After World Breaker

After World Breaker
Chapter 33: Akademi Ibukota ll


__ADS_3

Hari pembukaan akademi tiba, banyak anak yang di daftar masuk oleh orang tua mereka. Bahkan sangat ramai, dan untunglah Allenz dan yang lain mendaftar sebelum hari pembukaan daftar siswa baru.


Mengingat soal mereka yang mendaftar di hari sebelum pembukaan penerima siswa baru, Allenz sempat berpikir, apa mereka itu melakukan hal yang curang? Hans menjelaskan itu bukan hal yang curang atau hal sejenisnya, orang tua juga bisa mendaftarkan anak mereka sebelum hari pembukaan, seperti mereka. Hal ini biasa dilakukan untuk tidak menimbulkan keramaian lebih saat pembukaan berlangsung, bahkan kini dibuat beberapa gelombang untuk mendaftar agar bisa menangani banyaknya siswa yang mendaftar masuk.


Bahkan pada hari pertama itu ada sekitar 300 lebih anak yang didaftar masuk, ini juga termasuk untuk anak yang mendaftar sebelum hari pendaftaran. Saking banyaknya, pihak sekolah akan mendata sebagian dari anak itu dan akan dilanjut pada esok hari.


Di lorong sekolah, Allenz dan yang lain berjalan santai. Mereka hendak makan di kantin untuk mengisi perut mereka di pagi hari. Allenz merasa saat ini seperti jam delapan, karena matahari belum naik terlalu tinggi di langit.


Saat ini juga, mereka sudah menggunakan pakaian siswa akademi, dengan pakaian kemeja sebagai baju dalam, jas abu-abu gelap, dan dibagian luar menggunakan baju yang agak besar berwarna hijau gelap dengan beberapa aksen putih dan kuning. Dimana celana dan roknya juga berwarna abu-abu gelap, rok untuk para siswa yang lebih dari selutut dan diharuskan menggunakan stoking hitam panjang.


Mereka bahkan melihat banyak anak baru yang tengah pergi ke asrama mereka untuk menaruh barang-barang mereka.


Sampai di kantin, tidak banyak orang disini, hanya belasan anak. Sangat sedikit untuk sebuah kantin yang berukuran hampir empat puluh meter luasnya, dan tinggi langit-langitnya hampir mencapai tujuh puluh meter.


Allenz dan yang lain menuju meja yang cukup panjang untuk tempat makanan di sediakan, disana ada beberapa orang dewasa yang akan menyajikan makanan bagi para murid. Sampai di meja itu, mengambil nampan makan untuk masing-masing mereka.


Nayaka adalah yang pertama mengambil makanan, dia disambut yang penyaji makan, seorang pria yang kisaran usia tiga puluh tahun, pria itu bertanya pada Nayaka. "Kau mau makan apa, nona?"


Nayaka melihat-lihat makanan itu, cukup banyak. Ada Bigos, Rosół yang berarti sup ayam khas Polandia, Pierogi, beberapa roti, stew jamur, dan makanan lainnya. Nayaka memutuskan untuk mengambil Bigos dan Rosół.


Dilanjut Teresa yang mengambil Pierogi, dan Bigos. Allenz dan Hans hanya memakan roti dengan selai, berbeda dengan kedua perempuan tadi yang malah seperti mengambil porsi makan siang.


Tanpa mempermasalahkan porsi Nayaka dan Teresa yang cukup banyak, Allenz dan Hans hanya makan dalam diam, menikmati roti mereka sendiri.


Hingga seseorang mendatangi mereka mereka dan meminta ijin untuk bergabung. "Apa boleh aku bergabung dengan kalian."


Sontak mereka berempat melihat siapa yang datang. Allenz bahkan sampai tersedak oleh rotinya sendiri dan langsung menutup mulutnnya, dia terkejut saat tau bahwa orang itu adalah Sean.


"Lama tak jumpa." Sapa Sean.


