After World Breaker

After World Breaker
Chapter 16: Kepulangan Allenz; dan seseorang dari tempat yang sama


__ADS_3

Allenz membuka matanya, dia melihat sekitar, lalu mencoba bangun. Namun, dia segera jatuh lagi. Dia menyadari sesuatu, dirinya tidak merasakan tangan kirinya, dan langsung melihat dia sudah tidak memiliki tangan kirinya. Matanya terbelalak melihat itu, dia langsung berdiri dengan ketakutan saat melihat tangannya yang sudah tidak ada.


Seorang prajurit Hearterra kemudian mendatangi Allenz dan merasa sedih dengan keadaannya sekarang. Dia juga dengan berat hati memberitahukan bahwa komandan Finn telah tewas.


Mata Allenz berbuka lebar, dia terkejut, seakan jantungnya berhenti saat itu juga. Dengan cepat dia meminta untuk melihat mayat Finn.


Allenz dan prajurit itu dengan berburu-buru pergi ke tempat para prajurit yang tewas, dimana ini ada di sisi lain benteng. Saat memasuki tempat itu terlihat puluhan tubuh yang ditutup dengan kain. Dengan perlahan mereka melewati kumpulan mayat-mayat itu.


Entah kenapa Allenz merasa ngeri setiap dia kali melangkah.


Hingga mereka berhenti disebuah mayat yang ditutupi dengan kain berwarna biru gelap. Sang prajurit kemudian membuka setengah kain itu dan memperlihatkan Finn yang penuh dengan luka bakar.


Hati Allenz seperti hancur, kakinya seketika lemas dan terjatuh, membuat sang prajurit panik. Melihat Allenz yang terjatuh.


"Kau, kau tidak apa-apa?"


'Aaa...." Mata Allenz masih terpaku pada mayat Finn. Dirinya tidak menyangka bahwa orang yang dekat dengannya selama di barak, kini sudah tidak bernyawa dan telah berbaring didepannya. Isi pikirannya seketika mengingat dirinya dengan Finn. Hingga dirinya sadar dengan misi yang mereka laksanakan. "Misi? Bagaimana dengan misinya?"


Sang prajurit menjelaskan bahwa sudah ada beberapa prajurit yang pergi ke benteng Rockfolt, setelah perang itu selesai, dan orang-orang yang berada di ruangan ini adalah para prajurit yang mencoba memukul mundur iblis yang tersisa. Lalu dia melanjutkan bahwa Allenz telah pingsan selama seharian penuh, bahkan kini sudah tengah malam.


Melihat ini, pikiran Allenz penuh dengan dirinya yang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


Namun, Alans dari pikiran Allenz menyadarkan dirinya.


"Tuan, sadarlah! Ini bukan salahmu!! Kuatlah!!"


"Ah! ...Iya."


Melihat Allenz seakan berbicara sendiri prajurit bersamanya memanggil Allenz dan menanyakan keadaannya. "Kau tidak apa-apa?"


"I-iya, aku baik-baik saja." Dirinya kemudian berjalan perlahan keluar dari ruangan itu.


Keesokan harinya, semua orang yang berada di benteng di jemput oleh orang kiriman kerajaan Spadeforia, mereka juga mengirim prajurit pengganti untuk menjaga benteng perbatasan ini. Karena menggunakan wagon mereka sampai dalam dua jam dan di sambut dengan beberapa prajurit yang langsung membantu para prajurit membawa mayat yang dibawa. Bahkan disana ada Woulle dan raja Ronald yang telah menunggu. Mereka bahkan melihat wagon yang membawa Allenz, hingga wagon itu berhenti dan Allenz turun dari sana.


Woulle dan raja Ronald merasa kasihan dengan keadaan Allenz yang cukup menyedihkan akibat misi ini.


Hingga Allenz berjalan mendekati mereka dan barangnya dibawa oleh seorang prajurit disebuah kotak kayu.


"Allenz..." Panggil Ronald. Namun Allenz mengabaikan panggilan itu. Bahkan matanya seperti ikan mati dan hampa tak berekspresi.


Keduanya hanya melihat Allenz yang lewat dan menatap punggungnya.


"Permisi, Yang Mulia dan Tuan Woulle." Ucap prajurit yang membawa barang Allenz melewati kedua orang itu.


"Iya." Balas keduanya.


