
Seminggu sebelum Allenz dan Nayaka masuk akademi, Zen membuka usaha tekstil dari kain untuk menjadi bahan baru untuk menjadi pakaian dan hal lainnya.
Dia membuka usaha ini untuk dirinya juga mendapat keuntungan baginya, dan juga agar bisa membayar pelayan yang selama ini mengurus rumahnya. Dengan mempekerjakan beberapa pelayan dia bisa menjalankan bisnis ini. Meski butuh melakukan riset pada apa yang disukai oleh konsumen.
Hingga seminggu usaha itu dibuka, dia mendapat cukup penghasilan yang baik, meski tidak banyak. Dirinya juga membuat pola pada kain agarlebih menarik dan terlihat jauh lebih bagus seperti sebuah trend baru, di bidang tekstil.
Usaha ini juga, dia bekerja sama dengan Arthur dan membeli wol dari domba-domba Arthur. Dengan wol itu Zen bisa membuat selimut atau kain tebal jika untuk musim dingin, atau juga untuk dia jual kepada pembuat pakaian.
Seorang pelayan, bernama Daiya. Tengah mencatat kain yang mereka hendak kirim ke sejumlah toko pakaian. Wanita itu memberi perkamen itu pada Zen untuk diperiksa. Zen menerima hal tersebut dan bertanya. "Apa kain untuk butik Ferdha sudah dikirim?"
Mendapat pertanyaan dari tuannya, Daiya menjawab. "Kain untuk butik itu akan dikirim saat siang nanti."
Puas dengan jawaban tersebut, Zen memberikan perkamen itu kembali pada Daiya.
...****************...
Di rumah Allenz, yang kini sudah di renovasi, Anya tengah membuat masakan untuk keluarganya. Menyiapkan masakan dan di bantu oleh Nia.
Diruangan lain, Arthur tengah bermain dengan putra bungsunya, Jack. Dia mengawasi Jack yang tengah mencoret kertas di lantai.
Sementara Allenz dan Nayaka tengah berbincang soal diri mereka yang akan masuk ke akademi. Nayaka tampak semangat tentang akademi, dia seperti membayangkan memiliki banyak teman dan juga bisa mendapat pelajaran soal sihir baru disana.
Disisi lain, Allenz hanya tertawa kering mengenai akademi itu, dia berpikir terbalik dengan Nayaka yang tampak positif. "Aku harap tidak ada hal yang meresahkan disana seperti pembullyan." Ujar Allenz dengan nada kecil. Ini membuat dirinya mengingat saat dulu dia sekolah.
"Kakak kenapa murung?" Tanya Nayaka.
"Oh, ha, tidak apa-apa. Hanya memikirkan soal sekolah."
"Wah ternyata kakak semangat juga soal akademi nanti."
Namun, dalam hati, Allenz benar-benar tidak bisa berkata apapun, dan mungkin saat dia masuk akademi nanti dia akan menjadi siswa normal dan menjauh dari masalah yang ada disana. Menjadi karakter sampingan dan tidak terlibat apapun disana.
"Omong-omong, kita saat di akademi perlu menyiapkan semacam peralatan untuk siswa?" Tanya Allenz.
Nayaka berpikir sejenak, lalu menjawab. "Aku rasa tidak perlu, hanya membayar uang akademi, maka siswa akan diberikan semua kebutuhnya oleh pihak akademi sendiri."
"Semuanya?"
"Hmmh, semuanya."
Itu cukup membuat Allenz terkesan mendengar hal itu, jadi semua siswa bisa mendapat fasilitas yang sama, tidak peduli jika siswa itu bangsawan atau rakyat biasa.
Senang mendengar itu, Allenz merasa membaik. Dia menjadi senyum sendiri, dan membuat Nayaka bingun kenapa kakaknya tersenyum sendiri.
...****************...
Di kediaman Bartford, Teresa yang dibantu oleh pelayannya, dirinya baru saja keluar dari perpustakaan mansion. Dia mempersiapkan dirinya saat masuk akademi nanti.
Dia membawa buku ke taman di samping mansion, ini dia lakukan untuk menjadi persiapan nanti di saat akademi. Dia membaca materi awal yang kira-kira dia bisa pelajari nanti, untuk dimaksud agar bisa meraih posisi teratas di awal tes masuk nanti.
