After World Breaker

After World Breaker
Chapter 39: Isla Novak


__ADS_3

Gadis bernama Isla, dia adalah anak satu-satunya dari Woulle Jan Novak. Dia tengah mencari seseorang yang bernama Allenz Wellerd, yang dia tau seseorang yang memiliki nama itu adalah murid dari Tuan Finn. Kini, dia tengah mencari anak itu untuk menanyakan kenapa dia tidak datang ke pemakaman orang yang dia anggap guru itu.


Kebetulan, dia mengetahui bagaimana ciri-ciri anak itu, setelah tau pangeran Hans cukup dekat dengannya, dan mengetahui anak itu saat sehari sebelum hari pembelajaran akademi dimulai.


Hingga saat istirahat sekolah, dia mencari anak itu, dia ingin tau alasan dari tidak datangnya Allenz pada saat itu. Namun, hanya yang dia dapati adalah tatapan intimidasi membunuh dari anak tersebut.


Allenz pergi dari sana, meninggalkan Isla yang masih terdiam akibat aura yang Allenz berikan padanya.


Dia akan tetap bertanya soal itu dilain waktu, dan mungkin akan mengganti pertanyaannya yang tidak terlalu menyinggung perasaan Allenz.


Hingga beberapa hari dia mencoba mendekati Allenz yang tengah sendiri, atau bersama Hans. Tapi, Allenz selalu menghindar, seakan dirinya selalu di abaikan. Ini membuat jengkel Isla, dia hanya ingin berbicara.


Hal ini juga diketahui oleh Teresa dan Nayaka sendiri. Mereka terkejut mengetahui ada seorang gadis lain yang tengah mencoba mendekati Allenz. Maka, mereka bertanya pada Allenz saat hari pulang sekolah, disaat mereka tengah mengobrol di taman sekolah pada sebuah gazebo saat sore hari. Dan bertanya siapa gadis itu, Allenz menjawab dia tidak mengenalinya sama sekali.


Hans, lah yang menjawab pertanyaan itu. "Dia anak dari tuan Woulle, Isla Novak." Dia melanjutkan. "Dia bertanya alasan mengapa Allenz tidak ikut saat acara pemakaman tuan Finn."


Nayaka dan Teresa menjadi paham, tapi menurut mereka tindakan Isla cukup keterlaluan. Allenz sangat tidak ingin membahas mengenai semua hal dari Finn, itulah sebabnya dia selalu menghindar.


Tak lama Joanna dan Josef datang sambil memberitahu mereka, jika ada seorang gadis yang dari tadi mengawasi mereka dari jauh.


Allenz menghela nafas, dia membalik tubuhnya dan memanggil Isla yang sejak tadi mengawasi mereka. "Hei, kau, gadis pirang. Sangat tidak sopan jika menjadi penguntit seperti itu."


Isla yang sadar keberadaannya diketahui, dia menjadi panik. "Eh? Ah! Eh, tidak aku tidak~"


Hans menyela. "Allenz bilang, dia akan menjawab pertanyaanmu yang selama ini kau tanyakan!"


Isla terdiam sejenak, lalu berjalan perlahan mendekati mereka. Dia sedikit gugup saat didekat mereka, Nayaka memberinya kursi untuk duduk bersama mereka.


Isla menjadi diam, wajahnya sangat terlihat cukup gugup. Mereka bahkan sampai memperhatikan Isla yang menjadi diam, bahkan mereka sendiri menjadi ikut terdiam.


Allenz menjadi cukup bodoh, dia lantas berbicara. "Aku tidak ikut saat itu, karena aku tidak ingin melihat dirinya saat dikubur. Itulah alasannya aku tidak mendatangi pemakamannya, ditambah saat itu masih takut. takut melihat orang yang aku kenal akan sama sepertinya."


Semuanya menjadi sunyi, Nayaka dan Teresa terdiam dan menundukan kepala mereka. Karena mereka cukup tau Allenz sangat tidak menyukai jika ada yang menanyakan soal Finnpada dirinya. Hans juga sama, dia tau kedekatan Allenz dengan Finn, bahkan saat dirinya datang ke barak bersama keluarganya. Saat dirinya dan Allenz masih berusia 14 tahun.


Untuk Joanna dan Josef, mereka tidak terlalu mengerti apa yang keempat orang ini bahas, mereka hanya mngikuti alur saja dan memilih ikut diam.