Allenz membalas sapaan itu. "Ya, lama tak jumpa, silahkan aku tidak keberatan."


"Terima kasih." Sean kemudian ikut duduk bersama mereka. Dia juga cukup merasa dirinya bisa duduk bersama Allenz, bahkan dengan Hans yang adalah keluarga kerajaan. "Suatu kehormatan juga bisa duduk bersama Yang Mulai Pengeran." Sean kemudian memperkenalkan dirinya pada Nayaka dan Teresa. "Mungkin kita pernah bertemu, tapi sekali lagi aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Sean Gale Raatz, putra pertama di keluarga Raatz."


"Salam kenal!" Ucap Nayaka.


"Salam kenal, nama saya Teresa Sena Bartford." Ucap Teresa.


Sean kemudian pergi sejenak untuk memesan makanan untuknya, saat Sean pergi Hans bertanya pada Allenz. "Hei, bagaimana kau bisa mengenal putra sulung keluarga Raatz?"


"Disaat aku masuk barak, aku bertemu dengannya kami jadi saling kenal." Jelas Allenz dengan singkat.


Tak lama, Zen datang, lalu ikut duduk bersama mereka. Terlihat dari wajahnya dia seperti sedang banyak pikiran. "Aku mencari kalian, ternyata disini." Dia bahkan menjatuhkan kepalanya dimeja.


Allenz, Hans, Nayaka, dan Teresa kebingungan melihat tingkah Zen, terutama Hans yang tidak mengenal siapa Zen. Pada ketiganya, Hans bertanya. "Siapa dia?" Ucapnya sambil berbisik.


Allenz menjelaskan pada Hans. "Orang ini, orang yang nampak menyedihkan ini, dia bernama bapak Zen Rasyid Aditya."


Hans langsung menatap Allenz dengan serius, karena dia tau soal Zen yang ikut andil dalam perang. Tentu, beberapa informasi dia tau dari pihak kerajaan, dia tidak menyangka orang itu ada di meja yang sama denganya. "Permisi, apa anda tuan Zen?"


Zen dengan malas menjawab. "Iya, benar."


Allenz kemudian berbisik pada Zen. "Hoi, orang yang berbicara padamu ini seorang pangeran, tau?!"


Seketika Zen duduk tegak, dan meminta maaf. Hans menenangkan Zen, dan dia bertanya alasan Zen disini. Zen menjawab dia bertanggung jawab atas mereka bertiga, lalu dia akan mengajar sebagai guru dalam bela diri dasar dan menengah. Hans pun menyambut Zen yang menjadi guru baru disini.


"Kami tunggu di jam anda, Mistrz Zen." Ledek Allenz.

__ADS_1


Tak lama, Sean kembali dengan membawa roti, rebusan jamur dan minuman berupa teh beri, dia juga menyapa Zen sebagai guru. "Siang, pak guru Zen, tidak aku sangka anda disini juga."


"Begitulah."


Allenz cukup terkejut dengan Sean yang sudah kenal dengan Zen, lantas dia bertanya. "Kau sudah mengenal orang ini?"


Sean menjawab. "Tentu, aku kemarin bertemu dengannya saat aku hendak memberi beberapa berkas di ruang guru. Dari sana juga aku cukup tau bahwa dia itu kenalanmu. Oh iya, dimana Iris, pak?"


Tanpa orang tau, Iris sudah ada dari tadi, berdiri di samping meja dan membuat mereka terkejut, kecuali Zen yang masih menaruh kepalanya di meja. "Ada yang memanggilku?"


"Astaga, Iris tolong jangan mengejutkan kami seperti itu!" Keluh Teresa.


"Maaf." Berjalan mendekati Zen, Iris meminta pria itu untuk memberinya makan.


Dengan nada malas, Zen membalas. "Kau ada dikantin, ambillah makananmu sendiri."


Namun, Iris malah menarik bajunya, dia ingin Zen yang mengambil makanan untuknya. "Makan...."