Banyak jenis buku dia baca, dari dasar sihir, dasar sejarah, dan materi lainnya. Dia dengan niat membaca dan belajar dalam pengendalian sihir, ini juga dia lakukan untuk dia tunjukan pada Allenz nanti. Dengan bantuan pelayannya, dia berlatih dalam sihir dan bertarung, karena dia tau pasti akan ada tes dalam pertarungan.
Mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa dan mudah untuk bergerak, Teresa membuat posisi kuda-kuda dan menggenggam kuat pedang kayu yang di pakai.
Menyerang Yia dengan pedang kayu miliknya, Yia dnegan mudah menghindar, dari sudut pandang Yia, nona Teresa masih sangatlah kaku dalam bersenjata. Itulah membuatnya mudah menghindari serangan dari Teresa, bahkan baru beberapa kali mengayunkan pedangnya, Teresa nampak kelelahan dan nafasnya memburu.
Yia kemudain mengungkapkan pendapatnya. "Nano, saya rasa anda lebih keahlian dalam sihir jarak jauh daripada pedang."
Mendengar itu, Teresa menyangkalnya. "Tidak, bagaimana pun aku harus ahli pedang seperti Allenz dan Nayaka."
"Ah..." Dengan gerakan cepat, Yia memukul tangan Teresa yang memegang pedang, membuat pergelangan Teresa nyeri.
"Apa-apaan kau ini?!"
"Anda bilang ingin menjadi ahli pedang, 'kan? Biar aku ajarkan anda bagaimana cara menggunakan pedang yang sesungguhnya. Dan anda saya larang keluar selama seminggu ini." Ucap Yia dengan nada menekan dan serius.
"E-eh, apa maksudnya?"
"Artinya adalah... Seminggu penuh anda akan saya ajarkan berpedang dengan benar, dan jangan coba-coba kabur." Ungakp Yia dengan serius, sambil mengambil pedang kayu milik Teresa.
__ADS_1
"Ekh?!"
Dan pada akhirnya Teresa mendapat pelatihan keras dari pelayan pribadinya sendiri. Dia bahkan di ajarkan dalam membangun fisik yang baik, membentukan otot-otot pada tangan dan kaki untuk kuat dalam menggunakan pedang atau membuat posisi kuda-kuda yang baik.
Sementara untuk kedua orang tuanya, mereka hanya bisa menyemangati putri sulung mereka dalam latihan bersama Yia selama seminggu penuh. Lalu, sudah lama tidak melihat Yia dalam keadaan serius seperti dulu.
...****************...
Di rumah Allenz saat ini, Nayaka mengajak Allenz keluar, karena sudah tidak lama mereka berjalan berdua bersama-sama. Allenz setuju akan hal itu, keduanya berjalan mengelilingi daerah dekat rumah. Melihat suasana kota yang tidak berubah, namun tidak ada rasa bosan untuk melihat kota ini. Banyak juga toko-toko bunga yang menjual bunga, karena musim semi membuat banyak jenis bunga mekar.
Allenz kemudian menyarankan untuk pergi ke tempat Hanna seperti dulu Nayaka mengajaknya kesana. Di balas angguk setuju oleh Nayaka, keduanya pergi ke tempat para ternak dan gembala menjaga hewan mereka.
Disana seperti biasa, Hanna seorang wanita gembala yang bekerja untuk Arthur, sebagai menjaga ternak milik keluarga Allenz. Disana Hanna tengah menuntun kawanan domba ke tempat yang memiliki rumput yang lebat, usianya juga kini sudah 25 tahun, parasnya juga sudah seperti wanita dewasa yang anggun dan cantik.
"Kak Hanna!" Ucap Nayaka yang langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Hahaha, astaga, Nayaka! Kau harus hati-hati. Kalau kita jatuh bagaimana?"
"Aku, 'kan ada kak Hanna sebagai bantalan."
Disaat kedua perempuan itu tengah bercanda, Allenz memerhatikan sekitar. Lebih tepatnya menjaga domba-domba milik ayahnya.
"Kak Hanna, aku pergi menjaga para domba, ya?" Tanya Allenz sambil mengejar para domba.
Hanna mendengar itu hanya berpesan untuk hati-hati pada Allenz.
