
Menikmati teh hangat, Zen dengan tenang menikmati harinya saat menjelang sore. Langit yang mulai terlihat oranye, malam akan tiba tak lama lagi. Menikmati udara sore hari, memejamkan matanya, sambil menghadap atas. "Hah... Enaknya." Membuka matanya, dirinya terkejut melihat Nia yang menatapnya dekat pada wajahnya dan berakhir terjatuh dari kursi. "Bisakah kau tidak mengejutkanku seperti itu?!"
"Hmm? Bukankah kau biasanya waspada terhadap sekitarmu?"
Zen tidak menjawab itu dan memilih diam, lalu berdiri merapikan kursinya, dan menikmati sore hari, tanpa memperdulikan Nia yang berada belakangnya.
Merasa diabaikan, Nia seakan merajuk, dan seperti bergumam kesal pada Zen. Melihat Nia yang seperti merajuk, Zen menghela nafas, lalu berdiri dan menatap pada Nia. "Kau ingin apa?"
Masih merajuk, Nia malah pergi masuk ke dalam, meninggalkan Zen masih kesal ada apa dengan tingkah wanita itu. Menggaruk kepalanya dengan kesal, mood Zen menjadi buruk setelah diganggu oleh Nia tadi. Pergi masuk juga ke dalam rumah, dia kebetulan bertemu dengan Allenz , dan bertanya soal Allenz apa memiliki waktu luang. Allenz juga pas sekali tidak memiliki hal penting yang di kerjakan.
Zen pun meminta untuk melatihnya dalam sihir baru, dan melihat perkembangan dari dirinya, Allenz menyanggupi hal itu, keduanya pun pergi ke halaman samping rumah dan melatih Zen dalam sihirnya.
"Omong-omong, tingkat sihirmu sudah sampai mana?" Tanya AllenZ.
Mencoba mengingat terakhir kali dia berlatih, Zen menjawab. "Mungkin sudah ditingkat empat."
"Huh, cepat sekali?" Allenz cukup ganjal mendengar tingkat sihir milik Zen, bagaimana bisa secepat itu?
Pada Allenz, Zen menjelaskan bahwa karena anomali pada tubuhnya membuat dirinya bisa mempelajari sihir lebih cepat dan mudah dengan terus berlatih seiring waktu. Itu lah alasan dirinya kini ingin berlatih lagi dan mempelajari sihir baru di tingkat selanjutnya.
Mendengar jawaban Zen, Allenz meminta Zen untuk tenang dan melakukan meditasi. Menghilangkan semua pikiran dan perasaan yang ada, Zen mencoba menenangkan dirinya dan membiarkan dirinya seperti lepas dari masalah yang ada.
Mengosongkan pikirannya, mencoba fokus. Bernafas secara perlahan, Zen dengan baik melakukan itu semua, tubuhnya seperti ringan dan menjadi segar kembali.
Merasa cukup, Allenz melajutkan sesi itu, dan meminta Zen untuyk melakukan peregangan.
Zen melakukannya, dia pun melakukan senam biasa. Namun, hal itu di hentikan oleh Allenz, membuat Zen bingung dan bertanya-tanya. "Ada apa?"
"Kau, tunggu disini." Allenz pergi dari sana, dia nampaknya hendak mengambil sesuatu.
Zen hanya menunggu di luar, sesekali dia mencoba sihirnya, bagaimana perkembangan sihirnya sendiri. Menurutnya, sudah lumayan baik, dirinya tinggal berlatih lagi untuk meningkatkan sihir miliknya.
Keluar dari rumah Zen, Allenz membawa dua pedang, dan memberi satu untuk Zen. Inilah peregangan yang dia maksud tadi.
Melihat pedang kayu digenggaman tangannya, Zen langsung menancapkan pedang itu ketanah, lalu berbicara. "Aku tidak butuh ini."
"Kenapa?"
"Aku ingin tau, apa aku masih bisa menggunakan teknik bela diriku yang dulu."
Tidak mempermasalahkan itu, Allenz mengijinkan hal tersebut. Zen kemudia bersiap dengan kuda-kuda depan, menutup mata dan menarik nafas untuk menenangkan dirinya, agar bisa fokus. Baru membuka matanya, Allenz sudah menyerang dan memukulnya dari samping, mengenai pinggangnya. "Aku belum siap, bodoh!"
"Peraturan tidak tertulis nomor satu dalam sebuah pertarungan: kau harus siap dalam keadaan apapun." Allenz menyerang sekali lagi dari depan.
