After World Breaker

After World Breaker
Chapter 5: Kedatangan orang bodoh dan perasaan


__ADS_3

Nampak ramai di gerbang mansion keluarga Bartfold, karena terjadinya perdebatan serius, Allenz, Teresa, dan Benard melihat hal itu dari balik jendela rumah.


Allenz merasa buruk akan hal ini, terutama pada Teresa, setelah mendengar cerita dari Yia pelayan pribadi Teresa, Allenz merasa Teresa memiliki trauma buruk pada orang yang tengah berbicara pada Ford dan Tiara diluar.


"Apa kau bicarakan? Hakim kota? Dia sudah tewas seminggu yang lalu, jadi kasus ini bisa kita buka kembali." Ucap pria tua perawakannya cukup tua, wajahnya dia seperti menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya. "Lagi pula, ada tunangan anakmu disini." Ucapnya sambil menunjuk pada putra mereka.


"Pfft, HAHAHAHA!!" Ford tertawa sejadi-jadinya, dia tidak berpikir para orang bodoh ini akan berkata seperti itu lagi.


Orang-orang dibalik gerbang mansion tampak aneh dengan tawa Ford, "kau ini kenapa?"


"Maaf, maaf, kau menyebut dirinya menantuku? Dia terlalu tua untuk anakku, lagi pula aku sudah menemukan tunangan yang cocok untuk anakku, jadi lebih baik kalian kembali ke rumah kalian."


Hal itu membuat orang-orang itu terkejut, Teresa sudah memiliki seorang tunangan tetap. Maka dari itu mereka meminta bukti akan hal itu.


Ford dengan bangga memanggil Allenz keluar dari mansion, "ini tunangan anakku, Allenz Wellerd."


Orang-orang disana cukup kenal Allenz dikarenakan posisinya yang merupakan anak Arthur dan Anya, dan ditambah rumor bahwa Allenz membunuh beberapa naga seorang diri, itu cukup membuat mereka terkejut bahwa anak itu yang menjadi tunangan putri sulung keluarga Bartfold itu.


"Bocah ini yang menjadi tunangan putrimu?" Tanya sang ayah orang itu.


"Sudahlah ayah, mana mungkin anak kecil itu cocok menjadi tunangan Teresa." Ucap Borath sambil menatap rendah Allenz dari balik gerbang.


Namun, Allenz yang sebelumnya diam kini ikut berbicara, "huh?! Apa kau bilang?"


Mendapat tanggapan Allenz, Borath kini hendak memprovokasi anak itu, "apa kau tidak dengar kau tidak cocok, dasar anak angkat keluarga kerajaan."


Ford dan Tiara terkejut dengan ucapan Borath, hal itu sudah keterlaluan bagi mereka. "Jaga ucapan mu, sialan." Ford merasa marah saat Allenz dihina seperti itu, namun dirinya ditahan oleh Tiara agar tidak bertindak lebih.


Namun Allenz masih terdiam, tak lama dia terkekeh kecil, tawa kecil Allenz cukup mengundang perhatian mereka pada dirinya, "memang, aku hanya anak angkat dari kerabat kerajaan, tapi aku sadar diri, dasar kau pria tua, sepertinya kau butuh cermin."


Borath yang menderita ucapan Allenz merasa terhina, hingga dia memegang gerbang depan dengan kuat. "Apa kau bilang bocah!?"


"Lihatlah sendiri, kau dan Teresa terlalu jauh, umur kalian seperti langit dan bumi, nanti orang-orang akan beranggapan kau ini penyuka anak kecil, pfft." Balas Allenz dengan tersenyum menantang.


Tak cuma Borath yang marah, ayahnya juga ikut marah dan memaki-maki Allenz sejadi-jadinya. "Anak kurang ajar, mentang-mentang kau seperti itu kau pikir bisa berbicara lebih hebat, hah?!"


"Aku hanya mengatakan fakta, pak tua, dan juga kalian lihat sendiri sekarang, apa kalian diterima disini? Tuan Ford saja tidak membuka gerbang ini dari tadi, sadar dirilah..." Ucap Allenz dengan wajah mengintimidasi.


"Sialan!! Serang bocah itu, tidak peduli meski gerbang ini harus hancur juga." Perintah ayah Borath, dia sudah kehabisan rasa sabarnya, kini dia diliputi oleh amarah terhadap anak kecil dibalik gerbang mansion itu.


Tak lama beberapa orang yang bersama keluarga itu membaca mantra sihir, mereka hendak menghancurkan gerbang itu tidak peduli akan akibatnya.


