After World Breaker

After World Breaker
Chapter 19: Rencana melawan iblis


__ADS_3

Sebuah rapat tengah di adakan. Para raja dan petinggi kerajaan berkumpul untuk menyatukan kekuatan saat menyatakan perang dengan para iblis nanti. Diruang lain, para permaisuri, istri petinggi dan anak-anak mereka, mereka dikumpulkan untuk saling mengenal atau mengenalkan putra-putri mereka pada orang yang mereka anggap pantas bagi anak mereka. Atau bisa dibilang mereka menjodohkan anak mereka pada orang yang lebih tinggi pangkatnya dari pangkat bangsawan mereka, agar kedudukan mereka naik.


Disaat para ibu tengah mengenalkan anak mereka pada bangsawan yang lebih tinggi, atau ada anak bangsawan yang mendatangi anak bangsawan lain yang lebih rendah dikarenakan wajah dari anak bangsawan itu yang cukup menarik bagi mereka. Putri Rose anak pertama raja Ronald dan ratu Venesa, dirinya tengah sendirian di sudut ruangan, dengan sebuah gelas cantik yang dia pegang.  Dia hanya termenung menatap pantulan dirinya dari minuman di gelas itu.


Dirinya masih memikirkan keadaannya yang belum memiliki tunangan sampai sekarang, mungkin karena dia bukan putra mahkota? Maka dari itu dia bebas memilih pasangannya, tidak seperti adik pertamanya, pangeran Nicolas yang adalah putra mahkota, dan tentu karena dia akan diangkat menjadi raja kelak, dia sudah di jodohkan dengan seorang gadis pangkat Baron, yang menurut raja bahwa memang Nicolas sudah dekat dengan gadis tersebut. Ditambah keluarga gadis itu cukup berpengaruh bagi keluarga kerajaan.


Memikirkan semua itu, membuat dirinya tambah takut, tahun depan adik bungsunya akan masuk akademi saat berusia 17 tahun dan dia akan berusia 23 tahun. Itu sudah cukup tua bagi dirinya, bagaimana dia tidak menemukan pasangan? Lalu sendirian sampai umur 25 tahun? 32 tahun? Itu sudah terlalu tua baginya.


Pada saat dirinya memikirkan semua itu, beberapa anak bangsawan lain datang, umur mereka sekitar 19 tahun sampai 22 tahun. Bahkan, ada yang dari kerajaan lain mendatangi dirinya.


Seorang gadis bangsawan datang dan bertanya lebih dulu. "Anda pasti putri Rose, benar?"


Sadar banyak orang yang mengelilingi dirinya, Rose menjadi terkejut. "Eh? Ah! I-iya..."


Mulai banyak yang mengajak Rose untuk menikmati acara yang berlangsung, atau mengajak dirinya untuk mengunjungi kediamannya, atau malah untuk melamarnya.


Hal ini membuat Rose semakin bingung untuk menanggapi mereka, hingga seseorang menenangkan mereka dan berjalan didepan mereka, memisahkan Rose dengan para anak bangsawan itu.


"Hans?!" Rose terkejut dengan orang yang berada didepannya.


Hans Victor Hearterra, anak bungsu dari keluarga kerajaan Hearterra. Dirinya seusia Allenz dan Nayaka. Namun lebih tua satu bulan dari Nayaka. Rambut merah dan mata kuningnya yang bersinar, membuat dirinya seperti anak yang ramah dan bersinar dari anak biasanya.


"Maaf, semuanya. Kakakku diajak oleh para tuan putri lain untuk ke pesta teh mereka. Jadi kak, kau bisa pergi sekarang, para tuan putri lain sedang menunggumu." Ucap Hans.


Mendapat perlindungan dari adiknya, Rose lekas pergi dari kerumunan itu dan bergabung dengan putri-putri lain. Lalu Hans, dia mulai tebar pesona miliknya, karena dia mengunakan panggung kakaknya untuk menunjukan dirinya pada yang lain. Karena tidak mungkin dia biarkan orang-orang yang berkumpul akibat kakaknya ini pergi tanpa melihat dirinya.


