After World Breaker

After World Breaker
Chapter 3: Kota Nevelheim


__ADS_3

Suara benturan keras dari pedang terdengar di halaman rumah, Allenz dan Nayaka yang tengah melakukan latihan berpedang dengan Arthur, mereka terus melakukan latihan itu selama dua jam yang lalu, Allenz yang menyerang dari depan, sementara Nayaka menyerang dengan sihir panah dibelakang Allenz.


Tak! Suara pedang kayu saling terbentur, setiap serangan dua anak itu tidak berarti bagi Arthur, dia bisa menahan serangan mereka dan tambah sihir jarak jauh untuk menyerang putrinya.


Allenz pun lebih memilih menjaga jarak, "Nayaka, kau serang ayah lebih dahulu, aku akan menyerangnya setelah serangan sihirmu."


"Baik, kak." Ucap Nayaka.


Nayaka membaca mantra dan menyerang Arthur, dengan disusul Allenz, Arthur melihat serangan itu langsung menggunakan sihir pelindung, dan membuat serangan Nayaka menjadi sia-sia, melihat serangan Nayaka gagal, Allenz maju sekuat tenaga, dan menghantam pelindung sihir itu hingga sedikit bergetar, Arthur terkejut melihat sihir pelindungnya menerima dampak serangan itu.


"Api yang menyala, uap panas naik, panas tak tertandingi, sihir api tingkat tujuh: meledaklah, Blow!!" Seketika serangan kejut beserta ledakan keluar dari tubuh Arthur, Allenz yang berada didepan tidak sempat menghindar, hal hasil Allenz terlempar kebelakang, sebab akibat sihir Arthur.


"Sepertinya ayah menang lagi." Ucap Arthur mengungkapkan kemenangannya.


"Si-sial, ayah curang!" Keluh Allenz yang mencoba berdiri.


Arthur hanya tertawa kecil, dia melihat putranya itu yang selalu ingin melampaui dirinya, dia cukup terkesan dengan kekuatan milik putranya, dia berharap putrinya juga memiliki tekad yang sama.


"Semuanya, makan siang sudah siap." Terdengar suara Anya dari dapur, memanggil mereka kedalam karena makanan sudah siap.


Mendengar panggilan itu, mereka memutuskan untuk masuk dan makan bersama, Allenz kemudian duduk dimeja yang terdapat bangku yang disusun lima kursi, Allenz kemudian memilih kursi di kiri, yang terdapat tiga kursi, dan memutuskan untuk duduk ditengah, sementara kedua orang tuanya akan duduk dihadapannya, yang disebelah kanan dengan dua kursi.


Namun, siapa sangka Nia dan Nayaka juga langsung duduk di dua sisi Allenz. Arthur yang membantu menyiapkan makanan dirinya menyusun piring dimeja. Lalu duduk dihadapan Allenz, dan tertawa kecil melihat posisi Allenz saat makan. "Sepertinya kau akan kerepotan kali ini, Al."


"Sangat, ayah, sangat.... merepotkan." Sahut Allenz dengan tatap datar.


"Lauknya sudah jadi! Ada kerang hijau yang diberi saus, sup kental ayam, udang kering, kacang tumbuk, roti besar, dan jangan lupa pelengkap kita saus spesial lada hitam dicampur rempah." Ucap Anya yang menaruh lauk diatas meja, dan bergabung dimeja disampingnya Arthur, suaminya.


Mereka makan bersama, meski ada beberapa hal yang membuat Allenz risih, yaitu Nayaka dan Nia yang mencoba menyuapi Allenz, namun Allenz tidak mempedulikan mereka, dari pada nafsu makannya hilang.


'Sial ada udang kering,' Ujar Allenz dalam hati.


"Tapi tuan, saya tidak menyukai kacang," ucap Alans juga dari kepala Allenz, yang sepertinya tidak menyukai kacang.


Maka Allenz dan Alans memutuskan satu hal yang sama dengan kacang tumbuk dan udang kering itu.

