
Semenjak dua ratus tahun yang lalu, bumi mulai berubah dan sangat jelas perbedaannya, mulai peradaban, teknologi, kepercayaan, adat, bahkan kalender pada dunia ini juga berubah, ditambah dengan para New Human jenis lain, menyebabkan timbulnya ras baru seperti, ras Elf, Dwarf, dan Beastman.
Namun, perang belum usai, sebab sering terjadi konflik antar ras, yaitu manusia dan iblis, dua ras yang terus saling berselisih, penyebab utamanya adalah artefak kuno para Old Human, mereka berpikir dengan mendapatkan artefak itu, salah satu mereka akan menjadi yang terkuat.
Namun disisi lain para ras lain tidak mau ikut campur lebih jauh lagi, mereka tidak ingin perang kuno seperti dulu terulang kembali. yaitu saat perang besar antar New Human melawan Old Human, maka dari itu, ras lain lebih memilih untuk menjauhi konflik dengan tidak mendekati kedua wilayah ras tersebut.
Di wilayah timur kekuasaan manusia, tempat rerumputan luas, tak jauh dari sana terlihat perbukitan dan pegunungan tinggi.
Tak lama gemuruh terdengar, suara orang-orang meneriaki satu sama lain, perang pecah antar dua ras terkuat. Dimana aliansi empat kerajaan besar manusia bersatu untuk ikut berperang melawan iblis, tembakan sihir dan panah terus menerus dilemparkan pada pihak musuh dari kedua sisi.
Namun, pihak manusia memiliki senjata lain berupa pelontar, dan meriam, sebagai senjata jarak jauh lain dalam berperang, disisi lain pihak iblis mengandalkan monster yang mereka miliki seperti naga untuk perang di udara, melawan kapal udara milik manusia, meski memiliki kapal udara namun kapal itu hanya seperti kapal udara biasa tanpa persenjataan sama sekali, maka dari itu manusia membawa meriam di atas kabin kapal itu sebagai penembak.
Asap dimana-mana, tembakan demi tembakan dikerahkan, korban berjatuhan, kerusakan yang terjadi disekitar peperangan, itu membawa kengerian pada perang itu.
"Komandan!! Pasukan kita banyak yang berkurang, kita perlu mundur!!" teriak salah satu prajurit untuk menyarankan agar pihak kerajaan mereka mundur karena mereka mulai kekurangan prajurit.
Mendengar saran itu, sang komandan nampak tidak puas, jika mereka mundur maka itu akan menjadi penghinaan bagi kerajaan mereka. "Baik, perintahkan seluruh batalion untuk mundur." Titah sang komandan.
Pihak mereka pun mundur, tidak hanya mereka, tiga pihak kerajaan lain ikut akibat gempuran yang dilakukan oleh para iblis, keempat pihak kerajaan manusia itu memutuskan untuk berpencar ke segala arah, dimana sang komandan dan beberapa orangnya memasuki hutan, agar memudahkan untuk menghilangkan jejak mereka.
Memasuki hutan lebih dalam, mereka menemukan sesuatu yang tidak terduga, sebuah bangunan kokoh, salah satu prajurit berkata pada yang lain, "komandan, apakah ini bangunan kuno? Lihat bagaimana bentuk arsitekturnya yang asing ini? Tidak salah lagi kita menemukan tempat harta kuno!!" Kata prajurit sambil menunjuk pada bangunan yang terlihat tak terpakai itu.
Mereka pun memutuskan untuk memasuki tempat itu, memasuki bangunan itu terlihat lorong gelap, dengan lampu yang berkelap-kelip, beberapa kali, dan kadang percikan listrik terlihat pada beberapa kabel di langit-langit bangunan.
"Bangunan ini aneh, penerangannya saja bukan menggunakan batu sihir atau pun obor," Ujar salah satu prajurit, menanggapi tempat itu.
"Bahkan tempat ini tidak memiliki aura sihir sama sekali, seakan sihir disini sengaja dihilangkan." Ucap prajurit yang lain.
Menanggapi prajurit sebelumnya, "heh? orang mana yang tidak mau menerima mana sihir? bukannya itu akan membunuh mereka, jika tidak memiliki mana sihir?"
Mendengar jawaban itu, para prajurit tertawa akan hal itu, karena mustahil ada makhluk hidup yang tidak memiliki mana sihir, jika ada orang seperti itu seharusnya dia akan mati.