Kembali di ruang rapat, para pemimpin serius dalam rencana ini, mereka membuat strategi untuk dapat mengalahkan pihak iblis yang akan mereka lawan, meski mungkin kekuatan mereka meningkat dikarenakan pergabungan kekuatan. Tapi mereka takut akan adanya iblis yang melakukan Demon Awaken seperti Vlad yang menewaskan Finn sang singa, yang cukup ditakuti bagi kerajaan lain.


"Ngomong-ngomong, Yang Mulia Ronald, setelah kematian komandan terhebat anda, yakni tuan Finn, apa anda sudah memilih komandan baru?" Tanya raja Valrius, raja dari Diamondnia.


Mendengar pertanyaan itu, Ronald menjawab. "Tentu, aku memilih Veronica, pemimpin dari pasukan wanita, sebagai komandan baru bagi Hearterra."


Mendengar nama seorang wanita dijadikan komandan baru di Hearterra, membuat orang-orang disana terkejut.


"Demi segelas bir, kau serius Ronald?! Menggunakan seorang wanita sebagai komandan baru bagi kerajaanmu?" Tanya Opheniel, raja Spadeforia.


Mengangguk. "Tentu, jika Finn dapat memasukan Allenz, maka aku akan melakukan hal yang sama." Jawab Ronald dengan bangga sambil menyilangkan tangannya.


"Ronald, kau sudah menjadi gila."


"Dia serius?"


Banyak tanggapan yang beragam dari orang-orang disana. Mereka tidak menyangka akan keputusan Ronald, hingga Eryk, raja Clubnesia, menghentikan kegaduhan itu, dan bertanya sebuah pertanyaan yang selama ini dia simpan. "Ronald, jawab aku dengan jujur, siapa anak muda yang kau bawa setiap perang itu? Siapa dia?"


Mendengar pertanyaan Eryk, membuat yang lain penasaran dan memasang telinga mereka.


"Maksudmu, anak dengan pakaian serba hitam, dan mengenakan tengkorak Cocketrice, dan terbang seperti serangga itu?!" Tebak Valrius.


"Ya, anak itu yang aku maksud." Jawab Eryk cepat.


Ronald hanya bisa tertawa bersama dengan Woulle, lalu tersenyum dan menjelaskan. "Allenz, anak yang di rekrut oleh Finn itu adalah anak angkat dari saudaraku, Arthur."


Semua orang disana langsung mengerutkan kening mereka, bahkan Eryk sampai mengebrak mejanya. "Apa?! Anak itu adalah anak Arthur?!"


"Sejak kapan Arthur memiliki anak angkat?!"


Mulai banyak komentar dan pertanyaan dilontarkan oleh orang-orang disana. Mereka tidak menyangka bahwa Allenz adalah anak angkat dari Arthur mantan komandan Hearterra sebelumnya.


"Pantas saja keahliannya bagus dalam berpedang." Ucap Valrius.


Disisi lain, Opheniel hanya memijat keningnya, apa yang ada di otak Ronald selama ini. "Ronald, kenapa bisa kau memasukan anak saudaramu, atau keponakanmu sendiri ke dalam medan perang?"


Mendengar pertanyaan Opheniel, Ronald menjawab. "Untuk itu, aku tidak bisa menjawabnya, karena ini merupakan masalah internal."


Ditengah itu, Eryk langsung berdiri dan berkata. "Ronald, bagaimana kita menggunakan kekuatan anak itu dalam perang melawan iblis nanti, aku yakin pasti kita bisa melawan para iblis itu, benar, 'kan?"


Semua orang yang ada disana setuju, terutama mereka sudah mengetahui kekuatan dari Allenz sendiri.


Mendengar kekuatan Allenz akan digunakan dalam perang, Ronald hanya bisa menghela nafas berat, lalu menjawab. "Sayangnya, anak itu sudah aku keluarkan dari pasukan ksatria." Jawabnya dengan lesu.


