After World Breaker

After World Breaker
Chapter 14: Selayaknya guru dan murid


__ADS_3

Terdengar suara pedang berdentum, suara nyaring akibat benturan pedang keras.


"Lebih cepat lagi Allenz!! Kau masih lambat!!" Teriak Finn.


"Cih, jika itu yang kau minta!?" Dengan cepat Allenz memanipulasi angin disekitarnya, lalu dengan cepat menerjang maju kearah Finn.


Dengan sigap Finn menahan serangan Allenz dengan pedang besarnya. Dentingan pedang terus terdengar, sudah sekitar satu jam lebih terlewati.


Sebelumnya, Allenz mengajak Finn untuk mempertajam kemampuan ber pedangnya. Dengan terus mengikuti pelatihan Finn, Allenz terus meningkatkan kemampuannya. Karena baginya, teknik ayahnya dan teknik ciptaannya masih belum cukup, dia butuh teknik pedang lain untuk dia akan kombinasikan pada sihir anginnya.


Semenjak kehadiran Allenz di barak, hubungan Allenz dan Finn selayaknya guru dan murid, selama mereka terus bersama kedekatan mereka seperti keluarga.


"Ayunan tangan, angin yang berhembus dari lembah, dan dari lautan, dengan hembusan nafasku, aku tak akan goyah. Cyclone Drill." Dengan cepat Allenz langsung berputar seperti sebuah bor.


Finn juga dengan cepat merapal mantra pertahanan. "Bagai batu kokoh di gunung, cakrawala bersinar, tanah yang hebat, pertahankan lah. Stone Wall."


Serangan Allenz mengenai dinding batu Finn, dengan kuatnya benturan itu menyebabkan debu yang berterbangan, dengan cepat Allenz menghilangkan debu-debu disekitar. Namun, Finn tidak ada dimana-mana, Allenz memutar tubuhnya, dirinya mencari keberadaan Finn. Namun saat hendak memutar ke arah kanan, sebuah pedang sudah didekat lehernya.


"...."


"...."


Menarik nafas panjang, Allenz menjatuhkan pedangnya. "Huff.... Anda hebat sekali, meski memiliki tubuh yang besar, namun anda memiliki kecepatan yang tidak main-main."


Finn kemudian menarik pedangnya, dan memasukkan kembali pedang itu di sarungnya pada punggungnya.


"Hahahaha, aku anggap itu pujian, tapi jujur kemampuan pedangmu itu cukup terampil, hanya saja menurutku sih, kekuranganmu itu terdapat pada sihirmu, aku sarankan kau berlatih juga sihir lain selain angin. Karena dengan begitu kau bisa menghadapi kondisi apapun dengan memanfaatkan semua sihir yang kau kuasai." Saran Finn.


Allenz termenung, menurutnya, apa yang diucapkan Finn benar, meski memiliki sihir andalan yang hebat, namun kecepatan angin miliknya masih dibawah. Tidak seperti kecepatan sihir petir, atau pun cahaya. Yang memiliki kecepatan yang tidak main-main, dirinya hanya sebatas kecepatan angin dan suara atau Mach.


Jujur, jika dia bersaing dengan pengguna sihir petir atau cahaya, dia akan tertinggal jauh dibelakang mereka, dan memang, kecepatan dua elemen ini terbilang cepat.


"Baik, akan aku usahakan untuk belajar sihir lain." Ucap Allenz.


"Kalau begitu, kita sudahi saja dulu." Ujar Finn.


Allenz kemudian pergi ke ruangan miliknya, di barak. Setelah masuk ke kamarnya, dia dengan cepat merebahkan tubuhnya ke kasur, meski kualitas kasur disini tidak terlalu baik daripada rumahnya.


Selepas dua bulan lalu, dimana keempat kerajaan telah membuat aliansi, kini beberapa prajurit dikerahkan untuk menjaga wilayah perbatasan masing-masing kerajaan dari penyusup, terutama para iblis yang hendak menyusup masuk.


