After World Breaker

After World Breaker
Chapter 29: Sang Intel dan Sang Assassin


__ADS_3

Menjelang akhir musim dingin, mulai banyak orang yang beraktivitas kembali. Banyak yang mulai melakukan kegiatan seperti biasa.


Dimalam hari, Zen sendirian di luar rumahnya. Hanya duduk di teras rumah dengan kesunyian malam. Nia didalam menyapa beberapa maid pribadi Zen, dia dengan membawa pelita kecil sebagai penerangan. Dari dalam dirinya melihat Zen yang masih di luar sendirian.


Keluar dan secara perlahan mendekati Zen.


"Kau belum tidur?" Nia terkejut saat Zen menyadari kedatangannya, menghadap pada Nia, Zen lanjut bertanya. "Apa yang lain sudah tidur?"


Masih waspada terhadap Zen, Nia menjawab. "S-sudah, hanya beberapa pelayan yang belum tidur dan beberapa orang yang berjaga."


"Begitu." Menatap kembali ke langit malam, Zen terdiam lagi.


Nia berjalan mendekat, merapikan rok miliknya dan duduk di samping Zen. Ikut menatap hal yang sama.


Dalam keheningan. Nia bertanya soal diri Zen yang sesungguhnya. "Kau ini siapa? Bagaimana kau cukup dekat dengan Allenz dan bahkan Yang Mulia raja sangat percaya padamu?"


Terkekeh mendengar pertanyaan Nia, bagi Zen Nia adalah wanita yang cukup waspada. "Mungkin aku akan menceritakan sedikit tentang diriku."


Nia dengan wajah serius dia memasang telinganya dengan baik. "Apa ceritamu itu bisa aku percaya?"


Menaikan satu alisnya, Zen membalas. "Terserah padamu, mau percaya atau tidak. Lagipula aku tidak akan bercerita banyak. Nona assassin." Tebakan Zen membuat Nia, tertegun. "Sudah, 'ku duga. Sebelumnya, saat disini, pekerjaanku hampir sama denganmu, yaitu seorang intel. Bahkan, pekerjaan inilah membuatku jadi seperti sekarang."


Nia mendengar cerita itu cukup terkejut latar belakang Zen. "I-intel?!"


"Tenanglah, aku sudah tidak menjadi intel lagi, dikarenakan tempat tinggalku yang dulu mungkin saja sudah lama musnah, apa kau lupa? Allenz menolongku saat itu, dia membawaku kesini, dan disinilah kehidupan baruku yang sekarang. Memulai hidup baru, dan menjauh dari masa lalu." Jelas Zen.


Nia termenung dengan cerita itu, Zen kemudian berdiri dan hendak masuk. Nia dengan cepat menahan baju Zen. "Untuk kali ini, aku percaya padamu." Setelah mengatakan itu, Nia melepaskan tangannya, dan membiarkan Zen masuk, meninggalkan Nia sendiri di teras rumah dalam kesunyian malam.


Hari setelahnya, pada saat makan pagi, para pelayan menyiapkan makanan untuk keluarga Allenz dan Zen, dimana saat makan, Nia memberikan sebuah makanan khusus pada saat Zen makan.


"I-ini, untukmu."


Zen dan yang lain menatap Nia yang memberikan makanan pada Zen.


"Huuu...." Nayaka yang melihat itu sambil menutup mulutnya, dengan tersenyum pada Nia.


"Apa ini?" Tanya Zen.


"Apakah salah? Aku hanya melakukan tugasku sebagai pelayan." Jawab Nia dengan ketus.


Allenz dengan memberi kode dengan raut wajahnya, seakan bertanya pada Zen. Tapi di balas dengan Zen yang mengangkat kedua bahunya.


Selepas sarapan, semua orang disana melakukan aktivitas masing-masing. Allenz dan Nayaka diajak oleh Arthur berlatih bersamanya, Iris dibawa paksa oleh Anya entah kemana, lalu Zen? Dia tidak ada kegiatan apapun, membuat Zen menjadi tidak ada hal yang bisa dia kerjakan.


Meregangkan tubuhnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan dikota. Disaat yang bersamaan, Nia juga hendak keluar.


Pada Nia, Zen bertanya. "Kau mau kemana?"


"Membeli bahan makanan, bahan didapur kurang. Lalu, kau sendiri?"


"Aku bosan, jadi mau keluar juga untuk berjalan-jalan sebentar."


"Kalau begitu, tolong bantu aku pergi membeli bahan, pasti akan membeli cukup banyak bahan dapur."