"Apa?! Kau mengeluarkan orang sehebat itu?!" Eryk terkejut dengan fakta itu, bahwa Ronald telah mengeluarkan Allenz dari anggota ksatria.


Memejamkan matanya, Ronald kemudian menjelaskan alasan dirinya mengeluarkan Allenz dari anggota ksatria. "Alasan aku mengeluarkan dia, itu karena setelah kematian Finn, dirinya mengalami tekanan mental yang cukup buruk, ditambah anak itu menganggap Finn sebagai guru selama dirinya menjadi seorang ksatria." Jelas Ronald. "Lalu, tahun depan dia harus masuk ke akademi, bersama anak bungsuku. Dan lagi, yang aku sayangkan adalah bahwa dirinya kehilangan tangan kirinya dihari Finn tewas." Lanjut Ronald.


Mendengar jawaban Ronald, Eryk menjadi diam, lalu duduk kembali secara perlahan. "Oh, ow... Sungguh amat disayangkan."


Rapat kembali seperti semula, mereka membahas serius dengan jumlah kekuatan mereka, jika disatukan dengan jumlah pasukan iblis nanti.


Opheniel kemudian memberikan pendapatnya tentang kekuatan pasukan iblis nanti. "Jika misalnya pasukan iblis ini hanya berjumlah sedikit atau mungkin hampir menyamai jumlah pasukan kita. Tapi, jika mereka melakukan Demon Awaken apakah akan sama saja? Kita akan kalah juga jika begitu."


Mendengar pendapat Opheniel, yang lain langsung termenung dan kecewa. Memang tidak peduli berapa jumlah pasukan iblis, entah sedikit atau banyak, tapi jika para iblis itu melakukan Demon Awaken akan sama saja. Menghadapi satu saja sudah dapat membunuh Finn yang notabene adalah orang paling di takuti di seluruh empat kerajaan. Lalu, dengan keadaan Allenz juga yang dibilang adalah senjata rahasia Hearterra sampai harus kehilangan satu tangannya.


Semua orang terdiam, mereka sudah dibatas ide mereka untuk bisa mengalahkan pasukan iblis.


"Ini sama saja kita melakukan misi bunuh diri." Ucap Valrius mengacak-acak rambutnya.


Semua orang menjadi bingung, mereka butuh sebuah kekuatan untuk melawan para iblis, akan percuma jika punya strategi matang namun memiliki kurang kekuatan.


Ronald pun berdiri dari kursinya. "Kita tidak bisa kembali, kita telah melakukan aliansi dan menyatakan perdamaian secara bersama. Dulu kita berjalan secara sendiri-sendiri. Tapi, kini kita berjalan bersama-sama untuk melawan musuh yang sama dan menghentikan mereka untuk mengambil apa yang kita miliki."


Menghela nafas, Valrius berbicara. "Baik, siapa yang disini yang hanya akan diam saat kerajaanmu butuh perlindungan kita semua. Tapi, dia akan dianggap lebih buruk dari budak, dan tentu dia masih hidup, angkat tangan..."

__ADS_1


Semua orang terdiam, mereka saling memandang.


"...Atau dia akan mempertahankan segalanya bagi kerajaannya, walaupun kau kalah, bahkan mungkin kau bisa saja mati di medan perang?"


Finn mengangkat tangannya lebih dulu disaat yang lain diam. "Aku memilih berkorban untuk kerajaanku meski mungkin aku akan mati, bahkan jika tidak dihargai dan dilupakan sekalipun."


Melihat Finn yang mengangkat lebih dulu, semuanya ikut mengangkat tangan mereka dan memilih untuk berperang meski mereka tau jika mungkin hal ini sia-sia.


Lalu seseorang disana bertanya. "Apa tidak masalah, melawan disaat musim dingin seperti ini?"


