zen bersiap dengan dirinya, menarik nafas. Dia hendak menyiapkan mentalnya. "Lakukan."
Mengoperasi komputer, Allenz menjalankan program pemindahan tubuh pada Zen, dia harap tidak ada kesalahan pada operasi kali ini.
"Ini dia." Menekan sebuah tombol, kepala Zen seakan ditarik, lebih tepatnya kesadarannya.
[Proses pemindahan dimulai... Memindahkan kesadaran... Memulai pemindahan]
"Aku harap ini berhasil." Ucap Allenz.
[Anomali terdeteksi! Anomali terdeteksi! Membatalkan pemindahan]
"Apa!?" Allenz bergerak cepat dia mencoba mempertahankan proses pemindahan dilakukan.
[Pemindahan... 20%, Pemindahan... 40%, Pemindahan... 74%, Pemindahan... 89%]
Rasa panik sangat terlihat diwajah Allenz, dia berharap pemindahan ini berhasil tanpa adanya kesalahan.
[Pemindahan selesai]
Mendengar pemindahan selesai, Allenz dengan cepat mendatangi tabung itu, lalu membukanya, menumpahkan beberapa air didalamnya.
__ADS_1
"Ras? Rasyid? Apa kau dengar aku? Zen!! Bangun!!" Allenz mencoba membangunkan Zen, dia harap Zen ada di tubuh barunya ini.