Merasa terganggu, Zen menyerah dan memutuskan untuk mengambil makanan bagi Iris. "Kau jadi manja begini." Ungkap Zen dengan menatap tajam, lalu pergi.


Saat Zen menjauh, Iris sedikit meledeknya, dan membuat Teresa dan Nayaka tertawa kecil melihat tingkah lucu Iris. Sean kemudian menyodorkan kursi untuk Iris, dan menaruh gadis itu untuk duduk.


Allenz bertanya pada Sean bagaimana materi pelajaran berlansung, Sean menjelaskana sistem pelajaran disini hampir kebanyakan menggunakan metode praktek ketimbang materi, dan sekali pun ada pelajaran materi itu hanya sekedar untuk membahas sejarah, ilmu dasar sihir, dan hal lainnya.


Dikarenakan saat ini Sean tengah libur akibat akademi sibuk mengurus murid baru, dia akan senang hati mengajak mereka berkeliling akademi, dan mengenalkan mereka pada beberapa guru.


Saat Zen kembali membawa makanan untuk Iris, beberapa murid lain nampak berkerumun. Zen dan yang lain sontak penasaran, mereka hanya melihat dari meja mereka. Tampak beberapa siswa mengelilingi siswa lain yang seperti siswa senior. Berbeda dengan siswa biasanya yang menggunakan pakaian kebesaran hijau gelap, mereka menggunakan pakaian serba putih dan nampak mencolok.


Nayaka bertanya soal mereka. "Siapa mereka yang menggunakan pakaian putih seperti itu?"


Sean menjawab. "Mereka adalah dewan siswa, yang bertanggung jawab mengawasi siswa di akademi jika para guru tidak ada, lalu berkoordinasi dengan guru saat ada pertemuan." Dia menambahkan. "Sebagian dari mereka diisi oleh anak bangasawan dan anak berprestasi, dan dijadikan anggota."


"Karna aku wakil ketua dewan siswa." Jawab Sean sambil menunjukan sebuah bros sebagai tanda anggota dewan siswa, di bros itu juga ada nama lengkap Sean dan posisi yang dia duduki di dewan siswa.


Allenz malah berpikir Sean adalah ketua dewan siswa, ini ia langsung ungkapkan pada Sean sendiri. "Aku pikir kau ini ketua dewan siswa."


Sean menjawab. "Aku tidak mau memiliki tanggung jawab yang besar, lagi pula aku bukan orang yang tegas. Jadi itulah mengapa aku tidak ingin menjadi ketua dewan. Makanya, saat tahun kedua aku disini, banyak yang memintaku untuk menjadi ketua dewan siswa, tapi aku tolak." Sean kemudian meminum teh beri miliknya dengan perlahan.


"Jangan bilang, mereka hendak memasukan dirimu karena pernah ikut pelatihan militer." Tebak Allenz.


"Yap, padahal ada siswa lain juga yang mengikuti pelatihan juga selain aku." Ujar Sean. Sean juga teringat satu hal dan mengatakan. "Oh iya, mungkin ini sedikit menyinggungmu. Tapi, aku turut berduka atas kematian komandan Finn."


Allenz lantas terdiam, Nayaka dan Teresa sedikit panik saat Sean membahas soal kematian Finn, mereka tau bahwa hal ini mungkin bisa saja memancing emosi Allenz.


Allenz menghembuskan nafas, dia sudah tidak mempermasalahkan soal Finn, meski dulu dirinya dan Finn cukup dekat, tapi itu sudah hanya sebatas memori masa lalunya saja.


Zen tiba-tiba juga bertanya soal Finn, dengan hati-hati dia bertanya. "Jika boleh tau, siapa komandan Finn?"


Sean menjelaskan, bahwa Finn adalah komandan milik Hearterra sebelumnya, dia orang terkuat dari kerajaan ini, Sean menjelaskan juga perang yang diikuti oleh Finn, bahkan sampai bagaimana dia mati dalam misinya bersama Allenz.