Tanpa pikir panjang, Zen setuju dan ikut Nia untuk membeli bahan.


Pergi ke arah tenggara kota, lokasi biasa tempat pembelanjaan bahan makanan disana dijual.


Melewati sejumlah toko, di perjalanan, orang-orang berlalu-lalang. Sebagian tempat sudah tidak tertutup oleh salju, musim semi akan masuk beberapa minggu lagi. Meski suhu masih nampak dingin saat ini, menusuk kulit setiap angin berlalu.


Saat didekat tempat perbelanjaan, banyak orang yang berbelanja, dari bahan pokok, pakaian dan beberapa penjual dari luar kota untuk memperdagangkan hasil dari kota mereka.


Zen cukup terpana dengan suasana pasar itu, banyak yang membuka dagangan dari gerobak, toko, atau juga berjualan di lantai beralas kain. Dia selama tinggal disini, dia belum pernah ke tempat ini, ini menakjubkan baginya. Suasana ini mengingatkan dirinya pada tempat tinggalnya dulu.


Tangan Zen langsung ditarik oleh Nia, dia dibawa untuk mengikutinya agar tidak terpisah di sana. Bahan pertama yang dibeli oleh Nia adalah kentang dan wortel. Disana wortel memiliki berbagai warna, dan warna paling banyak adalah wortel berwarna agak putih dan kuning pucat.


Zen mengambil satu wortel, dia bertanya pada sang penjual. "Permisi, apa ini wortel?"


Mendapat pertanyaan itu, sang penjual yang merupakan seorang wanita gemuk tertawa kecil. "Hihihi, itu memang wortel, apa anda tidak tau?"


Nia juga sampai tertawa kecil juga saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zen.


"Tidak, wortel yang aku tau itu berwarna oranye." Jawab Zen.


Mendengar jawaban Zen, Nia menjelaskan bahwa wortel oranye biasa dihidangkan untuk para bangsawan. Dia juga melanjutkan, bahwa wortel itu bisa menjadi oranye karena diberi sesuatu saat ditanam dan menghasilkan warna oranye yang cerah.

__ADS_1


"Soalnya, wortel yang seperti itu yang biasa aku makan di tempat tinggalku dulu." Jawab Zen.


Sang penjual lantas panik dan menganggap bahwa Zen adalah seorang bangsawan. "M-maafkan saya karena lancang, anda pasti adalah orang yang berkasta tinggi."


Zen malah bingung dengan sang penjual yang menyebutnya adalah seorang yang berada. "Tidak perlu seperti itu, aku hanya orang biasa. Memang tempatku itu selalu menghasilkan bahan pokok yang baik dan termasuk wortel oranye adalah salah satunya. Malah, aku baru tau adanya wortel selain yang berwarna oranye."


Nia dan sang penjual terdiam mendengar penjelasan Zen. Sang penjual malah lebih panik dan malah menganggap Zen tinggal di tempat orang kaya.


"Aku sudah bilang, aku ini hanya orang biasa!" Bantah Zen.


Tak mau masalah konyol itu panjang, Nia membayar apa yang mereka beli dan pergi.


"Kau bilang 'hanya orang biasa', huh? Padahal telah menerima sejumlah rumah mewah dan mendapat gelar 'Sir' dari raja, dari mananya orang biasa?" Sindir Nia.


"Bisakah kau lupakan kejadian tadi?" Ucap Zen dengan wajah jengkel.


Di tengah mereka berkeliling, Zen bertanya soal Nia yang menjadi seorang assassin. "Kapan pertama kali kau menjadi assassin?"


Pertanyaan ini membuat Nia berhenti dan membuat Zen bertanya. Didalam kepala Nia, semua terputar kembali, dirinya yang dulu menjadi assassin yang haus darah dan dia seperti bisa mendengar suara jeritan di dalam pikirannya.


Memori itu membuat Nia terbayang-bayang kembali masa-masa dirinya dulu. Bahkan sampai dirinya bisa melihat sebuah rumah besar yang terbakar hebat, didepan rumah itu, banyak mayat-mayat yang tergeletak.


Pada pandangannya, dia melihat dirinya yang dulu, berdiri didepan semua itu. Dengan sebuah pisau besar berlumuran darah.


Zen yang lihat Nia terdiam, langsung mencoba memanggilnya dan menyadarkan wanita itu. "Oi, sadarlah!"


Hal itu berhasil, Nia tersadar dan langsung melangkah mundur saat Zen menyadarkannya. "A-ah..."


"Kau... Tidak apa-apa? Dan lupakan soal pertanyaanku tadi." Ucap Zen, karena dia sadar itu seharusnya jangan dipertanyakan pada Nia.