Allenz menatap malas pada orang-orang tak berotak ini, mereka nampaknya tidak akan berhenti jika tidak diancam atau lebih dari itu.


"Rasakan itu, hahaha–" Tawa Borath terhenti saat sesuatu menempel pada lehernya, dirinya memutuskan untuk melihat kebawah.


Orang-orang disana juga terdiam, dari keluarga Bartfold, keluarga Gothan hingga para penyihir yang sebelumnya tengah merapal.


Mereka terkejut saat melihat Allenz yang tiba-tiba sudah diluar gerbang, meski dirinya pendek, namun tangannya cukup sampai dileher Borath yang awalnya tengah mengoceh. Leher Borath sudah ada sebuah garpu makan, Allenz membawanya sebelum dia keluar tadi, untuk berjaga-jaga, hingga Borath hanya terdiam, lantaran jika dia bertindak gegabah, mungkin Allenz akan menanamkan garpu itu dilehernya.


"Kakak lihat itu?!" Ucap Ben yang takjub dengan aksi Allenz, di satu sisi Teresa cukup khawatir akan keadaan yang tengah terjadi diluar sana.


"Masih mau lanjut?" Tanya Allenz dengan wajah serius, ditambah aura mencekam yang dikeluarkan, hal itu sukses membuat mereka tidak berkutik.


Allenz langsung menghilang dari sana dan kembali di samping Ford, Ford juga yang berdiri terkejut tiba-tiba Allenz memudar dan kini telah disebelahnya.


"Ba-bagaimana kau melakukannya?" Tanya Ford yang terbata-bata.


"Huh? Saya pikir anda sudah tau, apa ayah saya tidak mengatakan sesuatu saat kalian tengah merencanakan perjodohan ini?" Tanya Allenz balik.


Ford kemudian memutar otaknya kembali, dia mencari ingatan tentang perencanaan perjodohan ini bersama Arthur dan Anya. Hingga dia teringat, "ah! Arthur mengatakan bahwa 'dia akan memberitahu tentang sihirnya', seperti itu yang dia katakan." Ucap Ford pada Allenz yang tengah jongkok di samping Ford.


"Hanya itu?"


"Iya, hanya itu."


Allenz menganggukkan kepalanya, lalu berdiri, dia kemudian menjawab maksud ucapan Arthur, "aku, Allenz Wellerd, putra Arthur Ironion Hearterra, anak yang mengutamakan satu sihir saja, sihir angin."


Ditengah-tengah ucapan Allenz, ayah Borath menyela ucapan Allenz dan merendahkannya dikarenakan Allenz yang hanya masih fokus satu sihir. "Pfft, apa-apa itu hanya baru bisa satu sihir, memalukan sekali."


Namun Allenz tidak menggubris perkataan orang tua pikun itu, dan terus melanjutkan kata-katanya, "yang sudah mencapai tingkat 12."


Dan hal hasil semua orang disana terkejut bukan main, mereka dengan jelas mendengar ucapan Allenz yang cukup lantang itu, tingkat dua belas, sebuah tingkat tertinggi di seluruh keempat kerajaan ini, dan Allenz yang masih kecil sudah sampai ketingkat itu.


"Hah?! Mustahil!! Mana mungkin kau yang kecil seperti itu sudah mencapai tingkat 12?! Kau penipu!" Ucap Borath yang awalnya terdiam saat aksi Allenz sebelumnya.

__ADS_1


"Kau diam saja." Ucap Allenz sambil menunjuk pada Borath, tak lama angin kencang melempar Borath kebelakang hingga jauh, orang-orang disana terkejut, dikarenakan Allenz tidak merapalkan mantra sama sekali.


Beberapa orang penyihir yang bersama keluarga Gothan langsung mencoba merapal mantra, namun dengan cepat Allenz melempar mereka juga seperti Borath. Aksi itu membuat orang-orang sekitar jadi ramai dan mulai mengerubungi di gerbang mansion keluarga Bartfold.


"Masih mau lanjut? Ada banyak saksi disini, biar mereka melihat sendiri apa yang aku lakukan selanjutnya." Ucap Allenz dengan nada mengancam.


"Sialan, aku tidak akan pernah melupakan ini, lihat saja nanti, minggir kalian semua!!" Ayah Borath kemudian pergi dengan menaiki keretanya sambil membawa paksa masuk Borath, dan pergi dari sana.


Orang-orang disana mulai berbisik satu sama lain, ada yang bertanya apa yang terjadi, dilain sisi ada yang menjelaskan kronologi awalnya masalah itu, hingga Allenz yang melempar Borath kebelakang.