Zen melihat serangan itu, kini dia sudah siap dan menghindar dengan memutar sedikit tubuhnya. Hal ini membuat serangan Allenz menjadi tidak mengenai apapun. Zen dengan cepat memberi serangan dari bawah dan mengenai perutnya. Membuat Allenz sedikit terlempar mundur.
Mencoba memprovokasi dan menguji kesabaran Allenz. "Apa hanya segitu?"
Sedikit terpancing, Allenz menyerang Zen kembali. Dengan sedikit menggunakan sihir angin pada kakinya untuk bergerak lebih cepat. Dengan wajah serius, Zen memperhatikan gerak-gerik Allenz yang menyerangnya kembali.
Saat Allenz sudah sampai di jangkauan Zen, menggunakan tangan kirinya untuk menangkap lengan Allenz yang mencoba menebasnya dari atas. Dilanjut dengan dirinya menendang Allenz dari samping, menyebabkan Allenz terlempar hingga terguling. "Peraturan tidak tertulis nomor dua dalam pertarungan: Jangan mudah terbawa emosi." Ucap Zen.
Mencoba berdiri kembali, Allenz terkejut saat Zen menghampirinya dengan cepat. Dengan sebuah tinjuan yang di arahkan tepat pada wajah Allenz, dirinya sedikit mengambil satu langkah mundur. Untunglah tinjuan itu tidaklah sampai diwajahnya, namun berhenti tepat didepan wajahnya. Bahkan pukulan itu, sedikit menghasilkan angin yang bisa Allenz rasa. Dalam hatinya, dia bahkan merasa apakah Zen adalah reinkarnasi dari Bruce Lee.
Tanpa sadar, saat Allenz terdiam, hal itu diambil oleh Zen, dia menarik Allenz dan memberikan pukulan siku pada wajah Allenz sekali lagi. Dilanjut dengan beberapa pukulan pada tubuh anak itu, gerakan dari tangan Zen tidak bisa Allenz tahan sepenuhnya. Meski, matanya mampu melihat gerak tubuh Zen. Tapi, refleks pada dirinya seperti melambat dan menyebabkan dirinya tidak mampu menahan semua serangan tersebut.
Zen kemudian mengambil mundur, bersiap kembali, dia langsung berlari dan melompat ke arah Allenz. Allenz yang melihat Zen melompat dia dengan cepat mencoba menahan serang Zen. Dengan seluruh tenaga yang dia gunakan pada tangan kanannya, dia melompat dan membari serangan Bandul ke bawah.
Serangan tangan Zen berhasil mematahkan pedang yang Allenz pakai untuk berlindung. Mata Allenz terbuka lebar melihat pedang itu patah dengan tinjuan yang Zen berikan. Tanpa lama Zen menggunakan teknik Guntingan pada Allenz, dia langsung menumpu tubuhnya dengan satu tangan untuk berputar, lalu menjepit leher Allenz dengan kedua tungkai kakinya, hendak menjatuhkan Allenz dengan mudah, mengakibatkan kaki Allenz sendiri goyah. Duduk diatas Allenz, Zen dengan sekuat tenaga memukul tanah tepat di samping kiri telinga Allenz.
Allenz terdiam saat bagaimana Zen menjatuhkannya, Zen kemudian berdiri dari Allenz lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Fyuuhh..."
Allenz mengambil posisi duduk, dan berkomentar soal teknik bela diri Zen. "Jangan bilang itu syilat."
"Silat."
"Ya itulah."
"Astaga, pada akhirnya kita malah bukan berlatih sihir, hahaha." Ujar Zen dengan terkekeh. "Ini mah, sama aja kayak bertarung biasa. Ngomong-ngomong apa kita bisa ulang? Tapi, kali ini benar-benar harus belajar sihir, ya?'
__ADS_1
"Tidak masalah, tapi tubuhku malah kaku semua, mungkin aku akan mengajar dengan perlahan saja." Keluh Allenz yang merasa seluruh tubuhnya terasa kaku.
Mendengar itu, Zen menjelaskan, bahwa saat tadi dia menyerang titik saraf pada tubuh Allenz, itulah yang menyebabkan tubuh Allenz sekarang kaku.
"Tenang, aku tinggal memukul lagi saja tempat yang aku incar sebelumnya."
Mendapat jawaban itu, Allenz memilih untuk menolak, karena dia sedikit trauma dengan teknik bela diri Zen tadi. "Ti-tidak perlu, terima kasih."
"Ayolah, kau ini, sini diam dan kau akan merasa lebih baik." Ucap Zen yang menahan Allenz yang mencoba kabur.
"Ras, aku tidak apa-apa, tidak perlu sejauh itu, Ras? Ras?! RASYID?!" Yang pada akihirnya Allenz berakhir mendapat totok saraf dari Zen.