Nia berkeringat banyak, dan nafasnya memburu. Seperti melihat hal yang mengerikan.


"M-mari kita lanjut belanja, ok?" Ucap Zen sambil menenangkan Nia.


Dengan cepat Nia menggelengkan kepalanya untuk sadar kembali dan memijat sedikit keningnya. Dia juga menyetujui hal itu dan buru-buru pergi dari sana, bahkan meninggalkan Zen.


Zen yang sadar hampir ditinggal oleh Nia, dia juga buru-buru mengejar wanita itu.


Selama mereka kembali membeli bahan, tidak ada percakapan sama sekali antar keduanya. Bahkan, Nia terkadang menjadi ceroboh saat membeli bahan. Hal ini membuat Zen merasa bersalah dan menurutnya Nia butuh menenangkan diri di suatu tempat.


Menenangkan dirinya, menghela nafas panjang dan mencoba menikmati suasana disana. Seorang pelayan toko menghampiri mereka dan menanyakan apa yang mereka pesan.


Keduanya hanya memesan minuman jus. Sang pelayan juga langsung meminta pembayaran pesanan mereka. Membuat Zen terdiam, dia langsung mencari uang untuk membayar pesanan itu.


Nia menjadi muram dan mood-nya semakin buruk. Zen masih mencari uangnya. "Sial aku lupa dengan dompetku."


"Dompet?"


"A-ah tidak." Zen baru sadar, masa saat ini tidak ada yang namanya dompet. Hingga dia sadar dia menyimpan uangnya di jam tangannya. Mengutak-atik jam itu, dia langsung membayar dengan satu koin emas putih.


Sang pelayan terkejut dengan jumlah uang yang dikeluarkan oleh terbilang banyak. "Maaf tuan, ta-tapi kami tidak ada nilai tukar yang cukup untuk uang itu."


"Ambil saja." Jawab Zen.


Sang pelayan menerima koin itu, dan langsung membuat pesanan Zen dan Nia, dengan menggenggam kuat koin itu.


Nia melihat apa yang dilakukan Zen sebelumnya, lalu bertanya. "Apa kau tau berapa nilai uang tadi?"


Zen yang tidak tau, dia pun bertanya kembali. "Berapa?"


"Itu senilai satu juta koin perunggu kau tau."


Zen mengerutkan keningnya, karena sangat malu dirinya tidak tau nilai tukar uang disini, dia beralasan. "Uang disini berbeda dengan tempatku, jadinya aku tidak tau."


Menghela nafas, Nia memutar matanya dan memutuskan melihat keluar jendela. Disisi lain, dalam hati, Zen mengumpat sejadi-jadinya akibat kebodohan barusan yang tidak tau nilai tukar uang disini.


Suasana mereka menjadi canggung, Zen memilih diam daripada malah melakukan hal bodoh lainnya.


Sesekali Nia memperhatikan Zen yang melihat suasana di restoran.  Dia tersenyum simpul, kemudian memperbaiki posisi duduknya. Tak lama, pesanan mereka sampai dan diletakan di meja untuk mereka nikmati.


Keduanya meminum pesanan mereka, merasa segar kembali. Keduanya menjadi lebih baik, Nia kemudian memainkan jari-jarinya di pinggir gelas. Memandangi bayangan dirinya dari jus itu. Tak lama, dia bercerita tentang dirinya, dia adalah seseorang di culik saat kecil dan di bawa untuk diajarkan menjadi pembunuh bayaran saat berusia 14 tahun. Dirinya juga di beri doktrin pada ordo pembunuh itu, hingga dirinya masuk ke akademi untuk menyamar menjadi murid dan mengincar targetnya yang adalah Anya Weller.


"Tu-tunggu! Targetmu itu ibu dari Nayaka dan Allenz?!" Zen memotong dan terkejut saat mendengar target pembunuhan Nia.


"Iya." Nia melanjutkan. Saat itu, Anya baru pensiun menjadi petualang, dan memutuskan menjadi seorang guru di akademi. Anya juga sudah bertunangan dengan Arthur dan kakaknya juga sudah bertunangan dengan raja Ronald. Klien Nia saat itu ingin menyingkirkan Anya yang menurutnya lebih tidak terjaga, daripada kakaknya, Yang Mulia Ratu Vanessa.

__ADS_1


Namun, dirinya diketahui oleh intel kerajaan akibat terbongkarnya ordo pembunuh bayaran itu, dan Nia adalah anggota terakhir yang ditangkap, akibat berada diluar markas dan tengah menyamar menjadi murid disana. Semua anggota ordo di hukum mati seminggu setelah penangkapan, bahkan kliennya juga ikut di hukum mati bersama anggota ordo yang lain.