Angin berhembus, penerangan langit menjadi oranye, matahari mulai terbenam. Beberapa penerangan di akademi mulai di nyalakan. Beberapa murid ada yang kembali ke asrama mereka masing-masing.


Karena tidak ada yang berbicara, Hans mencoba mencairkan suasana dengan mengajak mereka untuk kembali ke asrama masing-masing, karena hari sudah malam dan memutuskan untuk bertemu kembali saat makan malam di kantin akademi. Hal ini di setujui oleh beberapa dari mereka.


Nayaka dan Teresa pergi lebih dulu, mereka kembali ke asrama mereka bersama, di lanjut oleh Joanna dan Josef. Meninggalkan Hans, Allenz dan Isla yang masih terdiam.


arah pandang Isla menjadi kemana-mana, dia sedikit gugup daripada saat bertemu dengan Allenz saat pertama kali. Dengan nada ragu , dia mengajak Allenz ke makam Finn jika Allenz punya waktu. Allenz menyetujui hal itu.


Menatap langit, Allenz sejenak menikmati angin sore yang menyentuh kulitnya. Dia lantas berdiri dan pamit dari sana. "Aku rasa, aku akan kembali ke kamar, dan sampai jumpa di jam makan malam." Pamit Allenz. "Oh, iya. Isla jika kau punya waktu, mau makan bersama kami?"


Isla terkejut dengan ajakan Allenz. "Eh? Apa tidak masalah?"


"Tentu."


"Akan aku usahakan untuk datang. Dan maaf karena bertanya soal Tuan Finn."


Allenz mengangguk, dia lantas pergi dari sana, meninggalkan Hans dan Isla berdua di taman akademi.


Tersisa Hans dan Isla, keduanya terdiam, Hans bertanya untuk apa Isla selalu bertanya pada Allenz soal acara pemakaman Finn, karena itu akan membuat Allenz tersinggung dan bisa mengingatkan dirinya pada masa lalu saat kematian Finn.


Isla bertanya, kenapa Allenz tau, bagaimana cara Finn tewas.


Hans menjawab. "Karena, Allenz ikut saat misi pengiriman di benteng Rockfolt."

__ADS_1


Isla melebarkan matanya, karna sangat tidak mungkin Allenz yang masih muda ikut dalam berperang. Bahkan, ikut kedalam hal yang bisa mengancam nyawanya. Dia hanya tau bahwa Finn sangat membanggakan Allenz saat dulu, tanpa tau Allenz ikut dalam perang.


Menghembuskan nafasnya, Hans hendak menjelaskan kenapa Allenz tau Finn mati. Namun, sebelum itu, Isla harus berjanji satu hal, penjelasan dari Hans ini harus dijaga, dan tidak boleh sampai bocor. Karena ini menyangkut masalah kemanusiaan milik kerajaan.


Isla bersumpah untuk tidak membocorkan itu, dia bahkan akan menerima konsekuensi apapun jika dia sengaja tau tidak sengaja membocorkan hal ini. Maka, Hans memberinya sebuah konsekuensi yang menurutnya pantas di emban oleh Isla jika dia melanggar, yakni, menjadi pengabdi setia Allenz selama hidupnya.


Isla terkejut dengan konsukuensi itu, dia protes pada Hans. Hans lantas menjelaskan maksud dari hukuman itu, dia berkata bahwa orang yang mereka bahas adalah Allenz, maka Hans berkata Allenz lah yang berhak memberi hukuman pada Isla. Terdiam, menurutnya itu masuk akal, kerena dia bertanya soal Allenz dan rahasia dari pemuda itu, maka pemuda itulah yang akan memberinya hukuman nanti.


Hans kini menjelaskan alasan Allenz ikut dalam misi itu, dia menjelaskan dari awal. Dimana, saat konflik keluarga Bartford dengan keluarga dari Borath, dan keluarga Borath dengan diam-diam mendaftarkan Allenz ke barak militer, membuat dirinya harus ikut dalam perang di usia 13 tahun. Disinilah masalah itu, ada beberapa petinggi yang menentang soal surat rekomendasi masuk militer. Karena bisa disalahgunakan, dengan mendaftar orang itu menjadi prajurit sepenuhnya tanpa boleh menolak sama sekali. Itulah kenapa, dua tahun lalu, raja memberi kebijakan baru soal membuat surat rekomendasi masuk kedalam militer.