Orang-orang dari dalam mansion, terkesan bagaimana Zen mampu melumpuhkan Allenz dengan teknik bela dirinya. Mereka menjadi terkesan dangan Zen, mereka menjadi tertarik pada Zen yang ahli dalam teknik Hand to Hand.
Arthur juga memberi komentar soal Zen. "Aku cukup terkejut, selepas dirinya yang ikut dalam perang sebelumnya, dan juga bagaimana teknik yang dia gunakan dalam bertarung. Meski, aku tidak tau teknik apa itu. Tapi, aku jamin dia sepertinya berpengalaman dalam sebuah pertarungan atau pertempuran."
Semua orang disana juga setuju termasuk para pelayan pribadi Zen sendiri. Disisi lain Nia hanya mendengarkan apa yang Arthur bilang, dan hanya diam sambil bersandar pada dinding.
Di luar, Zen dan Allenz kembali fokus berlatih dengan bertarung menggunakan sihir. Ini juga untuk melihat sejauh mana sihir Zen berkembang.
Serangan demi serangan Allenz menyerang Zen dengan serangan sihir angin, Zen terus menghindar serangan itu sebisa mungkin.
"Oi, oi, oi. Jangan lakukan melakukan serangan terus-menerus!"
Allenz dengan diam masih terus menyerang Zen, Zen dengan sebisa mungkin untuk menghindar dari serangan itu. Kini nampaknya Allenz masih kesal saat pertarungan sebelumnya.
Hingga Allenz menerjang dengan cepat pada Zen, hingga saat dekat, tubuh Zen berubah menjadi sebuah semacam asap kabut hitam dan menembusnya. Allenz terkejut saat Zen berubah menjadi kabut asap.
"A-apa-apaan itu?!" Allenz terkejut dengan perubahan Zen menjadi kabut asap.
"Terkejut? Aku baru saja mempelajari hal itu kemarin, jadi tidak hanya kau yang bisa menghilang, tapi aku juga bisa."
Hingga keduanya menghilang secara bersamaan, dan muncul kembali untuk saling menyerang satu sama lain.
Pertarungan kedua sampai memakan waktu yang cukup lama, hingga hari gelap telah tiba. Dimana mereka akan memutuskan untuk melanjutkan latihan di esok hari. Pada malam hari mereka membasuh diri dan makan bersama. Pada saat itu juga, Zen bertanya soal rumah mereka. Yang dijawab oleh Arthur dua hari lagi rumah mereka akan selesai dan bisa ditempati kembali.
Akibat insiden sebelumnya, membuat Arthur juga memutuskan untuk mengubah beberapa bagian rumah agar terlihat luas, dan menyebabkan butuh waktu yang cukup lama.
Hal itu dibalas oleh Allenz dan Nayaka dengan anggukan.
Pada malam hari Zen seperti biasa berdiam diri di teras rumah, kini bersama Iris yang tertidur pada paha Zen, keduanya menikmati malam hari yang cerah dan buan yang nampak terang menyinari dunia pada malam gelap bersama dengan bintang-bintang.
Nia keluar dengan membawa pelita, lalu menaruh pelita itu dan duduk bersama mereka. Hingga Nia mengajak Zen berlatih dengan caranya sendiri. Namun, hal itu ditolak langsung oleh Zen.
Dia tidak mau berlatih dengan orang yang hatinya dingin seperti Nia. Namun, itu perkataan itu dibalas Nia dengan mengatakan bahwa Zen adalah orang yang jiwanya nampak kosong, dengan hanya melihat gerak-gerik dan matanya.
Terkekeh mendengar balasan Nia, Zen kemudian mengejek kembali, membuat mereka malah saling lempar ejekan. Ini membuat Iris terbangun dan memutuskan tidur di kamarnya, meninggalkan dua orang itu di teras rumah.
Karena Iris telah pergi, Zen malah menyetujui seran Nia sebelumnya. Baginya, dia ingin sedikit mengetahui kemampuan wanita ini, dan dibalas remeh oleh Nia. Nia mengambil sapu yang terletak didekat pintu, Zen bersiap dengan kuda-kuda dan bersiap.
Keduanya langsung melesat dan menyerang, dari cara menggenggam dan teknik yang digunakan Nia, nampaknya dia ahli menggunakan tombak.
Zen dengan mudah menghindar dan memutar tubuhnya hendak memukul Nia, Nia dengan cepat menahan serangan itu dengan tangan kirinya. Dia langsung menyerang Zen dari samping, Zen dengan gesit menundukkan tubuhnya.