Keduanya lalu menuju tempat wagon yang membawa tubuh Finn. Keduanya membuka kain yang menutupi mayatnya, dan terkejut dengan keadaan tubuh Finn yang penuh luka bakar.


"Astaga..."


"Ini...."


Keduanya kehilangan kata-kata melihat keadaan tubuh Finn yang mengerikan itu.


"Cukup menyayangkan melihatnya tanpa ada seorang keluarga yang bisa meratapi dirinya. Bahkan, dia belum memiliki keluarga." Ucap Woulle dengan wajah sedih.


"Karena itulah, kita yang akan meratapinya, Woulle." Balas Ronald. "Ah... Woulle, apa yang harus katakan pada Arthur, terutama Anya." Ucap raja sambil memijat dahinya.


Mendengar keluh raja Ronald, Woulle menjawab. "Aku sarankan anda mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Maksudku, pada keluarganya dan keluarga Bartford juga."


Raja Ronald hanya bisa melihat kelangit yang cerah, namun di saat langit biru cerah berlangsung, tengah ada duka yang mendalam.


Dalam perjalanan pulang ke ibukota Hearterra, Allenz masih dalam keadaan kosong, dirinya seperti sudah tidak memiliki keinginan hidup. Dalam dirinya dia berpikir, seperti ini kah dirimu jika di tinggal oleh orang yang dekat padamu? Sama seperti dirinya membunuh kelompok Black Skeleton dan menyisakan dua orang anggota terakhir yang mungkin saja mengalami rasa kehilangan.


Selepas itu semua, para prajurit Hearterra kembali ke ibukota bersama raja dan Woulle. Kabar kematian Finn juga di beritahukan pada publik dan Finn di makamkan pada pemakaman khusus bagi orang-orang yang berjasa bagi kerajaan. Dan ibukota berkabung akibat insiden telah gugurnya para prajurit dan komandan mereka.


Dihari yang sama, Allenz dipulangkan ke rumahnya. Dirinya diantar bersama prajurit yang berasal dari kota yang sama.


Didepan gerbang kota sudah ada keluarga para prajurit yang dipulangkan. Kini setelah tiga tahun mereka tidak kembali, kini mereka sudah pulang. Bahkan jumlah prajurit dari kota ini masih utuh. Hingga wagon yang membawa mereka berhenti didepan gerbang. Para prajurit turun bersama dengan mereka dan beberapa keluarga membantu menurunkan barang para prajurit.


"Ayah!!"


"Selamat datang kembali, kak."


Ucap beberapa keluarga menyambut kepulangan keluarga mereka dari perang.


Sementara Allenz mendekati keluarganya sendiri. Bahkan keluarga Bartfolt juga ikut menyambut kepulangan dirinya.


Hati Allenz terasa hangat karena ada yang menunggu saat dirinya kembali, tidak seperti dulu saat dirinya yang hidup sendiri, meski dirinya masih memiliki luka yang mendalam akibat kematian Finn.


Anya mendekati Allenz. "Selamat datang, Allenz." Sambut Anya. Melihat Allenz yang masih terdiam dan menundukkan kepalanya, Anya tersenyum. "Ibu tau kau sedang berduka, tapi ingat. Kami ada disini untuk menghiburmu."


"Ya, kak. Ada kami!" Ucap Nayaka.


Lalu Teresa yang sudah berubah semenjak tiga tahun tidak bertemu. "Hei, selamat datang kembali." Teresa kemudian memeluk Allenz tanda selamat datang baginya.


Entah air mata mengalir pada pipi Allenz dan dia membalas pelukan Teresa dengan tangan kanannya.


"Curang!! Nayaka tidak diajak!" Keluh Nayaka yang ikut memeluk Allenz dan Teresa.

__ADS_1


Nia kemudian mendekat sambil mengendong bayi berusia tiga tahun. "Coba salam, itu kakakmu."


Allenz mendekati bayi yang dibawa Nia, dan memberikan tangannya yang dijadikan mainan oleh bayi itu.


"Siapa namanya?" Tanya Allenz.


"Jack Als Hearttera." Jawab Anya.


Ford kemudian berbicara. "Untuk merayakan kembalinya menantuku. Aku akan mengundang keluarga para prajurit untuk merayakannya. Dan tentu ini adalah rencanaku dan Arthur."


"Tunggu apa?!" Arthur terkejut dengan ucapan Ford, bahkan dia tidak tau akan hal itu.