__ADS_1


'Kita tidak–'


..."–memakannya." ucap keduanya....


"Kita tidak–"


Maka dari itu, udang dan kacang menjadi daftar list makanan yang mereka hindari, selain makanan yang terlalu manis.


Selesai makan, Allenz memutuskan untuk pergi keluar, dengan berkeliling kota, dia mengambil sebuah papan kayu, yang dia buat sendiri, dengan bentuk seperti oval pipih seperti papan skateboard, lalu menaikinya dan pergi ke kota. Menaiki papan itu layaknya skateboard, yang dirinya bawa terbang dengan sihir anginnya selama ini, dengan sihirnya itu yang sudah mencapai tingkat 12, sebuah tingkat sihir yang sangat ahli.


Semua orang bisa memakai sihir apapun, namun ada sihir terlarang yang digunakan oleh umum, dan tidak untuk digunakan atau dipraktikan. Tingkat sihir itu terdiri dari tingkat 1 yang terendah hingga tingkat 15 sebagai tingkat akhir.


Sejauh ini dia bisa menggunakan beberapa sihir tingkat 3, sihir penyembuh tingkat 6. Dan hanya sihir angin saja yang memiliki tingkat yang paling tinggi yang Allenz gunakan yaitu tingkat 12.


Sampai di atas menara lonceng ditengah kota, dirinya duduk diatas sana, dengan menikmati pemandangan kota kecil itu, dengan arsitektur era abad pertengahan yang kental dan kota yang hanya memiliki 256 jiwa saja, angka yang cukup kecil. Namun memiliki sejarah yang panjang.



Disisi lain, perkembangan teknologi dunia ini juga tidak main-main, karena adanya teknologi uap, dan adanya kapal udara yang melayang di udara setiap saat, dan bahkan Allenz bisa melihat tempat dermaga kapal udara yang bisa digunakan sebagai transportasi ke berbagai kota.


Sedang asik memandangi pemandangan kota, dirinya menangkap sesuatu yang tidak jauh di atas kota, sebuah kapal udara yang diserang beberapa naga kecil yang berukuran 4 meter, tak hanya dirinya, ada beberapa orang yang menyadari hal itu. Beberapa prajurit kemudian mencoba menghentikan para naga itu, namun dilain sisi mereka tidak mungkin menggunakan sihir atau panah, karena ada tiga kemungkinan yaitu pertama, pemukiman warga, jika menembaki panah atau sihir dampak terburuknya akan mengenai pemukiman atau warga sendiri. Kedua, para naga itu sendiri, jika para naga itu berhasil dikalahkan maka bisa saja mayat mereka akan jatuh ke pemukiman. Dan yang terakhir, kapal terbang itu akan jatuh jika tidak segera membuat para naga itu menjauh.


Para warga mulai panik karena para naga itu mulai menyerang dengan nafas api, dan membuat penumpang kapal udara itu ketakutan. Sedangkan prajurit di kapal udara itu hanya bisa menggunakan sihir pertahanan untuk menahan nafas api naga itu.


Allenz yang awalnya duduk dan tidak memperdulikan itu, memutuskan untuk menaiki papan miliknya, dan langsung secepat angin dirinya menuju ke tempat kapal udara itu berada, dengan kecepatan tinggi dirinya langsung menembaki para naga itu yang berjumlah empat ekor.


Merasa terganggu dengan kehadiran Allenz dan serangannya, para naga itu langsung mengejar dirinya, dilain sisi Allenz memerintahkan kapten pengemudi kapal udara itu untuk melabuhkan kapalnya, untuk mengevakuasi para penumpang. Sementara dirinya akan mengurus para naga itu untuk pergi dari kota.


Pergi dengan kecepatan tinggi dirinya mencoba sambil menghindari tembakan nafas api naga itu. Setelah merasa cukup jauh dirinya langsung menembaki para naga itu dengan sihir anginnya, hitung-hitung untuk mencoba sihirnya sudah seberapa jauh dirinya menggunakan sihir angin.


