After World Breaker

After World Breaker
Chapter 40: Gubuk di tengah hutan


__ADS_3

"Berhenti disana!" Teriak Allenz sambil mengejar dari langit.


Ketiga orang itu berlari ditengah kota, sambil melewati beberapa orang disana yang panik saat melihat saat adanya pengejaran.


Allenz menyerang dari atas, namun kecepatan mereka menyulitkan dirinya saat sihirnya untuk mengenai mereka. Beberapa prajurit juga datang mencoba membantu menghentikan mereka, salah satu dari mereka yang tidak membawa siswi melempar sesuatu kepada para prajurit yang ada didepan mereka.


Para prajurit lantas terkejut mengetahui benda yang dilemparkan oleh salah satu orang itu. "Bom!"


Para prajurit lantas menghindar, bersamaan dengan itu bom yang dilempar meledak, membuat suara yang keras pada tempat itu, asap mengepul di tempat itu. Dengan asap itu mereka mencoba menghilangkan jejak mereka.


Tapi, Allenz sekali lagi menyerang mereka, dan mencoba mendekat. Bersamaan dengan datangnya Zen, dia dengan membawa motor yang entah dia dapat dari mana.


"Aku datang membantu!"


Allenz lantas memberi rencana untuk menghentikan mereka, dan jangan sampai mereka keluar dari kota. Zen dengan mengendarai motornya, dia mengeluarkan pistolnya, sambil membidik dia mengatakan. "Aku datang saat pangeran memberi tau ada kekacauan di asrama putri. Dia juga bilang kau mengejar para orang ini."


Allenz mendengar ucapan Zen, dia lantas meminta untuk mereka tidak kehilangan jejak mereka. Pengejaran keduanya bahkan hampir ke pintu kota. Pada saat melewati pintu kota, Allenz meminta untuk mereka cepat, disaat yang bersamaan, muncul beberapa monster yang menghalangi mereka.


Mau tidak mau mereka harus terlibat dengan para monster, membuat mereka kehilangan jejak orang-orang itu.


"Sial! Kita kehilangan mereka!"


"Serahkan padaku." Zen menggunakan akses program, dia menggunakan satelit untuk memantau dari atas. Headphone-nya menutup setengah wajah atasnya, memunculkan layar disana, dengan kamera dari satelit dia mampu melihat dari atas. "Aku menemukan mereka, mereka tengah pergi menaiki kereta kuda."


"Dimana?"


Zen lantas menarik gas motornya, dan diikuti oleh Allenz yang ikut naik motor. Memasuki lebih dalam hutan, sambil menghindari pepohonan, dan jalan yang mereka tidaklah baik, karena kadang adanya akar pohon atau tanah yang curam.


Ditengah mereka mengejar, Allenz bertanya pada Zen darimana dia mendapat motor ini. "Ras, darimana kau mendapat motor ini?"


"Oh ini?  Ini transformasi lain dari koper milikku, aku juga baru tau saat kemarin. Meski, hanya bisa merubah menjadi motor saja, kebanyakan koper ini hanya bisa merubah bentuknya menjadi senjata." Jelas Zen.


"Bagus, dengan ini kita bisa lebih cepat." Ucap Allenz, Zen lantas melaju lebih cepat. Mereka dibantu oleh program, Zen mengikuti arah itu. Mereka bahkan sampai memasuki hutan lebih dalam.


Pada tempat di tengah hutan, orang-orang misterius itu berhenti di sebuah gubuk, kereta mereka berhenti disana. Menurunkan dua siswi yang mereka dapat, dan di masukan ke dalam sebuah ruangan untuk mengurung mereka.


Disaat bersamaan, datang kereta lain juga yang membawa beberapa gadis desa dan anak-anak. Mereka memasukan para anak-anak itu di tempat yang sama bersama Isla. Para anak-anak itu menangis membuat Isla dan siswi tadi terbangun mendengar suara tangis dari para anak-anak.


Isla terkejut dirinya berada di tempat yang asing bagi dirinya. Di depannya, para gadis desa mencoba menenangkan para anak-anak kecil yang terus menangis.


Siswi yang terbawa bersama Isla, dia berteriak untuk dilepaskan dari sana, dia terus berteriak. Namun, tidak ada yang datang ke tempat mereka.


Di luar gubuk itu, para orang-orang misterius tengah berkumpul, mereka menghitung berapa jumlah orang yang mereka dapat dan berapa orang yang kembali. Salah satu dari mereka memberitahu jika saat mencoba membawa siswi di akademi, mereka kehilangan sejumlah anggota, karena kedatangan dua murid yang menyerang mereka.