Semua hal yang terjadi, membuat kepala Allenz sakit, dia masih tidak menyangka bahwa dirinya yang dulu sangat yakin untuk ikut perang saat dirinya masih 13 tahun.


Namun, karena jika dia mengundurkan diri, ini juga akan menjadi buruk bagi harga dirinya. "Ngomong-ngomong soal harga diri. Sejak kapan aku jadi seperti ini? Seharusnya aku tidak harus mengikuti pemikiran orang-orang ini, yang seperti pemikiran pada abad pertengahan."


Memutar tubuhnya, dirinya menatap langit-langit kamar, dirinya termenung kemudian memutuskan untuk tidur.


Disisi lain, di wilayah iblis, tengah terjadi masalah, terutama pada daerah dekat pusat kota. Telah terjadi perang saudara, karena adanya perebutan kekuasaan, yang dimulai dari beberapa saudara raja iblis sekarang, yakni Gregory.


Dimana beberapa saudaranya hendak menggulingkan tahtanya. Ada yang merasa tidak mendapat keuntungan dari hasil naiknya Gregory menjadi raja, ada yang ingin mendapatkan posisi raja karena seharusnya bukan Gregory, karena Gregory adalah anak bungsu di keluarga kerajaan iblis, karena bukan anak sulung.


"Bunuh para penghianat itu!? Jangan biarkan mereka masuk kedalam kota!?" Ucap salah satu iblis dengan tubuh besar dengan kulit merah dan dua tanduk kambing di kanan dan kiri kepalanya.


Para pasukan kerajaan iblis kemudian mulai menyerang para iblis pemberontak itu, dengan keahlian dalam berperang tentu pihak pasukan iblis menang dalam jumlah dan kemampuan. Mengingat merekalah yang bertempur di medan perang.


Karena sudah terdesak oleh para pasukan yang terus berdatangan, para pemberontak hanya bisa kabur menuju hutan dan pergi keluar dari wilayah iblis dan menetap di dalam hutan dekat wilayah kerajaan Diamondnia.


...****************...


Membuka matanya secara perlahan, Allenz terkejut dengan dirinya yang berada didalam laboratorium, dirinya juga sadar tengah menggunakan pakaian dokter miliknya, bahkan masih menggunakan tubuh lamanya.


Dirinya melihat sekitar, hanya lorong lurus yang gelap, dan beberapa lampu yang beberapa berkelap-kelip.


Dibelakangnya juga hanya ada pintu kantor miliknya. Berjalan menuju pintu itu, didepan pintu itu yang ada pintu dengan kaca persegi di bagian atasnya, mengintip dari kaca itu, hanya ruangan gelap. Dibawah kaca itu juga, terdapat sebuah nama tertulis "Dr. Christopher Fran Newton, MD".


Mencoba memutar kenop pintu, hanya saja pintu itu nampak terkunci, tidak bisa dibuka sama sekali. Bahkan Allenz yang kini menjadi Chris, tubuh lamanya, telah mencoba beberapa kali mendobraknya, namun tidak ada hasil.


Menyerah, Chris berbalik kembali, dia pun berjalan sebaliknya dari pintu itu, menuju lorong lurus tadi, hanya ada kerusakan parah, beberapa bekas tembakan, darah, beberapa kerusakan seperti cakaran, dan noda hitam.


Langkah Chris terhenti saat disebelah kanannya ada sebuah cermin, mendekati cermin itu, terlihat wajah dirinya yang lama, dengan rambut hitam lurus kebawah, menggunakan kacamata, dengan kumis dan jenggot tipis.


Hingga dia menatap lagi ujung lorong yang dia tuju sebelumnya, kini nampak dari jauh sebuah ruangan yang di tutup dengan kaca, dan ruangan yang dipenuhi pendingin.

__ADS_1


Melanjutkan perjalanan, dia menuju ruangan kaca itu, langkah demi langkah, kakinya terasa berat, atmosfer sekitarnya membuat dirinya merinding, entah kenapa suasana disana menjadi mengerikan.