Allenz memutar arahnya dan membuat dirinya berhadapan langsung dengan para naga itu, menarik nafas dalam-dalam, dirinya kemudian bersiul pelan namun nyaring, semakin nyaring suara siulan itu. "Fuiiitt!"


Tiba-tiba satu naga terbelah menjadi dua, naga lainnya sontak kebingungan apa yang terjadi pada satu ekor lainnya, disisi Allenz, dia hanya tersenyum melihat bahwa sihirnya berhasil, dimana sihir ini dia beri nama "Whistling Spell", sesuai namanya sihir ini hanya aktif jika Allenz bersiul, namun semakin nyaring suaranya semakin besar juga serangan dan dampak potongan yang dihasilkan oleh sihir angin itu, meski dilain sisi sihir ini tidak jauh berbeda dari sihir "Wind Slash" pada umumnya, namun hanya berbeda cara menggunakannya, dan butuh memanipulasi angin yang terlatih, dia bahkan butuh tiga tahun untuk mengembangkan sihir ini, dan ditambah sihir angin ini tidak terlihat oleh mata sama sekali, tidak seperti Wind Slash yang serangannya masih terlihat oleh mata telanjang.


Melihat satu temannya mati, para naga semakin marah, dan mulai menyerang Allenz dari beberapa sisi didepannya, namun Allenz tidak panik karena dirinya ada di udara, jadi serangan anginnya tidak akan merusak lingkungan sekitar.

__ADS_1


Allenz kemudian bersiul kembali, namun kali ini siulannya terbilang cepat namun nyaring. "Fuuiit! Fuiit! Fuuiit!" Karena siulannya terbilang singkat maka serangannya juga terbilang cepat, dan hal hasil para naga itu terkena serangan angin tak nampak milik Allenz, namun tidak seperti sebelumnya yang mana siulannya cukup lama, siulannya yang sekarang hanya memberi serangan tebasan saja. Namun, Allenz cukup puas akan hal itu, untuk agar dimasa depan dia bisa mengetahui dampak serangan jika nada siulannya singkat atau panjang, dan juga untuk tidak membuat kerusakan yang berlebih.


Allenz kemudian bersiul kembali, namun kali ini seperti yang pertama siulannya cukup lama, dan terbilang banyak atau Allenz berkali-kali bersiul dan alhasil para naga itu seperti tercabik-cabik di udara dan tewas dengan jatuh ke tanah dengan keras.


Selesai sudah masalah itu, Allenz kemudian turun untuk mengambil inti sihir dari para mayat naga itu, cukup untung jika dijual meski sebenarnya seperti daging, tulang, tanduk, dan sisik juga sangat berharga namun dirinya tidak bisa membawanya, disini tidak memiliki sihir penyimpanan layaknya game, jadi ditinggalkan saja olehnya.


Kembali dengan berselancar di udara, Allenz yang hampir sampai di pintu gerbang kota, dia terkejut dengan orang-orang yang berkerumun di depan gerbang. Dan bahkan keluarganya sendiri saja ada disana, Allenz merasa tidak nyaman dengan itu, maka dia memutuskan untuk terbang ke atas dan melewati gerbang kota dari udara, dan semua orang yang di gerbang dan penjaga yang diatas gerbang kota melihat Allenz dengan jelas, bahwa dirinya melewati mereka tepat di atas mereka semua.


Semua orang terpana dengan aksi Allenz itu yang tidak biasa, dikarenakan dia terbang di udara, bahkan tanpa sapu terbang, yang biasa digunakan oleh para penyihir. Keluarganya hanya bisa ternganga melihat Allenz, dengan mudahnya dia terbang di udara, "itu baru anakku!! Dia anakku!!" Teriak Arthur sambil menunjuk Allenz yang baru lewat.


