
Arthur yang di tumpangi oleh Woulle dengan kudanya, mereka pergi ke posisi para raja berkumpul. Dimana para raja dan tangan kanan mereka tengah menghadapi sejumlah iblis di bagian barat.
Opheniel dengan pedati miliknya yang terbuat dari emas putih yang dicampur perunggu, dan di tarik dengan dua bison besar khusus untuk menarik pedatinya. Dirinya yang bersama orang kepercayaannya, dengan orang itu yang mengendalikan pedati, sementara Opheniel yang akan menyerang iblis di sekitar mereka.
Valrius dengan kuda putihnya yang gagah, dia memacu kuda miliknya sambil membunuh para iblis yang di sekitarnya.
Eryk, Lennard dan Ronald lebih memilih berhadapan dengan tanpa kendaraan mereka, dan turun langsung dengan senjata masing-masing. Menghadapi iblis satu per satu, mereka mengalahkan para iblis.
Eryk mendekati Ronald dan membicarakan soal pedang yang mereka gunakan. "Aku cukup terkejut dengan pedang ini yang mampu membunuh iblis tanpa bantuan sihir sama sekali."
Ronald yang dekat dengan Eryk mengatakan hal yang sama. "Ya, aku cukup terbantu dengan senjata ini, dan cukup menghemat kita dalam mengunakan sihir dalam bertarung."
Woulle mendatangi tempat Ronald berada, turun dekat sana dan berkumpul dengan kakaknya, sementara Woulle pergi tempat lain di sebelah barat daya.
"Kita harus ke tempat lokasi Allenz berada." Ucap Arthur.
"Kalian pergilah! Kami akan membuka jalan, Len bantu aku!" Perintah Eryk.
"Baik, Yang Mulia." Eryk dan Lennard menggunakan sihir mereka, dan membuka jalan bagi Arthur dan Ronald.
"Sungai suci, tak ternoda, bagai air gunung yang jernih dan membawa berkah. Water Wave." Muncul gelombang air yang menyapu iblis didepan mereka dan membuka jalan bagi dua saudara Hearterra tersebut.
Memainkan jarinya muncul cahaya dan membuat sebuah benang cahaya, Eryk membuat benang itu untuk menarik para iblis menjauh dari Arthur dan Ronald.
Menjerat para iblis dan menarik mereka, dengan di bantu Arthur dan Ronald, mereka menghabisi iblis yang terjerat pada benang Eryk. Sambil menghindari para iblis yang menyerang. Namun, entah mengapa jumlah iblis yang muncul kian banyak. Ini menyulitkan mereka berempat untuk menerobos lebih jauh.
"Panah para iblis itu." Perintah Woulle bersama beberapa pemanah berkuda. "Aku datang membawa bantuan." ucap Woulle yang datang bersama dengan para pemanah yang mengendarai kuda.
Tak lama muncul juga Opheniel yang datang dengan pedatinya dan menyingkirkan iblis berukuran sedang, dan menabrak mereka. Bersamaan juga dengan Valrius dengan kudanya yang datang dengan beberapa Brave Rider di belakangnya.
"Baik, misi utama kita pergi ke tempat Allenz dan Zen berada! Setelah itu kita kembali, atau mungkin harus mundur lebih dahulu." Ucap Valrius dengan nyaring.
Semuanya mendengar rencana itu, mereka lebih memprioritaskan keadaan Zen dan Allenz. Membuat sebuah formasi dengan Opheniel yang berada di depan bersama dengan Valrius dan beberapa Brave Rider. Sementara yang lain akan di belakang mereka dan akan mengurus para iblis yang mungkin dilewati oleh para Brave Rider dan pasukan yang ada didepan.
Opheniel mengangkat pedang miliknya, dan langsung membawa pedati miliknya melaju bersama dengan Brave Rider lain di susul dengan Valrius. Meniupkan terompet yang dari cangkang kerang, bunyi nyaring terdengar, membuat beberapa pasukan yang menggunakan kereta perang lain juga ikut datang dari samping kanan kiri, membuat formasi bentuk V.