Karena merasa mulai gaduh Allenz cepat-cepat masuk kedalam mansion, dia tidak mau ditanya lagi akibat aksinya, saat sampai didalam Yia, Teresa dan Ben langsung mendatangi Allenz yang sudah masuk, dan menanyakan apa yang diucapkan Allenz memang benar? Dirinya sudah mencapai tingkat 12?


"Tentu saja, kalau tidak percaya, bawa bola pemeriksa kesini." Pinta Allenz, bola pemeriksa adalah bola sihir yang akan menampilkan beberapa tingkat sihir yang dimiliki oleh setiap orang, hal ini untuk bisa melihat orang itu sudah sampai tingkat berapa.


Ben yang awalnya tidak menyukai Allenz, kini dirinya cukup kagum, ditambah dirinya melempar orang yang membuat kakaknya memiliki mimpi buruk.


Teresa yang melihat Allenz mau membantu keluarganya dari orang bodoh itu, dirinya seperti dilindungi, dirinya belum pernah seperti ini sebelumnya, hal ini cukup membuat hatinya sedikit terbuka pada Allenz.


Tak lama Ford dan Tiara masuk, mereka juga menanyakan hal yang sama, apa benar Allenz sudah mencapai tingkat 12? Tentu Allenz menjawab iya, dirinya sudah belajar sihir dari umur sepuluh tahun, dimana saat itu Nayaka berlatih tiga sihir, maka Allenz memutuskan hanya fokus satu sihir lebih dahulu, hingga dalam tiga tahun belakangan ini dirinya bisa mencapai tingkat itu. Hingga saat insiden dirinya dengan para naga kecil sebelumnya, dan keluarganya memutuskan untuk memeriksa tingkat sihir Allenz dan iya, itu membuat mereka terkejut bukan main, Allenz sudah mencapai tingkat 12 dalam waktu tiga tahun.


Hal ini juga dicatat oleh penulis sejarah kota, dan dimasukkan ke catatan sejarah, meski info ini belum dipublikasikan pada publik.


"Hahaha, ternyata rencana Arthur memang manjur, tidak salah menjodohkan putra mereka pada kita." Ucap Ford dengan kegembiraan.


"Rencana ayah?" Tanya Allenz yang merasa janggal.


"Oh, iya sebenarnya perjodohan ini hanya rencana ayahmu dan diriku untuk menghindari orang-orang bodoh yang mau mendekati Nayaka dan Teresa, jadi setelah orang-orang itu mundur mungkin kalian bisa membatalkan perjodohan ini, jika kalian tidak merasa cocok sejak awal." Jelas Ford.


Allenz dan Teresa terdiam, jadi selama ini mereka dijadikan tumbal perjodohan oleh orang tua mereka sendiri, "sudahlah, aku capek." Ucap Teresa sambil memegang keningnya yang terasa pusing.


"Jadi... perjodohan ini hanya drama yang kalian buat?"


"Tentu, dan jika mereka datang lagi, jadi tolong persiapan peran kalian, ya?"


"Dahlah... males... tapi jika ini hanya sebuah kebohongan maka aku ingin perjodohan ini dibatalkan." Pinta Allenz.


Teresa yang awalnya memegang keningnya, langsung terkejut dan bertanya pada Allenz. "Tunggu, apa?!"


"Bukankah kau juga setuju akan hal itu? Kau bisa fokus pada pembelajaran mu untuk ujian akademi, begitu juga denganku." Jelas Allenz.


"Jadi sekali lagi, tolong kerjasamanya, Allenz."


"O-oke."


Karena hal tersebut, Allenz juga harus berpura-pura menjadi tunangan Teresa dan begitu sebaliknya, namun disisi lain Teresa seperti ingin perjodohan ini dibawa serius, saat dirinya mengetahui sifat asli Allenz yang memiliki sifat melindungi orang, dan ramah pada orang lain, dan juga kepekaan dirinya pada sekitar. Namun, tidak bagi Allenz, disudut pandangnya ini hanya untuk melindungi Nayaka dan Teresa saja, tidak lebih dari itu.


Dan setelah itu, Nayaka juga ikut tinggal disana, Teresa melihat kedekatan Allenz dengan Nayaka yang sudah seperti sepasang kekasih, mereka saling mencoba mengetahui apa yang diinginkan lawan mereka. Dada Teresa seakan sesak, seandainya dirinya menyambut ramah Allenz sejak awal, mungkin hal lain yang terjadi, mungkin dia bisa berbicara bersama Allenz dengan puas.