Allenz dengan menjaga domba-domba itu, dia memperhatikan para domba untuk tidak pergi dari kawanannya. Dia kadang mengelus bulu-bulu wol domba disana. Hingga satu domba nampak tertidur, Allenz dengan perlahan mendekati domba itu, saat didekatnya Allenz bersandar pada domba itu yang nampak tidak mempermasalahkan Allenz yang bersandar pada dirinya.
Disaat bersantai pada domba, ditambah suasana yang sejak membuat Allenz menjadi mengantuk, dirinya menutup mata untuk terlelap sejenak.
Namun, waktu santai Allenberlalu begitu cepat, domba yang di jadikan tempat bersandar malah berdiri dan kabur, menyebabkan kepala belakangnya terbentur tanah. "Akh?! Sialan!"
"Kau sedang apa?" Tanya Zen yang ternyata berada di sebelah Allenz.
"Apa yang kau lakukan disini, Ras?"
"Aku mendapat ijin dari ibumu, untuk menjaga kalian di akademi nanti bersama Iris." Ungkap Zen.
Zen menjawab. "Itu akan di tangani oleh Daiya dan yang lainnya." Melihat ke arah lain, Zen melanjutkan sambil menujuk pada arah yang dia lihat. "Itu domba mau kemana?"
Allenz yang sadar, langsung buru-buru mengejar para domba-domba itu, disusul oleh Zen yang ikut mengejar.
Di tempat yang sama, Iris dan Nayaka tengah memperhatikan permainan sihir dari Hanna. Disaat memperlihatkan sihir pada Nayaka dan juga Iris yang baru datang, dia seakan mendengar sesuatu. "Apa kalian mendengar sesuatu?"
"Tidak, aku tidak mendengar apapun." Ucap keduanya.
"Begitu, ya sudah."
Allenz dengan panik berteriak untuk meminta Zen berlari untuk mengejar para domba itu, hingga kawanan domba itu berpencar ke beberapa tempat.
"Sial!" Dengan terpaksa Allenz menggunakan sihir angin miliknya untuk mencegah para domba kebur lebih jauh.
Zen yang kesulitan menangkap satupun ekor domba, hingga dia melompat dan mendapat satu domba yang berukuran cukup besar, domba yang di tangkap oleh Zen mulai memberontak. Dengan segala kekuatan dia mencoba melepaskan Zen dari dirinya, sampai-sampai menyeret Zen yang masih berpegangan di belakang.
"Allenz!! Tolonggg!!!"
"Aku datang Ras!" Dengan cepat Allenz berdiri didepan domba yang dicoba tahan oleh Zen. Namun, dari laju sang domba, dia tidak kian menurunkan laju larinya. "Oh ow." Dengan cepat Allenz melompat ke samping untuk menghindar.
"Ahhhh!!"
Saat domba itu melewati Allenz, dia langsung berpegangan pada kaki Zen, guna menghentikan laju sang domba. Tapi, itu sia-sia, mereka tetap terseret oleh satu domba.
"Tahan!!" Allenz dengan cepat mencoba berdiri guna menghentikan domba mengamuk ini.
Pada saat Allenz dan Zen sibuk dengan satu domba, domba-domba lain pergi ke tempat para gadis dan hanya melewati mereka dan berkumpul seperti biasa. Tentu, kedatangan para domba membuat ke tiganya bingung, sampai Iris menunjuk pada Allenz dan Zen, Nayaka dan Hanna melihat apa yang ditunjuk oleh Iris.
Nayaka lansung tertawa melihat tingkah konyol Allenz dan Zen yang mencoba menghentikan satu domba, nampak sulit. Bahkan disusul Iris yang ikut tertawa.
Hingga pegangan Zen pada sang domba terlepas dan membuat Zen dengan Allenz terguling di tanah. Domba yang di coba tahan oleh keduanya, dipanggil oleh Hanna.
__ADS_1
Ke tiganya pun mendekati Allenz dan Zen yang terkapar di tanah.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Hanna.
"Apa menurutmu kami baik?" Ketus Allenz.
"Sialan, itu domba apa banteng?! Kuat juga tenaganya, hingga bisa menarik manusia." Keluh Zen.
"Kalian ini kenapa? Hahahah! Bagaimana bisa kalian sampai diseret seperti itu?!" Ejek Nayaka.
