
Di udara, Allenz terbang, dirinya menyerang dari atas, dengan menggunakan sihir angin miliknya. Sampai adanya iblis dan monster yang mendatangi dirinya. Melihat kedatangan iblis dan monster yang terbang ke arahnya, Allenz dengan cepat berbalik arah dan menuju arah musuh yang terbang ke arahnya. Dengan sihir Whistling spell miliknya, dia memotong sayap para iblis dan monster itu, membuat mereka jatuh ke tanah dengan keras.
Allenz terhenti saat melihat Zen yang bertarung dengan Arthur, mengambil sebuah kantung kulit yang terdapat sebuah rempah khusus yang akan menjadi asap penanda bagi raja, dengan tangan kiri mecha miliknya, dia membakar kantung itu dengan mengeluarkan api di telapak tangannya, membuat sebuah asap oranye yang membumbung tinggi, dan memberi tanda bagi orang di tenda, bahwa Zen telah datang di medan perang.
Eryk melihat sinyal itu pertama kali, dan meminta seorang prajurit untuk memberi kabar ini pada raja yang lain.
Para raja berkumpul, dan ini sudah saatnya para raja ikut dalam peperangan itu. Ronald kemudian memerintahkan beberapa prajurit bersiap bersama para raja yang lain. "Semuanya, sudah saatnya kita ikut dalam perang ini. Karena Zen sudah ada dimedan tempur."
Dengan ini para raja beberapa prajurit ikut dalam perang, dengan menggunakan kuda dan kereta perang masing-masing, mereka memasuki peperangan.
Salju tertutupi dengan darah dan mayat, banyak hal mengerikan terjadi di tempat ini. Allenz terbang menuju tempat Zen dan Arthur yang tampak kesulitan menanggani situasi mereka saat banyak iblis yang menyerang mereka secara bersamaan.
Allenz dengan cepat turun dan membantu mereka dengan sihir angin miliknya. Membelah dan memotong iblis-iblis itu menjadi beberapa bagian.
"Kalian sepertinya kesulitan." ucap Allenz yang mendarat didekat mereka.
Zen yang tengah sibuk menembaki para iblis hanya menjawab. "Yap, kau lihat saja sendiri."
Di sisi lain Arthur nampak khawatir saat Allenz datang. "Nak, kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, lebih baik fokus apa yang ada didepan kita sekarang."
Ketiganya saling membantu untuk menutupi punggung masing-masing.
Dari jauh, Woulle melihat para raja iblis menyerang prajurit yang menggunakan senjata modern, bahkan ada iblis yang sampai terbang dan menghancurkan lima kapal udara. Dengan cepat Woulle berkuda menuju tempat Allenz dan memintanya menangani para raja iblis itu yang nampak membahayakan bagi mereka
Sampai dia menemui Allenz, Arthur, dan Zen yang sibuk bertarung. "Allenz, aku membutuhkanmu untuk menangani para pemimpin iblis itu, di sebelah arah sana." Ucap Woulle yang datang dan memintanya untuk menuju tempat para pemimpin itu.
"Aku ikut." Ucap Zen dengan cepat, mungkin dengan senjata anti iblis ini mungkin akan mempermudah mereka dalam perang ini.
"Baik, lakukan."
Arthur terkejut saat Allenz dan Zen pergi dari sisinya, dan mencoba menghentikan mereka, tapi usaha itu di hentikan oleh Woulle untuk lebih baik kembali bertarung bersama para raja di sisi lain mereka. Terpaksa, Arthur menurut dan kembali bersama dengan Woulle.
Zen yang berpegangan pada papan Allenz melihat para pemimpin iblis itu, dan membuat rencana untuk berpencar, dimana Allenz akan berurusan dengan iblis yang menyerang kapal udara, dan Zen sendiri akan bertarung dengan dua pemimpin iblis yang tersisa dengan mengeluarkan Iris saat itu juga.
Allenz setuju dengan rencana itu, Zen kemudian melepaskan genggaman tangannya di papan Allenz dan turun tak jauh dari dua pemimpin iblis itu. Allenz juga langsung pergi menghadapi iblis satunya yang menghancurkan kapal-kapal udara milik aliansi.
Zen pergi menuju tempat dua pemimpin iblis yang nampak dengan mudah mengalahkan para prajurit aliansi, lalu mengubah koper miliknya menjadi sebuah senjata besar dan menembakan satu tembakan laser ke arah dua pemimpin itu.