Allenz tiba di rumahnya, dan turun dari papan kayu buatannya, dirumah tidak ada siapapun, itu karena semua orang tengah berada di gerbang kota, menaruh papan itu di gudang rumah, dihalaman belakang, dan menutup kembali pintu gudang setelah selesai, saat menuju halaman depan dirinya melihat segerombolan orang mendatangi rumahnya, dan itu membuat wajah Allenz menjadi masam. Mereka seperti para manusia yang baru melihat api untuk pertama kalinya, namun bedanya kali ini seramai satu kota.


Setelah didepan pagar rumahnya, orang-orang langsung berteriak-teriak bak kesetanan masal, banyak yang memuji aksinya, ada yang bertanya bagaimana bisa? dan masih banyak lagi. Mereka tidak menduga seorang anak laki-laki berumur 13 bisa mengalahkan naga dengan mudahnya, padahal mereka bisa saja jika mereka mau.


Keluarganya langsung memberinya ratusan pertanyaan, itu membuatnya risih, karena banyaknya orang dan kegaduhan mulai memanas, Allenz memutuskan untuk menjelaskan bagaimana caranya itu, dirinya hanya memberikan cara yang mudah, dimana mereka hanya perlu memanipulasi sihir disekitar mereka bukan didalam mereka, namun ada yang mengatakan hal itu cukup sulit, karena menggunakan mana alam itu butuh latihan, maka Allenz juga menjawab pertanyaan itu dengan dia belajar sihir manipulasi angin itu selama tiga tahun terakhir, tanpa ada yang mengajarinya, selagi kau mau mencoba hal baru maka cobalah itu. Sepertinya itu lah jawaban yang Allenz berikan pada mereka, ada yang beberapa orang yang tertarik akan hal itu, tidak terkecuali keluarganya sendiri.


"Kakak, ajarkan aku juga bagaimana caranya!" Ucap Nayaka yang bersemangat untuk mencoba hal tersebut.


Allenz terdiam sejenak, dia tidak pandai mengajari seseorang, dulunya sebelum dia menggunakan tubuh ini, dan masih ditempat laboratorium, dia sampai masuk ranah pengadilan karena di anggap praktek illegal. Ditambah dirinya tidak yakin dengan sihirnya yang lain, karena dia tau, Nayaka menggunakan sihir lain dan bukan sihir angin.


"Ada apa?" Tanya Nayaka yang memiringkan kepalanya lantaran belum dijawab.


"Um... bagaimana ya... cara untuk melakukannya, cukup sulit dan butuh waktu lama, ditambah sihir yang aku gunakan itu angin, sementara kau sendiri tidak terlalu pandai akan hal itu." Jawab Allenz dengan rasa bersalah karena tidak bisa mengajari adiknya itu.


"Oh... begitu... "Ucap Nayaka yang seperti kecewa, namun dia mengepal tangan dan memberi ucapan yang membuat Allenz terkesan. "Nggak apa-apa, aku akan belajar sendiri, dan kakak akan menjadi pengawas ku untuk melihat seberapa jauh aku berkembang!"


Allenz mengerutkan keningnya terkejut, Nayaka yang aktif memang selalu mau mencoba hal baru, dan tidak pernah mengeluh akan hal itu, dia selalu terus mencoba dan menemukan jalannya sendiri bagaimana dia melatih dirinya.


Allenz kemudian mengusap kepala Nayaka, dan menyemangati keinginan adiknya itu.


"uh... aku mau juga diajar oleh Allenz." Ucap Nia yang menggeliat tidak jelas.


"Aku ogah mengajarkanmu," ketus Allenz.


"Mo... kok gitu sih!?" Nia hanya bisa mengeluh akan hal itu, disisi lain Arthur dan Anya hanya tertawa melihat tingkah mereka, apalagi sifat manja Nia terhadap Allenz, meski wanita itu sudah berumur kepala tiga, namun cukup jarang melihat sisi lain wanita itu yang dulunya pendiam dan tertutup itu.

__ADS_1


__ADS_2