Melihat para prajurit tengah asik berbincang, sang komandan langsung menghentikan mereka, karena ditakutkan ada sejumlah perangkap, tak lama ada dua arah jalan yang terlihat, satu jalan tetap lurus, yang lain belok ke kanan, melihat dua lorong itu, sang komandan memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mencoba jalur kanan, namun hanya pintu besi yang tertutup rapat, mereka pun mencoba untuk membuka pintu itu dengan sihir, namun tak kunjung terbuka, mereka menduga pintu itu dirancang untuk kokoh terhadap sihir.
Namun, tak lama salah satu prajurit lain memberitahu bahwa jalur yang lain terbuka. Menanggapi itu, mereka pun memutuskan jalur yang lurus sebelumnya, dan memutuskan memasuki ruang itu.
Dan hanya terlihat ruangan yang berantakan, terbengkalai, beberapa kabel di sana-sini, namun ditengah ruangan itu terlihat kerangka mayat dengan jas laboratorium yang tengah terduduk pada bangkunya, dengan sebuah helm berkabel, melihat kerangka itu para prajurit mendekati mayat itu lalu mendoakan mayat itu agar jiwanya tenang disana.
"Kami berharap pada roh ibu Kudus, semoga melindungi jiwanya di alam sana." Doa mereka pada mayat itu.
Tak lama sang komandan melihat sebuah tabung kaca air berisi sebuah bayi mungil didalamnya, melihat itu, dia pun langsung memerintahkan para prajuritnya untuk melepaskan tabung itu dari kabel yang tersambung pada tabung itu. "Semuanya potong sulur-sulur hitam ini." Perintahnya.
Tak lama tabung itu yang awalnya berdiri sedikit demi sedikit mulai jatuh, beberapa prajurit itu pun langsung memegang tabung itu agar tidak jatuh. Dengan ukuran yang tidak besar, dengan tinggi hanya kurang lebih setengah pria dewasa, mereka pun membawa tabung itu karena tidak ada benda lain yang terlihat berguna.
Karena hari mulai malam, mereka pun memutuskan untuk bermalam ditempat itu, beberapa prajurit ada yang tengah berbincang, dan ada yang menyantap makan malam, disisi lain sang komandan tengah menjaga tabung yang berisi bayi itu. Dia berpikir bayi akan diasuh oleh siapa? Panti asuhan? Kerabatnya? Namun dia tidak yakin akan hal itu.
__ADS_1
Salah satu prajurit disana mendatangi sang komandan, dan duduk disebelahnya, sambil menatap tabung itu juga. "Komandan, bagaimana dengan bayi ini nantinya?" Tanyanya.
"Aku tidak tau, yang pasti tidak mungkin kita tinggalkan anak ini disini, mungkin lebih baik kita bawa bayi ini ke hadapan raja." Saran sang komandan, agar masalah itu diatasi dan mendapatkan saran yang lebih baik.
"Begitu ya... Oh iya, komandan bukannya istri anda tengah mengandung anak pertama kalian? Selamat, ya!"
"Benar, Anya tengah mengandung, dia mungkin tengah diurus oleh pihak gereja setempat, huh, ternyata aku sudah mau jadi seorang ayah saja." Ujarnya sambil terkekeh geli, dia berpikir sepertinya sudah harus memulai hidup yang baru yaitu kehidupan berkeluarga dengan istri dan seorang anak yang sebentar lagi akan mereka miliki.
Semua orang disana memutuskan untuk tidur, dan ada dua orang yang berjaga, setelah hari itu mereka pun kembali ke kerajaan mereka, setelah sebelumnya mendapatkan surat dari raja untuk kembali ke istana.
Mereka pun kembali dengan tabung itu yang ditutupi kain besar, dengan membawa tabung itu mereka juga memikirkan cara agar membuka kaca tabung itu tanpa menyakiti bayi didalamnya.
Dengan butuh satu hari penuh mereka sampai di ibukota kerajaan tepat pada tengah hari. Mereka pun dituntut ke istana oleh prajurit istana, hingga tiba di aula singgasana. Disana ada beberapa orang, ada komandan kerajaan divisi lain, beberapa menteri, keluarga kerajaan dan lainnya. Mereka cukup aneh melihat sesuatu yang dibawa oleh komandan itu beserta prajuritnya, benda misterius yang ditutupi kain itu.
"Arthur, apa yang kau bawa itu?" Tanya sang raja kepada komandan utama kerajaannya.
Arthur mulai menjelaskan kepada mereka tentang apa yang terjadi setelah mereka kabur dari perang, orang-orang mulai berdiskusi dan memberi saran juga nasib dari bayi dalam tabung itu.