"M-menantu??" Allenz baru ingat bahwa dirinya sudah bertunangan dengan Teresa bahkan dengan Nayaka juga, akibat fokus berperang, dirinya sampai melupakan hal itu.


......****************......


Beberapa hari setelahnya. Di tengah hutan, dilab tempat Allenz pertama kali ditemukan. Diruang bawah tanah, terdapat banyak tabung yang berjejer dalam posisi tertidur. Namun, tidak banyak yang memiliki isi, bahkan meski berisi, kebanyakan kaca tabung itu pecah.


Disatu tabung, seorang manusia terlihat dalam keadaan tertidur. Didepannya terdapat sebuah layar jam yang tengah menghitung mundur.


5


4


3


2


1


[Pembangunan dilakukan... Menyadarkan objek... Dengan CODEX: Zen Rasyid Aditya] ucap sebuah program.


Tak lama, gas disemprotkan keluar dari pipa-pipa kecil, membangunkan orang didalamnya, seorang pria yang nampak berusia kepala tiga, memiliki kumis dan janggut tipis, tubuhnya agak kekar dan warna kulit sawo matang, pria itu juga mengenakan pakaian layaknya pasien berwarna biru muda.


Orang itu membuka matanya secara perlahan. Lalu mengambil posisi duduk dan melihat sekitar dan kebingungan dengan keadaan yang hancur dan sunyi. Mencoba keluar dari tabung, namun kakinya mati rasa. Dia butuh waktu beberapa saat untuk memulihkan kedua kakinya.


Lalu mencoba bangun untuk melihat sekitar. Namun dirinya sadar bahwa radiasi sihir telah masuk di ruangan ini, dengan sempoyongan dia mencari masker khusus untuk menetralkan sihir bagi pernafasannya, dikarenakan dia adalah manusia biasa atau yang dikenal Old Human, dirinya tidak mampu bertahan jika ada sihir atau mana disekitarnya.


Mencari dengan membuka lemari dan rak yang ada dirinya baru mendapat masker khusus itu didekat pintu.


Dengan cepat dia mengenakan masker tersebut dan bernafas lega.


"Huft... Haa.... Huft.... Haa...." Dia mencoba menenangkan pernafasannya. Setelah membaik, dirinya mencoba berkeliling.


Mendekati pintu besi yang sangat rapat, dia mencoba masuk dengan mengakses pintu itu dengan sidik jarinya.


Masuk kedalam, dia memerintahkan program untuk menghilangkan radiasi sihir diseluruh tempat itu.


"Program, hilangkan semua radiasi sihir ditempat ini." Ucap pria itu.


Menanggapi perintah pria itu program menghilangkan semua radiasi sihir ditempat tersebut. [Menetralisasi dilakukan.... Perhatian! Nampaknya ada beberapa tempat telah rusak dan mengakibatkan radiasi memenuhi ruangan tersebut]


Mendapat info itu, dia mencoba menanyakan ruangan mana saja yang tidak terkena dampak radiasi.


[Ruangan yang terhindar dari radiasi diantara ruangan keamanan, penyimpanan cadangan, gudang senjata dan gudang besar]


Memahami itu, dia berpikir. Dirinya harus mengambil beberapa makanan dan senjata. "Program, bagaimana keadaan cadangan makanan selama ini?"


[Menjawab, sudah tidak layak]


"Huh? Kenapa?"


[Menjawab, karena sudah dua ratus tahun telah terlewati. Dan sudah tidak layak dikonsumsi]


"APA!!?? Dua ratus tahun terlewati!?" Itu mengejutkan dirinya, dia tidak menyangka akan tertidur selama itu. Seharusnya dia bangun sekitar dua puluh tahun setelah dia dimasukkan kedalam tabung.


Saat memikirkan hal itu, dia teringat pada seseorang. "Program, bagaimana keadaan, Chris? Maksudku, Christoper Fran Newton."


[Memeriksa data..... Christoper Fran Newton telah keluar dari masa tidurnya tujuh belas tahun lalu]


Menarik nafas lega. "Program, tunjukan kamera yang ada tabung berisi tabung Chris berada."


[Memeriksa data.... Data tidak ditemukan]


"Apa? Apa kau tau dimana lokasi tabung itu berada?"


[Menjawab, lokasi tabungnya berada di sebuah tempat yang berjarak 430 meter dari sini di timur laut]


Orang itu semakin kebingungan dengan apa yang dijawab oleh Program.


"Eh... Lalu, dimana lokasi sebelum tabung Chris dipindahkan?"