Karena kasus ini juga sebenarnya sudah cukup banyak, namun sangat tertutup. Hingga raja melakukan pengecekan pada semua surat rekomendasi yang masuk kedalam militer, karena jika hal ini diketahui publik. Maka, akan ada banyak orang yang mempertanyakan soal kemanusiaan di barak militer. Dan bisa saja menyebarkan gosip buruk pada kerajaan dan berakhir terjadinya pemberontakan pada kerajaan.


Hans menyelesaikan penjelasannya yang cukup panjang, merasa lelah, dia mencoba meregangkan tubuhnya.


Isla mencerna semua itu, kepalanya berputar dan kini ia mengerti, Hans juga menjelaskan kedekatan Finn denga Allenz sangatlah dekat, itulah mengapa Allenz menjadi takut datang ke pemakaman Finn, karena dia tidak siap untuk melihat orang yang dekat dengannya mati begitu saja.


Isla lantas mengebrak meja dan memutuskan untuk menjadi seseorang yang akan menyemangati dan mendukung Allenz.


Hans membalas. "Tidak ada gunanya, dia sudah memiliki tunangan yang selalu mendukungnya, jadi itu tidak perlu."


"Eh? Kalau begitu aku akan menjadi temannya."


"Itu sudah diisi olehku."


"Umm... Kalau teman sekolah?"


"Ada Joanna dan Josef."


"Teman diluar sekolah?'


"Ada Nayaka yang menjadi adiknya."


Hans langsung menyela. "Itu sudah ada pada pak Zen, guru baru disini."


"Arrgg! Kau bisa diam tidak?!"


"Oke, aku akan diam."


Isla cukup kesal dengan Hans, dia lantas pergi dari sana meninggalkan Hans seorang diri. Terdiam, tanpa siapapun. Termenung, Hans berdiri dari kursinya, dan beranjak dari sana dan pergi kembali ke kamarnya.


Tak jauh, Zen tengah pergi menuju kantin, perutnya menjadi cuku lapar. Maka dari itu, dia mengajak Iris pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.


Zen bertemu dengan Iza didepan pintu kantin. "Tuan Zen."


"Nyonya Iza."


"Anda ingin makan malam?" Tanya Iza pada Zen.


"Iya, saya juga mengajak Iris yang juga makan." Ucap Zen.


"Oh, bagus kita bisa makan bersama." Ucapnya dengan senang.


Ketiganya masuk kesana, mereka mengambil makanan masing-masing. Zen mengambil susu dan sejumlah sup jamur untuk Iris. Untuk dirinya dia mengambil sup jamur dengan daging ayam bakar. Setelah mengambil makanan mereka, ketiganya makan di lantai dua yang masih sepi.


Pada satu jam setelahnya, Allenz dengan yang lain datang ke kantin, yang sudah mulai ramai. Dengan penerangan lilin dan pelita yang terpasang pada dinding atau tergantung di langit-langit. Membuat penerangan disana hanya berwarna oranye kekuningan.


Para murid dan guru makan bersama disana, menikmati waktu makan malam dengan sunyi malam.


Allenz dan teman-temannya makan bersama, termasuk Isla yang ikut makan bersama mereka. Sambil menikmati malam, ditengah itu, Allenz merasa akan lebih baik jika ada yang memainkan suatu lagu disini.

__ADS_1


Hans berkomentar. "Apa seperti pub?"


"Kurang lebih begitu, dan akan menambah suasana sedikit ramai."


Josef lantas akan bertanya pada guru musik untuk mau mengisi suatu pemain musik di kantin saat malam hari. Hal ini disetujui oleh yang lain, mungkin hal itu bisa mereka coba.


Isla yang diam, dirinya masih merasa bahwa dirinya ini adalah orang asing disini. Itulah mengapa dia hanya fokus pada makanannya.


Ditengah Isla termenung, Joan lantas bertanya kenapa Isla, kenapa dia diam saja sejak tadi. "Apa adayang salah? Kenapa diam saja?"


Isla tersadar, dan berkata. "Umm... aku biasa begini."


Joanna menampilkan wajah bingung. "Karena apa? Cukup dengar saja pembicaraan kami, meski kau tidak perlu ikut berbicara, setidaknya kau mendengarkan."


Isla mengikuti pembicaraan mereka, soal masa mereka masing-masing, kadang Isla akan fokus pada cerita yang serius, kadang akan tertawa saat ada cerita lucu, ini membuatnya merasakan hal baru, perasaan ramai dan penuh beragam ekspresi dari orang lain.


Hal ini cukup baru baginya, dia tidak pernah menemukan teman yang terbuka seperti mereka.