Saat sampai di depan ruang kaca itu, terlihat sebuah tabung dengan tubuh didalamnya. Tubuh diri Allenz yang sudah remaja.


Matanya melotot melihat itu, dari balik kaca dirinya melihat tubuh barunya, hanya terdiam didalam tabung air, yang terpajang didalam ruangan kaca itu, yang hanya menggunakan celana pendek ketat berwarna putih.


Kemudian, dia menaiki tangga yang menuju ruangan itu, dirinya kemudian menekan tombol biru didekat pintu ruang kaca itu, membuka pintu kaca ruangan itu terbuka ke samping.


Hawa dingin yang dihasilkan dari ruangan itu keluar, menusuk kulit-kulitnya, pendingin disana memang cukup banyak untuk menjaga tubuh yang didalam tabung itu.


Berjalan perlahan, dirinya masuk kedalam ruang kaca, disana ada beberapa data dan tulisan dibalik pintu dengan kata "Ruang ekperimen Hide-65".


Dirinya juga mendekati tabung air itu, dan melihat tubuh dirinya (Allenz), yang sudah berusia 16 tahun.


Menghadap ke kanan, dirinya menuju ke arah meja dengan beberapa data disana, terdapat beberapa data yang dicoret dengan spidol merah. Dari "Hide-1" sampai "Hide-64".


Dimana angka itu menunjukkan tubuh-tubuh gagal yang dia gunakan untuk diuji coba sebagai New Human.


Berkas-berkas ini mengingatkan dirinya dengan saat dulu. Dimana, dirinya masih bekerja dengan WHO sebagai dokter bedah dalam penelitian mencari cara untuk menemukan obat bagi fenomena sihir, meski obat tidak akan mempengaruhi fenomena itu.


Disaat melihat berkas itu, dirinya melihat kearah lantai, dimana genangan air yang mengalir dibawah kakinya, dengan cepat dirinya melihat tabung dibelakangnya.


Mengejutkan, tubuh "Allenz" yang terperangkap itu keluar dengan sendirinya, saat tubuh itu keluar dan hidup, dibuktikan dengan tubuh itu yang terjatuh dan berlutut, sambil muntah darah, tak lama setelah itu, tubuh itu melihat Chris dan langsung menerjang kearahnya.


Melihat itu, Chris melompat kesamping kiri, dan menyebabkan dirinya keluar dengan terguling jatuh dari ruang kaca itu, tubuhnya menjadi sakit dan nyeri saat jatuh dari tangga ruangan.


Lalu mencoba menenangkan kepalanya yang berkunang-kunang, dia langsung berdiri dan menutup ruang kaca itu.


Tubuh New Human "Allenz" itu meronta dibalik kaca sambil mengendor pintu kaca. Tak lama kulit New Human "Allenz" mulai mengendur dan menjadi pucat, hingga membuat beberapa kulit terlepas dan menunjukkan wujud mengerikan dengan beberapa bagian daging terlihat.


Chris yang masih tergeletak ditanah kemudian berdiri, dan melihat keadaan New Human "Allenz" yang nampak mengerikan seperti zombi.


Berjalan mundur perlahan, dengan kaki gemetar dirinya mencoba menjauh, namun New Human "Allenz" itu mulai membenturkan kepalanya ke pintu kaca, menyebabkan kaca pintu retak sedikit.


Diri Chris tersentak setiap New Human "Allenz" itu membenturkan kepalanya, hingga kepalanya dan kaca pintu ternoda oleh darah dari luka kepala yang dibenturkan dengan kuat.


Chris yang sudah cukup jauh, kemudian berbalik dan mencoba lari, dan bersamaan dengan pintu kaca ruangan itu yang pecah, dengan New Human "Allenz" yang keluar dari ruangan itu.


Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, dia mencoba pergi keruangan kantor dirinya, dibelakangnya, "Allenz zombi" masih mengejar, sesekali berteriak keras dengan nada serak dan terputus-putus, yang menambah kesan mengerikan. "KaU... aDalAh... pENyeBab... SemUa... Ini...., kAu yAnG MeMBuANg kaMI."