Salah satu dari mereka berbicara pada yang lain, "Kita harus cepat membawa semua gadis dan anak-anak ini."


"Tunggu yang lain datang." Balas yang lain.


Tak lama, kereta terakhir datang, dengan membawa tiga anak kecil, saat mencoba menghentikan kuda. Kusir yang membawa kereta itu tertembak tepat di lehernya, membuat dia terjatuh dari kereta.


Orang-orang disana lantas menjadi waspada. "Kita di ikuti!"


"Ada serangan!"


Sebuah tembakan lain datang, membunuh yang lain. Mereka bingung, hanya suara yang mereka dengar. Namun, arah asal tembakan tidak mereka ketahui. Suara siulan muncul, memenuhi sekitaran mereka. Datangnya suara itu membingungkan mereka, dengan tembakan susulan yang masih misterius datang dari mana.

__ADS_1


Tak lama, suara siulan tidak terdengar lagi, membuat mereka memperhatikan sekitar. Karena malam hari, jarak pandang mereka sulit untuk melihat, hanya dengan obor yang mereka bawa untuk menerangi pandangan mereka.


Tiba-tiba dua orang disana terbelah dua dengan seketika, membuat mereka tambah panik. Seorang lain bahkan sampai kehilangan kepalanya dan ada yang kehilangan kakinya.


Keributan diluar membuat Isla sadar, bahwa diluar tengah ada keributan. Dia dan siswi yang terbawa bersamanya berteriak keras sebisa mereka, berharap orang yang ada diluar mendengar suara mereka.


Dari balik semak, Zen dengan tenang membidik, dia tengah mengawasi kepanikan para orang-orang itu, dengan menyanggah sebuah sniper dengan peredam untuk meminimalisir suara yang keluar saat menembak.


Di seberang Zen, Allenz juga bersembunyi di balik pohon, dengan bersiul pelan, dan memberi serangan tiba-tiba dengan memanipulasi angin di sekitar. Mereka memberi serangan secara bergantian, membuat para orang-orang itu kebingungan.


Hingga, mereka menyerang secara asal-asalan, berharap orang yang menyerang mereka terkena sihir yang mereka tembakan. Hingga, beberapa orang berpencar dan mencoba mencari siapa yang menyerang mereka di dalam hutan, dan mungkin saja bersembunyi di dekat mereka.


Baru mencari, sebuah angin besar mendorong mereka untuk tidak memasuki hutan, membuat mereka hanya bisa ditengah di depan gubuk. Tidak membiarkan mereka pergi kemana pun.


Karena tidak mengetahui asal serangan, satu orang disana hendak masuk kedalam gubuk, dan bersembunyi disana. Zen melihat orang itu, dia dengan tenang mengarahkan scope miliknya pada orang itu, dan menarik pelatuk, peluru melesat dan tembus pada belakang kepala orang itu, menjatuhkannya tepat di depan pintu.


Dimana saat orang itu masuk, didepan mereka adanya ruangan tempat Isla dan yang lain dikurung. Gadis yang didepan pintu lantas berteriak melihat seseorang mencoba masuk dan tewas didepan pintu. Isla mencoba melihat dari celah pintu yang berbentuk kotak dan adanya jeruji. Dari sana dia melihat seseorang terkapar dengan lubang besar pada belakang kepalanya, dan darah keluar deras menggenang disana. Tapi, disaat yang bersamaan dia dapat melihat keluar gubuk, kepanikan tengah terjadi di luar.


Allenz dan Zen terus menghabisi para orang-orang itu dengan terus bersembunyi. Hingga salah satu dari mereka mendatangi kereta kuda tadi yang terakhir datang, dia lantas mencoba menyandera salah satu anak di kereta itu.


Isla yang melihat dari balik jeruji hanya berteriak untuk menghentikan aksi dari orang itu. Anak yang disandera hanya bisa menangis, dia tidak mampu berteriak akibat mulutnya diikat oleh kain.


Zen dan Allenz terdiam sejenak, mereka lantas memfokuskan orang tersebut menjadi target mereka. Orang itu dengan berteriak keras, meminta siapa yang berani menyerang mereka untuk keluar dari persembunyian mereka. Jika tidak, dia akan menusuk kepala anak itu.


Zen dan Allenz tidak merespon sama sekali, membuat orang itu marah. Dia lantas mengangkat tinggi tangannya yang memegang pisau, disaat itulah Allenz dan Zen menyerang bersamaan. Allenz mengincar tangan orang itu, memutuskan tangan orang tersebut, dan Zen akan mengincar kepala orang itu.