Kakek dan ayah Gregory dengan mudah menghabisi para prajurit milik aliansi, hingga sebuah tembakan mendatangi mereka. Dengan gesit, keduanya menghindari tembakan itu, namun tembakan itu malah mengenai iblis besar dibelakang mereka, dan membuat iblis itu mati dengan sekali tembak.
Dua pemimpin iblis itu terkejut saat melihat sebuah tembakan mampu membunuh iblis tingkat tinggi itu. Tak lama Zen muncul dengan mengangkat pedangnya, dan menyerang mereka.
"Cih, ternyata kalian bisa menghindar rupanya."
"Apa-apa itu?!" Keduanya memutuskan mengambil jarak dari Zen, karena merasa bahwa orang didepan mereka berbahaya. "Kalian, serang orang itu!" Perintahnya.
Beberapa monster dan iblis menyerang Zen di berbagai sisi. Membuat Zen terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. "Oi, oi, oi, yang benar saja?!" Sambil melompat mundur Zen menghindar setiap serangan para iblis tersebut. Akibatnya, Zen menjadi jauh dari dua pemimpin itu.
"IRIS!!" Memanggil Iris didalam dirinya, dengan tiba-tiba muncul sosok hitam besar dari dalam Zen, dengan mata magenta yang menyala, membuat siapapun takut melihat sosok itu.
__ADS_1
Kemunculan sosok itu, membuat beberapa orang di sekitarnya terkejut dan takut pada sosok itu, Valrius melihat kemunculan sosok itu, dan memberitahu hal ini pada yang lain. "Kalian lihat itu?!"
Yang lain melihat sosok hitam jauh dari mereka, sosok itu nampak dengan mudah menghabisi para iblis disekitarnya.
"Jadi... Itu kemampuan dari senjata anti iblis yang sesungguhnya."
"Itu nampak seperti monster."
"Aku tidak peduli soal itu, selagi dia membantu pihak kita, itu tidak masalah." Ucap Eryk.
Dengan memakan para iblis disekitarnya, membuat Iris bertambah kuat dan mampu mengurangi pihak musuh dengan cepat. Di dekatnya Zen juga terus menembaki iblis yang nampak hendak kabur dari serangan Iris.
Melihat sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul ditengah perang itu membuat dua pemimpin iblis nampak terkejut dan marah saat melihat kemunculan Iris. "Kurang ajar?! Ku kira, kita telah menghancurkan senjata itu?!"
"Sepertinya mereka membuat lagi senjata baru yang menyerupai manusia untuk melawan kita?!"
Keduanya memutuskan menjauh dari sosok Iris yang mengamuk dan memakan iblis-iblis di dekatnya.
"Hahaha! Bagaimana, hah?! Rasakan kengerian dari Demon Eater milik manusia ini?!" Zen dengan bangga berteriak pada sekitarnya bahwa manusia kini telah memiliki senjata hebat yang mampu melawan–memakan–iblis-iblis itu.
Iris kemudian mendatangi Zen dan mengeluarkan aura, yang mana aura itu masuk kedalam tubuh Zen. "Apa ini? Kau memberiku kekuatan sihir?"
Setelah memberi kekuatan itu, Iris kembali membabat habis iblis didekatnya. Sementara Zen mencoba dengan mana sihir yang diberikan oleh Iris. Hasil pemberian itu, Zen mampu mengeluarkan banyak sihir dan bisa menggunakan sihir dengan lama tanpa kendala. Dia dengan mudah mengeluarkan sihir kegelapan yang mampu menarik kaki para iblis dan monster didekatnya dan membuat mereka dengan mudah dimakan oleh Iris.
Diatas salah satu kapal udara, Allenz tengah melawan Gregory di dek luar dipaling atas kapal tersebut.
"Hahahaha! Kau pikir bisa melawanku, hah?!" Ucap Gregory, dia kemudian membuat sebuah pedang yang mengeluarkan aura mengerikan.
Iblis itu dengan cepat berlari ke arah Allenz dengan pedangnya, Allenz dengan sigap menggunakan papannya menjadi tameng untuk menahan serangan itu.
Tapi, dengan cerdik Gregory menendang papan Allenz dan membuat Allenz goyah, membuat dirinya terbuka, Gregory dengan cepat meninju Allenz dengan tangan kirinya, melempar Allenz ke pinggir dek, menyebabkan punggungnya menghantam pagar pinggir dek kapal.
"Akh?!"