Sementara dirinya bisa terhindar dari hukuman akibat aksi dari Anya sendiri yang masih menganggapnya murid dari akademi. Meski banyak yang protes terutama Arthur sendiri yang merasa Anya tidak perlu melindungi pembunuh seperti dirinya.


Hingga pengadilan membiarkan dirinya terhindar dari hukuman mati dan diganti dengan hukuman lain. Yakni rambutnya akan dipotong pendek dan akan dibawa berkeliling ibukota dengan sebuah papan kayu yang bertuliskan Orang Sesat! Pembunuh dan Anggota Ordo. Pada saat itu membuat Nia seperti sudah bukan dirinya, selama berkeliling kota, dia diludahi, dilempari benda dan dimaki oleh seluruh orang dikota, hingga bahkan sudah menyerah menjalani hidupnya.


Itu menjadi titik terburuk dalam dirinya, dia bahkan sudah seperti mayat hidup dua minggu menghadapi hukuman itu, sampai-sampai dia sudah tidak mau bergerak saat berkeliling kota lagi, menyebabkan dirinya diseret setiap hari.


Setelah tiga bulan penuh menghadapi siksaan mengerikan itu, dia dilepaskan, meski dia dikeluarkan dengan orang penjaga membuangnya di sisi lain kota dan membiarkannya disana.


Anya yang cuma mengkhawatirkannya sampai menemukan dirinya dua hari setelah dia dibuang dan merawatnya. Meski Nia nampak sudah seperti mayat, tidak bergerak, tidak berbicara, bahkan tidak merespon. Hanya bernafas saja yang Nia bisa lakukan. Mentalnya juga sudah hancur selama dia menghadapi hukuman itu, Anya merawatnya bagai seorang ibu pada dirinya selama pemulihan, dan juga masih ada masalah dari Arthur beserta keluarga kerajaan yang tetap menolak untuk menerima dirinya. Bahkan Anya dan Arthur hampir melakukan pembatalan pertunangan mereka akibat dirinya.


Sampai Ronald memberi syarat untuk Nia, agar di masukan dalam garda depan dalam perang dulu, jika Nia tidak terluka dan masih hidup, dia akan diterima. Jika dia mati atau terluka sekecil apapun dalam perang. Maka, dia akan ditolak. Meski nampak mustahil, dan juga Anya yang protes akan persyaratan itu. Nia menerima hal itu dan ikut perang. Sekitar setengah tahun, dirinya ikut perang, Nia berhasil selamat dan kembali.


Atas pencapaian itu, dia mendapat pengampunan penuh dari kerajaan dan akan mengabdi penuh pada Anya, bahkan sampai dia tua nanti. Selesai bercerita, Nia kembali menyeruput minumannya dengan tenang. Berbalik dengan Zen yang was-was mendengar cerita itu.


Zen tidak menyangka wanita yang berada didepannya memiliki masa lalu yang kelam, yang berusia lebih tua tujuh tahun darinya. Zen pun menanyakan pertanyaan terakhir baginya. "Apa kau ada niat untuk memiliki pasangan?"


Nia terdiam, dan menjawab. "Tidak, meski nona sudah mempertemukanku dengan sejumlah pria, tapi tidak ada yang menurutku cocok. Lagi pula, aku punya alasan yang logis kenapa aku menolak mereka."


"Apa itu?"


"Seperti di ceritaku sebelumnya. Hidupku hanya untuk nona dan keluarganya, tidak kurang, tidak lebih."


"Ah... Aku mengerti." Ucap Zen, tapi dalam hatinya dia merasa terpuaskan. Karena dia bisa mem-blacklist Nia dari daftar wanita idamannya dengan jelas.


Setelah menikmati jus mereka masing-masing, mereka kembali membeli bahan yang tersisa dan kembali pulang.


Saat hendak keluar pasar, adanya orang banyak yang berkumpul, membuat jalan Nia dan Zen terhalang. Mengandeng tangan Nia, Zen mencoba masuk kedalam kerumunan itu, dengan susah dan desak-desakan, mereka bisa keluar dan mendapati seorang pria tengah menyadera anak perempuan.


Dari pakaian pria itu, yang merupakan kaos tipis coklat, menandakan dia adalah seorang tahanan, bahkan ada beberapa prajurit yang bersiap dengan pedang mereka dan mengelilingi pria itu.