Sesampainya didepan pintu kantornya, dia mencoba memutar kenop pintu, beberapa kali, sambil mengetok dan menggedor pintu beberapa kali, hingga dia mendobrak paksa pintu itu, satu kali, dua kali, empat kali.


Sementara "Allenz zombi" kian mendekat, dengan susah payah, akhirnya pintu kantor terbuka, dengan cepat, Chris langsung menutup pintu, dan dengan menggunakan lemari didekat pintu, dia langsung mendorong lemari itu dan menghalangi pintu agar "Allenz zombi" tidak masuk.


Suara dobrak terdengar, menyebabkan lemari hampir jatuh, untung Allenz menahan lemari itu, suara "Allenz zombi" kian membesar, bahkan kekuatannya tidak main-main. Chris hingga butuh stamina banyak untuk menahan lemari agar "Allenz zombi" tidak bisa masuk.


"Ahhhhh!!!" Teriak Chris yang bersusah payah menahan lemari itu.


Hingga berselang lama, suara "Allenz zombi" yang tidak terdengar lagi, hanya keheningan, dia nampaknya menyerah. Masih menatap lemari itu, dan mundur perlahan, dirinya kemudian mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.


"Kau sudah pulang, darling~"


Sontak Chris menatap kearah belakang, dimana dimeja kantornya, terlihat bayangan seseorang yang tengah duduk bersilang dimeja.


Menyalakan lampu meja kerja Chris, nampak seorang wanita dengan pakaian kantoran, dengan rambut pirang pendek yang menggulung di ujung depan poninya.


"Le–"


"Shhhh... Tenangkan dirimu, kau nampak panik." Ucap sang wanita.


Wanita itu pun turun dari meja, dan berjalan menuju Chris dengan anggun, dan suara sepatu hak tinggi terdengar disetiap langkahnya.


Allenz sedikit mencurigai akan keadaan ini, wajahnya menunjukkan muka yang sulit untuk dijelaskan.


Wanita itu kemudian berhenti didepan Allenz, lalu tersenyum simpul. "Kau seharusnya tidak berada disini."


"Huh?!" Perkataan itu membuat Chris bingung dan menaikkan satu alisnya.


Tiba-tiba pintu dibelakangnya yang awalnya ditutup lemari telah tiada, dan diganti dengan pintu terbuka yang didalamnya terdapat kegelapan saja yang terlihat.


Kemudian wanita itu mendekati Chris dan berbisik. "Aku harap kau menemukanku, aku masih bisa merasakan dirimu, carilah aku." Setelah ucapan itu, sang wanita mendorong Chris, menyebabkan dirinya jatuh ke dalam kegelapan itu.

__ADS_1


Membuka matanya, Allenz terbangun dari tidurnya, dia kemudian memegang kepalanya yang kesakitan.


"A-apa itu tadi?! Uh?! Len–"


"Allenz!!" Tak lama pintu kamar Allenz didobrak oleh Finn yang panik. "Kau tidak ap–"


Dimana, Finn terkejut dengan ruangan Allenz yang berantakan, semua barang-barang miliknya berserakan, hanya tempat tidur dan Allenz saja yang masih ditempat.


"Ee.... Aku bisa jelaskan." Ucap Allenz.


Finn memutuskan untuk mengajak Allenz keluar, dirinya mengajak Allenz berkeliling barak. Sambil berjalan santai, Allenz menceritakan mimpinya, yang sebagai agak samar-samar baginya.


"Entahlah, aku masih tidak paham sepenuhnya dari mimpimu itu." Ujar Finn.


"Yah... kau tidak perlu memahaminya juga."


"Apa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bicara sendiri."


"Bagaimana untuk menghilangkan kegelisahan mu itu, kita kembali latihan." Saran Finn.


Allenz hanya menatap dengan mata malas, pria besar ini hanya berpikir soal latihan dan melatih otot.