Sudah seminggu kedatangan Nayaka, Teresa sedang mencoba menghilangkan pikiran tentang Allenz, Teresa mencoba dengan membaca buku di perpustakaan, dia mencoba menghilangkan sosok Allenz dipikirannya, namun hal itu malah menambah pikirannya dan kini otaknya sudah terisi oleh Allenz.


"Arrgg!! Kenapa aku tidak bisa fokus!! Apa karena aku jadi–" Teresa kemudian ingat kata-kata ibunya, apa ini karena dia mulai menyukai Allenz? Apa dia ingin mengetahui Allenz lebih dari sebelumnya? Apa ini cinta? Tapi dia masih terlalu muda, walau pun ada orang yang mendapat cinta pertamanya saat kecil, mungkin dia salah satunya. "Ah!! Hilanglah dari pikiranku!!"


"Siapa yang menghilang?"


Teresa terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba menjawab pertanyaannya, hingga dia terjatuh kebelakang dari kursinya.


"Ah, maaf-maaf," ucap Nayaka yang membantu Teresa berdiri. "Apa aku mengejutkanmu?"


"Tidak, aku baik-baik saja." Teresa mencoba membenarkan posisi kursinya ke semula dan duduk kembali, dan Nayaka yang duduk didepannya.


"Wah... kau rajin sekali, ya." Puji Nayaka.


"Ah, tidak, ini hal biasa yang aku lakukan untuk mengisi waktu luang." Jawab Teresa.


"Kau mirip seperti kakak."


"Huh?"


"Iya, lho, kalian mirip, hobi kalian suka membaca atau belajar sesuatu, kalau Nayaka sih, ogah, itu akan membuat kepala Nayaka sakit, uh..." Ucap Nayaka sambil memegang kepalanya.


Teresa tersenyum kecil melihat tingkah Nayaka, gadis ini cukup banyak bicara, namun membuat gadis ini terbuka pada siapa saja.


"Oh iya, apa kamu suka kakak?" Tanya Nayaka sambil mendekati wajahnya.


"Eh?? Ah!! Gimana ya?" Ucap Teresa sambil matanya melihat sekitar, dirinya mencoba menghindari pertanyaan itu dengan wajah tersipu itu cukup jelas bagi Nayaka.

__ADS_1


"Huu.... mencurigakan." Ucap Nayaka sambil menyipitkan matanya.


Teresa seakan diintrogasi, karena tidak mungkin mengelak dia memutuskan untuk pergi dari sana, "sepertinya aku ada kegiatan lain, jadi sampai jumpa." Dia kemudian pamit dan berjalan menjauh.


"Kakak tidak suka orang yang tidak jujur." Ucap Nayaka.


Ucapan itu membuat Teresa terdiam, dia membalikkan badannya dan menatap Nayaka, dirinya seperti mendengar ucapan Nayaka tadi.


"Kakak benci pada orang yang tidak jujur." Ucap Nayaka kembali, Nayaka kemudian mendekati Teresa dan memegang kedua tangan gadis itu. "Jadi ingat itu."


"Tunggu, bukannya aku itu menyukai kakakmu, kau tau?!"


"Apa kau yakin?"


Teresa terdiam, dia menunduk, sambil berpikir, memang benar, dia tidak jujur pada dirinya sendiri, bahkan Allenz saja tau bahwa dirinya memendam sesuatu dihatinya.


"Kakak pernah mengatakan ini padaku, 'aku tidak menyukai orang yang menuntut orang lain jujur, namun dirinya sendiri tidak jujur', seperti itu yang dia katakan." Ucap Nayaka. "Jadi jika Teresa ingin mengenal kakak, aku bisa bantu."


Teresa merasa tertolong, dirinya tidak menyangka Nayaka akan mau membantunya untuk dekat dengan Allenz, "jadi tolong kerjasamanya."


"Iya." Balas Nayaka sambil mereka menjabat tangan.


Tak lama kemudian Yia datang dengan terburu-buru, dirinya hingga mendobrak masuk perpustakaan, "nona muda, gawat!!"


Teresa dan Nayaka terdiam sejenak, lalu buru-buru mendatangi Yia yang panik sebelumnya.


"Ada apa, Yia?"


"Ini mengenai tuan muda Allenz!!" Ucap Yia panik.


Entah kenapa Teresa dan Nayaka seakan merasakan hal yang sama, sebuah pertanda buruk. Mereka bertiga cepat-cepat menuju ruang tamu, disana sudah ada Ford, Tiara, Arthur, Anya, Nia, dan Allenz sendiri, wajah mereka penuh dengan permasalahan, seperti sebuah mimpi buruk.


"Ayah, ada apa? Apa yang terjadi dengan Allenz?" Ucap Teresa dengan panik.