Pada sisi lain, ibu dari anak itu nampak histeris mendapati anaknya dijadikan sandera. Dua prajurit mencoba menahan sang ibu untuk tidak bertindak gegabah.


Seorang prajurit memutuskan untuk memilih dua pilihan, yakni bunuh sang tahanan dengan menolong sang anak kecil atau tanpa sang anak kecil, dalam artian sang anak kecil bisa saja mati oleh pihak prajurit atau mati ditangan sang tahanan.


Zen yang melihat itu merasa seperti cerita klise dalam novel atau film. "Wah... penyanderaan di dunia nyata,ditengah jalan pula."


Prajurit yang membuat pilihan, terpaksa memilih opsi kedua, karena dirasa mustahil untuk menyelamatkan sang anak. Hal ini malah membuat kegaduhan lebih parah dan membuat sang ibu anak itu pingsan ditempat.


Zen hanya memperhatikan sekitar, dia juga melihat Nia yang nampak seperti khawatir, ini membuat Zen merasa Nia sedang melihat bayang-bayang masa lalunya.


Menghela nafas, dan menggaruk kepalanya, Zen bersuara keras. "Permisi, apa bisa minggir? Aku mau lewat!"


Semua orang langsung menatap pada Zen yang berbicara, termasuk Nia.


Berjalan perlahan, dan sedikit bergaya. Lalu dengan sengaja mengibaskan ujung jaket yang dia pakai, Zen berbicara kembali. "Aku bilang, aku mau lewat, kalian menghalagi jalanku, bodoh." Namun dalam hati Zen, dia merasa malu, ini adalah hal paling memalukan yang pernah dia buat. 'Anjir, gua malu banget.'


Sang tahanan nampak terpancing dengan kehadiran Zen. "Siapa kau?! Kau jangan coba-coba mendekat, jika tidak, nyawa anak ini taruhannya!"


Menatap malas, dan tidak mengubrisnya, Zen bertanya soal kejahatan sang pria pada salah satu prajurit. "Omong-omong, dia ditahan karena apa?"


Prajurit yang ditanya menjawab. "Pengelapan uang, melakukan aksi teror, pemerkosaan, dan kejahatan berat lainnya."


Entah mendengar dua kejahatan yang disebut awal tadi, membuat telinga Zen panas. "Pengelapan uang dan aksi teror, huh?"


Sang tahanan bergedik ngeri saat melihat Zen yang menatap tajam pada dirinya.


Sang prajurit melanjutkan. "Dia juga akan dihukum mati dua hari lagi, tapi karena kabur, mau tidak mau kami harus membawanya kembali hidup atau mati saat ini juga."


Mendengar penjelasan itu, Zen mengangguk saja. Lalu mengeluarkan koper miliknya dari jam tangannya. "Jadi tidak masalahkan, jika kau bunuh sekarang?!" Ucap Zen dengan tersenyum mengerikan.


Dengan cepat koper itu berubah menjadi senjata pistol dan langsung menembaknya tepat mengenai bahu sang tahanan, disaat yang bersamaan, suara yang dihasilkan pistol itu membuat orang yang didekat Zen terkejut dan panik hingga berlari menjauh.


Tembakan pertama berhasil membuat anak perempuan yang di sandera bisa kabur, dan dengan cepat juga, Zen mengeluarkan tembakan kedua yang berhasil mengenai satu mata tahanan itu, membuatnya tewas ditempat.


"Selesai." Dengan bangga Zen memutar pistol itu, lalu meniup ujung pistol tersebut, yang tidak ada asapnya sama sekali, berlagak seperti cowboy.


Merasa sudah usai, Zen mengajak Nia kembali pulang, karena menurutnya mereka sudah terlalu lama disini. Semua orang dengan perlahan melihat mayat sang tahanan, darah keluar dari matanya, beberapa prajurit juga terdiam dan hanya menyaksikan Zen pergi begitu saja bersama dengan Nia dari sana.


Sesampainya dirumah Zen, Anya menyambut mereka. "Astaga, kalian lama sekali, aku pikir kenapa kalian pulang telat, ternyata kalian pergi bersama, romantis sekali."


Disisi lain, Nayaka masih menanggapi dengan hal yang sama seperti tadi pagi. "Huuuu...."


Sama seperti tadi pagi juga, Allenz bertanya dengan raut wajahnya pada Zen, dan tentu dijawab Zen dengan jawaban yang sama pula, yakni mengangkat kedua bahunya. Merasa jengkel dengan jawaban Zen, Allenz memukul perut pria itu hingga terkapar di tanah.

__ADS_1


__ADS_2