Dengan sihir angin yang membelah tangan dan sebuah peluru yang tepat mengenai kepala orang itu secara bersamaan, membuat orang itu tewas di tempat. Sementara anak yang di sandera barusan lantas takut melihat mayat dari orang tadi.


"Buat sihir perlindungan!" Teriak salah satu dari mereka.


Mereka lantas merapal mantra sihir perlindungan. Zen lantas tidak membiarkan hal itu terjadi, dia menembak dua orang yang tengah merapal. Allenz ikut juga menyerang dengan sihir angin. Meski mereka berhasil membunuh empat orang, tapi ada lima orang tersisa yang berhasil membuat sihir perlindungan yang mengelilingi mereka.


Salah satu dari orang itu mengejek para Zen. "Dengan begini kau tidak akan mungkin menyerang kami."


Zen lantas menjawab. "Mungkin aku tidak bisa menyerang kalian, lalu apa kalian juga bisa menyerang kami?" Tantang Zen.


Salah satu dari mereka lantas terpancing. "Tentu saja, kau mau melihat~"


Belum selesai biacara, rekan lainnya memotong dan memintanya untuk terus mengalirkan sihir mereka untuk terus membuat sihir perlindungan. "Jangan dengar dia! Jika saja ada yang berhenti mengalirkan mana sihir disini, maka perlindungan ini akan dapat ditembus."


Mau tidak mau, mereka terus seperti itu bertahan di dalam kubah.


Zen menyeringai. "Kalau begitu, kami akan menunggu sampai mana kalian habis, bagaimana? Ini akan menjadi ajang siapa paling lama bertahan."


 Ini membuat mereka geram, mereka tidak mungkin kabur, jika melawan juga kedua orang ini seperti orang yang kuat.


Zen lantas memerintah pada Allenz untuk percepat saja. "Al, kau bunuh saja mereka, aku tidak mau menunggu lama." Zen lantas pergi ke arah gubuk.


"Apa?! Kau yakin sekali bicara begitu?!"


Zen berhenti dan menatap kebelakang. "Tentu saja." Setelah mengatakan demikian dia berlanjut menuju gubuk kembali.


Allenz bersiul nyaring, membuat orang-orang didalam kubah sihir itu waspada. Sampai sebuah angin didalam kubah mengamuk membuat mereka terkejut. Allenz berkata. "Meski kalian berlindung didalam kubah itu, akan sangat tidak mungkin kalian bernafas, bukan? Dan dari nafas kalian ada menghasilkan udara, karena itulah kalian terperangkap oleh pelindung kalian sendiri."


Dengan memanipulasi angin yang ada di dalam kubah, Allenz membunuh mereka dan mencincang mereka disana dengan sihir angin yang Allenz buat.

__ADS_1


Tidak terdengar suara apapun dari luar, hanya suara angin malam. Hal ini membuat Isla dan para tahanan yang lain menjadi bingung dengan kesunyian yang terjadi. Isla yang masih memantau dari pintu, dia melihat keluar. Hingga Zen datang dan masuk kesana, membuat Isla lega melihat orang yang dia kenal datang.


Zen lantas meminta Isla menjauh dari pintu, Zen dengan cepat menembak gembok yang mengunci pintu itu, membuat para tahanan disana dengan gembira bisa bebas dan keluar.


"Pak Zen, terima kasih membebaskan kami." Ucap Isla


"Tidak masalah, aku juga lantas melacak kalian saat mengetahui keributan yang terjadi di akademi. Dan akan lama jika melakukan rencana sampai besok." Ucap Zen. "Allenz, bagaimana yang diluar?!"


"Semuanya aman!" Sahut Allenz yang tengah membuka ikatan para anak-anak di kereta.


"A-Allenz?!" Isla terkejut dengan siapa yang Zen bawa bersamanya.


"Yap, aku membawa Allenz, kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Salah satu siswi disana, hanya bisa menangis dan terduduk, dia berpikir ini adalah akhir baginya, dia tidak menyangka akan ada bantuan secepat ini, Zen lantas menenangkan siswi itu.


Tak lama, Zen lantas membawa keluar para tahanan dari gubuk, bersamaan menemui Allenz diluar. Isla terkejut dengan mayat-mayat yang ada disana, mereka mati dengan cara mengerikan. Ini membuatnya mual seketika.


Merasa keadaan sudah baik, Zen mengumpulkan para sandera, dia memerintahkan mereka untuk naik ke kereta kuda yang ada, dan kembali ke ibukota. Dia berencana membawa para gadis dan anak-anak ke ibukota lebih dulu, dan akan di pulangkan ke desa mereka saat esok harinya, karena saat ini sudah malam akan sangat berbahaya memulangkan mereka saat ini juga.