"BAWA SEMANGAT KALIAN DI PERANG INI!!!" Teriak Opheniel pada orang-orang di belakangnya.
"OOHHH!!!" Balas yang lain sambil berlari mengikuti arah kereta kuda milik Opheniel.
Para iblis melihat pasukan yang muncul dengan gemuruh, dengan para pengguna penunggang kuda dan kereta kuda di depan, membuat beberapa iblis memilih melarikan diri dari kejaran pasukan itu, daripada mati terinjak. Hal ini membuat beberapa iblis kuat yang harus menghadapi pasukan terdepan itu, dengan gada dan perisai.
Opheniel menyipitkan matanya dengan serius, menatap para iblis besar yang mencoba menghalangi mereka. Berteriak kembali, para penunggang kuda yang membawa pemanah langsung membidik langit dan menghujani para iblis dengan panah sihir.
__ADS_1
Membuat para iblis itu terkena dampaknya, dan menahan panah itu dengan perisai yang mereka bawa.
Pada saat itu juga muncul Iris dari belakang pihak iblis, memakan mereka secara mengerikan. Opheniel yang melihat kesempatan ini, memerintahkan yang lain terus maju. Bentrokan terjadi, pasukan terdepan langsung menyerang iblis yang berada di depan. Para Brave Rider menyerang iblis yang menurut mereka kuat, dan pasukan di bagian belakang ikut membantu.
Ke dua sisi saling mencoba menyingkirkan musuh mereka, namun pihak manusia terbantu dengan adanya Iris di sisi mereka, memudahkan mereka yang hanya perlu menjerat para iblis dan membiarkan mereka di makan oleh Iris.
Dari belakang pihak iblis, sebuah kuda tengah membawa pedati yang dinaiki oleh Zen, melihat tengah adanya pertempuran di depannya, sang pembawa kereta memilih jalan memutar dari perang itu. Zen juga yang nampak agak pulih lebih memilih ikut dalam perang itu. Melompat dari pedati, dia menuju perang tersebut.
Mengubah kopernya menjadi dua pistol dan mulai menembaki para iblis yang sibuk dengan para prajurit lain. "Iris! Pulihkan sihir mereka!"
Iris mendengar perintah Zen, dia pun mengeluarkan aura yang sama seperti saat dia memberi mana sihir tambahan pada Zen. Merasa mana sihir mereka pulih, para prajurit menggunakan sihir kembali, kali ini yang lebih kuat, untuk memukul mundur para iblis.
Arthur yang melihat kedatangan Zen, dirinya mendekati pria itu, dan menanyakan soal Allenz. "Zen, dimana Allenz?"
Melihat kedatangan Arthur, Zen menjawab. "Dia dibawa ke kemah untuk di obati. Dia nampak kelelahan, itulah aku memutuskan untuk membawanya ke kemah." Jelas Zen.
Mendengar itu, Arthur meminta kuda pada yang lain untuk kembali ke kemah, karena khawatir dengan keadaan anaknya. "Tolong pinjamkan aku kuda!!"
Woulle datang, dan dengan cepat turun dari kudanya, memberikan kuda miliknya pada Arthur. "Ini! Pergilah dan lihat kondisi anakmu. Aku akan disini bersama yang lain."
Mengambil kuda milik Woulle, Arthur dengan cepat naik dan langsung pergi ke kemah pihak manusia. Meski Arthur pergi, ada beberapa monster hendak mengejarnya. Valrius yang sadar akan hal itu, dia memerintah beberapa orang berkuda untuk melindungi Arthur hingga sampai kembali ke kemah. "Lindungi Arthur dari kejaran para monster itu!!"
Beberapa prajurit mengikuti perintah, dan langsung mengejar Arthur untuk melindunginya dari kejaran para monster.