Raja memikirkan hal itu juga, bayi ini cukup aneh dari yang terlihat, kenapa bisa seorang bayi dimasukkan kedalam tabung air?, dia melirik sesaat istrinya, sang ratu, yang juga tengah mengandung anak mereka yang ketiga.
Dahi sang raja terangkat, dirinya seperti mengingat sesuatu, "Arthur, aku sudah membaca suratmu, apa ku yakin akan hal itu?"
Arthur tampak terkejut pertanyaan yang dilontarkannya soal surat yang dikirim sebelum perang dimulai. "Iya, Yang Mulia, hamba yakin dengan apa yang hamba tuliskan diisi surat itu." Jawab Arthur dengan tegas.
Sang raja tersenyum, dirinya tidak salah memilih Arthur sebagai perwakilan komando pasukan kerajaan di aliansi empat kerajaan manusia, terutama sebagai adiknya sendiri, Arthur sebentar lagi akan memiliki seorang anak, tidak mungkin seorang ayah tidak melihat anak pertamanya lahir ke dunia.
Beberapa orang langsung memberikan komentar mereka, ada yang bertanya kenapa, ada yang merasa bayi ini cukup diwaspadai karena tempat awal ditemukannya bayi itu.
Sang raja mengangkat satu tangannya menandakan mereka untuk diam, seketika orang-orang disana langsung hening, bahkan suara angin dari luar sedikit terdengar. "Alasan aku mengijinkan Arthur membawa bayi itu adalah karena ini." Ujar sang raja sambil memberikan sepucuk surat pada seorang prajurit didekatnya, lalu surat itu diberikan pada Arthur agar dia mau membacanya.
Arthur terdiam membaca surat itu, surat itu ditulis oleh istrinya untuk raja, tentang isi surat itu adalah dia berharap bahwa anak mereka kembar meski minim keberhasilannya, ditambah katanya istrinya juga ingin memiliki seorang anak lagi, bagi bayi mereka agar bisa memiliki seorang saudara.
Muka Arthur terlihat memerah, karena malu membacanya, dia tidak menduga istri sebegitu ingin memiliki banyak anak, dia mulai takut untuk pulang ke rumah melihat istrinya memiliki sifat seperti itu. Arthur pun melirik raja, namun mata raja seakan ingin menghindari tatapan Arthur, seakan mengatakan 'semangat untuk anak kedua kalian nanti'.
Tidak punya pilihan, Arthur menyetujui saran raja, jika dia membawa anak itu, bisa saja istrinya tidak meminta anak lagi untuk beberapa bulan.
Selesai sudah hal yang dibahas di singgasana raja, dan diumumkannya bahwa Arthur pensiun dari prajurit kerajaan, dan akan tinggal dikampung halaman istrinya, diluar ibukota. Kini yang menjadi masalah baru adalah bagaimana mengeluarkan sang bayi dari tabung itu.
Tabung itu kini ditaruh di ruangan khusus, sang bayi masih terapung di tengah tabung itu, sambil meringkuk selayaknya janin bayi, ratu dan kedua anaknya itu tengah memperhatikan tabung itu.
Sang kakak pertama, yang merupakan seorang putri cantik bernama Rose Dekred Hearterra, menanyakan nama dari sang bayi pada sang ratu, ibunya. "Ibunda, anak ini, nantinya akan diberi nama apa?" Tanya sang putri yang berusia enam tahun.
Ratu tersenyum melihat keingintahuan putrinya, "Anakku, bayi itu akan dibawa Paman Arthur, jadi mungkin dia akan diberi nama oleh bibi Anya," ucap ratu lembut.
Mendapatkan tanggapan yang lain dari ratu, putri Rose menggembungkan pipinya, karena kesal. "Huh!? mama pelit!?" Setelah mengeluh tentang itu, putri Rose pergi dari sana karena kesal tingkah ibunya yang suka menjahili dirinya.
__ADS_1
Melihat sang kakak pergi, putra mahkota, anak kedua raja, yang berusia empat tahun, ikut pergi mengikuti kakak perempuannya, dan meninggalkan ibu mereka disana sendirian.
"Astaga, tega sekali kalian, meninggalkan ibu kalian disini, huh..." ujar ratu sambil memegang satu sisi pipinya. Ratu kemudian keluar dari sana, dia cukup bersyukur karena bisa menjauhi bayi itu, karena dirinya memiliki sihir mata yang melihat warna mana disekitar dirinya, tapi bayi itu terlihat janggal, dikarenakan warnanya yang suka berubah setiap waktu, seakan bayi itu memiliki hal lain didalamnya. "Aduh, Nicolas Dekred Hearterra, anak ganteng mama, sini sama mama aja." Ratu kini tengah pergi mencari kedua anak nya itu, Sang ratu kemudian pergi menyusul putra-putrinya di istana.