[Menjawab, di lantai utama didekat pintu barat]


"Baiklah, aku akan atas. Program, beri aku senjata."


Orang itu kemudian keluar dari ruangan keamanan, dengan senjata senapan modern di genggamannya, dia pergi kelantai atas untuk memeriksa.


Naik dengan lift yang masih berfungsi. Hingga dia berada di balik pintu yang tidak dapat dibuka. Mengakses dengan sidik jarinya, pintu terbuka.

__ADS_1


Bersiap dengan senapannya, dia berjalan maju dimana lorong kiri telah terbuka lebar jalur dan cahaya matahari masuk kedalam. Setelah tiga ratus tahun, dirinya melihat cahaya matahari kembali. Namun, prioritasnya saat ini adalah Chris. Berjalan ke arah sebaliknya, dia menemukan ruangan itu.


Ruangan itu cukup gelap dan beberapa lampu berkedap-kedip. Dan dia langsung dengan cepat masuk setelah melihat mayat tulang yang duduk dengan pakaian dokter dan menggenakan helm. Memeriksa identitas orang itu, dia mendapati kartu identitas mayat itu adalah Chris itu sendiri.


Mengambil kartunya, dia memeriksa lebih lanjut ruangan itu. Dia kemudian memeriksa komputer disana untuk melihat kamera di ruangan itu.


Mengakses isi komputer itu, dirinya


mencari file yang menyimpan video rekaman di ruangan ini, dan dia harap ada.


Membuka file satu persatu, tidak perlu waktu lama, dia menemukan rekaman pada tujuh belas tahun silam.


Kini misi utamanya adalah mencari satu video yang merekam tabung Chris diambil.


Mencoba cari, membuka dan mempercepat video itu, dia mencari itu satu per satu, dan butuh waktu lama. Hingga mendapatkan video itu, dia menyetel video itu, dan menontonnya.


Dengan mempercepat video, dia berhenti saat ada beberapa orang yang masuk kedalam ruangan ini.


"B-baju ksatria?!" Dia terkejut dengan kedatangan beberapa pasukan yang masuk kedalam ruangan ini. Dia pun mempercepat video itu dimana saat tabung Chris di ambil.


Dirinya melihat bahwa orang-orang itu memutuskan kabel pada tabung tersebut dan membawanya entah kemana, namun mungkin tabung itu berada pada tempat yang diberitahukan oleh Program sebelumnya.


Namun, dia tidak mungkin akan keluar saat ini, akan sangat berbahaya keluar tanpa tau bagaimana keadaan sekitar.


Mengetahui semua ini, dia memutuskan untuk kembali masuk dan mempersiapkan diri terlebih dahulu.


Kembali ke ruang keamanan, dia meminta akses satelit pada seluruh untuk dimasukan ke sebuah perangkat untuk mempermudah dia gunakan.


"Program, apa seluruh satelit di dunia ini masih berfungsi?"


[Menjawab, iya bahkan masih bisa digunakan]


"Tolong masukan data akses seluruh satelit di dunia ini, semacam kau bajak data aksesnya, lalu pindahkan pada sebuah perangkat untuk aku gunakan."


[Memproses.... Melakukan sabotase data satelit.. Mengambil data akses... Memindahkan seluruh data pada perangkat]


Dengan begini dia bisa mengakses seluruh satelit dan mampu menggunakan semua kemampuan dari seluruh satelit-satelit itu.


Menaikkan alisnya, dia cukup terkejut dengan Program yang mampu menbajak akses itu dengan cepat.  Ditambah dia tau, bahwa beberapa satelit diberi beberapa perlengkapan senjata. Meski dia tidak tau untuk apa satelit dipasangkan senjata.


[Data berhasil dipindahkan] Program memindahkan data-data yang didapat, lalu dimasukkan pada perangkat yang menyerupai jam tangan namun cukup besar.


"OK, mari kita lihat apa saja yang kita temukan dari benda ini." Mengambil perangkat itu, dia menggunakannya. "Yap, agak berat. Tidak heran sih."


Menyalakan perangkat itu, layar hologram muncul dan menampilkan menu untuk mengakses beberapa hal.


"Mari kita lihat." Menyentuh layar hologram itu, memahami apa saja yang dia bisa gunakan pada perangkat itu. Setelah beberapa waktu untuk memahami kegunaan perangkat itu, baru dia mencobanya. Membuka menu satelit, dia menemukan banyak nama satelit yang bisa gunakan. Namun tidak semua satelit memiliki senjata, kadang hanya untuk menjadi tempat daur ulang atau hal lainnya.