Peperangan masih berlangsung, tanah pada hutan itu yang awalnya bersalju putih, kini telah menjadi medan perang mengerikan. Banyak mayat yang tergeletak dimana-mana, beberapa kerusakan akibat panah api atau serangan sihir. Dampak dari manjanik dan meriam, darah dan lumpur membasahi tanah itu. Lalu, beberapa pecahan dari kapal udara yang jatuh dan mayat monster.
Banyak korban berjatuhan, entah itu pihak iblis dan sebaliknya, entah itu pria ataupun wanita.
Disisi pihak iblis, Krampus berhasil kembali, dia yang membawa anaknya dan cucunya. Meminta para prajurit iblis lain untuk membawa kedua orang itu agar disembuhkan.
Krampus melihat medan perang, lalu menyusul ke tempat anak dan cucunya dibawa. disana dia masuk ke dalam sebuah tenda dengan kain hitam. Masuk ke dalam, disana ada beberapa orang yang mengurus kedua iblis itu.
Hingga beberapa iblis memberitahukan bahwa Gregory telah tewas, diakibatkan banyak luka yang diterima. Krampus hanya terdiam. Disisi lain, banyak iblis yang marah akibat kematian raja mereka. Mulai banyak yang mengajukan diri untuk kembali ke medan perang untuk membalas perbuatan para manusia karena telah membunuh raja mereka.
Dengan cepat Krampus membalikkan tubuhnya untuk menghentikan aksi itu, dan memberitahu bahwa pihak mereka sudah tidak mampu melawan pihak manusia. Karena ternyata pihak manusia lebih hebat dari dugaannya. "Hentikan, jangan kembali ke medan perang."
Mendengar penolakan aksi itu, beberapa iblis protes akan hal tersebut. "Apa!? Kau malah menghentikan kami!?"
Menatap para iblis itu yang protes, Krampus membalas. "Kalian hanya akan mencari kematian disana. Dan ikuti arahan yang aku minta."
Beberapa iblis mulai mengerumuni konflik itu, karena nampak cukup serius.
"Kalian apa tidak lihat?! Selial saja sampai terluka seperti itu, bahkan Gregory bisa tewas di tangan para manusia sana!"
__ADS_1
"Kau berhak apa?! Kau bukan raja kami lagi?! Sudah sepatutnya aku tidak mendengar perintahmu!" Protes iblis yang melawan Krampus.
Mendengar protes itu, Krampus tanpa ragu membakar iblis itu yang melakukan perlawanan padanya. membuat iblis lain terkejut dan ketakutan. "Memang Gregory adalah raja kalian, tapi bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apa dia masih hidup? Atau kalian hanya ingin mengikuti perintah pada orang yang sudah mati?"
Semuanya terdiam saat Krampus berbicara dan mengeluarkan aura intimidasi pada mereka. "Selama Selial belum pulih, aku yang akan memerintah kerajaan kembali. Dan, jika ada yang protes soal ini lagi, aku tidak akan segan membuang kalian seperti saudara-saudara Gregory yang lain dan dianggap pengkhianat." jelas Krampus yang kemudian masuk kembali kedalam tenda.
Didalam tenda, Krampus duduk pada kursi kecil, lalu memerintah seseorang di dalam tenda itu untuk meminta para iblis di medan perang mundur.
Mengerutkan dahinya, dia terkejut dengan perintah itu. Namun, karena Krampus kini telah mengambil wewenang memerintah, iblis itu menurut dan meminta beberapa prajurit iblis lain memberitakan kabar perintah itu.
Para iblis melakukan mundur di medan perang. Ada beberapa yang nampak bingung dengan maksud perintah tersebut, bahkan bagi pihak manusia sendiri yang terkejut saat pihak iblis melarikan diri dan mundur. Merasa ini adalah kesempatan, Lennard dan Woulle di perintahkan membawa beberapa prajurit untuk mengejar para pasukan iblis yang melarikan diri ke dalam hutan.
Merasa pihak iblis telah kalah, para prajurit mengangkat senjata mereka tanda kemenangan, hingga ada yang memenggal kepala satu iblis dan di tancap pada ujung tombak untuk menjadi tropi bagi mereka.