Sedikit mengetahui sosok Finn, rasa penasaran Zen sedikit terjawab. Akibat, pernah di bicarakan saat dia di barak dulu sebelum berperang melawan iblis. Hans menambahkan juga, nama Finn akan di catat dalam sejarah kerajaan Hearterra atas jasa-jasanya dalam menjadi komandan kerajaan Hearterra.


Puas dengan itu, mereka melanjutkan kegiatan makan mereka, dan tidak mengubris gaduh akibat adanya para dewan disana dengan siswa lain.


Pada sisi lain kantin, para dewan siswa tengah mengawasi kegiatan kantin. Meski harus berhadapan dengan beberapa siswa yang menghalangi mereka.


Sang ketua dewan siswa, Agata Inga Rach. Siswi dengan rambut merah muda pendek dengan sebuah kucir panjang pada poni kanannya yang bergelantung, warna mata hijau zamrud, dan seorang senior di akademi ini. Dia memerhatikan kantin dengan seksama, tanpa memperdulikan siswa-siswa lain di sekitarnya, dia pastikan tidak ada masalah di kantin sekolah. "Aku mau melihat dari lantai dua." Ujarnya.

__ADS_1


Beberapa anggota dewan lain, mereka membuat jalan bagi Agata untuk naik ke lantai dua kantin yang besarnya hanya seperempat dari panjang kantin yang mencapai seratus meter, maka lantai dua kantin hanya berukuran dua puluh lima meter saja. Pada anggota dewan siswa yang bersama Agata terdiri dari dua laki-laki dan sisanya adalah empat orang perempuan.


Dari lantai dua, dia bisa mengawasi lantai satu dengan mudah. Dia bisa melihat sebagian besar kantin, dan melihat Sean bersama dengan beberapa orang yang tidak dia kenal. Dia kembali fokus untuk mengawasi kantin, setelah merasa kantin tidak memiliki masalah apapun, dia dan para dewan siswa lain memutuskan untuk makan juga diikuti oleh anggota lain.


"Kita istirahat sejenak, kalian bebas untuk melakukan aktivitas kalian yang lain. Aku akan disini." Ucap Agata pada lima anggota dewan yang bersamanya.


Tiga dari mereka pergi, sementara dua lainnya tetap bersama Agata. Yang juga sama-sama wanita, mereka mangmbil nampan, lalu mengambil makanan bagi mereka sendiri. Salah satu anggota dewan mencarikan mereka meja, dan itu tepat di belakang meja Allenz dan yang lain.


Meja Allenz yang semula agak berisik menjadi hening, terutama Sean yang menjadi super diam. Hans berbisik pada Allenz untuk melanjutkan pembahasan mereka, namun dengan suara yang terbilang kecil, bahkan hampir seperti berbisik.


Zen yang sibuk menyuapi Iris, dia juga menjadi fokus pada Iris saja, menurutnya wajar jika mereka diam, akibat adanya dewan siswa di dekat mereka. Akan jadi masalah jika mereka terlibat kasus dengan dewan siswa, itulah mengapa mereka menjadi diam saat Agata dan orang yang bersama gadis itu duduk didekat mereka.


Sama seperti sebelumnya, saat Agata duduk, beberapa siswa mengelilingi Agata kembali, bahkan sampai ke meja Allenz, dimana Allenz, Hans, dan Sean harus mendekati diri mereka pada meja.


Allenz berbisik pada Hans. "Hei, coba kau berteriak untuk membubarkan mereka."


"Hah? Kau gila?! Aku bisa kena kasus jika begitu?!" Tentu Hans menolak itu, meski dia dulu seperti orang yang narisistik. Tapi, itu membuatnya terkena masalah dengan ayahnya, karena seorang pangeran tidak boleh terlalu meninggikan diri, karena itu sama saja sombong.


"Tapi, kau 'kan itu seorang pangeran, gunakan saja otoritas dirimu disini." Ungkap Allenz lagi.


