After World Breaker

After World Breaker
Chapter 18: Melihat dunia baru setelah dua ratus tahun di Nevelheim


__ADS_3

Bernafas lega, kini tanpa masker anti sihir, Zen bisa dengan bebas bernafas sesukanya. Dirinya juga sudah keluar dari lab dan tengah menikmati kebebasannya.


"Udara segar."


Allenz yang kemudian ikut keluar dari tempat lab itu, dirinya melihat Zen yang sudah berpindah tubuh dan bisa beradaptasi dengan keadaan baru di bumi.


"Tubuh baru ini tidak buruk juga, aku seakan muda lagi." Ucap Zen.


"Tentu saja, itu tubuh seperti orang berusia 21 tahun, kau tau." Jawab Allenz yang berdiri di samping Zen.


Melihat Allenz, Zen bertanya. "Bagaimana dengan tangan barumu?"


"Cukup memuaskan, apalagi ini memiliki banyak fitur." Jawab Allenz dengan menggerakkan tangan kiri barunya, yang dia buat bersama dengan Zen, dan arahan dari Program. Tangan ini seperti tangan mecha, namun tampilan tangan itu bisa di ubah menjadi seperti tangan asli.


Setelah berhasil memindahkan kesadaran Zen pada tubuh barunya, butuh waktu sehari penuh untuk Zen sadar. Lalu, setelahnya Allenz mengajarkan Zen menggunakan sihir dasar, dan bahasa dasar pada Zen. Ditambah dengan Zen yang beradaptasi dengan tubuh barunya dan membuat tangan mecha bagi Allenz. Hingga mereka sampai membutuhkan waktu 2 hari untuk menyelesaikan semua itu.


"Apa kau sudah membawa kotaknya?" Tanya Allenz.


"Sudah." Balas Zen menunjukan sebuah kubus dan koper yang kemudian dimasukkan pada jam tangan miliknya, dimana jam tangan ini juga dapat menyimpan beberapa barang yang diubah menjadi molekul untuk dimasukan dalam suatu dimensi di jam tangan itu sebagai sebuah penyimpanan.


Allenz memikirkan tentang keluarganya dirumah. Mungkin keluarga Allenz akan memarahinya saat dirinya pulang nanti, terutama Nayaka dan Teresa mungkin akan sangat khawatir akibat menghilangnya dirinya selama tiga hari.


"Baik, jadi kita akan ke kotaku." Ucap Allenz.


"Ok, aku jadi tidak sabar." Ucap Zen.


Mengambil papannya, lalu membuat papan itu melayang, Allenz kemudian berdiri di papan itu.


Zen mengerutkan keningnya melihat Allenz mampu menerbangkan papan miliknya menjadi semacam papan yang dapat melayang diudara.


"Keren, kau menggunakan sihir untuk menerbangkan papan ini?"


"Tentu, ayo."


Zen terdiam saat Allenz mengajaknya naik. "Gimana cara naiknya?"


"Kau pegangan saja pada pinggir papannya." Jawab Allenz.


Berpegang pada pinggir papannya, Allenz langsung terbang ke langit, dengan laju yang sebisa mungkin untuk tidak menjatuhkan Zen yang sedang berpegangan di pinggir papan miliknya.


"Woh... wohh... Gila, kita benar-benar melayang." Zen sebisa mungkin untuk mempertahankan pegangannya.


Dengan laju yang tidak terlalu cepat, Allenz melayang bersama dengan Zen pergi ke kota Nevelheim. Hingga mereka melewati sebuah bukit tinggi, dan nampak kota kecil Nevelheim, Zen terpukau dengan keadaan kota itu. Adanya kapal udara yang keluar masuk kota, dan beberapa wagon yang keluar masuk gerbang kota.


"Tunggu, tempat ini sudah memiliki kapal udara?!" Ucap Zen terkejut.


Dengan bangga, Allenz menjelaskan . "Yap, perkembangan dunia ini sudah terbilang baik,  bahkan sudah memiliki semacam mesin uap untuk menerbangkan kapal udara itu, dalam perang juga sudah memakai meriam bersamaan dengan manjanik, dan balistik." Jelas Allenz.


Zen cukup kagum, terutama pada persenjataan berat saat ini. Bisa dibilang ini perkembangan yang hebat. Melewati atas dinding kota, Allenz menyapa beberapa penjaga di dinding kota, sambil menuju rumahnya.