Yang lain mendengar itu terdiam kembali, namun seseorang dari pihak Clubnesia, seorang pria dengan rambut hijau gelap, mata biru sebiru langit, wajahnya nampak penuh keramahan, namun sebenarnya mematikan. Namanya Lennard De Stefan, sambil bersandar dia menyilangkan tangannya, lalu berkata. "Tidak peduli bagaimana keadaanya, kita akan tetap melawan mereka. Meski hujan, bersalju, badai atau keadaan apapun, kita harus tetap melawan. Apa kau takut mati?" Jelas Lennard. "Tidak masalah, kita semua punya ketakutan disini." Sambungnya sambil mengangkat kedua bahunya.


Orang sebelumnya menjadi terdiam, dan mempersilahkan yang lain melanjutkan pembahasan tentang perang nanti.


Namun, salah satu petinggi dari pihak Spadeforia meminta Ronald untuk mengajak kembali Arthur dalam perang ini. "Yang Mulia Arthur, bagaimana anda mengajak kembali saudara anda, tuan Arthur untuk partisipasi dalam perang ini?"


Namun, ucapan itu malah mendapat tatapan tidak mengenakkan dari Ronald dan pihak Hearterra sendiri.


Ronald langsung menjawab. "Apa kau tidak mendengar? Anaknya baru saja mengalami trauma setelah perang. Tapi, kini kau malah meminta ayah anak itu kembali ke medan perang. Yang padahal istri adikku, yang juga adalah adik istriku sendiri, sudah meminta menjauhkan suaminya, Arthur, dari yang namanya perang." Jelas Ronald dengan tegas dan penuh tekanan.


Orang tersebut menjadi diam setelah pernyataan Ronald barusan.


Orang-orang disana menatap orang tersebut dengan tatapan seakan merasa orang tadi bodoh, menghela nafas Roland menenangkan dirinya. "Tapi... Jika dipikirkan lagi, aku berpendapat ada bagusnya jika kita meminta para mantan tentara terkuat kita kembali untuk ikut ke dalam perang ini."


Semua orang langsung terkejut dan menolak hal tersebut, bahkan Woulle ikut terkejut. Hingga Valrius berdiri dan menggebrak meja. "Apa?! Padahal kau yang bilang sendiri tidak melibatkan mantan ksatria melalui perumpamaan adikmu, kini kenapa kau malah menyetujui ide orang bodoh tadi yang baru saja kau tentang?!"


"Kita dalam masalah serius, Val! Keempat kerajaan akan musnah tanpa meninggalkan satupun negara yang berdiri. Jika kita memiliki kekuatan dari mereka para mantan ksatria, mungkin saja kita bisa menang!"


Opheniel melerai mereka dengan tenang dan berbicara. "Ronald, jika kita menambah kekuatan dari para mantan ksatria sekalipun, kita akan kalah. Karena akan memakan korban lebih banyak, jika saja para iblis itu mengamuk itu sudah akhir dari semuanya." Ungkap Opheniel, lalu menlanjutkan. "Jadi kalian tenanglah, aku tau kita mengalami masalah yang sama. Namun, nampaknya kita bukan membutuhkan jumlah pasukan yang kuat..." Tambah Opheniel yang pembicaraannya agak menggantung.


Eryk kemudain ikut bicara. "Lalu apa jika bukan butuh kekuatan dari ksatria, Opheniel?"


"...Kita nampaknya butuh sebuah senjata anti iblis." Lanjut Opheniel.


Salah satu petinggi Diamondnia menyahut ucapan itu. "Heh? Tinggal gunakan saja sihir cahaya, apa susahnya?"


Ungkapan itu di setujui oleh orang-orang dari pihak yang sama, namun di pihak lain tidak bisa menyetujui itu.


"Lalu, bagaimana denga kami? Untuk belajar sihir cahaya butuh waktu berbulan-bulan bahkan sampai setahun lebih." Ungkap salah satu petinggi dari Spadeforia.


Namun, orang yang menyaranan menggunakan sihir cahaya itu menjawab. "Itu salah kalian karena tidak belajar sihir cahaya." Ucapnya sambil terkekeh merendah.