Nia dengan cepat hendak menendang Zen yang tengah menunduk, Zen dengan cepat menahan tendangan itu dengan menyilang kedua tangannya. Membuat Zen terjatuh dan tergeletak ditanah. Nia terus menyerang dengan seakan menusuk Zen dengan ujung gagang sapu, dengan mudah Zen menghindar dan terus menghalau serangan itu.
Sampai Nia mengangkat sapu itu dan menghantam pada Zen yang masih tergeletak. Dengan kedua tangannya, dia menahan sapu itu sebelum mendarat pada kepalanya. Ini membuat keduanya saling tarik-menarik, dengan kuat Zen mengangkat sapu itu hingga Nia ikut terangkat. Lalu menendangnya ke belakang, membuat genggaman pada Nia terlepas.
Keduanya langsung berdiri kembali lalu melanjutkan pertarungan.
Esok hari, Allenz terbangun dan keluar, mendapati Zen dan Nia yang nampak bertarung satu sama lain, dia berpikir Zen mungkin mengajak Nia berlatih bertarung lagi, seperti saat kemarin dengan Allenz sendiri. Disana juga ada Iris yang tengah menyaksikan kedua orang itu sejak tadi, sambil meminum susu kambing dengan gelas kecil dan juga beberapa biskuit.
Ikut duduk bersama Iris, Allenz bertanya pada Iris. "Sudah berapa lama mereka begitu?"
Iris menjawab. "Sejak semalam, mereka sudah begini sejak kemarin."
"Apa?! Dasar orang gila?!" Ungkap Allenz yang terkejut. "Orang mana yang melakukan pertarungan selama semalaman!"
"Kau baru saja melihatnya sendiri." Ucap Iris.
__ADS_1
"Ugh, tapi ini keterlaluan?! Kalian hentikan sekarang?!" Allenz langsung berdiri dan hendak menghentikan pertarungan antara Nia dan Zen.
Iris yang melahap biskuit untuknya, dia langsung berteriak. "Aku sarankan jangan melakukan itu, jika aku jadi kau." Teriaknya. "Ah! Dia tidak dengar, sudahlah."
Hingga saat tengah kedua orang itu, Allenz hentak menghentikan mereka. Dengan sihir angin, dia membuat angin kencang untuk menghentikan kedua orang itu.
Hal itu membuat pertarungan panjang Zen dan Nia terhenti akibat ulah Allenz. Keduanya menatap Allenz yang juga menatap mereka dengan serius seakan bertanya apa yang mereka lakukan. "Kalian hentikan?! Aku dengar dari Iris kalau kalian sudah seperti ini selama semalaman?!"
Zen langsung menyahut hal itu. "Apa itu menganggumu?"
"Tentu saja! Orang gila mana yang melakukan pertarungan selama semalaman?!"
"Tentu saja, kami." Sahut keduanya.
Allenz memijat keningnya, ada dengan kedua orang ini? Tanpa memikirnya lebih jauh, yang hanya membuat dirinya tambah pusing. Allenz kemudian memaksa keduanya menyudahi hal bodoh itu dan meminta masuk ke dalam dan meminta mereka untuk membasuh diri, lalu beristirahat.
Allenz menatap kedua orang itu pergi dan masuk kedalam rumah, dia tidak habis pikir apa yang baru saja mereka lakukan. Disaat dirinya masih menatap mereka, mata Allenz ditutup oleh sesorang dari belakang. Allenz terdiam sambil menduga-duga siapa orang itu. "Teresa?"
Melepaskan tangan miliknya dari mata Allenz, Teresa tersenyum. "Hehe, selamat musim semi." Dibalas anggukan oleh Allenz, Teresa yang sadar dengan Allenz yang nampak kesal. dia bertanya. "Ada apa?'
"Tidak ada apa-apa, hanya baru saja kesal dengan dua orang bodoh." Keluh Allenz.
Iris yang sedari awal diteras rumah, dia menyapa kedatangan Teresa. "Halo kak Teresa!"
Teresa yang melihat Iris, dirinya langsung mendekati gadis itu, lalu membalas sapaan gadis itu. "Halo, Iris. Wah nampaknya enak."
Meninggalkan Teresa bersama Iris di teras, Allenz masuk dan bertemu sang ibu, Anya. Wajah anya juga sudah seperti bisa menebak dengan saat melihat raut wajah Allenz. "Kau sepertinya kesal pagi ini. Apa karena Nia dan tuan Zen?"
Allenz tidak menjawab pertanyaan itu.