"Kau cukup dikenal, ya." Ucap zen.

__ADS_1


"Yap, begitulah. Baik, saatnya kita turun." Allenz kemudian menurunkan papannnya mendekati tanah. Lalu Zen melepaskan genggaman pada papan Allenz, disusul dengan Allenz yang turun dari papannya dan bersama-sama mereka pergi ke rumah Allenz.


Sambil berjalan menuju rumahnya, Allenz memberitahu soal namanya yang saat ini dia gunakan. "Ras, kini kau harus memanggilku dengan nama 'Allenz', karena itu adalah namaku yang sekarang."


"Ok, Allenz... Kupikir Alan."


"Tidak, namaku Allenz, bukan Alan." Sahut Allenz.


Hingga saat mendekati rumahnya, disana ada keluarganya sendiri, dan keluara Bartfort, tentu dengan muka yang nampaknya sedang marah, terutama ibunya, Nayaka dan Teresa.


"ALLEENNZZZ!!!" Dengan cepat, Anya keluar dan langsung memeluk anak laki-lakinya itu. "Allenz, kemana saja kau!? Ibu sangat khawatir, kau tau!?" Anya sampai menangis karena Allenz yang menghilang selama tiga hari. "Kau tau, ibu bahkan sampai tidak makan dan tidur karena kau tidak kembali."


"Ibu, kau terlalu berlebihan. Dan aku minta maaf karena menghilang dan tidak mengabari kalian."


Sambil menangis dan masih terus memeluk Allenz, Anya melanjutkan. "Ibu tau, kau masih tidak menerima kematian tuan Finn, 'kan? Ibu tau, kau masih perlu waktu. Jadi, ibu berbicara pada ayahmu untuk mengunjungi makam tuan Finn nanti."


Allenz terdiam, padahal itu bukan motif dia menghilang selama tiga hari. Namun, dia tidak mempermasalahkan hal itu. "Yaa.... Aku masih bersedih akan hal itu." Balas Allenz untuk tidak ingin memperpanjang masalah.


Nayaka dan Teresa mendatangi Allenz, dan tentu untuk menceramahi dirinya.


Lalu Zen? Dia sama sekali tidak paham apa yang mereka katakan. Allenz memang mengajarkan bahasa dasar, tapi apa yang mereka ucapkan itu bukan bahasa dasar sama sekali. Jadi dia hanya diam sambil tersenyum, bahkan pada orang yang melewati dirinya.


Saat melihat Allenz yang tengah berbicara dengan Ibunya, Nia, Nayaka dan Teresa. Arthur dan Ford mendatangi Zen yang masih diam di luar, kedatangan keduanya membuat Zen panik, dan menjadi grogi.


Kemudian Program membantu Zen dalam membantu dirinya berbicara. Dimana Allenz memindahkan Program kedalam jam milik Zen untuk bisa digunakan dan membantunya. Zen juga yang menggunakan semacam headset kecil pada telinga kirinya, dia dibantu oleh Program dari sana, agar tidak dicurigai oleh Arthur dan Ford. Setiap Arthur dan Ford berbicara atau bertanya, Program akan membantu menerjemahkan perkataan mereka, dan membantu Zen untuk menjawab perkataan mereka. Meski perkataannya belum fasih.


Hingga Arthur bertanya pada Zen, bagaimana dirinya mengenal anak Arthur itu.


Tentu Zen yang dibantu dengan Program menjawab, bahwa dia adalah seseorang dari desa pinggaran yang terpencil dan di selamatkan oleh Allenz pasca adanya serangan monster pada desanya yang membuat para penduduk lebih memilih pindah dan Zen adalah orang yang dibantu oleh Allenz, lalu alasan dirinya belum fasih berbahasa Worage, karena bahasa didesanya masih menggunakan bahasa lama yang berbeda dengan bahasa Worage.


Disisi lain, Zen hanya bisa meminta maaf didalam hatinya, karena telah membohongi dua pria yang lebih tua enam belas tahun darinya.


Allenz kemudian bergabung dengan Zen dan yang lain, dia kemudian mengenalkan Zen pada yang lain, dan tentu menjelaskan bagaimana Allenz bertemu dengan Zen, tentu dengan cerita Zen tadi, dia mengarang cerita, dimana dia diselamatkan oleh Allenz saat desanya diserang. Seperti Zen sebelumnya, Allenz dan Zen hanya tersenyum saja, sambil tertawa kecil. Karena mereka telah membohongi keluarga Allenz dan juga keluarga Bartfort.