"Ngomong-ngomong, ini sudah sore, lebih baik aku makan malam saja." Ucap Allenz.


"Hei, aku hanya bercanda." Ucap Finn yang mencoba mengejar Allenz.


Ditempat ruang makan, seperti kantin, dimana ruangan itu terdiri meja yang dijejer rapi dan kursi panjang untuk bisa diisi banyak orang.


Allenz kemudian menuju meja menu, dirinya kesana dan mengambil mangkok kayu dan sendok kayu, berjalan sedikit ke depan pada meja menu, dia hanya mengambil sup domba telur, dengan dia mengambil satu roti berukuran sedang.


Menaruh makanannya dimeja, dia pun hendak memakannya, namun dua orang prajurit ikut duduk di mejanya, tepat didepannya.


"Wah, wah, lihat si kecil Allenz."


"Yo, halo Allenz, maaf boleh kami bergabung?"


Allenz hanya memutar matanya, lalu menyendok sup miliknya, saat hendak mulutnya terbuka untuk menerima sup hangat itu, Finn dengan tiba-tiba menepuk pundak Allenz cukup keras, mengakibatkan sendok Allenz terlepas dan terjatuh.


Dua prajurit di depannya hanya terdiam, dan hanya menyaksikan Allenz yang mematung.


Allenz membalikkan tubuhnya dan berbicara pada Finn. "Pak tua, bisakah kau tidak menepuk seseorang yang hendak makan?"


Finn hanya terdiam sesaat, lalu tertawa. "Hahahaha!! Aku hanya sedikit menyadarkan dirimu yang masih seperti terbebani."


Menggeleng kecil, Allenz kemudian mengambil roti miliknya, lalu mencelupkan roti itu pada sup miliknya.


Membuka mulutnya-


Terdengar suara lonceng, menandakan bahwa para prajurit di panggil untuk berkumpul di lapangan barak.


Mau tidak mau, Allenz hanya mengigit sekali rotinya, lalu keluar bersama para prajurit dan Finn yang ikut keluar. Bahkan Allenz juga belum minum sejak awal.


Semua prajurit berkumpul, dan hanya sekitar puluhan saja yang berkumpul, cukup sedikit dari biasanya.


Woulle muncul yang berjalan sambil mendampingi raja yang bersamanya.


Raja kemudian berdiri didepan semua orang, lalu Finn juga ikut berdiri di samping raja bersama Woulle.


Kemudian raja berkata. "Perhatian dan terima kasih sudah mau berkumpul disini, aku tau bahwa yang hadir disini sangat sedikit, karena kalian tau, bahwa ada beberapa prajurit yang mengambil cuti, dan sebagai tengah berjaga di perbatasan wilayah kerajaan untuk tidak ada penyusup ke kerajaan kita."


Semua orang menjadi hening, mereka memasang telinga mereka dengan baik untuk mendengar informasi dari raja mereka.


"Maka dengan sangat menyesal, ditengah hari menjelang malam ini, aku mengirim kalian menuju benteng Rockfolt, di wilayah kerajaan Spadeforia, untuk membawa pesanku." Ucap Raja.


Finn kemudian bertanya tentang rencana raja. "Maafkan saya menyela pembicaraan anda, Yang Mulia, apa tidak sebaiknya membawa personil tambahan untuk rencana ini? Akan sangat cukup berbahaya jika melakukan perjalanan ditengah malam dengan jumlah pasukan sedikit." Saran Finn.


"Aku tau, itulah aku akan meminta beberapa orang dari penjaga di selatan untuk bergabung dengan kalian." Jawab Raja. "Kalau begitu, sekian, sekali lagi maaf memberi rencana ini saat hendak malam hari."


"Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir, kami akan pergi kesana dengan cepat." Ucap Finn. "Kalau begitu, semuanya bersiaplah!!"

__ADS_1


"HAA!!!" Ucap semua prajurit, lalu membubarkan diri dan bersiap pergi.


__ADS_2