Hans tetap menolak, karena dia sudah membuat janji untuk tidak memiliki daftar masalah apapun selama dirinya bersekolah.


Zen kemudian berpendapat. "Menjadi populer ternyata merepotkan juga."


Nayaka memberi saran pada mereka, untuk lebih baik pergi dari sini. Karena, kebetulan makanan mereka sudah habis. Semuanya setuju, dan beranjak pergi dari situ.


Allenz tidak tahan dengan beberapa siswa yang seperti tidak sadar bahwa ada mereka yang tengah makan. dia membatin, apa bagusnya kau menonton orang yang tengah makan? Apa karena itu kompetisi makan cepat? Tentu bukan, ini hanya seorang ketua dewan dan dua rekannya yang tengah makan di kantin akademi, apa bagusnya dari itu?!


Saat diluar, Sean berpisah dengan mereka, begitu juga dengan Zen dan Iris yang pergi untuk beberapa urusan. Tersisa Allenz, Nayaka, Hans dan Teresa, mereka nampak seperti orang yang kehilangan arah, hanya berdiam diri didepan pintu kantin.


Teresa bertanya pada Hans, dia bertanya pada pengeran itu soal putri Rose menjadi guru disini. "Apa benar juga tuan putri Rose menjadi guru disini?"


Hans menjawab. "Iya, kakak menjadi guru disini sejak satu setengah tahun yang lalu. Lalu~"


Belum selesai bicara, mata Hans ditutup oleh seseorang dari belakang, Allenz dan yang lain terkejut saat ada wanita yang mendatangi mereka. "Hayo... Ini siapa?" Ungkap sang wanita pada Hans.


"Kak, cukup. Jangan buat diriku malu di tempat ini." Ucap Hans.


"Hehehe, ketahuan." Ujar Rose, dia menyingkirikan kedua tanganya dari mata Hans. "Tidak aku sangka adikku sudah punya teman."


"Apa saudara sepupu bisa dianggap teman?" Ujar Hans pada rose.


Di depan mereka, kini berdiri seorang wanita dengan usia dua puluh tiga tahun, dengan menggunakan pakaian yang membuat dirinya anggun. Rambutnya berwarna merah gelap yang cenderung bercampur dengan coklat, hampir seperti warna rambut Nayaka, matanya yang merah muda cerah bagai mawar muda yang menawan.


Dengan melihat Rose, dia seperti seorang wanita tangguh dan feminim disaat yang bersamaan, wajahnya menampilkan senyuman berseri.


Teresa melihat idolanya yang sangat dia kagumi berada didepannya. Dia bahkan sampai tidak berkata-kata, Nayaka bahkan sampai cukup panik melihat Teresa yang membatu dengan wajah kagum. Karena itu, Nayaka mencubit pipi Teresa yang terdiam. Menyadarkan gadis itu yang sebelumnya diam.


"Sakit!"


"Akhirnya kau sadar."


Rose kemudain melihat Allenz, Teresa dan Nayaka. Dia menyapa mereka, dia sudah lama tidak bertemu dengan sepupu tersebut. "Nayaka! Astaga kau sudah besar, dan lihat dirimu, kau sudah seperti orang dewasa."


"Benarkah? Hahaha."


Kedua seperti adik-kakak daripada saudara sepupu, karena kedekatan mereka yang terbilang jauh lebih seperti saudara kandung. Disaat Nayaka dan Rose asik berbicara sendiri dan melibatkan Teresa, tersisa Hans dan Allenz.

__ADS_1


Keduanya pergi meninggalkan tiga wanita itu, mereka pergi ke perpustakaan akademi yang cukup besar. Disana ternyata jauh lebih ramai, banyak siswa disana untuk membaca. Mereka masuk dan berkeliling untuk mereka baca, sekiranya ada beberapa buku yang menarik perhatian mereka.


Di sana juga, Hans menjadi pusat perhatian akibat status dirinya. Karena tidak mau menunggu, Allenz meninggalkan Hans di sana bersama para pengagumnya.


__ADS_2