Menggunakan sebuah satelit bernama PER-65 yang dia gunakan, karena memiliki kamera pengawas untuk melihat dari luar angkasa dan tentu saja memiliki senjata.


Mengutak-atik layar hologram, dia memperbesar pandangan kamera hingga melihat wilayah pegunungan Tromsdalstinden, wilayah Norwegia. Disana dia cukup terkejut dengan beberapa pemukiman kecil. Bahkan mungkin mungkin seperti awal penyebaran manusia, disana dia melihat melalui layar, para manusia berburu dengan peralatan masa era dulu seperti panah, tombak dan... sihir?


Matanya melotot melihat hal itu, para orang-orang itu benar-benar menggunakan sihir es untuk menangkap mangsa mereka. Hal ini cukup menarik, hingga membuatnya serius dan duduk pada kursi di dekatnya.


"Program , tolong gunakan monitor besar , aku mau lihat lebih jelas." Pinta Zen, lalu monitor besar disana dinyalakan dan menampilkan apa yang dilihatnya melalui jam tadi. Dengan dia bisa melihat dengan jelas dan tau bagaimana kehidupan baru sejak tiga ratus tahun terakhir. Melihat sebuah kota kecil yang seperti masa dulu pada jaman itu, dia melihat orang-orang disana saling berinteraksi. Bahkan, para wanita menggunakan pakaian bernama Bunad.


Hingga muncul beberapa monster mengerikan dengan empat kaki. Itu mengejutkan Zen yang menikmati keadaan itu. Para monster juga ada berupa naga dan seperti ular besar yang hampir 3 meter. Para penduduk melarikan diri, masuk kedalam pemukiman. Para pria dan remaja berusaha menghalangi para monster masuk ke kota mereka. Namun nampak akibat monster yang menyerupai ular besar itu membuat beberapa pria dan remaja kesulitan hingga ada yang terluka.


Zen kemudian menggunakan satelit PER-65, dan menggunakan senjata pada satelit itu untuk menembaki monster itu dari atmosfer.


...****************...


"Pappa, kita tidak bisa menahan mereka terus-menerus." Ucap seorang gadis dengan rambut coklat dengan model ikat Half Braid Updo, dirinya yang tengah menahan monster untuk tidak masuk kota.


Pappa: ayah, bapa.


"Tahan, kita harus bisa menahan para monster ini. Oscar, evakuasi warga lain dan minta pemimpin untuk datang." Ucap pria itu yang merupakan ayah gadis tadi.


Pemuda yang bernama Oscar langsung pergi dan meninggal orang-orang yang tengah menahan para monster untuk tidak masuk kota dan mencari bantuan.


Namun, muncul monster ular besar, dengan cepat di membuat para pria dan remaja itu kesulitan, meski besar tubuh ular itu. Tapi, ular itu lincah dan menyerang orang-orang itu.


"Pappa!" Gadis sebelumnya langsung menghampiri ayahnya yang terluka.


"Sial!" Sang ayah hanya bisa memegang kakinya yang terluka dan terkilir.


Saat melihat sekitar banyak yang terluka bahkan ada rumah yang mulai dirusak oleh para monster, membuat sang gadis hanya bisa pasrah. "Tolong kami!! Dewa jika kau ada!! Tolong bantu kami!!"


Seakan doanya terjawab, muncul tembakan demi tembakan, yang berasal dari langit dan menghujani para monster dengan tepat sasaran dan membunuh mereka terutama ular besar itu, sisa monster yang hidup memutuskan untuk pergi dan kabur.


Semua orang terdiam, dan melihat sekitar yang menjadi rusak akibat kekacauan tadi, dan mayat-mayat monster yang hancur dengan mengerikan.


Sang gadis hanya bisa melihat ke langit dan bersyukur dapat selamat kali ini, dan tersenyum.


...****************...


Disisi Zen dia merasa seperti seorang pahlawan akibat menyelamatkan orang-orang tadi.


"Astaga, itu hampir saja, jika tidak menggunakan fungsi Pengunci Target, mungkin para denduduk akan terkena tembakan." Ucap Zen lega, sambil memngusap wajahnya, karena hampir membunuh para penduduk disana.

__ADS_1


__ADS_2