Hanya bisa melihat betapa konyolnya Zen dan Allenz sebelumnya, Hanna juga hanya bisa menahan tawanya saat melihat kejadian tadi.
"Hahaha, Elly memang domba paling sulit untuk di kendalikan, aku saja harus membujuknya dengan makanan favoritnya untuk mengajak dia keluar." Ujar Hanna.
"Dia betina?"
"Tidak, dia jantan." Jawab Hanna cepat.
"Ugh."
"Apa?"
Semuanya terkejut dengan domba tadi yang diberi nama Elly, yang ternyata adalah domba jantan.
Berdiri dengan cepat, lalu mengenggam erat kedua bahu Hanna, Zen berkata. "Orang bodoh mana... Yang memberi nama Elly pada domba jantan?!" Keluh Zen.
Hanna menjadi panik sekaligus wajahnya memerah saat wajah Zen cukup dekat dengannya. "E-eh... Um... Itu diberi nama oleh nyonya Anya."
"...."
"...."
Zen tersungkur seketika, dan dia dengan tatapan kosong berkata. "Haha... Ternyata ada orang yang menamai hewan seperti itu."
"Zen, jangan bilang kau jadi takut saat mengetahui bahwa yang menamai domba itu adalah ibuku."
Iris langsung berkomentar. "Terlihat dari wajahnya saja sudah sangat menunjukan hal itu."
Berkumpul disana sampai sore hari, mereka berkumpul dan berbincang banyak hal, bahkan terkadang mencoba menjinakan Elly yang sulit untuk di atur.
Pada sore hari, mereka kembali pulang, Zen dan Iris berpisah dengan Allenz dan Nayaka, Hanna juga harus membawa kembali para domba bersama gembala yang lain.
Mereka berpisah di depan rumah Allenz, Zen dan Iris berlanjut pergi untuk pulang. Di teras rumah, Allenz dan Nayaka datang dan di sambut oleh Nia.
"Kami pulang." Ucap Allenz dan Nayaka bersamaan.
"Selamat datang kembali." Sambut Nia pada keduanya.
Saat keduanya masuk rumah, tercium bau yang sedap, nampaknya Anya tengah memasak makan malam. Bau masakan ini juga nampak beragam, itu membuktikan Anya tengah memasak banyak makanan.
Dari dapur, Anya memanggil Nia untuk membantunya memasak.
Pada malamnya Allenz mendapat jawaban alasan Anya memasak banyak makanan, dikarenakan hari ini adalah hari ulang tahunnya, Anya membuat pesta kecil ini juga tanpa perlu membaut acara besar. Tantu, ini juga membuat Allenz bertanya soal itu.
"Ibu, kenapa tidak membuat pesta besar seperti dulu?" Tanya Allenz.
"Bukannya kau yang minta untuk membuat acara keluarga saja, seperti ini, dan setelah ibu pikir-pikir, daripada membuat pesta besar dan membuang uang. Lebih baik uang itu digunakan untuk hal lain, ibu juga tidak mau rugi mengeluarkan uang sebanyak itu." Jelas Anya.
"Ohhh."
"Jadi, selamat ulang tahun Allenz. Makan yang banyak ya." Ucap Anya memberi selamat.
"Akhirnya putraku sudah berusia 17 tahun, kau semakin dewasa saja." Ungkap Arthur. "Oh iya, dua bulan lagi Nayaka ulang tahun juga."
Anya juga kaget soal itu, dan dia berkata. "Ah! Ulang tahun Nayaka akan di akademi, jadi tidak mungkin kita seperti ini lagi."
Nayaka yang mendengar itu menjawab. "Ibu tidak perlu khawatir, aku mungkin akan merayakannya bersama kakak dan Teresa di akademi."
"Aww... Tapi ibu akan tetap mengirimmu surat nanti. Jadi sekarang, kita makan banyak! Selain merayakan ulang tahun Allenz ke-17, ini sekaligus untuk merayakan beberapa hari lagi Nayaka dan Allenz masuk ke akademi." Setelah ucapan Anya, mereka sekeluarga memakan masakan itu.
__ADS_1
Anya membuat beberapa masakan seperti sup ikan, Pierogi, Golabki, beberapa sayuran, daging merpati dan banyak lagi. Semuanya menyantap makanan yang ada, hingga mereka kenyang.