Tersenyum, dia sedikit menenangkan Allenz. Lalu, menceritakan sedikit masa lalu Nia. Allenz mendengar cerita itu. Cerita itu persis seperti apa yang pernah diceritakan Nia sendiri pada Zen. Anya juga sedikit memberitahu pada Allenz untuk tidak menanyakan atau juga mencari soal Ordo yang pernah Nia ikuti dulu, karena hal itu sangat dianggap larangan bagi penduduk kerajaan Hearterra.
Allenz mengerti, dan ini membuat Allenz mengingat tentang Zen yang juga seorang intel saat dulu. Hal ini membuat Allenz berpikir. "Pantas saja mereka dekat." Ujar Allenz.
"Kau bilang sesuatu?"
"Tidak, bu. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Tentu."
Baru selesai mandi, Zen memperhatikan sebuah cermin. Dirinya melihat wajahnya dengan seksama. Dari bayangan cermin, dirinya melihat dirinya yang dulu.
Seakan berpindah tempat, dirinya berada di ruangan gelap. "I-ini..."
Tak lama beberapa orang datang, membawa seseorang masuk yang kepalanya di tutup dengan karung. Didudukan, lalu salah satu orang di belakang membuka karung itu, memperlihatkan orang yang dibawa nampak ketakutan.
Salah seorang lain mendekat dan bertanya pada orang yang di bawa tadi.
Zen terkejut kini dirinya berpindah tempat, dirinya mengingat tempat ini. Kawasan perumahan sempit dan kumuh, banyak orang dan anak-anak melewati tempat ini. Di beberapa gang sempit, orang-orang intel tengah beridam di posisi masing-masing, ada yang berada di dalam mobil untuk bersiap.
Zen tengah itu, melihat dirinya yang dulu menyamar menjadi seorang pengemis dengan membawa karung berisi botol-botol bekas. Saat dirinya yang dulu berjalan, mereka melihat target mereka. Zen memberi kode pada rekannya. Dua orang rekan mengikuti target itu, mengikutinya tanpa disadari oleh target.
Rekannya yang lain dengan membawa mobil dia memutar jalan lain untuk mencegat target mereka. Hingga saat didekat jalan yang cukup untuk mobil lewat, rekan yang membawa mobil berhenti tepat didepan target yang baru keluar dari gang kecil itu. Dengan cepat dua rekan yang mengikuti target dengan cepat menahan orang itu, lalu membungkam sang target. Membuka pintu mobil, mereka memaksa target masuk ke dalam mobil, lalu pergi begitu saja, tanpa ada yang mengetahui kejadian itu. Zen yang dulu juga lantas pergi dari sana.
Zen masih terdiam dengan ingatan itu yang berputar kembali. Hingga saat dirinya terdiam, ujung bajunya ditarik seseorang. Melihat siapa orang itu, Zen menemukan seorang anak gadis yang berusia 7 tahun. Gadis itu menatap bingung pada Zen.
"Ayah? Kenapa?'
Zen menaikan alisnya saat gadis itu memanggilnya 'ayah'. Zen menunduk untuk menyamai tinggi dirinya dengan gadis itu. Melihat gadis itu, entah kenapa wajah sang gadis nampak buram dan tidak terlihat jelas oleh Zen. Mereka saling menatap, hingga Zen berpindah kembali.
Kini, dirinya berada di rumah sakit, jantung Zen menjadi takut, terutama saat dirinya berada di depan ruangan mayat. Dengan gemetar, Zen memasuki ruangan itu yang memiliki suasana hening dan sunyi.
Di dalam ruangan itu, entah mengapa hanya memiliki dua kasur dengan dua dua mayat diatasnya dalam keadaan ditutup dengan kain putih.
Berjalan masuk kedalam, dengan perlahan, Zen melihat ruangan ini. Entah dia ingin menghapus memori yang membuatnya merasa kehilangan untuk kedua kalinya. Sesampainya di depan kedua kasur itu, dia memutari k itu, hingga saat didepan bagian kepala.
Dengan perlahan, dia membuka kedua kain yang menutupi wajah kedua mayat itu. Zen menjadi semakin takut melihat dua mayat itu, seorang wanita dan seorang gadis berusia 7 tahun. Itu membuatnya mundur dengan takut.
Hingga dirinya sadar, dan kembali di dalam kamar mandi, dimana Allenz menatapnya bingung. "Kau kenapa? Apa ada masalah? Aku rasa kau lebih baik beristirahat."
__ADS_1
Zen menyetujui itu, lalu pergi dari sana, Allenz melihat Zen yang pergi dan dia bergumam. "Tingkah Zen menjadi aneh. Mungkin hanya perasaanku saja."