Tidak terima, orang dari Spadeforia itu lantas marah. "Kurang ajar! Tarik kata-katamu tadi!"


Hal hasil, ini malah memperburuk masalah, dan membuat keributan, hasilnya rapat ini hanya omong kosong saja. Sebagian orang hanya diam dan mikirkan cara untuk melawan para iblis, seperti para keempat raja, disisi lain para petinggi masing-masing negara hanya saling menyalahkan dan mengungkit masa perang besar empat kerajaan dulu.


Hingga Woulle mengingat sesuatu dan meminta untuk menenangkan situasi saat ini yang bersitegang, Ronald lalu mengangguk pada Valrius, dan Valrius hanya memutar matanya. Dua raja lainnya langsung menutup mata mereka rapat-rapat, bersamaan dengan orang yang memperhatikan gerak-gerik para raja.


Membutakan semua orang yang tidak menutup mata mereka, membuat mereka panik seketika.


"Cahaya apa ini?!"


"S-serangan!!"


"Mataku!!!"


Para ksatria raja bahkan sampai menarik pedang mereka dari sarungnya, untuk bersiaga meski mata mereka dalam keadaan buta. Hingga kericuhan itu membuat prajurit yang berada diluar ruangan masuk dan mendapati cahaya yang menyilaukan mata mereka.


Hingga cahaya itu memudar dan mereka mencoba melihat sekitar mereka, keheningan terjadi, Eryk kemudian bertanya pada Valrius. "Val, apa cahayanya sudah hilang?"


Valrius menjawab. "Tentu, kalian bisa membuka mata kalian."


Semua orang yang menutup mata mereka kemudian membuka mata mereka dan terlihat beberapa prajurit siap dengan pedang mereka masing-masing.


Valrius kemudian bicara pada semua orang disana. "Apa sudah puas?"


Tidak ada yang menjawab.


Valrius menjelaskan. "Semuanya, tuan Woulle hendak bicara. Jadi, kalian tenanglah. Tuan Woulle, silahkan."


Woulle kemudian menjelaskan mengenai Allenz yang tau lokasi sebuah tempat kuno yang menyimpan senjata hebat, seperti granat, bazoka atau persenjataan yang kini dimiliki kerajaan Hearterra.


"Heh? Kalau itu kami juga punya." Ucap seorang dari Spadeforia.


"Tolong, semuanya diam, dan biarkan tuan Woulle bicara." Ucap Opheniel.


Melanjutkan ucapannya, Woull bertanya. "Memang, senjatanya sama, tapi apa masih memiliki amunisinya?"


Orang-orang yang memiliki senjata serupa menjawab, bahwa mereka sudah tidak memiliki amunisi itu lantaran habis, dan sudah tidak menggunakannya.


Lalu, Woulle menjawab. "Aku berbicara begini, lantaran menurutku, Allenz pasti tau lokasi reruntuhan kuno yang menyimpan senjata serupa dan yang pasti tidak hanya satu tempat."


Ronald cukup terkesan dengan ungkapan Woulle, dan ikut menjelaskan. "Yap, anak itu menurutku bisa membantu kita, mungkin tidak dalam pertempuran nanti, tapi dia mungkin membantu kita dalam mendapatkan persenjataan baru."


Eryk kemudian menyela. "Jadi, ini pilihan terakhir kita? Dan berharap anak itu menunjukkan lokasi yang menyimpan senjata hebat untuk kita?"


Lalu dibalas oleh Opheniel. "Jika ini bisa menolong kita dalam perang, aku akan setuju dalam hal ini."


Semuanya setuju akan hal itu, dan akan bertanya pada Allenz, dimana lokasi yang mungkin menyimpan senjata modern yang bisa mengalahkan iblis. Rapat selesai, dengan para raja akan menyiapkan kompensasi bagi Allenz jika nanti dia mau bekerja sama.


Hingga tiga hari setelahnya, Ronald mendatangi kota Nevelheim, secara tidak resmi tentunya, dan bahkan mungkin mendadak. Hal ini membuat sedikit keributan dari para penduduk kota itu saat mengetahui raja tengah berkunjung.