Nayaka kemudian bertanya pada Allenz soal tangan barunya. "Kak, kenapa tanganmu seperti itu?"


Menyadari Nayaka yang sadar akan tangan barunya itu, Allenz menjelaskan bahwa dengan bantuan Zen dia dapat memiliki tangan barunya itu. Dengan membuat sebuah tangan besi yang memiliki fungsi seperti tangan umumnya. Namun, memiliki beberapa fitur lain seperti persenjataan rahasia didalamnya.


"Bagaimana cara agar benda ini bergerak?" Tanya Tiara.


Allenz bingung untuk menjelaskan bagaimana tangan mecha miliknya bekerja. "EH.... Benda ini terhubung dengan saraf pada tubuhku agar bisa digerakkan. Yah... Meski kalian mungkin tidak akan paham."


Namun, Teresa membantah hal itu. "Apa maksudmu? Aku tau tentang saraf. Kau pikir aku tidak tau?!"


"Eh? Tunggu, kau tau soal saraf?"


"Tentu saja aku tau." Jawab semuanya.


"Kami mempelajari saraf kau tau, itu adalah pelajaran penting saat kau bersekolah nanti." Jelas Anya.


"Kalo diriku karena membaca buku tentang saraf di perpustakaan." Kali ini Teresa yang menjawab.

__ADS_1


"Nayaka mempelajari saraf bersama Teresa." Sambung Nayaka.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kau bisa mengetahui tentang saraf? Padahal aku tidak pernah melihatmu membaca buku tentang saraf." Ucap Teresa.


Allenz dan Zen terdiam, mereka tidak menduga hal ini, ternyata era saat ini terbilang memang maju, dengan bukti bahwa disekolah nanti saraf akan menjadi mata pelajaran penting.


"E.... Umm... Aku mengetahuinya dari perpustakaan di ibukota, meski tidak banyak, hehehe." Jawab Allenz dengan tidak yakin.


Namun, untungnya, jawaban itu membuat yangf lainnya percaya akan perkataan Allenz. Lalu dilanjutkan dengan mereka yang membahas Zen yang diputuskan untuk tinggal bersama dirumah keluarga Bartfort. Karena rumah Arthur sudah tidak memiliki ruang yang cukup. Allenz juga ikut tinggal disana karena dirinya sudah menjadi tunangan Teresa. Jadi, sudah seharusnya dia tinggal bersam dengan Teresa, tunangannya. Lalu Nayaka lebih memilih tinggal bersama dengan keluarga sendiri, meski dia kadang datang ke rumah keluarga Bartfort atau pun sebaliknya.


Selama seminggu setelahnya, Zen diajarkan lebih banyak dalam belajar soal bahasa Worage, karena dengan dia dapat berbicara dan membaca basa Worge, itu sudah membuatnya mengerti apa yang di bicarakan orang sekitarnya. Agar tidak bingung lagi. Meski, saat mengajar ini, kadang zen kabur atau malas belajar, sampai Allenz harus turun tangan untuk membujuk Zen dengan paksa.


Hasil dari selama seminggu, Zen sudah cukup mampu untuk memahami bahasa Worage. Yang sebelumnya dia tidak paham kini sudah mulai memahami apa yang dibicarakan oleh orang-orang. Bahkan dirinya sudah mengetahui bahwa Nia selama ini sering mengejeknya. Mungkin Nia merasa posisinya yang dekat dengan Allenz telah diganti oleh kehadiran Zen.


Lalu, Zen juga mulai dapat berbicara bahasa itu dengan baik, perkembangan bahasanya sudah lumayan selama seminggu, tentu dengan beberapa paksaan Allenz agar dia terus belajar bahasa selama seminggu penuh.


Berjalan berkeliling kota dengan Allenz dan yang lain, Zen tengah melihat keadaan kota yang dia tinggali sekarang. Suasana disini sungguh hebat, banyak bangunan yang seperti masa abad pertengahan yang sedikit lebih maju akibat perkembangan teknologinya juga. Namun ditengah jalan, mereka berpisah karena Nayaka dan Teresa ingin membeli bahan makanan.


Banyak orang juga yang beraktivitas, dia melihat juga orang-orang yang memiliki rupa yang berbeda saling berinteraksi satu sama lain tanpa adanya konflik perbedaan. Mungkin jika konflik perbedaan hanya terjadi antar kerajaan saja.