"Kita menang!!"
"Kita berhasil membuat iblis mundur!"
Ini adalah sebuah kemenangan yang dulu diinginkan pihak manusia. Selama ini, pihak manusia selalu kalah dalam peperangan melawan pihak iblis, itulah kenapa kemenangan ini seperti anugrah bagi mereka.
"Semuanya!! Kembali ke tenda, kita akan disini untuk beberapa hari untuk memulihkan prajurit yang terluka." Ucap Eryk.
Semua prajurit kembali ke tenda, dan beberapa orang khusus dikerahkan untuk mengurus para jasad prajurit yang tewas dalam perang. Akan nantinya para jasad ini akan di kumpulkan di tenda khusus. Meski perang ini usai, tapi ke empat raja masih tidak yakin dengan kemenangan tersebut.
Dengan pengalaman yang sudah ada, pihak iblis pasti akan menyerang mereka kembali. Itulah kenapa, besok para jasad akan dipulangkan pada keluarga mereka, dan para prajurit yang tersisa akan tetap disini untuk bersiap jika pihak iblis kembali menyerang. Meski dengan bayaran korban perang akan terus bertambah.
Langit yang masih agak mendung akibat awan yang menutupi langit, dan salju mulai turun.
Zen menatap ke langit, butiran salju mulai turn secara perlahan dan menyentuh kulitnya. "Nampaknya salju akan kian banyak yang turun saat pertengahan bulan ini." Menadah tangannya secara terbuka, membiarkan salju terjatuh di telapak tangannya.
Ronald datang dari belakang dan berdiri di samping Zen. "Apa kau tidak kedinginan, Sir Zen?"
Mendengar itu, Zen melirik Ronald di sampingnya, lalu menjawab. "Sebenarnya aku sudah kedinginan sejak tadi." Ucap Zen dengan mengeluarkan embun asap pada mulutnya.
Terkekeh, Ronald meminta sebuah kain tebal untuk Zen.
Mendapatkan kain tebal, Zen menyelimuti tubuhnya dengan kain tebal itu untuk menghangatkan dirinya.
Tak lama, seorang prajurit dengan membawa perkamen catatan, yang melaporkan bahwa jumlah prajurit yang gugur berjumlah 3.407 orang, dan itu adalah jumlah dari seluruh pasukan dari empat kerajaan, tidak peduli itu wanita, pria, atau pasukan khusus seperti Brave Rider.
Menghela nafas panjang, Ronald mengijinkan prajurit itu kembali pada tugasnya. Menatap pada tempat yang menjadi medan perang, dia berbicara. "Seperti inilah dunia yang sekarang. Penuh dengan konflik dan darah, setiap waktu perang akan pecah, hingga bagaimana kau bisa bertahan dari itu semua."
Zen mendengar itu, baginya memang sulit di jaman ini, tapi ini adalah jaman pada dunia masa depan. Ini seperti sejarah berputar kembali ke masa lalu. Memang pada sejarah juga penuh dengan konflik dan peperangan, bahkan di seluruh negara memiliki sejarah perang mereka sendiri.
__ADS_1
Mantap mata Zen, Ronald bilang. "Sir Zen, apa aku boleh tau bagaimana jaman pada saat kamu masih muda?"
Menaikkan alisnya, Zen terkekeh. "Aku pikir kau menatapku begitu, ingin bertanya serius." Menatap ke arah Ronald sebelumnya. Zen menceritakan jaman saat bumi belum seperti sekarang. "Dulu sihir tidaklah ada, banyak negara berdiri dari yang terkecil hingga besar. Cukup jarang adanya perang, bahkan sampai ada organisasi khusus untuk perdamaian antar negara. Teknologi saat itu juga terbilang maju...." Zen menceritakan banyak hal pada Ronald, dia membahas pada saat dunia masih seperti masa damai sebelum bencana sihir datang.