__ADS_1


Walikota Nevelheim kemudian menyambut kedatangan raja ke kotanya. "Yang Mulia, selamat datang ke kota ini, maaf saya tidak mengantipas– Maksud saya, saya terkejut dengan kedatangan anda yang mendadak ini."


Sambil mengendarai kudanya, raja menjelaskan kedatangannya. "Tidak apa, aku hanya ingin mengunjungi rumah adikku saja."


Walikota hanya terdiam dan melihat konvoi raja menjauh darinya.


Dirumah Arthur, Allenz tengah mengawasi Zen yang belajar sihir miliknya. Yang mana Zen menerapkan cara Allenz belajar sihir dengan cara fokus pada satu elemen. Lalu, sihir yang dipilih oleh Zen adalah kegelapan, dengan alasan bahwa ternyata pengguna sihir kegelapan sangat sedikit. Dibantu dengan Nayaka dan Teresa dalam memberi arahan pada Zen.


"Agak aneh, mengajarkan orang yang lebih dewasa darimu untuk belajar sihir." Ucap Teresa.


"Hahaha, Nayaka juga merasakan hal yang sama." Ucap Nayaka dengan tertawa kering.


Disisi lain, Anya tengah memotong tanaman rambat di pagar batu rumahnya, lalu melihat kedatangan Ronald bersama konvoinya. Berdiri lalu merapikan pakaiannya dengan mengebas rok panjang miliknya. "Selamat datang, Yang Mulia, dirumah kami yang kecil ini." Sambut Anya dengan mengangkat sedikit roknya sambil menyilangkan kaki kanannya dibelakang kaki satunya.


Mendapat sambutan, Ronald menjawab. "Hahaha tidak perlu merendah seperti itu. Dan terima kasih atas sambutannya." Sahut Ronald yang turun dari kudanya.


Membuka pagar dan mempersilahkan Ronald dan konvoinya masuk ke halaman rumahnya. "Silahkan masuk, dan maaf jika kami sedikit berisik."


"Tidak apa, aku juga datang secara tidak formal."


Zen yang sibuk mengendalikan sihirnya terhenti saat melihat ada beberapa orang yang datang, dan bertanya pada mereka bertiga. "Hei, siapa yang datang itu?"


Mendengar pertanyaan Zen, ketiganya berbalik dan melihat raja yang datang berkunjung.


"Kenapa raja datang kesini?!" Ungkap Teresa yang terkejut.


Zen yang terkejut, mengerutkan keningnya. "Raja, kau bilang?!"


Anya kemudian memanggil Allenz, karena raja hendak bertemu. "Allenz, nak, sini kemarilah."


Mendengar dirinya dipanggil, Allenz pergi dan meminta Nia untuk melanjutkan melatih sihir Zen.


Allenz kemudian masuk kedalam rumah, bersama dengan Ronald dan Woulle, diikuti beberapa prajurit. Sisa prajurit lain menjaga diluar.


Didalam, Ronald dijamu dengan perasan jus apel untuk dirinya dan yang lain.


"Ini, silahkan. Maaf jika hanya bisa menyiapkan jus apel ini." Ucap Anya menaruh gelas kayu dimeja ruang tamu untuk mereka yang didalam.


"Tidak apa-apa."


Setelah membagikan minuman itu, Anya pamit dari sana dan meninggalkan Allenz bersama Ronald dan yang lainnya.


Ronald dengan tiba-tiba bertanya pada Allenz soal tangannya yang kini seperti besi.


Allenz menjelaskan bahwa ada sesorang yang membantunya dan memberikannya tangan kirinya sekarang.


Lalu Ronald mengambil minuman miliknya, dan meminum jus apel itu. "Ah... Aku merasa nostalgia."


"Benarkah?" Tanya Allenz.