Gregory membuat pedang yang sama untuk tangan kirinya, dia hendak menghabisi Allenz. Untungnya prajurit di kapal itu tidak tinggal diam, mereka menggunakan meriam di dek itu untuk menembaki Gregory, menyebabkan dia juga terlempar dari dek atas dan terjatuh dari kapal itu.
Melihat Gregory sudah jatuh, para prajurit langsung menolong Allenz dan ada yang mencoba menyembuhkannya dengan sihir. Tapi, Gregory muncul kembali dengan melayang di udara, dibantu sayapnya yang besar dan menyerupai sayap kelelawar. Dia menembakan sihir pada kapal itu, memporak-poranda dek atas, hingga mengenai ruang pengemudi atau anjungan kapal.
Kehancuran ruang kemudi membuat kapal itu terbakar dan jatuh, menyebabkan orang di kapal itu mencoba berpegangan pada benda yang bisa mereka pegang. Allenz juga mencoba menyelamatkan beberapa prajurit dengan sihir angin miliknya, dengan masuk kedalam ruang kemudi, dan membawa prajurit yang di luar dek bersamanya. Didalam ruangan kemudi, Allenz mencoba memperlambat laju kapal ini dengan membuat angin di sekitarnya. Namun, hal itu membuatnya mengeluarkan banyak sekali sihir, menjatuhkan dirinya. Mustahil memperlambat laju jatuhnya kapal, Allenz memutuskan membuat angin di ruangan itu, dan melayangkan orang-orang didalamnya, agar saat benturan tiba mereka masih selamat dan tidak terkena dampak benturan.
Benturan terjadi, membuat kapal itu hancur saat menabrak tanah dengan keras, semua orang bersama Allenz selamat, namun benturan itu membuat puing-puing kapal beterbangan ke arah mereka, dan terkena dampaknya juga.
Membuka mata, ruangan itu telah hancur, hanya menjadi bongkahan puing-puing disana, ada beberapa prajurit yang menolong yang lain dan ada yang mengeluarkan dari puing-puing kapal.
Terlihat, semua orang di ruangan itu masih selamat, meski terluka parah. Allenz mencoba berdiri, dan membantu yang lain, dia mengambil papan miliknya. Dengan tertatih-tatih dia mencoba berjalan.
Tiba-tiba, Gregory datang dengan kecepatan tinggi, dan langsung menghantam Allenz dengan kedua kakinya, Allenz sekali lagi terlempar kebelakang hingga menabrak dinding sampai berlubang.
Beberapa prajurit yang masih bisa berdiri langsung menyerang Gregory dengan pedang mereka. Merasa Gregory yang terganggu, dia membunuh prajurit yang menyerangnya dengan mudah hingga membunuh dua orang prajurit.
Fokus pada Allenz lagi, dia mencari Allenz, di mana Allenz terlempar, namun tidak ada jejak sama sekali ditempat itu.
__ADS_1
Dia melihat Allenz sudah berlari keluar dan menjauhi kapal yang sudah hancur itu, Allenz bahkan meninggalkan papan kayu miliknya. Mengambil papan itu, Gregory lalu mengejar Allenz.
Allenz yang sudah terluka, dia mencoba kabur, hingga melihat Zen yang sibuk dengan iblis yang menyerangnya. Zen yang tanpa sengaja juga melihat Allenz yang berjalan ke arahnya dengan susah. Zen dengan cepat mencoba mendatangi temannya itu untuk membantu.
Gregory yang sudah dibelakang Allenz, dengan kuatnya memukul Allenz dengan papan milik anak itu, membuat papan tersebut patah. Membuat Allenz terjatuh tak berdaya. Zen dengan cepat memerintahkan Iris untuk menolong Allenz. Iris yang memiliki kecepatan mengerikan dengan mudah mendekati Gregory dan hendak memakannya.
Tapi, Gregory menahan mulut Iris, hingga Iris dengan mulut terbuka menghisap kekuatan dari Gregory yang tengah menahan mulutnya. Akan membahayakan dirinya, Gregory melepas genggaman tangannya pada mulut Iris dan melompat ke samping.
"Makhluk apa itu?!" Gregory terkejut dengan Iris yang mampu menghisap sebagian kekuatannya. Dia tidak menyangka ada makhluk seperti ini di pihak manusia.
Iris kemudian yang tubuhnya yang nampak seperti hantu, terlihat pada bawah tubuhnya mengecil seperti hantu. Mengelilingi Allenz yang nampak pingsan, Iris dengan tiba-tiba masuk kedalam tubuh Allenz dan merasukinya.