Dengan makan bersama dan berbincang dengan yang lain, Isla merasakan perasaan baru ini, perasaan memiliki seorang teman, beberapa teman.


Setelah makan, mereka kembali ke asrama masing-masing, di balkon pada ujung lorong pada lantai 2, Allenz belum masuk ke kamarnya. Dia tengahn bersandar pada pagar balkon, menatap langit malam, dengan rembulan bersinar bersama bintang.


Allenz mengeluarkan pen flute miliknya, memainkan lagu yang sudah lama tidak dia dengar. Lagu yang berjudul Der einsame Hirte, lagu yang menurutnya memiliki nada yang tenang dan santai.


Memulai memainkan alat musik itu, terdengar suara yang merdu, dan menenangkan pada malam itu.


Hans keluar dari kamarnya, dia mendengar Allenz yang bermain di ujung lorong. Menuju ke sana dan mendengar Allenz lebih jelas.


Hans sangat menikmati lantunan suara yang Allenz mainkan. Suaranya yang merdu, ditambah dengan suasana malam yang sunyi.


Dikamar asrama Isla, di lantai satu, dia tengah menulis surat untuk kedua orang tuanya, dia mengungkapkan bagaimana dirinya kini memiliki teman lewat tulisan itu, tangannya menulis kata demi kata.


"Siap." Ujarnya, suratnya kini sudah selesai, melipay kertas itu, dia memasukan kertas itu pada amplop untuk dia kirim besok. Mereganggkan tubuhnya yang lelah, dia beranjak tidur. Menutup jendela kamar, dan menutup horden. Tak lama, suara ketukan terdengar pada pintunya. Membuat dirinya bertanya siapa orang yang datang ke kamarnya saat larut malam.


Membuka pintu, dirinya tidak menemukan siapa pun disana, padahal di sangat jelas mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Saat Isla hendak kembali masuk kedalam kamarnya, dia sadar ada seseorang yang bersandar pada dinding di ujung lorong depan kamarnya.


Isla menjadi waspada melihat orang asing itu, dia menggunakan jubah gelap. "Halo? Siapa disana?"


Orang itu hanya diam, dan tetap bersandar pada dinding. Membuat Isla semakin curiga dengan orang itu, tak lama seseorang datang di belakangnya, membuat dirinya menjauh dari orang itu.


Tak lama beberapa siswi lain juga keluar kamar mereka, dan terkejut dengan Isla yang nampak panik dengan seseorang tak dikenal. Mereka lantas membantu Isla, orang yang sebelumnya diam, kini ikut bergerak dan menyerang para siswi yang baru keluar kamar mereka. Membuat keributan di sana, membangunkan para siswi yang lain.


Karena kepanikan yang ada, dua orang misterius itu menyerang dua siswi yang ada didepannya, salah satunya Isla. Isla dengan berusaha untuk menghindar, dia tidak membawa padangnya, hanya dengan bermodal fisik dan sihir yang dia bisa kerahkan untuk melawan.


Saat berfokus melawan, dia mendengar teriakan dari belakangnya. Sontak Isla menoleh, dia mendapati para siswi telah di lumpuhkan, dan salah satu dari mereka hendak dibawa.


"Tung~ Akh!" Tengkuk Isla di pukul keras oleh musuhnya saat dia lengah.


Merasa beberapa siswi telah di lumpuhkan, muncul orang-orang yang sama datang, hendak membawa para siswi yang tengah pingsan. Namun, beberapa siswi dari lantai dua datang, bersamaan dengan Allenz dan Hans yang mendengar keributan itu.


"Fuuiit!" Allenz bersiul, dia dengan sihir anginnya dapat membunuh dua orang yang baru datang, mendapati misi mereka telah kacau, dua orang yang membawa Isla dan siswi lainnya, lantas pergi dari sana.


Hans dengan cepat marah saat dua orang itu membawa Isla dan satu siswi lain, petir muncul dari kedua tangannya dan mengamuk tak karuan, dia melesat dan menumbangkan dua orang lainnya. Tersisa tiga orang termasuk dua orang yang membawa para siswi. Tiga orang itu lantas pergi dai sana, membawa dua siswi yang mereka dapat.


"Hans! Panggil para guru!" Perintah Allenz.


Hans mengangguk, dia cepat membalikkan tubuhnya dan pergi, hendak memanggil para guru.


Allenz memejamkan matanya, mengumpulkan mana diluar tubuhnya, tak lama angin berkumpul di sekitarnya, dan membawanya terbang ke udara.

__ADS_1


__ADS_2