Zen melihat banyak hal, dari toko bunga, toko pakaian, dan hal lainnya, dia juga melihat orang-orang yang saling beraktivitas, dan saling menyapa satu sama lain.


Saat sambil melihat sekitar, dia bertanya. "Apa kota hebat seperti ini ada daerah miskinnya?"


Mendengar pertanyaan itu, Allenz menjawab. "Tidak ada, kemiskinan tidak akan kau temukan disini. Tempat ini bisa menjadi tempat yang bagus untuk kau tinggali."


Mengangguk mengerti, mereka terus berkeliling, dari sudut-sudut kota mereka jelajahi. Hingga melihat perkebunan dan tempat pertanian, lalu kadang berjumpa dengan para gembala yang menjaga domba mereka.


Melihat semua ini, Zen jadi sedikit paham luas kota ini, karena didalam kotanya juga memiliki cukup luas tanah yang tidak hanya diisi oleh bangunan pemukiman, tapi juga untuk bertani, berkebun dan padang luas bagi para ternak untuk di lepaskan selama siang hari. Tapi, hanya kawasan tambang dan tempat penebangan pohon yang berada diluar kota, yang tidak jauh dari kota, yang berjarak 870 meter dari gerbang barat kota.


Tengah berjalan, mereka juga melihat adanya sebuah acara pernikahan diadakan di sebuah kapel, dari jauh mereka melihat adanya dua mempelai perempuan yang menikahi satu pria, Allenz dan Zen langsung membatu melihat hal itu.


"K, kau akan seperti itu, 'kan?" Spontan Zen berkata seperti itu, membuat Allenz langsung menatap pada Zen dengan wajah terkejut. "Aku tidak salah. 'kan?"


Pertanyaan Zen tadi mengakibatkan mereka berdebat panjang di tengah jalan.


Tiga jam telah mereka lalui, hari hampir memasuki saat sore, suasana kota agak berbeda, dengan sinar ke oranye saat matahari menerangi kota, suasana menjadi sedikit sepi saat memasuki sore hari. Berjalan berdampingan, Zen melihat kota ini sedikit merasa ingin pulang ke kampung halamannya. Meski, sudah dua ratus tahun terlewati, dia juga berpikir bagaimana keadaan tempat kelahirannya sekarang.


Saat Zen sedang melamun, mereka sudah sampai di depan rumah Allenz, disana keluarganya sedang  menyiapkan kayu bakar untuk malam hari saat dingin, dan untuk memasak makan malam.


Zen sadar bahwa keluarga Allenz menyiapkan banyak kayu bakar. "Untuk apa kayu bakar sebanyak ini?"


Anya yang tengah memisahkan kayu yang kering dengan kayu yang masih lembab dalam kotak kayu yang berbeda. Mendengar juga Zen bertanya, wanita berusia 36 tahun itu menjawab. "Karena sebentar lagi musim dingin. Mungkin dua atau tiga hari lagi akan turun salju. Apa Zen tidak merasa hawa kali ini mulai dingin?"


Menaikkan alisnya, dia baru sadar akan hal itu, memang sejak saat hari memasuki waktu sore hari, hawa mulai agak dingin. Ditambah dirinya mengenakan pakaian tanpa lengan, yang membuat hawa dingin lebih terasa saat menyentuh kulitnya.


"Oh iya, Allenz, ibu membuat sup ayam sayur, apa kau mau?" Tanya Anya pada Allenz yang tengah membantu ayahnya mengikat kayu bakar.


Mendengar itu, allenz menjawab. "Tentu," sahut Allenz. "Hmm... ibu, boleh aku  mau membawanya ke kediaman Bartfort? Mungkin mereka akan menyukainya."


"Tentu sayang, tapi setelah kau dan Zen makan, baru kalian boleh pergi."

__ADS_1


"Baik."


Setelah membantu merapikan kayu bakar itu, Zen dan Allenz makan bersama keluarga Allenz. Ditengah makan, Nayaka bercerita dirinya yang bermain dengan anak-anak dekat rumah. Sementara yang lain mendengar cerita Nayaka dan kadang ikut bercerita. Selepas makan, Allenz kembali ke rumah keluarga Bartfort bersama Zen dengan membawa sup ayam sayur buatan Anya.


__ADS_2