Kini semua orang tengah memikirkan bagaimana bayi itu dikeluarkan, semua orang mencoba agar tidak memecahkan kaca ditabung itu untuk tidak membahayakan sang bayi. Arthur kemudian mendekati tabung itu, dirinya memutari sesaat setelah melihat tuas yang cukup mencurigakan, dan diatas tuas itu bertuliskan "Open", namun karena bukan bahasa yang mereka pakai, Arthur tidak bisa membacanya.
"Siapapun, ada yang bisa menerjemahkan bahasa ini?" Ucap Arthur meminta seorang penerjemah bahasa istana untuk menerjemahkan bahasa itu.
Beberapa ahli bahasa dan penerjemah kuno dikumpulkan disana, mereka mencoba mengartikan bahasa itu, namun tidak kunjung mereka pahami.
"Yang Mulai, bahasa ini tidak dapat kami pahami, sepertinya ini bukan bahasa yang kita kenal, ini bahasa kuno, ini seperti bahasa pada era perang kuno dahulu." Ucap seorang ahli bahasa.
Semua orang lantas terkejut dengan tulisan yang sudah lama itu, ini penemuan tulisan kuno sekian kalinya, namun tetap mereka tidak bisa membacanya.
Karena penasaran, Arthur menarik tuas itu kebawah, tak lama sebagian kaca naik secara perlahan dan membuat air didalam tabung keluar, orang-orang disana lantas panik, dan langsung menggunakan sihir untuk mengendalikan air yang keluar bersamaan dengan bayi yang ada didalam, setelah kaca terbuka secara menyeluruh, air didalam tabung kering, sementara sang bayi masih didalam air yang tengah melayang di udara, Arthur pun mengambil bayi itu dari air.
Lalu, menggendongnya sambil menatapnya, para orang yang mengendalikan air sebelumnya, langsung membuang air itu keluar. Orang-orang disana pun langsung mendekati sang bayi yang tengah terdiam dan tidak bergerak sama sekali.
Orang-orang mulai menatap bayi itu, tak lama bayi bergerak dan menangis, seperti saat seorang bayi baru lahir, semua orang langsung lega karena mereka menduga awalnya bayi sang bayi telah mati.
"Arthur, aku serahkan bayi padamu, ya." Ucap raja.
Menyetujui hal itu, Arthur memutuskan untuk membawa bayi itu ke rumahnya, diluar ibukota, disebuah kota kecil, tidak jauh dari ibukota kerajaan, dengan hanya perlu satu hari hingga tiba di kota itu.
Disebuah rumah, seorang wanita yang tengah mengandung, sedang sibuk menjemur pakaian, dan kain bersama seorang maid.
Maid itu menatap sang nyonya agak cukup sulit menunduk saat hendak mengambil pakaiannya di wadah, karena perutnya yang besar. "Nyonya, lebih baik anda istirahat saja," pinta sang maid.
"Tidak bisa, aku harus rajin! Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu!" Jawab Anya dengan semangat seorang ibu.
"Tapi anda..."
"Sudah, aku masih bisa kok."
Tak lama Arthur sampai didepan rumah, dengan halaman yang luas, pagar yang terbuat dari batu, nampak dihalaman dua wanita tengah menjemur pakaian disana. "Aku pulang," ucap Arthur menyapa mereka.
"Selamat datang, sayang~" jawab Anya sambil mendatangi Arthur.
"Ya ampun, kan sudah aku bilang jangan banyak bergerak, kau masih dalam perawatan untuk anak kita."
Mendengar ucapan suaminya, Anya hanya bisa tersenyum kaku, tak lama dirinya menyadari bahwa suaminya membawa sebuah seperti digendong layaknya bayi. "Sayang, apa yang kau bawa itu?"
Arthur hanya terdiam, dia bingung untuk menjawabnya, seakan tidak menemukan jawaban yang tepat, Arthur hanya bisa menjawab seadanya. "Sepertinya anak kita akan punya teman, hehe..." ucapnya sambil menunjukkan bayi yang dia temui di hutan.
__ADS_1
Sontak Anya dan maid itu langsung terkejut bukan main, seakan doa Anya yang ingin memiliki banyak anak terwujud, namun langsung dua sekaligus. "EEEEHHHHH....!!!!???"