"Tentu, saat aku dan Arthur masih muda, kami mengunjungi kota ini, dan untuk pertama kalinya merasakan jus apel yang dibuat oleh ibumu dan Vanesa saat masih muda, mereka adalah gadis pembuat jus terbaik masa itu, maka tidak heran aku dan Arthur memilih mereka sebagai calon istri kami, hahaha."


"Itu pertemuan pertama kalian?"


"Tentu, bahkan saat aku remaja, aku terkejut mengetahui ibumu dan kakaknya itu adalah petualang terhebat di ibukota saat itu. Dan kau tau mahar pernikahanku dengan ratu apa?"


Penasaran Allenz bertanya dengan ragu. "A-apa?"


"Segentong jus yang berisi berbagai buah, hahaha! Astaga, aku masih ingat dengan mahar konyol itu!"


Disamping Ronald yang bernostalgia, Allenz dan orang didalam hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah Ronald.


"J-jadi, maksud kedatangan Yang Mulia kesini dan bertemu dengan saya itu untuk apa?" Tanya Allenz.


Mencoba menenangkan dirinya saat tertawa sebelumnya. Ronald menjelaskan, bahwa apa Allenz tau tempat reruntuhan kumo yang menyimpan senjata hebat untuk melawan iblis nanti.


Namun, Allenz menjawab bahwa dia tidak tau lagi tempat seperti itu. Cukup mengecewakan bagi Ronald. Karena itu adalah harapan mereka untuk melawan iblis.


"Tapi Yang Mulia, saya kenal dengan orang yang mengetahui tempat seperti itu."


Mendengar itu, Ronald menjadi bersemangat, dan bertanya siapa orangnya. Dan Allenz menunjuk sesorang dari jendela, dan dia menunjuk pada Zen, dimana Zen tengah di bully oleh Nia dengan terus menembakinya dengan sihir air.


"Apa kau yakin? Dan siapa dia?"


"Dia adalah kenalan saya, dan saya rasa dia bisa menjawab pertanyaan anda, dan juga orang yang sama, yang membuat tangan kiri saya." Jelas Allenz.


"Baiklah, tolong panggil dia."


"Baik, Yang Mulia, tapi mungkin ini akan sedikit lama."


"Tidak masalah."


Allenz keluar dan berbicara dengan Zen yang sudah basah kuyup, dan secara pribadi, berdua saja. Dirinya menjelaskan situasi empat kerajaan yang kini membutuhkan senjata anti iblis mereka. Tentu, itu mengejutkan Zen, padahal dulu Allenz cukup membenci para New Human ini, Allenz juga menjelaskan selama dirinya 16 tahun bersama mereka, membuat dirinya sadar bahwa para New Human ini memang harus berkembang, dan juga hanya mereka berdua saja yang merupakan Old Human. Keduanya juga sudah membaur dengan para New Human ini. Setelah berdiskusi agak panjang, Allenz kembali dan mengatakan bahwa Zen mau membantu mereka dan menunjukan dua tempat reruntuhan yang menyimpan senjata itu.


"Untungnya, Zen punya akses ke seluruh satelit, jadi aku bisa tau posisi tempat gudang senjata dimana." Ucap Allenz pelan.


Dengan begini, pihak manusia mendapat harapan untuk melawan iblis. Setelah itu, Ronald kembali ke ibukota, dan cukup disayangkan karena dia tidak bertemu dengan Arthur, akibat harus memberitahu tentang hal ini pada kerajaan lain. Sebelum kepergiannya, Ronald menghadiahkan Allenz, Nayaka, dan Teresa sebuah cincin mahal untuk mereka nanti, untuk Zen, dia diberi kedudukan khusus, mendapat pengakuan dari raja dan sejumlah uang.


Setelah kepergian raja, Allenz mengeluarkan keluhannya. "Apa-apaan itu? Masa dihadiahkan cincin dan persetujuan pernikahan, huh."


Sementara Zen masih bingung dengan maksud 'pengakuan dari raja'. "Aku jadi... Sir Zen? Apa maksudnya itu?"

__ADS_1


__ADS_2