Tak lama aura mengerikan keluar dari tubuh Allenz, kedua matanya menjadi merah dan ungu di masing-masing mata. Kini Iris dan Alans lah yang mengendalikan tubuh itu.
"Sudah saatnya berhenti main-main. Hei, gadis kecil, pinjamkan aku kekuatanmu!" Ucap Alans menggunakan tubuh itu, lalu mencoba berdiri dan melihat Gregory dengan tatapan tajam dibalik topengnya.
Gregory menjadi waspada pada Allenz sekarang. Alans mengeluarkan belati yang tersimpan di belakang punggungnya. Bersiap dengan kuda-kuda, belati itu kini diselimuti dengan aura merah keunguan.
Gregory juga ikut bersiap, dirinya merasa bahwa Allenz kini berbeda dari yang sebelumnya. Dia harus serius kali ini. Allenz yang kini di adalah Alans bersiap menyerang, hingga dia tiba-tiba menghilang bagai angin didepan Gregory.
Gregory membelalak matanya saat tau Allenz telah hilang didepannya. Alans yang menggunakan kecepatan angin yang luar biasa, hingga Gregory tidak mampu menebak kedatangan Alans dari mana.
Hingga Alans muncul didepan Gregory, dengan menyerang dari samping, Alans berniat menusuk leher Gregory. Dengan sigap, Gregory mencoba menghindar dari serangan itu. Namun, Alans yang lebih terampil, langsung memberi tinjuan dengan tangan besi miliknya tepat pada perut Gregory.
Sempoyongan, Alans kemudian menarik rambut Gregory agar mudah menyerangnya kembali, dan Alans dengan cepat menusuk pundak kiri Gregory dengan belati yang dia gunakan.
"Aahhhh!!" Jerit Gregory.
Saat belati itu menancap pada pundak Gregory, Iris yang didalam tubuh Allenz langsung menghisap kemampuan Gregory hingga dirinya lemas dan berlutut dengan satu kaki.
"Allenz, kau perlu banyak belajar dengan sihir anginmu." Ucap Alans dengan datar pada dirinya.
"D-dasar manusia sok kuat!!" Sebuah aura muncul dari tubuh Gregory, membuat Alans sedikit menaikkan alisnya.
"Menghindar." Ucap Iris dengan nada pelan dan lembut dalam diri Allenz. Mendengar peringatan Iris, Alans mencabut belatinya dan melompat mundur.
Gregory yang murka langsung mengeluarkan mode Demon Awaken miliknya, hal ini membuat prajurit didekat mereka panik dan takut. Sementara dua pemimpin iblis lainnya terkejut saat merasakan sihir dari Gregory yang kian terasa besar.
"Si bodoh itu, apa yang dia lakukan?! Jika dia mengeluarkan kekuatan sebesar itu, besar kemungkinan kekuatan itu akan mudah dimakan oleh makhluk hitam dari pihak manusia." Ucap iblis paling tua.
"Aku akan menghentikan dia, akan sangat gawat jika bertemu dengan makhluk ciptaan para manusia itu." Ucap ayah Gregory yang memutuskan menjemput Gregory.
Hingga saat menghindari orang-orang yang saling bertarung, dan menghabisi orang yang menghalangi jalannya, ayah Gregory hampir sampai di dekat pertempuran Alans dan anaknya. Sampai sebuah tembakan mengenai dirinya, meski tidak terluka, tapi rasa sakit serangan itu membuat tubuhnya nyeri.
Melihat siapa yang menyerang dirinya, seseorang dengan pakaian jaket tebal bertudung tak berlengan, dengan kulit sawo matang, dan mata oranye miliknya. Senjata pria itu kemudian berubah seperti tumpang tindih dan mengubahnya menjadi dua pedang.
"Tidak semudah itu untuk mendatangi temanku." Ucap Zen berjalan pelan mendekati ayah Gregory. 'Program, gunakan mode siaga.'
Program menjawab. [Mode siaga di aktifkan.] Hingga headphone yang digunakan Zen menutupi sebagian atas wajahnya.
Keduanya berdiri dengan beberapa jarak saja, sekitar 8 meter jarak antar keduanya. Sepatu milik Zen menyala dan mengeluarkan sedikit asap. Hingga keduanya maju secara bersamaan dan memulai pertarungan mereka.
__ADS_1