Namun, tidak ada yang menjawab, mereka seperti berada dalam kondisi yang buruk.


"Kurang ajar!" Ucap Arthur sambil mengebrak meja secara tiba-tiba saat setelah membaca sebuah surat, dan membuat Teresa dan Nayaka terdiam. "Bagaimana bisa!?"


"Arthur, tenanglah, kita cari tahu akar masalah ini." Ucap Ford yang mencoba menenangkan temannya itu.


"Bagaimana tidak tenang? Anakku akan dalam bahaya kau tau?!" Bentak Arthur.


"A-ada apa ini? Nayaka bingung?" Nayaka cukup bingung dengan kondisi yang terjadi pada saat ini.


Nia kemudian mendekati mereka, dan berbicara dengan nada sedih, "seseorang yang tidak bertanggung jawab telah mendaftar Allenz untuk mengikuti Operasi Militer dan tertulis Allenz wajib mengikutinya."


Nayaka dan Teresa langsung terdiam, mereka seperti tersambar petir, dan langsung syok berat.


Operasi Militer, hal ini berbeda dengan Pelatihan Militer, dimana siapapun yang ikut Operasi Militer, harus ikut dalam perang yang sesungguhnya, atau bisa dibilang menjadi seorang prajurit yang mengorbankan nyawa di medan perang. Orang itu akan mengikuti perang antar kerajaan, pemberontak, atau yang lebih buruk adalah mengikuti perang melawan ras iblis, itu sebuah mimpi terburuk yang pernah ada.


Ditambah Arthur yang pengalaman mengenai perang antar manusia dengan iblis, itu adalah kenangan yang dia ingin lupakan seumur hidupnya.


"T-tapi, ayah, 'kan Operasi Militer bisa ikut jika sudah selesai belajar dari akademi." Ucap Teresa.


"Tidak, nak, Operasi Militer tidak mengenal berapa usiamu, jika kau terdaftar maka dalam waktu dekat kau harus ikut perang, dan hal itu tidak boleh dilanggar, karena akan melanggar Hukum Ksatria Kerajaan." Ucap Ford yang sudah kehilangan harapan.


"Tunggu, ini bohongan 'kan? Kakak tidak akan ikut perang? Iya 'kan ayah? Ibu?" Ucap Nayaka yang tidak percaya dengan fakta itu, dia menanyakan itu pada orangtuanya. "Kakak? Kakak bohong 'kan? Kakak yang bilang harus jujur jadi–"


"Aku serius, Nayaka!! Aku harus ikut perang, karena itu wajib!!" Allenz yang awalnya diam, kini dirinya membentak adiknya, dirinya terpaksa berbicara seperti itu, agar meyakinkan Nayaka bahwa dia serius.


Nayaka langsung terduduk lemas, dia tidak ingin kehilangan kakak satu-satunya, namun tanpa sadar air mata membasahi pipinya. "Ti... tidak... aku... tidak... ingin... ini..." Nayaka tidak bisa membendung air matanya sendiri, dia menangisi kepergian kakaknya nanti, dia tidak mau hal itu terjadi, dirinya kini berharap bahwa kini adalah sebuah kebohongan belaka.


Sementara Teresa, dia terdiam, mentalnya seakan jatuh terlalu dalam, dia syok, karena orang yang dia cintai untuk pertama kalinya akan ikut perang yang mengerikan.


Melihat kedua gadis itu, Allenz memutuskan mendekati mereka, lalu memeluk mereka, Teresa saat mendapati Allenz memutuskan memeluknya, dirinya tidak bisa membendung tangisnya dia berteriak sejadi-jadinya, dia berharap dewa tidak akan merenggut cinta pertamanya itu.


Kini seisi rumah Bartfold diisi kabar buruk, karena mereka mungkin akan kehilangan satu anggota keluarga mereka saat perang dimasa yang akan datang.


Disisi lain dikediaman Gothan, ayah Borath bertanya pada Borath sambil menikmati anggur yang dia pegang, "jadi bagaimana nak?"


"Tentu saja mereka sudah menerima surat itu, jadi kita bisa lebih selangkah lebih maju, dan menyingkirkan anak kecil sialan itu, ayah." Jawab Borath.


"Mungkin mereka sedang tertekan sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan kita, apapun yang kita inginkan akan kita dapat, meski dewa sekalipun lawannya, HAHAHAHA!!!!"


Tawa puas terdengar dari kediaman itu, mereka merayakan tersingkirnya Allenz, keluarga Bartfold sudah diujung tanduk, dan tinggal mereka rebut hal itu dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2