Semua setuju, sebelum pergi, Zen membakar gubuk itu, dia juga membawa tangan orang tadi, karena adanya lambang yang asing baginya, dan akan bertanya lambang tersebut pada Iza nanti.


Semua orang disana naik ke kereta, ada sekitar dua kereta yang digunakan, dan dibawa oleh dua gadis desa. Disaat mereka pergi dari sana juga, Zen menembak suar hijau ke langit.


Isla bertanya pada Zen. "Apa yang anda lakukan?"


"Hmm? hanya memberi pesan keadaan kita saat ini." Ucapnya.


Dari jauh, para prajurit kerajaan melihat suar hijau dari dua kilometer jauhnya, lantas mereka pergi ke titik itu. Dan menemukan beberapa mayat monster yang tewas saat melawan Allenz dan Zen sebelumnya saat mengejar mereka.


Hingga tak jauh dari sana, suar kedua nampak kembali, bahkan lokasinya nampak dekat dengan mereka. Para prajurit lantas pergi ke lokasi itu, mereka dengan cepat ke sana dan bertemu dengan rombongan Zen.


Setelah bertemu, para prajurit lantas menjaga dan mengelilingi kedua kereta itu, menjaganya sampai ke pintu gerbang ibukota.


Orang-orang berkumpul di depan gerbang, mereka ada yang kebingungan apa yang terjadi. Hingga mereka melihat suar ketiga, para prajurit yang didepan gerbang lantas menyusul dan mendapati dua kereta kuda yang datang.


Hingga didepan pintu gerbang, kereta di hentikan. Para prajurit menurunkan para gadis dan anak-anak disana, bersama dengan Allenz dan Zen. Iza dan beberapa guru mendatangi Zen dan Allenz yang turun.


Mereka bersyukur melihat Zen dan yang lain selamat, Iza juga bertanya pada Zen, siapa orang-orang ini. Zen menjawab, mereka mungkin adalah penduduk dari desa di dekat ibukota yang juga diculik oleh orang-orang misterius tadi.


Iza lantas berbicara pada gadis-gadis itu dan anak-anak yang terlibat, dia mengatakan akan memulangkan mereka esok harinya, sementara mereka akan di awasi di sebuah penginapan lebih dahulu hingga esok hari.


Kejadian itu menyebar ke seluruh kota, bahkan menjadi pembicaraan hangat di akademi. Zen bahkan menjadi perhatian besar pada rumor itu, dan soal gubuk di tengah hutan itu tengah di selidiki oleh para prajurit yang dikirim kesana. Lalu Allenz? Hal ini dirahasiakan sementara oleh beberapa orang di akademi, sampai dirasa cukup tenang. Karena akademi bisa saja mendapat tanggapan buruk dengan adanya tindakan seorang murid yang terbiarkan menyerang sebuah tempat berbahaya seorang diri.


Rumor Allenz hanya diceritakan hanya mengejar sampai depan gerbang dan tidak ikut masuk ke dalam gubuk, itulah mengapa Zen menjadi pusat perhatian dalam hal ini.


Pada ruangan kepala sekolah, Zen hendak menunjukan sesuatu pada Iza, wanita tua itu lantas menemui Zen pada ruangannya. Disana Zen menunjukan tangan salah satu orang yang dia lawan semalam, membuka kain yang menutupi tangan itu, dan pada telapak tangan itu tergambar lambang Ordo Ouroboros.


"Aku hanya ingin tau dari lambang di telapak tangan ini." Sambil membuka kain yang menutupi tangan itu.


Mata Iza terbuka lebar, dia mundur selangkah melihat lambang itu, dia tidak percaya apa yang dia lihat.


Melihat lambang itu, membuktikan ordo masih ada. Dan tangan yang dibawa oleh Zen ini adalah buktinya. Iza lantas menyuruh Zen membawa tangan itu dan jangan sampai hilang. Mereka berdua lantas pergi dari sana, Iza meminta asistennya menulis surat resmi untuk membuat pertemuan dengan para dewan kerajaan bersama denga raja juga.

__ADS_1


Di dalam benaknya, Iza takut jika sekitar dua puluh tahun terakhir ordo ini bersembunyi dan tengah merencanakan hal besar ke depannya, dia tidak mau kejadian mengerikan terjadi pada kerajaan ini.


Dengan menunggu setengah jam, surat berhasil dibuat dan dikirim langsung dengan merpati ke kerajaan, Iza dan Zen juga pergi dengan kereta kuda dan menuju istana kerajaan.


__ADS_2